TUMBAL KETUJUH

TUMBAL KETUJUH
Tolong


__ADS_3

Masih lanjut POV. Rania


“Kok Bayu belum sadar juga?” Aku mulai takut melihat kondisi Bayu yang seperti orang mati. Tak bergerak sama sekali. 


Dian dan Tirta saling pandang. Wajah keduanya menyiratkan kekhawatiran.


“Kita tunggu sampai beberapa saat lagi, ya, Ran. Doain aja semoga Bayu kembali dengan selamat.”


Aku mengerutkan kening. Mencoba mencerna ucapan Dian.


Lantas kami semua terdiam menunggu Bayu kembali dari alam bawah sadarnya. Atau apalah, aku tidak begitu paham istilah yang sedang Bayu lakoni sekarang. Aku merapal doa dalam hati, semoga Bayu baik-baik saja dan segera sadarkan diri.


“Ya Tuhan, apa yang terjadi pada teman kalian?!”


Kami bertiga terkejut oleh teriakan Mama, yang entah sejak kapan berdiri di ambang pintu kamar ini.


Aku, Dian dan Tirta saling pandang satu sama lain. Kemudian menoleh ke arah Mama yang masih mematung di ambang pintu.


“Itu teman kalian kenapa?” Lagi Mama bertanya sambil menunjuk tubuh Bayu yang tergolek di lantai. Mama terlihat panik. “Temennya pingsan, kok kalian diem aja bukannya cari bantuan kek atau gimana?” omel Mama kemudian, sambil melangkah mendekati Bayu yang tergeletak di lantai. Memastikan.


“Eum, tenang ya, Tan. Ini nggak apa-apa kok.” Dian mencoba menjelaskan. Namun, Mama tidak paham dengan apa yang Dian paparkan. Ditatapnya Dian sedemikian rupa.


“Enggak apa-apa bagaimana? Jelas-jelas itu teman kalian tergeletak di lantai nggak sadarkan diri gitu, kok dibilang nggak apa-apa. Kalau dia kenapa-kenapa gimana? Nanti tante dan keluarga juga yang disalahkan.” Mama nyerocos tanpa henti.


“Tante, teman kami Insya Allah, baik-baik saja. Dia sedang mendapat penglihatan ....”


“Penglihatan apa?” Mama menyela penjelasan Tirta. Dahinya mengernyit tak mengerti.


“Jadi gini Tan, Bayu teman kami ini memiliki kelebihan bisa melihat yang tak kasat mata.” Tirta kembali melanjutkan penjelasannya.


“Maksudmu dia anak  indigo kayak yang di TV-TV itu?” sahut Mama mulai paham.


“Iya kurang lebih seperti itu,Tan,” timpal Dian.


Mama mengangguk-angguk kecil. “Kalau begitu berarti teman kalian ini bisa melihat dan tahu di mana Tania berada, dong?” celetuk Mama.


“Masalah Tania ini masih sulit dipecahkan, Tan. Seperti ada kekuatan besar yang menutupi kasus hilangnya Tania,” papar Dian.


Mama menunduk sedih, pun denganku juga Dian dan Tirta.


“Ma, nyamperin anak-anak untuk diajak makan aja lama bener, Ayah sudah lapar lo ini,” ucap Ayah yang langsung nyelonong masuk membaur dengan kami.


“Lho, Bayu pingsan lagi?” celetuk Ayah, dan diangguki oleh Dian juga Tirta.


“Kalau Om lapar, sebaiknya kalian makan saja dulu. Aku dan Dian minta izin untuk tetap di sini menunggu Bayu sadar. Boleh, 'kan?” Tirta melihat aku, Mama dan Ayah secara bergantian.


“Makannya nanti saja bareng-bareng. Om masih kuat kok nahan lapar. Kita tunggu Bayu sadar dulu.”


“Maaf ya, Om, Tante, Rania, kami jadi merepotkan,” ucap Dian, ia terlihat tak enak hati.


