
Tangisnya akhirnya pecah di pelukanku. Sania menceritakan jika suaminya marah besar, merasa malu karena video saat dia kerasukan di kafe sore tadi tersebar dan viral.
“Hah?! Masa sih?” sahut Mela tak percaya. Dia lantas buru-buru mengeluarkan ponselnya, dan benar videonya viral di media sosial.
“Yang bikin saya sedih, di saat seperti ini, suami saya malah nuduh saya cari sensasi,” ujar Sania parau, lalu tangisnya pecah lagi. “Saya butuh dia untuk support saya, tapi malah seperti itu,” lanjutnya di sela tangis.
“Sudah, tidak apa-apa, masih ada kami di sini. Kami siap sedia untuk selalu ada buat kamu,” kataku menenangkan.
“Benar itu, Mbak. Masih ada kami. Mbak yang tenang, ya. Supaya kami bisa fokus menyelidiki teror horor yang menimpa Mbak Sania,” sahut Mela. Sania mengangguk, menghela napas panjang, mengusap air matanya, lalu setelah tenang dia pamit membuatkan minuman untuk kami. Seusai minum sebentar, kami mulai melakukan penelusuran ke seluruh penjuru rumah ini. Mencari tempat persembunyian makhluk astral yang sering mengganggu Sania. Namun anehnya, kami semua tidak bisa mendeteksi keberadaan makhluk tersebut.
“Setelah kejadian sore tadi, Mbak Sania ada diganggu lagi, nggak?” tanya Mela.
Sania menggeleng. “Nggak ada, Mbak. Dia tidak muncul lagi.”
Aku dan suamiku saling pandang merasa aneh. Apa benar, makhluk itu hanya mengikuti suaminya Sania saja, lalu sekarang sudah ikut pergi.
“Sekarang bagaimana?” tanya Bayu, matanya tertuju padaku. Aku mengedikkan bahu tanda tak tahu harus berbuat apa.
“Kita coba tunggu saja sampai nanti menjelang tengah malam,” saran Mela.
“Kalian yakin mau menunggu sampai larut? Apa itu tidak mengurangi waktu istirahat kalian?” Sania menatap kami satu per satu. Dari sorot matanya dia tampak merasa tidak enak hati dengan keputusan kami.
“Iya, tidak apa, Mbak. Biar kami coba tunggu sampai menjelang tengah malam. Kalau tidak ada aktivitas atau tanda-tanda kehadirannya, ya, kami pulang. Lanjut besok lagi,” ujar Mela. Aku dan yang lainnya mengangguk sepakat.
“Maaf ya, aku malah jadi merepotkan kalian,” ucap Sania.
“Santai saja, Mbak. Kita akan berusaha membantu Mbak Sania semampu kami. Semoga masalah teror horor ini bisa lekas teratasi dan terselesaikan,” timpal Bayu. Dia terlihat makin siap untuk membantu Sania. Aku merasa lega, pada akhirnya lelakiku juga makin antusias untuk membantu menyelesaikan masalah ini. Namun, hingga waktu yang kami tentukan, tidak ada tanda-tanda makhluk tadi datang meneror. Semua aman terkendali. Auranya juga sangat positif.
“Ya sudah, Mbak. Kita pamit dulu. Semoga setelah ini tidak ada gangguan lagi. Kalau ada apa-apa langsung aja hubungi Rania atau langsung aja dateng ke rumahnya,” pamit sekaligus saran Mela. Aku mengangguk sepakat dengan kata sahabatku itu.
“Iya, terima kasih ya, atas bantuannya,” balas Sania.
“Terima kasih juga untuk makan malamnya, Mbak,” ujar lelakiku.
“Sama-sama,” pungkas Sania. Lantas kami berempat pun meninggalkan kediaman Sania.
*****
“Kita langsung balik, ya,” pamit Bayu saat sampai di pelataran rumah. Tepatnya di dekat mobil mereka terparkir.
__ADS_1
“Udah malem. Apa nggak sebaiknya kalian nginep aja di sini?” Suamiku menawarkan penginapan. Namun, Mela dan Bayu menolak. Kami tak bisa menahannya, dan akhirnya mobil mereka pun melaju meninggalkan perumahan. Aku dan lelakiku masuk rumah. Mama dan Ayah sepertinya sudah tidur. Kondisi rumah sangat sepi.
“Kita langsung ke kamar aja, yuk!” ajakku sambil menarik lengan lelakiku. Dia senyum-senyum nggak jelas.
“Aku capek lo, Yaaang,” rengekku saat sampai di kamar dan dia minta jatah.
“Apa sih, orang Cuma pengen meluk aja kok,” balasnya.
“Ya udah, janji Cuma peluk aja ya. Gak boleh lebih.”
“Iyaaa,” balasnya.
Baru saja mau merem, ponselku berdering. Aku dan suamiku pun bangun dan memeriksa siapa yang menelepon.
“Sania, Yang,” kataku sambil menunjukkan layar ponsel.
“Ya udah, angkat!” titahnya dan lekas aku terima telepon pun tersambung.
