
“Berhenti di sini, Mang!”
Sesuai titah Bayu, Mang Ule pun menghentikan mobilnya tepat di pinggir jalan.
“Gelap banget, mana rumah dukunnya, Bay?” Aku bertanya karena tidak melihat adanya rumah sama sekali di sekitar sini. Sejauh mata memandang hanya gulita.
“Rumahnya ada di balik kuburan itu,” jawab Bayu sambil menunjuk ke arah sebelah kiri.
“What?! Jadi itu kuburan?!” seru Mela, "kamu yang bener aja dong, Bay. Masa kita di suruh lewat tengah kuburan gitu malem-malem gini,” lanjutnya kemudian.
“Udah, tenang aja. Aku temenin sampe lewatin ini kuburan,” balas Bayu, "ayo, buruan turun dari mobil dan mulai jalan,” lanjutnya. Kami pun turun dari mobil dan mulai berjalan.
“Mang Ule di depan!” titah Mela.
“Lah, kok saya? Saya kan nggak tahu ke mana harus melangkah, Non.” Mang Ule keberatan.
“Udah, nanti aku tunjukin Mamang harus melangkah ke mana.” Bayu menyahut. Akhirnya Mang Ule pun pasrah berada di barisan paling depan. Mela di barisan kedua. Sementara aku dan Bayu berada paling belakang. Beriringan.
“Ayo, Mang, jalan terus lewat jalan ini!” Bayu menyorotkan senter ke depan. Kami pun mulai berjalan menapaki jalan setapak yang ada di tengah kuburan. Sisi kiri dan kanannya terdapat banyak nisan nan usang. Terdapat banyak pohon besar yang tumbuh di antara makam juga semak belukar.
“Ran, sorot senternya di arahin ke jalan ngapa. Malah disorotin ke sana kemari. Gelap, nih,” protes Bayu. Saat aku mengarahkan senter ke sisi kiri dan kanan jalan. Penasaran akan sosok apa yang sedari tadi ngintilin.
“Bay, mereka mau apa?” tanyaku dengan nada berbisik saat sosok seperti zombie semakin bertambah banyak. Semua mengikuti dari sisi kiri dan kanan juga ada yang di belakang seolah tengah mengawal kami. Dan ada juga yang melayang-layang di udara.
“Kamu bisa lihat mereka?” tanya Bayu. Aku bergelayut di lengannya saat satu sosok merangsek semakin mendekat.
“Iya, aku bisa melihat mereka. Pasca kecelakaan yang aku alami, Bay.”
“Kamu tenang, ya, Ran! Mereka biasanya hanya memastikan kita tidak berbuat macam-macam di makam ini. Nanti setelah area kuburan ini berhasil kita lewati, biasanya mereka tidak mengikuti lagi.”
“Mel, Mang Ule, kenapa berhenti?” tanyaku saat mendapati mereka berdua berdiri mematung.
Mang Ule berbalik perlahan menghadap ke arah kami. Kemudian menunjuk kami, tatapan matanya kosong. “Pergi kalian dari sini!” teriaknya, tapi itu bukan suara Mang Ule.
“Mang Ule kenapa?” tanya Mela bergerak mundur dan langsung bergelayut di lenganku.
“Sepertinya dia kerasukan,” sahut Bayu, "aku coba netralisir dulu, ya,” lanjutnya.
Namun, Bayu malah terpental dan mengakibatkan satu nisan roboh. “Sosoknya terlalu kuat, Ran. Aku tidak bisa menangani sendiri,” ucap Bayu sambil berusaha berdiri dan meringis menahan sakit.
“Ya sudah, aku bantu,” tawarku.
“Aku nggak mau sendirian. Kamu di sini aja, Ran,” rengek Mela sambil mencekal lenganku.
“Kasihan Mang Ule, Mel. Kamu tenang aja, ya, diam di sini sambil terus baca doa. Oke!”
“Ran,” rengek Mela enggan melepaskan cekalannya.
__ADS_1
Aku melepaskan cekalan Mela lalu berjalan ke depan mendekati Mang Ule yang masih terus meraung dan berteriak mengusir kami.
“Tenanglah! Siapa pun kamu yang ada di dalam tubuh Mang Ule, keluar! Kami cuma mau numpang lewat tidak akan berbuat macam-macam di sini,” ucapku sambil menekan jempol kaki Mang Ule.
“Tidak! Aku nyaman di sini,” sahut sosok yang merasuki tubuh Mang Ule. Detik berikutnya tawanya membahana. Bulu kuduk meremang seketika dengar tawanya.
“Ini sosok tidak bisa dilembutin, udah kita kasarin aja!” Bayu geram. Aku mengangguk lalu mulai merapal doa dan mengeluarkan sosok yang ada di dalam tubuh Mang Ule secara paksa.
“Mang!” panggilku.
“Iya, Non,” sahutnya lemah.
“Ini Mamang, ‘kan?”
“Iyalah, Non Rania, memang siapa lagi?” sahutnya masih lemah, “aduh, ini kenapa kepala saya pusing sekali, ya, Non? Apa yang terjadi sama saya, Non?”
lanjutnya.
“Mamang nggak apa-apa, kok. Oh ya, gimana? Sekarang apa yang Mamang rasakan?”
“Mual, Non Rania. Mau muntah," jawabnya.
“Ya sudah, keluarin aja, Mang. Biar enteng.” Mang Ule lalu sedikit menjauh dari hadapan kami dan mengeluarkan isi perutnya.
“Gimana, Mang? Sudah enakan?” tanyaku saat Mang Ule selesai mengeluarkan isi perutnya.
“Ya sudah, ayo kita jalan lagi!” ajak Bayu.
