TUMBAL KETUJUH

TUMBAL KETUJUH
Gagal Romantis


__ADS_3

“Ini kamu semua yang nyiapin, Yang?” tanyaku saat kami sampai di meja makan malam romantis di tepi pantai. Tepatnya di belakang penginapan kami.


“Hmmm,” gumamnya diiringi anggukan.


“Oh, jadi yang kamu bilang cuci mata tadi nyiapin ini, ya?”


“Seratus!” serunya sambil menggeser kursi dan mempersilakan aku duduk.


“Masih sakit, ya?” tanyanya saat aku meringis menahan sakit pas duduk.


“Menurut ngana?” ketusku. Dia terkekeh, lalu mengecup pipi ini lembut.


“Maaf, ya, tadi siang aku terlalu brutal. Tapi, malam ini aku janji bakal melakukannya lebih lembut lagi.”


Mendengar ucapannya tentu saja aku mendelik menatapnya tajam. Mendapat tatapan elang dariku, dia terkekeh lagi. “Bercanda, Sayang.” Dia lantas duduk di kursi seberang meja.


“Eh, tapi, nih, ya, kalau kita lakukan terus menerus nanti lama-lama terbiasa dan nggak sakit lagi, loh, Yang.” Dia terbahak saat aku tatap tajam.


“Jangan manyun gitu, nanti aku makin gemes. Kan, kamu tahu sendiri kalau aku udah merasa gemas suka khilaf.” Dia masih saja lanjut berkelakar.


“Ini mau makan apa enggak? Kalau enggak, aku balik ke kamar, nih!” ancamku kesal.


“Eh, jangan dong, Ayang. Masa aku udah capek-capek nyiapin ini semua kamu mau pergi gitu aja. Ya udah, makan, yuk! Biar aku yang melayanimu malam ini.” Dia lantas sibuk mengambilkan nasi beserta lauk pauknya dan menyuapiku dengan penuh cinta. Canda dan tawa mengiringi makan malam romantis kami.


Tiba-tiba seperti ada yang berbisik meminta tolong. Suaranya sama persis seperti suara wanita di dalam mimpiku tadi siang. Perlahan kepala terasa pusing dan perut mual.


“Sayang, kamu kenapa lagi?” tanya suamiku raut wajahnya terlihat cemas melihatku mual-mual.


“Hei, dengarkan aku! Kamu jangan bengong. Tetap fokus, oke!” katanya sambil memegangi kedua sisi bahu ini. Aku mengangguk, tetapi pandangan mataku makin buram.


“Sayang, fokus!” Suara Tirta mulai terdengar samar, lalu semua menjadi gelap dan saat aku membuka mata, aku sudah berada di tempat lain.


Aku kini di sebuah rumah panggung berdinding papan dan beratapkan seng. Di sebuah ruangan sedang terjadi obrolan serius. Aku melangkah perlahan ke sumber suara. Ternyata sedang terjadi diskusi di ruang tamu.

__ADS_1


Ada dua orang pria yang aku duga sebagai tamu. Dan seorang wanita yang masih terbilang muda. Aku tafsir usianya kisaran 30-an tahun. Wanita itu pemilik rumah panggung bercat hijau ini. Terlihat dari beberapa bingkai foto yang terpajang di dinding.


“Ayolah, jual saja rumahmu ini. Toh, sudah reot juga. Kau bisa tinggal di tempat yang lebih layak setelah ini.” Salah satu pria berusaha membujuk wanita itu.


“Benar apa kata Bang Hendarto. Mbak Maya setelah ini bisa beli perumahan yang lebih bagus. Siapa tahu di tempat baru nanti, Mbak Maya bisa dapat jodoh lagi.” Kini, gantian pria satunya yang membujuk.


“Tidak! Untuk ke sekian kalinya saya katakan, saya tidak akan menjual rumah ini.” Wanita bernama Maya itu tetap pada pendiriannya.


“Memangnya apa sih, yang Mbak Maya pertahankan dari rumah ini?” tanya pria yang bernama Hendarto tadi.


“Kenangan. Di rumah ini banyak sekali kenangan bersama keluarga saya dan almarhum suami saya.”


Oh, jadi Mbak Maya itu seorang janda rupanya. Akhirnya kedua pria itu pun pergi dengan raut kecewa.


“Kita gagal lagi mendapat komisi besar, Di,” kata Hendarto ketika sampai di ujung tangga rumah panggung ini. Aku melangkah keluar karena penasaran dengan obrolan mereka selanjutnya.


“Mungkin sudah saatnya kita menggunakan cara pamungkas, Bang. Aku sudah tidak tahan lagi dengan keangkuhan janda kembang itu,” lirih pria yang dipanggil ‘Di’ oleh Hendarto.


“Ya sudah, malam ini kita lancarkan aksi,” ujar Hendarto. Pria satunya mengangguk sepakat.


Maya menutup semua pintu dan jendela, lalu bersiap tidur. Dari sini aku bisa mendengar debur ombak. Apa rumah ini di tepi pantai? Aku berjalan ke belakang dan mengintip keluar dari celah papan, tetapi tidak bisa melihat apa pun. Di luar sana gulita. Namun, suara debur ombak itu kian jelas. Kurasa benar, rumah ini di tepi pantai.


Aku sudah sangat lelah berada di sini, tetapi aku juga tidak tahu bagaimana caranya pulang.


