
Aku membuka mata, lalu duduk. Penglihatan masih agak buram. Kepala juga masih terasa pening. Makin lama, penglihatan mulai terang. Tampaklah tembok usang mengelilingiku, dan yang sedang aku duduki ini sebuah dipan kayu beralaskan tikar anyam usang tanpa kasur atau pun bantal.
Aku mencoba bangkit, lalu melangkah perlahan menuju pintu kayu warna cokelat usang sambil memegangi kepala yang berdenyut-denyut. Aku coba buka pintunya, tetapi rupanya dikunci dari luar. Aku memonitor ke segala penjuru ruang ini mencari jalan keluar lain. Ada sebuah jendela yang terbuat dari kayu. Aku coba dekati dan coba buka, tetapi tak bisa. Mungkin dipaku dari luar. Antahlah.
Kepala terasa makin sakit saat aku buat berpikir keras mencari jalan keluar. Selain pintu dan jendela itu tak ada lagi jalan untukku keluar. Meminta tolong? Ah, kurasa percuma saja. Mereka yang sengaja membawaku ke sini tak akan mungkin melepaskan aku begitu saja. Entah siapa mereka dan entah apa tujuan mereka menyekapku di sini.
Tirta?
Suamiku pasti cemas sekarang. Mungkin dia lagi cari aku ke sana kemari. Mungkin sebentar lagi dia bakal menemukan aku di sini. Semoga saja begitu.
Mata ini membulat, saat hendel pintu usang itu bergerak-gerak. Sepertinya ada yang mau masuk ke sini. Aku langsung berbaring lagi dan memejamkan mata. Sesuai dugaanku, detik kemudian kudengar ada langkah kaki mendekat kemari. Tak berselang lama, datang lagi seseorang kemari.
“Gimana? Sudah sadar apa belom?” tanya seorang pria yang baru saja masuk kemari. Sebentar, kok suaranya seperti tidak asing. Aku menajamkan pendengaran. Mau mengintip sedikit, tapi takut ketahuan.
“Belom, Boss.” Pria yang berdiri tepat di samping dipan tempatku terbaring menjawab.
“Nanti kalau dia sudah sadar, elu masih ingat kan, apa yang harus elu lakukan?”
Aku membuka mata sedikit guna memastikan siapa pemilik suara yang terdengar tidak asing di telingaku itu. Ah, benar saja itu Rudi. Pasti semua ini ada kaitannya dengan masalah Maya.
Mungkin sebaiknya aku membuka mata saja supaya tahu apa tujuan mereka membawaku kemari. Aku melenguh, membuka mata pura-pura baru tersadar. Kemudian duduk memegangi kepala.
“Argh! Di mana aku?” lirihku.
“Di neraka!” sahut Rudi.
“Pak Rudi!” Aku pura-pura terkejut.
Rudi menyuruh anak buahnya keluar. Pintu ditutup dan dia mendekat, lalu duduk di sebelahku. Jujur, aku merasa ngeri sekarang. Aku takut dia melakukan hal yang sama padaku seperti yang dulu dia lakukan pada Maya. “Siapa kamu sebenarnya?” tanyanya tanpa basa-basi, “Seberapa banyak yang kamu tahu tentang Maya?”
Aku hanya diam. Dilema. Antara jujur atau mengarang saja. Aku takut jika kejujuranku malah jadi bumerang untukku.
“Kamu tahu soal Maya dari mana?”
“Dia mendatangiku dalam mimpi.” Akhirnya aku jujur.
“Apa yang kamu lihat dalam mimpimu?”
“Banyak. Termasuk saat Anda memukul kepala Maya dengan balok hingga pecah.” Aku beranikan diri menatapnya tajam. Raut wajah Rudi terlihat merasa terancam.
__ADS_1
“Berarti ... mimpi saya itu benar adanya?” selidikku. Kini gantian Rudi yang terdiam, “Kalau memang itu hanya mimpi belaka, seharusnya Anda tidak perlu repot-repot menculik saya seperti ini.”
Sebuah tamparan dia daratkan di pipi kananku. Sangat keras dan terasa panas. Hingga mata ini rasanya berair.
Rudi berdiri. “Kamu sudah berurusan dengan orang yang salah!” telunjuknya mengarah ke wajahku. Aku menatapnya dengan sedikit keberanianku.
Rudi keluar, pintunya ditutup. Kudengar di luar sana dia menelepon. Kurasa menelepon Hendarto.
