TUMBAL KETUJUH

TUMBAL KETUJUH
Banas Pati


__ADS_3

Kami terus berlari dan berlari. Nenek-nenek tadi tidak lagi terlihat. Namun, api yang melayang-melayang di udara masih terus mengejar kami. Ya, banas pati itu masih terus mengejar.


“Aaak!” pekik Sania, dia terduduk. Bersamaan dengan itu, tangannya terlepas dari genggamanku dan juga genggaman Mela. “Aku sudah tidak kuat lagi,” rengeknya lemah dan napasnya terengah.


“Kamu pasti bisa. Ayo bangun! Kita harus pergi sejauh mungkin dari sini, Sania. Ayo bangun!” titah Mela.


“Ayo, San. Kita pasti bisa.” Aku menyahut dan berbarengan dengan Mela mengulurkan tangan ke hadapan Sania. Akhirnya Sania pun meraih uluran tangan kami, dan kami bertiga kembali berlari tepat saat banas pati itu sampai beberapa meter di belakang kami.


“Aaak!” Kali ini Mela yang terpekik, dan detik kemudian dia tersungkur. Otomatis, Sania juga ikut terjatuh. Untungnya aku masih mampu menjaga keseimbangan tubuhku meski sempat oleng juga karena tertarik tanganku oleh Sania.


“Aww!” rintih Mela memegangi pergelangan kakinya. Aku langsung berjongkok di dekat Mela dan Sania yang kini duduk bersisian beralaskan tanah becek.


“Kenapa?” tanyaku memastikan.


“Sepertinya kakiku terkilir akibat tersandung tunggul kayu itu,” jelas Mela.


“Terus sekarang gimana? Itu bola apinya sudah makin dekat!” ujar Sania panik.


“Kita papah Mela,” saranku.


“Oh, ayolah, bagaimana cara kita berlari kalau sambil memapah Mela?” sahut Sania.


“Terus mau meninggalkan Mela sendirian di sini?” Aku mulai geram.


“Ya, lagian ngapain sih, dia nyusul ke sini? Bikin repot aja!” ceplos Sania.


“San, Mela ke sini mau membebaskan kita, menjemput kita!”


“Menjemput apanya? Nyatanya, sekarang yang ada dia malah menyusahkan kita!”


Aku menghela napas kasar mendengar pernyataan Sania. Aku sungguh tidak menduga kalau dia akan berkata demikian. Itu sangat menyakitkan. Mela hanya duduk diam sambil mengelus-elus kakinya yang mungkin sakit luar biasa. Aku mengusap bahu Mela menguatkannya dan memberitahunya bahwa aku akan selalu bersamanya apa pun situasinya.


“Yang perlu kita lakukan sekarang, bertahan di sini, tetap bersama-sama dalam situasi apa pun. Sampai kita bisa menemukan jalan keluar sama-sama. Oke.”


Seketika Sania langsung menyambarku dengan tatapan tajamnya. “Apa? Bertahan di sini? Yang benar saja! Aku tidak mau. Aku akan pergi untuk menyelamatkan diri dari sini. Persetan dengan kalian.” Tanpa ba-bi-bu Sania langsung bangkit dan berlari, dia tak menghiraukan panggilanku dan juga panggilan Mela.

__ADS_1


“Kejar dia, Ran!” titah Mela.


“Terus kamu gimana?”


“Aku akan menunggu kalian di sini,” jawab Mela mantap sambil memegangi sebelah bahu ini.


“Bagaimana dengan bola api itu? Bagaimana kalau banas pati itu menyerangmu?” Aku khawatir.


“Tenang saja. Aku bisa jaga diri menggunakan ini.” Mela menunjukkan dua jarum pentul padaku, lalu mengulurkan satunya untukku, “Ini, satu untukmu. Kamu gunakan jika nanti banas pati itu tetap mengejarmu.” Aku meraihnya, lalu mengangguk dan kemudian berlari menjauh dari Mela. Saat agak jauh, aku menoleh ke belakang, Mela mulai membentuk lingkaran di tanah menggunakan jarum tadi. Aku yakin, Mela pasti aman di sana, dia bisa menjaga diri. Namun, aku tidak yakin dengan Sania. Ini pengalaman pertamanya tersesat di alam astral, dia tidak mengerti apa-apa.


Benar saja, setelah tidak berhasil menyerang Mela, bola api itu terus mengikutiku. Aku mempercepat pelarianku. Beberapa puluh meter di depan sana, aku melihat Sania. “Sania, berhenti!”


Namun, Sania hanya menoleh sekilas sambil terus berlari kencang. Aku pun menambah kecepatan langkahku agar bisa menyusulnya. “Sania, berhenti!”


“Tidak! Aku tidak mau lebih lama lagi di hutan ini. Aku tidak mau mati konyol!” sahutnya masih sambil terus berlari tanpa menoleh kemari.


