
Bayu mendekat dan memegang kedua sisi bahuku yang terguncang hebat. Tangisku pecah, aku sangat frustrasi. “Kalau Mang Ule mati gimana, Bay?” lirihku.
“Hei, tenangkan dirimu, Ran! Kita berdoa saja, semoga Mang Ule segera sadar, ya. Dia hanya pingsan, kok.”
Aku sedikit lega mendengar penjelasan dari Bayu mengenai kondisi Mang Ule.
“Semua pingsan, Mela dari tadi belum sadar juga, kemudian Tirta nyusul, dan sekarang ... Mang Ule juga ikut tidak sadarkan diri. Sementara hari semakin gelap, Bay.” Aku putus asa. Tapi, Bayu terus meyakinkan dan menguatkan aku.
“Tenanglah, Ran. Kita harus yakin, kalau kita pasti bisa melewati ini semua, ya!” kata Bayu. Tapi, itu sama sekali tidak membangkitkan semangatku. Aku lelah, sangat lelah. Bayu menenggelamkan kepalaku di dadanya. Dan aku terisak di sana.
Aku menarik diri dari rengkuhan Bayu, lantas menoleh ke arah Mang Ule saat kudengar pria tua itu menarik napas panjang. Detik berikutnya dia terbatuk. Aku bangkit mendekati tubuh renta itu. Kemudian jongkok di sebelahnya menunggu Mang Ule mengumpulkan kesadarannya.
Bayu ikut mendekat membantu Mang Ule duduk dan menenangkannya. “Syukurlah, Mamang bangun juga akhirnya,” ucap Bayu sambil memegangi kedua sisi bahu Mang Ule. Aku mengucap hamdalah berkali-kali, air mataku mengalir lagi tanpa komando.
Mang Ule memegangi lehernya. Kemudian mendesis dan meringis sepertinya kesakitan. “Memangnya apa yang terjadi, Mas Bayu, Non Rania?” tanyanya dengan nada lemah.
“Sudah, lupakan saja Mang. Terpenting Mamang sudah sadar,” timpal Bayu. Mang Ule mengangguk lemah, “sekarang apa yang Mamang rasakan?” tanyanya kemudian.
“Iya, Mang, apa masih ada yang sakit?” Aku menimbrung.
“Cuma lemas dan sedikit pusing sama mual aja, Non,” jawab Mang Ule. Sejurus kemudian ia memiringkan kepalanya ke kiri dan kanan. Sampai di pangkal kepalanya bunyi ‘krek krek’.
Aku menoleh ke arah Tirta berada saat kudengar dia melenguh. Aku bangkit dan berlari mendekatinya. “Hei, kamu sudah bangun?” sapaku. Tirta hanya merespon dengan gumaman.
Tirta berdehem beberapa kali, ia terlihat kesulitan menelan ludah. “Tenggorokan aku rasanya kering,” katanya kemudian sambil berusaha menelan ludah guna membasahai tenggorokannya.
“Aduh, gimana dong? Mana nggak ada air sama sekali lagi?” sahutku bingung.
“Iya, airnya ada di dalam mobil,” timpal Bayu.
Bayu kemudian membantu Mang Ule berdiri dan mendekat ke tempat kami. Kami lantas memeriksa sekeliling berharap menemukan sumber air, tapi tidak ada.
“Ya, sudah, kita lanjutkan perjalanan saja. Gimana?” tanya Bayu.
“Gimana, Mang, Ta? Apa kalian sudah bisa jalan lagi?” tanyaku.
“Kalau saya sih, sudah bisa, Non. Nggak tahu kalau Mas Tirta, kelihatannya masih lemas gitu,” jawab Mang Ule.
Aku menoleh ke arah Tirta. Benar, wajahnya terlihat sangat pucat dan lemah. Tapi, kalau tidak segera melanjutkan perjalanan takutnya arwah Sekar datang lagi. Selain itu, bagaimana dengan Mela? Sahabatku itu harus segera mendapatkan pertolongan medis. Entah sejak kapan dia pingsan? Sampai sekarang belum ada tanda-tanda Mela akan sadar. Hari juga semakin gelap. Waktu Magrib telah lewat.
“Kita lanjutkan perjalanan saja. Aku masih kuat, kok,” lirih Tirta.
__ADS_1
“Apa kamu yakin, Ta?” timbrung Bayu. Tirta mengangguk meyakinkan.
“Baiklah, kalau gitu mari kita lanjutkan perjalanan!” ajak Bayu. Aku mengangguk.
Bayu membopong Mela, sedang aku memapah Tirta. Kami kembali melanjutkan perjalanan. Mang Ule berada di barisan paling belakang.
Kami berjalan menapaki jalan setapak menanjak dan menurun. Jatuh, bangun lagi. Istirahat sejenak mengumpulkan energi lalu lanjut jalan lagi. Kegelapan semakin pekat menyelimuti bumi. Jarak pandang semakin terbatas.
“Kita butuh penerangan. Semakin gelap, nih,” kata Bayu menghentikan langkahnya. Kami istirahat lagi. Mela disandarkan pada batang pohon.
“Bentar, coba aku cek hpku dulu.” Kukeluarkan ponsel dari dalam saku celana. Kubuka pola sandinya dan melihat layar. Daya baterainya tinggal 45%.
Bayu ikut memeriksa saku celananya. “Argh! Senterku entah tertinggal di mana,” katanya, “hpku juga sudah lowbat tinggal 5%. Senternya sudah nggak kuat nyala,” lanjutnya.