“Ayo Mel, jalan lagi!” Mela langasung berjalan di barisan paling depan. Mang Ule kini di urutan kedua. Aku ketiga dan Bayu di barisan terakhir.
Semakin masuk ke dalam, suasananya semakin mencekam. Makamnya sebagian tertutup semak belukar yang terlihat hanya atap cungkup sedikit. Angin tiba-tiba berhembus kencang menerbangkan dedaunan kering yang ada di jalan setapak yang kami lalui. Desaunya menambah kesan semakin mencekam. Senter yang kami pegang tiba-tiba berkedip dan akhirnya mati.
Kucoba ketuk-ketuk senternya, tapi tetap tidak mau menyala juga.
“Nyala, nggak?”
“Enggan, Bay.”
“Coba sini,” pinta Bayu. Kuberikan senter padanya. Bayu mengetukkan senter ke tangan kirinya dan memutar-mutar kacanya.
“Mel, Mang Ule!” panggilku, tapi mereka berdua tidak menyahut. Perasaanku mulai tidak enak.
“Bay, cepetan! Mela sama Mang Ule kok nggak kelihatan, ya.”
“Namanya juga gelap, Ran, ya, nggak kelihatanlah.”
“Tapi dipanggil juga nggak nyahut, kamu juga denger, ‘kan?”
__ADS_1
“Mungkin mereka ketakutan, Ran.” Bayu masih terus berusaha membetulkan senternya, “iya, ‘kan, Mang Ule!” lanjutnya. Tapi Mang Ule tidak menyahut. “Mela!” panggilnya sekali lagi. Hening.
“Tuh, kan, nggak ada yang nyahut, Bay.”
“Mang Ule, Mela! Jangan bercanda, dong!” seru Bayu. “Ini senter maunya apa, sih?!” Bayu kesal membanting senter ke tanah, dan ajaibnya malah menyala.
“Lah, itu nyala!” seruku.
Bayu kembali memungut senternya. “Dari tadi, kek!” gerutunya.
Lalu mengarahkan sorot senter ke arah Mela dan Mang Ule. Seharusnya ada di depan kami, tapi mereka raib entah ke mana?
Aku dan Bayu saling pandang. “Bay, mereka ke mana?” bisikku. Bayu menggeleng. Lantas menyorotkan senter ke sekeliling, tapi Mela dan Mang Ule tidak terlihat. Hanya ada cungkup-cungkup yang diselimuti lembayung dan semak. Juga terdapat pohon kemboja yang sangat besar di sisi kiriku bunganya berguguran menghujani kami berdua.
Sekitar sepuluh meter dari tempatku dan Bayu berdiri ada pohon beringin yang jauh lebih besar dari pohon kemboja. Sulurnya yang tertiup angin seolah melambai-lambai. Sesekali terdengar suara burung hantu. Suasana pun kian mencekam saat tiba-tiba kabut datang menyelimuti area kuburan ini. Sorot senter pun jadi terhalang oleh kabut tidak bisa menjangkau jarak jauh.
“Mela!”
“Mang Ule!”
Bayu meneriakkan nama Mela, sedangkan aku memanggil Mang Ule. Berulang kali, tapi tidak ada sahutan dari mereka berdua.
“Apa yang terjadi pada mereka, Bay?” Bayu hanya menggeleng lemah.
“Kita harus mencari mereka mengelilingi kuburan ini, Ran.”
Tak ada pilihan lain, aku pun mengikuti saran Bayu. Kami mulai bergerak mengelilingi kuburan sambil terus meneriakkan nama Mela dan Mang Ule. Namun, hingga setengah area pekuburan berhasil kami telusuri, Mela dan Mang Ule belum terlihat batang hidungnya.
“Kita coba cek ke sana!” Bayu menunjuk ke arah makam tua di bawah pohon rindang. Aku mengangguk. Lalu mengkor di belakangnya.
Langkahku terhenti manakala kurasakan kaki ini menyandung sesuatu. “Bay!” panggilku, Bayu pun menghentikan langkahnya dan berbalik ke arahku.
“Ada apa?” tanyanya. Aku menunjuk bawah kakiku tak berani melihatnya. Bayu lantas mengarahkan sorot senter ke objek yang kutunjuk.
“Itu Mang Ule, Ran!” serunya. Aku pun mulai membuka mata yang semula kupejamkan, dan benar ternyata yang tak sengaja kutendang tadi kakinya Mang Ule. Bayu lantas mendekat dan memeriksa mondisi Mang Ule yang tergeletak tak sadarkan diri di sela makam berjejer.
“Mang Ule! Sadar, Mang!” Aku dan Bayu terus berusaha menyadarkan Mang Ule.
Akhirnya Mang Ule melenguh dan membuka matanya perlahan. Setelah matanya terbuka, ia langsung beringsut duduk dan berteriak ketakutan lantas berdiri dan berlari tak tentu arah.
“Mang Ule, ini aku Rania dan Bayu!” teriakku.
“Mang, berhenti!” teriak Bayu sambil menarik lenganku guna berlari mengejar, tapi Mang Ule malah terus berlari menjauh. Sampai akhirnya sorot senter di tangan Bayu tak lagi dapat menjangkau keberadaan Mang Ule.
“Bay, berhenti dulu, Bay! Aku capek,” pintaku di sela napas yang terengah pasca berlari di sela deretan makam tak terawat. Bayu pun berdiri di sampingku, kami berhenti sejenak. Bayu terus menyorotkan senter ke sekeliling guna mencari keberadaan Mang Ule atau Mela.
“Gimana? Sudah siap untuk jalan lagi?” Aku mengangguki tanya yang Bayu lontarkan. Kemudian kami kembali melanjutkan pencarian.
__ADS_1
“Aaak!” jeritku saat kurasakan ada yang membelit kaki sehingga membuatku jatuh tertelungkup menubruk nisan.