“Enggak kok, memangnya merepotkan apa? Justru kalian sudah banyak membantu kami mencari Tania. Kami banyak terima kasih untuk hal itu,” timpal Mama. Aku dan Ayah mengangguk sepakat dengan ucapan Mama.


“Kita hanya melakukan apa yang seharusnya kita lakukan sebagai sesama, Om, Tante,” sahut Tirta.


Entah kenapa ada rasa kecewa menyelusup dalam hati ini pasca mendengar ucapan Tirta itu. 'Jadi hanya sebatas itu, Ta. Mungkin benar selama ini aku terlalu baper menanggapi sikapmu yang terkadang begitu perhatian padaku. Aku salah menafsirkan sikap pedulimu terhadap diri ini.’


Aku tersentak dari lamunan oleh suara lenguhan Bayu. Sejurus kemudian Bayu membuka mata. Dian dan Tirta juga Mama, Ayah, mengucap syukur. Lega, akhirnya bocah tengil itu sadar juga.


“Gimana? Apa yang kamu lihat tadi?” cecar Dian.


Bayu tampak enggan menjelaskan. Ia seolah tak enak hati pada aku, Ayah dan Mama.


“Tidak apa-apa katakan saja. Insya Allah, kami siap mendengarkan apapun itu yang barusan kamu dapatkan.”


“Om yakin, kuat mendengar semua ini?” tanya Bayu.


Ayah terdiam sejenak lalu beradu pandang dengan Mama. Kemudian kembali menoleh ke arah Bayu yang masih duduk di lantai. Lantas mengangguk mantap siap mendengarkan Bayu bercerita.


Namun, suara perut Ayah yang keroncongan membuat Bayu urung menceritakan apa yang tadi dilihatnya.


“Kayaknya ceritanya nanti saja ya, Om benar-benar sudah sangat lapar. Kita makan  dulu, yuk! Biar Bayu juga tenaganya pulih.”


“Ayaaah!” Mama menyambar Ayah dengan tatapan elangnya seraya mencubit perut Ayah.

__ADS_1


“Ya sudah, yuk, kita makan dulu semuanya!” ajak Mama.


“Yuk, makan dulu!” timpalku.


Mama dan Ayah sudah melenggang jalan duluan keluar kamar. Pun Dian sudah berjalan beberapa langkah di depanku memapah Bayu yang masih lemah.


“Ya ampun, lapar melanda, mereka sampai lupa kalau anaknya ini kesulitan jalan,” gumamku kesal pada Mama dan Ayah.


Aku merambat pada dinding atau apapun yang bisa kupegang. Sambil meringis menahan sakit di kaki.


“Sini kubantu.” Tirta mengulurkan tangan.


“Enggak usah, aku bisa sendiri kok,” tolakku. Tak ingin baper berkepanjangan. Aku terpaksa pura-pura kuat di depan Tirta.


Mataku terbelalak saat Tirta memapahku secara tiba-tiba. Pandangan kami pun beradu dalam hitungan detik. Desir napasnya yang hangat menyapu wajah ini. Jantungku berdetak hebat tak bisa diajak kompromi. Aku pun jadi salah tingkah.


“Ya ampun, maaf mama melupakanmu, Sayang,” ucap Mama dengan santainya sambil melongokkan kepalanya di ujung atas anak tangga. Lalu kembali menuruni anak tangga setelah tahu aku sudah dipapah oleh Tirta.


“Ma-Ma, gimana sih, malah turun lagi. Bukannya bantuin aku. Mama nyebelin banget sih,” gumamku kesal.


“Kan sudah aku bantu,” sahut Tirta.


“Ya tapi, 'kan, beda.”


“Beda gimana?”


Aku menggaruk tengkuk yang sebenarnya tidak gatal. Bingung nggak tahu mesti ngomong apa lagi. Aku semakin salah tingkah saat Tirta menatapku sedemikian rupa dari sisi kiriku.