“Tolooong!” Suara Sania seperti orang tercekik. Sontak saja aku dan suamiku panik. Kami bergegas turun dari ranjang menyambar jaket dan berlari keluar rumah secara tergesa menuju rumah Sania.
Gerbangnya sudah dikunci sehingga menyulitkan kami berdua untuk masuk. Kami makin panik. Mencari cara untuk masuk rumah otak serasa blank.
“Ya nggak tahu gimana?” sahut lelakiku tak kalah panik.
“Coba telepon lagi Mbak Sanianya!” Sesuai titah lelakiku, aku mencoba menghubungi ponsel Sania. Nyambung, tapi tidak lekas diangkat.
“Apa perlu kita minta bantuan Pak RT?” tanyaku meminta saran. Lelakiku mondar-mandir sambil berpikir.
“Jangan dulu. Gimana kita jelasinnya ke Pak RT. Udah biar aku coba manjat pagarnya. Aku ambil tangga dulu ke rumah.”
“Iya iya. Buruan!” sahutku. Lelakiku berlari pulang mengambil tangga. Aku tetap standby di depan gerbang sambil terus menelepon Sania. Tak berselang lama, lelakiku kembali memikul tangga besi, lalu memasang di dekat pagar dan teleponku pun tersambung.
“Eh, ini Sania angkat teleponku, Yang!” seruku girang. Lelakiku pun urung naik tangga.
“Ya, ada apa, Ran?” Suara Sania kali ini terdengar biasa saja. Tidak seperti tadi. Suaranya seperti orang habis tidur malah. Apa dia habis pingsan?
“Apa kamu baik-baik saja?” tanyaku memastikan.
“Iya, maaf, aku barusan udah tidur. Memangnya ada apa?” Sania malah balik nanya. Ini aneh. Jelas ada yang janggal. Kalau Sania habis tidur, lalu yang menelepon tadi siapa? Kalau aku ceritakan yang sesungguhnya, takutnya malah dia ketakutan. Mungkin lebih baik aku tidak memberitahunya perihal telepon misterius tadi.
__ADS_1
“Tidak ada apa-apa. Aku Cuma mau memastikan aja bahwa semuanya baik-baik saja,” balasku akhirnya.
“Oh, iya, semua baik kok. Aman.”
“Ya udah, selamat malam. Lanjutkan tidurnya!”
“Oke,” pungkas Sania dan telepon pun mati.
“Sania baik-baik saja?” tanya suamiku. Aku mengangguk.
“Lalu telepon tadi?” tanyanya lagi. Aku mengedikkan bahu, lalu kami kembali ke dalam rumah.
Saat kami siap hendak menaiki tangga, kami melihat Mama berjalan dengan kepala menunduk menuju dapur. Tidak biasanya Mama seperti itu. Tentu saja itu menimbulkan tanya dalam hatiku.
“Itu Mama tumben diem aja lihat kita di sini?” celetuk lelakiku.
Aku yang merasa janggal dengan sikap Mama langsung membuntutinya menuju dapur. Suamiku mengekor. Namun, saat sampai dapur, suasana gelap dan sepi. Tidak ada orang ataupun aktivitas, lalu ke mana perginya Mama?
“Ma!” panggilku, hening tak ada yang menyahuti. Sekali lagi aku memanggil Mama, lalu suamiku juga ikut memanggil-manggil Mama sambil mencari ke berbagai ruang yang ada di dekat dapur. Namun, Mama tidak ada. Padahal tadi sangat jelas, ke arah sinilah Mama pergi.
“Mama!” Sekali lagi aku mencoba memanggil.
“Ya ampun, apa yang kalian lakukan di sini? Kenapa berisik sekali? Mengganggu orang tidur saja!” Kami berdua tersentak kaget, pasalnya Mama menyembul dari arah pintu penghubung dapur dan ruang makan yang artinya baru saja keluar dari kamarnya. Aku dan suamiku saling pandang. Fiks, yang tadi mengecoh kami bukan manusia.
“Ada manggil-manggil Mama?”
Aku dan suamiku saling pandang, bingung cari alasan yang tepat. Kalau cerita yang sebenarnya terjadi, bisa-bisa Mama panik dan suasana jadi makin heboh.
“Enggak apa-apa, Ma. Kami Cuma ....” Belum selesai suamiku bicara, ponsel di tanganku berdering. Di layar tertera nama kontak Mela menelepon. Gegas aku angkat.
“Halo, Mel.” Aku memulai obrolan setelah tersambung.
“Ran, tolong kami, Ran! Tolong!” Suara Mela terdengar panik. Pasca kejadian telepon misterius tadi, aku agak sulit percaya dengan telepon macam ini, tetapi tidak ada salahnya jika aku pastikan.
“Mel, ada apa?”
“Aaaak!” Suara jeritan Mela sangat melengking diiringi suara benturan keras entah apa. Detik kemudian telepon terputus, aku panik.
“Ada apa?” Suamiku bertanya sambil memegangi kedua sisi bahuku, lalu Mama dan kemudian Ayah bertanya dengan kalimat serupa.
__ADS_1
“Mela ... sepertinya terjadi sesuatu sama Mela.”