“Sepertinya dia anak indigo.” Rudi lantas terdiam, mungkin mendengarkan lawan bicaranya.
“Oke. Jadi, fiks ya, kita habisi saja?” Lagi, Rudi terdiam setelah bicara demikian.
Tirta, selamatkan aku! Aku takut nasibku seperti Maya. Aku berdiri dan sekuat tenaga berusaha membuka jendela. Namun, usahaku kalah cepat. Anak buah Rudi keburu datang dan menyeretku keluar. Aku dipindahkan ke ruangan yang gelap. Sepertinya ini ruangan bawah tanah. Pasalnya tadi, aku sempat diseret menuruni anak tangga yang kotor.
Aku didudukkan di kursi kayu. Kaki dan tanganku diikat, sedang mulutku dilakban.
“Lepaskan semuanya!” titah Rudi. Anak buahnya patuh. Entah apa yang akan dilepaskan.
Rudi menyalakan senter yang ada di ponselnya. Anak buahnya memegang sebuah boks. Lantas diletakkan di lantai yang sangat kotor ini, dan dibuka. Detik kemudian keluar ular kobra, kalajengking dan tarantula. Mataku membelalak tak percaya. Habislah aku.
Aku menggeleng mengiba, memohon dengan gelengan kepala. Namun, Rudi dan anak buahnya tak peduli. Setelah melepaskan hewan berbisa itu, mereka pergi meninggalkan aku seorang diri di ruangan yang sangat gelap ini.
Aku Cuma bisa pasang gaya batu dan memejamkan mata saat kurasakan ada yang berjalan melewati kaki. Berdoa dalam hati, berharap akan adanya keajaiban. Semoga saja Tuhan mengirimkan pertolongan.
Terdengar suara tawa cekikik. Tak berselang lama, kurasakan ada yang duduk di pangkuanku. Aroma anyir dan busuk menusuk hidung. Perutku bergejolak. Mual. Tetapi, tertahan oleh lakban. Aku tak berani bergerak karena takut dengan kobra, sekarang ditambah lagi datang hantu entah dari mana asalnya.
Aku menghela napas sedikit lega setelah hantu yang minta pangku menghilang. Kini, tersisa aroma anyirnya saja. Mata ini dibuat melotot lagi saat kurasakan ada yang merayap di kaki. Ini bukan kalajengking, bukan juga tarantula. Fiks, yang merayap di kaki ini pasti kobra. Terasa sangat panjang. Aku tak bisa bergerak sama sekali, bahkan untuk bernapas saja sedikit aku tahan. Jantung berasa mau lepas dari peraduannya.
Tirta, tolong aku!
Aku pingsan, lalu tersadar lagi. Entah sudah berapa kali seperti itu. Dan setiap kali terbangun situasinya masih sama. Gelap. Sekarang masalahku bukan hanya tentang gelap, hewan berbisa dan hantu, tetapi juga soal perut yang lapar, badan yang rasanya gak karuan. Juga rasanya aku kebelet pipis.
Aku tidak tahan lagi, air seni lolos begitu saja. Semoga saja tidak mengundang perhatian ular kobra. Entah sudah berapa lama aku di sini. Entah pada ke mana para hewan berbisa itu, yang jelas sudah tidak ada lagi yang merayap di kaki atau naik ke kepala ini.
Badan terasa lemas, pandangan mata mulai mengabur lagi, perut perih di keroncongan, tenggorokan kering kerontang. Lapar dan haus sekali. Badan rasanya tidak keruan, kepala pening, perut kembung, sepertinya, aku masuk angin. Keringat dingin mulai menyembul dari pori-pori. Hawa panas dingin mulai menyerang.
Mual nyaris muntah, tetapi tertahan oleh lakban yang masih membungkam mulut ini. Sudah berusaha melepaskan tali yang mengikat tangan atau kaki, tetapi sulit. Akhirnya Cuma bisa pasrah menunggu keajaiban atau ajal menjemput.
“Yank!”
__ADS_1
Mataku terbuka lebar mendengar teriakan itu. Itu suara suamiku, tetapi aku tak bisa menyahuti karena suaraku tertahan oleh lakban. Meski begitu, aku berusaha teriak, entah didengar atau tidak. Terpenting sudah usaha. Aku tak bisa menggerakkan kursi guna menciptakan suara, takutnya ular kobra masih di sini dan malah menarik perhatiannya.