“Justru kamu akan mati konyol kalau terus berlari, Sania! Karena hanya Mela yang tahu portal gaibnya! Hanya Mela yang tahu jalan keluarnya!” Seketika langkah Sania pun berhenti dan aku memelankan langkahku, Sania perlahan berbalik.


“Apa katamu?” tanyanya.


“Kenapa kamu tidak bilang dari tadi?” Nada suara Sania terdengar kesal.


“Siapa suruh lari nggak jelas! Kamu harusnya berusaha meredam egomu, San!” Aku sebal, dan kini posisi kami sudah bersisian. Kudengar, Sania mengucap ‘maaf’ lirih.


“Kita kembali ke tempat Mela berada!” ajakku.


“Tapi, bagaimana dengan itu?” Sania menunjuk bola api yang kini melayang-layang di depan kami. Aku teringat akan jarum pemberian Mela tadi, lantas kugunakan untuk membuat lingkaran di tanah.


“Apa yang kamu lakukan?” tanya Sania.


“Sudah, diam saja. Nanti juga kamu akan tahu.”


Membuat lingkaran selesai. Namun, bola api itu masih melayang-melayang mengitari kami, meski tak bisa melintasi garis yang aku buat tadi. “Sekarang kita tahan napas. Setelah hitungan ketiga, oke!”


“Oke.” Sania kali ini nurut tanpa banyak tanya lagi. Karena dia mungkin mulai tahu bahwa apa pun yang aku lakukan, semua demi kebaikan dan keselamatan kami.

__ADS_1


“Satu ... dua ... tiga!” Aku mulai tahan napas, begitu juga dengan Sania. Sebelumnya bola api itu masih berputar-putar mengitari luar garis yang aku buat tadi, setelah kami tahan napas akhirnya pergi menjauh lalu menghilang. Aku menghela napas lega, Sania juga. Tak lupa kami mengucap syukur. Lantas, berlari kembali ke tempat Mela berada.


“Aku minta maaf atas keegoisanku tadi,” ucap Sania setelah kami bertiga kembali berkumpul.


Mela tersenyum. “Itu manusiawi kok. Terpenting setelah ini kita harus terus sama-sama, oke.” Sania mengangguk dan matanya berkaca-kaca, kemudian dia memeluk Mela, tangisnya pun pecah.


“Sudah, jangan menangis. Sebaiknya kamu menghemat energimu,” ujar Mela sambil menepuk bahu Sania.


“Benar apa kata Mela, San. Kamu harus menghemat energimu. Sudahi tangismu.” Sania pun menghapus air matanya dan posisi dia yang kami apit di tengah memudahkannya untuk merangkul aku dan Mela secara bersamaan.


Kami lantas menyudahi adegan dramatis ini dan kembali melanjutkan perjalanan. Mela kami papah di tengah. Terkadang aku dan Sania gantian menggendong.


“Apa kamu yakin ke sini arahnya?” tanya Sania. Mela yang kebetulan aku gendong mengangguk yakin.


“Iya, di sana arah portal gaib itu berada. Kita harus melangkah di tengah-tengah pohon kembar,” jawab Mela.


“Masih jauh?” tanyaku.


“Seharusnya tidak,” jawab Mela.


“Kamu lelah, Ran?” Kali ini Sania yang bertanya, “Sini, biar aku yang gantian menggendong Mela,” sambungnya sebelum aku menjawab.


Aku pun menurunkan Mela perlahan, dan kami sepakat untuk istirahat sejenak sebelum kembali melanjutkan perjalanan menuju portal gaib. Tenggorokan aku sudah terasa kering kerontang. Begitu juga dengan Sania, dia juga mengeluh sama. Sedangkan Mela mengeluhkan kakinya yang semakin nyeri.


“Bagaimana? Sudah siap melanjutkan perjalanan?” tanyaku. Mela dan Sania mengangguk kompak. Aku berdiri duluan, disusul Sania yang bersiap menggendong Mela.


“Sebaiknya aku jalan saja. Kalian papah saja,” pinta Mela.


“Jangan dipaksain, Mel. Nanti malah makin sakit kalau maksa jalan. Udah, aku gendong aja. Aku masih kuat kok. Lagi pula, anggap saja ini sebagai bentuk permintaan maafku karena tadi sudah sempat meninggalkanmu,” ujar Sania.


“Oh, ayolah, aku sudah melupakannya,” balas Mela.


“Ya sudah, kalau gitu nurut!” paksa Sania, dan Mela pun akhirnya naik ke punggung Sania.


“Rania, Mela! Kalian di mana?” Tepat saat kami akan melanjutkan langkah, kami mendengar suara Madam Carla memanggil. Sontak kami bertiga pun urung melangkah dan terdiam saling pandang.

__ADS_1


__ADS_2