Lalu melanjutkan langkah yang sempat terhenti beberapa saat.


Saat menuruni anak tangga aku berusaha menahan rasa sakit di kaki. Namun, tampaknya Tirta menyadari kalau aku kesakitan.


“Tahan,” ucapnya. Dia melepaskan papahannya. Refleks aku berpegangan pada tembok sisi tangga. Tirta turun dan berdiri di anak tangga bawahku. Dia sedikit membungkukkan badannya. Aku mengerutkan kening tak mengerti.


“Naik!” titahnya.


“Hah?!” Mataku terbelalak. Syok.


“Ka-kamu ya-yakin?” Aku masih tak percaya, Tirta akan menggendong aku. Jantung berdebar bukan main, badan gemetaran tak terkendali.


“Buruan naik!”


“Eum, panggil Ayahku aja deh, biar aku di ....” Ucapanku terhenti saat Tirta menarik kedua tanganku dan menyilangkan di lehernya. “Pegangan!” Lagi, dia memberiku perintah. Otomatis aku kini sudah berada di atas punggungnya.


Rasanya aku ingin pingsan. Ya Tuhan, semoga Tirta tidak mendengar detak jantungku ini.


“Kamu yakin bisa. Aku takut kalau kita jatuh terguling ke bawah,” rengekku, ngeri-ngeri sedap.


“Kalau kamu terus bicara,  yang ada nanti kita bisa jatuh beneran!” ketusnya.  Aku pun diam dan larut dalam situasi ini. Serta diam-diam aku memperhatikannya.


Perlahan dia menurunkan aku dari atas punggungnya setelah sampai di lantai bawah.


“Su-sudah sampai di bawah, ya?” Pertanyaan yang konyol. Hug.


“Ya, menurutmu gimana?” Dia menatapku aneh. Aku memalingkan wajah ke arah lain menghindari kontak mata dengannya.


Aku tersentak saat Tirta kembali meraih tangan kiriku dan melingkarkan di lehernya. Dia kembali memapahku hingga ke ruang makan. Sesampainya di ruang makan, Bayu menyiapkan kursi untukku.


“Terima kasih,” ucapku pada Bayu dan Tirta. Mereka berdua mengangguk kompak.


“Ayo kita mulai makan!” ajak Ayah tak sabar. Sepertinya Ayah sudah sangat lapar.


“Selamat makan semuanya,” pungkas Ayah, lalu menyuapkan sesendok makanan ke mulutnya setelah baca doa.


Saat aku kesulitan mengambil lauk, Tirta yang kebetulan duduk di sisi kiriku dengan sigap mengambilkan sepotong ayam goreng untukku.


Aku tak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Gerogi melanda.


Saat meraih gelas minum tanpa dinyana Tirta juga meraih gelas yang sama sehingga tangannya menyentuh punggung tanganku. Jantung yang semula stabil kini berdebar tak menentu lagi. Kontak mata antara aku dan dia pun tak terhindarkan.


Aku merutuk dalam hati. Entah kenapa aku jadi **** begini. Gelasku kan di sebelah kananku, kenapa aku ambil yang di sebelah kiriku coba. Duh!


Cepat, Tirta menarik tangannya dari punggung tanganku. Aku melihat ke sekeliling. Huf, untunglah semua pada fokus pada piring masing-masing. Jadi tidak menyadari kegoblokanku barusan.

__ADS_1


Aku lantas meraih gelas di sebelah kananku. Namun, saat hendak meminum airnya entah kenapa tanganku mendadak gemetaran. Sehingga airnya sebagian tumpah mengenai pahaku.


“Ups!”


“Kamu kenapa, Sayang?” tanya Mama yang menyadari keanehan pada diriku.


“Eum, ini Ma, nggak tahu kenapa tanganku mendadak kebas gitu pas mau minum makanya tumpah,” sahutku sekenanya.


Tirta dengan sigap mengambilkan tisu untukku.