Dalam hati ini, kurapal doa, berharap agar suamiku dapat menemukan aku di sini. Mata sudah terasa berat, bukan karena mengantuk, tetapi rasanya seperti mau pingsan lagi. Badan rasanya sudah tidak keruan. Semakin lama, pandangan makin buram. Di ruangan yang memang gelap ini, semua terlihat makin legam.
Tidak, aku tidak boleh pingsan. Aku harus kuat, demi menunggu suamiku datang menjemput. Meski rasanya sudah tidak tahan lagi, tetapi aku berusaha menguatkan diri. Sampai akhirnya, terdengar suara langkah kaki menuruni anak tangga, mendekat kemari.
Ada bias senter yang berpendar. Sehingga ruangan ini sedikit remang. Sampai akhirnya, aku bisa melihat sosok yang membawa senter itu berdiri di ujung tangga, kepalanya mengikuti cahaya senter yang ia sorotkan ke segala penjuru, lalu berhenti saat cahayanya menyinari tubuhku yang layu.
“Yank!” pekiknya.
“Hmmm!” teriakku tertahan lakban sambil menggeleng melarangnya melangkah kemari. Takutnya, ular kobra itu menyerangnya.
“Kenapa?” tanyanya, dia pun menghentikan langkahnya. Aku menoleh ke sana kemari mencari keberadaan ular itu. Ternyata kobra itu sedang melingkar di pojok ruang. Aku memberitahu suamiku dengan gerakan kepala. Senter disorotkan ke pojok. Kini dia paham akan maksudku.
“Oke, kamu tenang aja, ya! Aku bakal selamatkan kamu. Kamu gak usah takut lagi, ya!”
Ya, aku sekarang merasa aman karena ada kamu di sini, suamiku.
“Kamu tenang aja. Semua akan baik-baik aja setelah ini.”
Ya, aku juga yakin pasti semua akan baik-baik saja setelah ini. Karena kamu sudah datang ke sini.
Lelakiku melangkah perlahan kemari. Setelah dekat, hal pertama yang dia lakukan membuka lakban di mulutku. Diusapnya wajahku yang mungkin kucel, dirapikannya rambutku, kemudian dikecupnya kening ini lembut. Air mata haru menetes di pipi ini dan diusapnya lembut.
“Sssth, jangan nangis, Sayang. Kamu sudah aman sekarang. Ada aku di sini.” Lagi, dia kecup lembut kening ini, lalu kepalaku ditarik lembut ke dalam dekapannya.
“Aku gak kuat lagi,” lirihku.
“Iya. Kita segera pergi dari sini, ya. Aku lepaskan dulu talinya.”
Tali yang mengikat tangan dan kakiku sangat rumit. Maka tak heran kalau aku tak bisa melepaskannya sendiri. Bahkan, suamiku butuh waktu beberapa menit untuk melepaskannya. Setelah tali terlepas, kami saling peluk sejenak. Tangisku pecah lagi. Untungnya, ular kobra itu tengah anteng di pojokkan. Sedang tarantula dan kalajengkingnya entah pada ke mana.
“Sudah, Sayang. Kamu sudah aman sekarang.” Dipeluknya tubuhku.
“Sekarang, kita jalan ke atas, ya. Bisa? Kuat, gak?” Aku mengangguk lemah. Lantas dipapahnya tubuhku menaiki anak tangga. Masih berbekal senter di ponselnya. Baru saja menaiki beberapa anak tangga, penglihatanku sudah buram dan makin gelap.
*****
Aku mengerjap dan membuka mata sebab suara bising. Perlahan mataku mulai terang, tetapi kepala rasanya pening sekali, perut perih dan tenggorokan kering kerontang. Aku memonitor sekeliling. Saat mata ini membentur sosok pria yang digantung kakinya, aku terpekik kaget, tetapi teriakanku lagi-lagi tertahan oleh sesuatu yang melekat di mulut ini. Lakban. Apa lagi ini? Bukannya tadi kami sudah bebas? Lalu kenapa sekarang malah aku dan suamiku disekap secara bersamaan begini?
__ADS_1
“Hmmmm!” gumamku sekuat tenaga sambil menggeleng, memohon agar suamiku jangan disiksa lagi. Air mata menetes melihat suamiku babak belur dan lemah serta tergantung dalam posisi terbalik. Wajahnya sudah pucat. Kondisinya sangat mengkhawatirkan.