Sejurus kemudian Mang Ule ikut memeriksa saku celana. “Aduh, hp mamang ilang, Non.”
“Ya sudah, kita percepat langkah, ya! Gimana? Semua setuju?” tanyaku sambil menatap Mang Ule, Bayu dan Tirta. Supaya baterainya cukup sampai di tempat mobil terparkir.
“Oke, Non. Mamang siap.”
“Aku juga akan berusaha,” sahut Bayu.
“Istirahat lagi, yuk! Barang sebentar,” kata Bayu, ia terlihat sangat kelelahan. Bagaimana tidak? Dari tadi dia terus membopong Mela. Aku mengangguk. Kami pun duduk bersandar pada pohon pinus. Berjarak kisaran 20 meter dari puing-puing rumah Mbah Barjo.
“Matiin dulu senternya, Ran. Biar hemat.” Sesuai perintah Bayu, senter kumatikan.
Dahiku mengernyit saat mendengar suara ‘kriyeeet’ seperti pintu tua yang terbuka. “Kalian dengar suara, nggak?” tanyaku. Detik berikutnya kami diam menajamkan pendengaran. Suara itu terdengar lagi. Kami berempat menoleh ke sumber suara.
Terpaku beberapa detik, saat melihat rumah Mbah Barjo yang tadi sudah hangus terbakar kini utuh lagi seperti sediakala. Terdapat beberapa lentera di terasnya. Sehingga memperjelas penglihatan kami. Pintunya terbuka dan tertutup dengan sendirinya.
“Bay,” lirihku. Bulu kuduk meremang.
“Ya, Ran, aku juga lihat,” sahut Bayu.
“Ma-mang ju-juga li-lihat,” timpal Mang Ule tergagap.
“Itu ada rumah. Kita mampir saja ke sana. Minta pertolongan,” kata Tirta.
“Itu bukan ide yang bagus, Ta. Kita pergi dari sini!” sahut Bayu sambil mengangkat tubuh Mela. Sedang Mang Ule tertegun.
“Kenapa?” tanya Tirta tidak mengerti.
__ADS_1
“Nanti aku ceritakan,” kataku sambil membantunya berdiri. Lantas menyalakan senter di hp.
“Mang Ule!” panggilku saat pria renta itu masih tertegun di tempat semula. Mang Ule pun tersentak dari lamunan. Lantas berjalan mendahuluiku dan Tirta.
“Aaaak!” jeritku saat kurasakan ada yang menarik kakiku.
“Kenapa Ran?” tanya Tirta panik.
“Ada yang menarik kakiku.”
Tirta melihat ke arah kakiku. “Tidak ada apa-apa, Ran.”
Saat kurasakan tarikan di kakiku semakin kuat, aku berpegangan pada tangan Tirta erat-erat. Detik berikutnya aku ambruk, pun dengan Tirta. Mang Ule mendekat berusaha membantu kami. Pun dengan Bayu.
Semua berusaha membantuku agar lepas dari sosok yang terus bergelayut di kaki. Tirta memegang tangan kanan sedang Mang Ule memegangi tangan kiriku. Sementara Bayu berusaha melepaskan sosok astral itu dari kakiku.
Sosok itu akhirnya menyerah dan melepaskan cengkeramannya setelah melakukan perlawanan yang cukup sengit. Aku, Mang Ule, Tirta dan Bayu terengah. Duduk di tanah. Lelah. Tenaga kami seolah terkuras habis. Lemas.
“Bay, Mela mana?” tanyaku.
“Tadi aku sandarkan di pohon yang ada di sana,” jawab Bayu sambil menunjuk salah satu pohon pinus. Kuambil hp yang semula tergeletak di tanah dan kuarahkan sorot senternya ke tempat Bayu berada.
“Di sebelah mana?” tanyaku. Tadi belum begitu jelas ke mana telunjuk Bayu mengarah. Sorot senter kuarahkan ke tempat yang ditunjuk Bayu.
“Mela mana, Bay?” seruku. Saat sahabatku itu tidak lagi terlihat keberadaannya. Semua menoleh ke tempat dimana seharusnya Mela ada di sana, tapi hanya ada batang-batang pohon pinus yang menjulang tinggi.
“Tadi di sana!” tandas Bayu. Kami berdiri dan mulai mencari keberadaan Mela.
“Apa Non Mela sudah sadar?” celetuk Mang Ule.
“Tapi, masa kalau udah sadar nggak nyapa kita?” sahutku bingung.
‘Klung’ suara notifikasi daya bateraiku yang semakin menipis.
Kami meneriakkan nama Mela secara bersamaan dan bergantian, tapi tidak ada sahutan sama sekali.
Detik berikutnya terdengar suara gemuruh angin dari arah bekas rumah Mbah Barjo. Lalu semakin mendekat dan menerbangkan segala apa yang dilalui. Termasuk kami berempat.
Aku tidak lagi dapat melihat Mang Ule, Tirta dan Bayu. Entah, mereka terpental ke mana?
Aku berusaha menyelamatkan diriku sendiri dengan berpegangan pada batang pinus agar tidak terbawa angin ****** beliung itu. Badan dan kakiku mengambang di udara. Tapi, pertahananku runtuh juga. Peganganku terlepas dan aku terbawa angin aneh itu. Kurasakan tubuhku berputar-putar di udara, kepalaku terantuk entah pohon atau apa. Lalu semua menjadi sangat gelap.
__ADS_1