“Terima kasih,” ucapku. Tirta merespon dengan anggukan kecil.


“Kayaknya besok harus kontrol deh, takutnya itu efek hanyut waktu itu,” ujar Mama. Aku hanya diam, nggak tahu lagi mesti ngomong apa. Masa iya, aku harus bilang ini efek gerogi karena duduk bersebelahan dengan Tirta.


***


Selesai makan, kami berkumpul di ruang tamu. Melanjutkan obrolan yang tadi sempat terjeda akibat perut Ayah yang keroncongan.


Bayu pun menceritakan apa yang dilihatnya selama melakukan astral projection tadi.


Bayu melihat detik-detik saat Tania dibawa oleh dua orang memakai tudung warna hitam. Tania dipanggul di pundak seorang pria lalu dibawa melalui lorong bawah tanah, dan seorang wanita mengekor di belakang pria yang memanggul tubuh mungil adikku itu.


“Apa kamu tidak lihat wajah si penculik itu?” tanya Ayah gusar. Bayu menggeleng.


“Ini jelas Yah, pasti pelakunya Mbok Tini dan Pak Ramat.” Entah kenapa feelingku sangat kuat bahwa mereka berdualah pelakunya.


“Sayang, kita nggak boleh asal nuduh tanpa bukti yang akurat,” timpal Ayah.


Kami mulai benar-benar frustasi memikirkan semua ini. Entah kapan teka-teki hilangnya Tania akan terungkap?


Ayah menyuruh Tirta, Dian dan Bayu untuk pulang dulu istirahat.


“Besok kita lanjut cari Tania lagi. Sekarang kita semua istirahat dulu,” ucap Ayah lesu.


Sesuai titah Ayah, Tirta dan kedua temannya pulang. Rumah pun kembali sepi. Bayangan Tania saat bermain, juga suaranya, tawanya,  terngiang di telingaku. 


“Sebaiknya kamu istirahat. Biar ceper sembuh.” Mama mengusap bahu ini. Aku mengangguk.


“Ya sudah, yuk, Mama antar ke kamarmu.”


“Enggak usah Ma. Aku tidur di kamar tamu aja. Capek kalau harus naik turun tangga.”


“Ya sudah, yuk, Mama antar ke kamar tamu.” Mama lalu memapahku ke kamar tamu.


Saat sampai di dalam kamar, Mama mendudukkan aku di tepi kasur.


“Terima kasih, Ma. Maaf, sudah banyak merepotkan.”


“Enggak repot kok. Sudah tidur gih!”


Aku mengangguk, lalu membaringkan diri di atas kasur.


“Mama temenin Ayahmu, ya.”


“Iya Ma.”


Setelah Mama keluar kamar, aku kembali teringat setiap adegan saat bersama Tirta tadi.


***


“Kaaak, tolong aku.”


Aku menajamkan pendengaran. Suara parau itu kembali terdengar.


Tania, iya benar, itu suara Tania. Aku bangun dari tidur lalu mencari sumber suara itu berasal. Berjalan perlahan merambat pada dinding dan berpegangan pada apa pun yang bisa kujadikan pegangan. Hingga sampai di ruang bawah tanah.


Kakiku serasa tak bertulang melihat Tania berdiri di ambang pintu lorong bawah tanah dengan badan berlumuran darah. Tangannya mengulur ke arahku. “Kaaak, sakiiit, tolong akuuu.” Suaranya terdengar berat seperti menahan sakit yang teramat sangat.


Aku melangkah perlahan mendekat ke arahnya sambil bercucuran air mata. Namun, belum sampai aku di dekatnya.  Tubuh mungil Tania seperti tersedot oleh kekuatan gaib dari dalam lorong. Sehingga tubuhnya melayang-layang di udara terseret memasuki lorong lalu menghilang dari pandangan mataku.


“Taniaaa!”


N E X T \=

__ADS_1


__ADS_2