Jam di dinding papan bercat hijau ini terus berdetak. Jarumnya tak lelah berputar menunjuk detik demi detik. Sudah lewat tengah malam dan aku masih terjebak di sini.


Dahi ini mengernyit saat tiba-tiba tercium aroma bensin yang menyengat. Tak lama terdengar suara seperti orang hendak membuka pintu atau jendela. Aku melangkah ke depan dan ternyata benar, ada orang yang sedang berusaha membuka jendela. Aku berlari ke kamar Maya, tetapi percuma saja. Aku tak bisa membangunkannya.


Kini, kedua pria bertopeng itu sudah sampai di kamar Maya dan matanya melotot melihat rok wanita itu yang tersingkap sehingga menampakkan ********** yang berwarna merah jambu.


Kedua pria itu pun saling tatap, kemudian kompak mengangguk.


Maya melenguh, lalu terbangun dan terkejut melihat ada dua pria bertopeng di dalam kamarnya. Belum sempat berteriak meminta tolong, mulut Maya sudah dibekap oleh seorang pria.

__ADS_1


Detik kemudian, mulut Maya disumpal dengan kain, dan kedua tangan serta kakinya diikat menggunakan tali ke sudut-sudut tiang ranjang.


Maya meronta dan matanya berderai air mata. Namun, aku hanya bisa menyaksikan adegan laknat itu tanpa bisa berbuat apa-apa.


“Kau tunggu giliranmu di luar!” kata salah seorang pria. Pria satunya pun keluar kamar dan menutup pintunya rapat-rapat.


Pria yang masih di dalam kamar bersama Maya pun membuka sabuknya dan memelorotkan celananya. Setelahnya, pakaian maya dicabik-cabik menggunakan gunting hingga semua auratnya tampak. Pria itu meraba seluruh lekuk tubuh Maya yang berontak. Setelah tangan dan lidahnya puas menjelajahi seluruh tubuh Maya, pria itu lantas menghunjamkan pusakanya yang sudah menegang. Maya makin kuat berontak, tetapi pria yang sudah dikuasai naf su itu tak peduli dan terus melanjutkan genjotannya hingga *******. Pria itu menyemburkan lahar kentalnya ke dalam lubang kenikmatan milik Maya. ******* kenikmatan mengiringi sambil matanya terpejam. Badannya kuyup oleh peluh. Setelah puas, pria itu kembali mengenakan pakaiannya dan meninggalkan Maya yang masih bu gil serta berlumur keringat.


Kini, pria satunya masuk, membersihkan bagian ternikmat milik Maya yang berlumuran cairan peninggalan pria yang sudah puas tadi. Lantas melancarkan aksinya tanpa pemanasan. Suara kecipak dua pusaka yang beradu pun terdengar nyaring memenuhi penjuru kamar ini. Aku Cuma bisa menangis melihat pemandangan menjijikkan itu. Aku sudah berusaha menolong, tetapi percuma.


Pria itu akhirnya mendesah panjang. Raut wajahnya penuh kenikmatan. Seperti pria yang tadi, dia pun sama, menyemburkan cairannya ke dalam organ intim Maya. Dan tidak hanya sekali, pria itu langsung melakukan pemanasan lagi dan melakukan ronde kedua. Benar-benar biadab!


“Kenapa lama sekali?!” teriak pria di luar.


“Sabar, sebentar lagi!” jawab pria di hadapanku sambil terus melakukan gerakan tanam cabut ubi.


Selesai melakukan aksi bejatnya, kedua pria itu meninggalkan Maya masih dalam posisi terikat di atas ranjang tanpa sehelai benang. Aku mengikutinya keluar, dan betapa terkejutnya aku. Ternyata pria itu membakar rumah Maya.


“Cabut!” ajak pria satunya setelah si jago merah melahap dengan ganasnya rumah Maya. Lagi-lagi, aku Cuma bisa menangis menyaksikan Maya terpanggang di dalam sana. Tak ada yang datang menolong, karena rumah di sekitar sudah pada kosong ditinggalkan penghuninya. Entah ke mana. Mungkin sudah laku terjual.


Aku menghela napas lega saat tiba-tiba turun hujan dengan begitu derasnya. Api yang menjilat ganas pun padam.


“Tolooong!” Itu suara Maya. Aku berlari hendak memeriksa kondisi Maya. Namun, sebuah motor datang. Dua pria tadi datang lagi. Sesuai dugaanku, mereka memastikan kondisi korbannya. Setelah melihat kondisi Maya masih hidup, salah seorang pria menghabisi nyawa Maya dengan balok. Persis adegan dalam mimpi sebelumnya.


Sebuah kilatan cahaya, membuat aku terpejam, lalu saat membuka mata aku sudah ada di kamar penginapan lagi.


“Sayang, ini kamu?” tanya Tirta sambil membingkai wajahku.


“Iya, ini aku,” jawabku lemah. Badan mendadak terasa sangat lemas. Energiku seolah terkuras habis.


“Ini minumlah dulu!” titah suamiku. Aku pun meneguk air dalam gelas itu hingga tandas.


“Memangnya apa yang terjadi padaku? Bukannya tadi kita sedang makan malam romantis di tepi pantai? Kenapa sekarang sudah di kamar?”

__ADS_1


“Sudah, kamu istirahat aja dulu. Besok aja ceritanya, ya.” Meski aku sangat penasaran dengan apa yang terjadi padaku tadi, tetapi aku memilih patuh pada suamiku. Pasalnya badan terasa sangat lemas tak bertenaga.


__ADS_2