TUMBAL KETUJUH

TUMBAL KETUJUH
Mimpi Buruk


__ADS_3

POV. Rania


__________


“Taniaaa!” Lagi, kuteriakkan nama adikku yang telah menghilang ditelan oleh lorong yang gulita. Mataku tak sampai ke ujung lorong. Hanya hitam pekat yang terlihat.


'Puk'


Sebuah tepukan di pundak membuat aku tersentak dari alam bawah sadar.


“Kamu kenapa?”


Aku tak langsung menjawab pertanyaan yang Mama tujukan untukku. Mengamati sekitar, bingung. Kesadaranku belum kembali seutuhnya.


“Nak, Rania, kamu kenapa, Sayang?” Kali ini Ayah yang bertanya.


Kupandangi kedua orang tuaku lekat. Lalu mengamati sekitar.


Aku masih di atas kasur? Berarti tadi aku cuma ....


“Kamu mimpi buruk lagi?” cecar Ayah, seraya mengusap pucuk kepala ini.


Aku lalu duduk di atas kasur. Kemudian mengangguk. “Iya Ma, Yah, aku mimpiin Tania lagi.”


Mama dan Ayah saling pandang. Kemudian kembali menatapku. Mama menyodorkan segelas air putih untukku. Segera kuraih dan kutenggak hingga tandas isinya.


“Makanya berdoa dulu kalau mau tidur,” ucap Ayah.


Aku hanya tersenyum kecil. Sepertinya tadi memang aku lupa berdoa pas mau tidur. Tapi, kok mimpinya berasa seperti nyata, ya? Apa itu sebuah pertanda jika Tania dalam bahaya?


“Memangnya mimpi apa? Sampai kamu teriak-teriak kayak tadi?” tanya Ayah.


“Eum ....” Enggak, aku nggak boleh menceritakan mimpiku ke Mama dan Ayah. Aku nggak mau mereka jadi khawatir dan sedih.


Aku memegangi kening, kepalaku serasa mau pecah memikirkan semua ini.


“Kenapa? Pusing?”  cecar Mama, dan kuangguki. Karena memang kepalaku sangat pusing.


“Ya sudah, kamu bawa istirahat lagi. Biar enakan,” titah Ayah. Aku mengangguk setuju sambil menggumam.


Ayah dan Mama keluar kamar meninggalkan aku sendiri. Membiarkan aku istirahat. Namun, anganku melayang memikirkan mimpi tadi. Semua masih terekam jelas dalam ingatan.


***


Suara bising di teras rumah membuatku ingin tahu apa yang terjadi di sana, dan siapa mereka.


Aku pun keluar dari kamar, merambat berpegangan pada apa pun yang bisa kujadikan pegangan.


Ketika sampai di ruang tamu aku menghentikan langkahku sejenak. Berdiri pegangan pada sandaran sofa. Mataku menembus jendela kaca. Dimana di balik kaca sana  ada beberapa  orang berdiri di teras sedang berbincang serius.


Ada satu sosok yang terlihat tidak asing dari arah belakang. Tirta.


Aku melanjutkan langkah untuk memastikan di teras sana ada apa. Namun, karena terlalu fokus melihat ke teras tanpa sengaja tanganku menyenggol vas bunga yang terletak di atas meja tamu. Sehingga jatuh dan pecah. Menimbulkan suara gaduh.


Aku meringis menahan sakit di kaki, berdiri sedikit membungkuk sambil berpegangan sisi meja.


Mereka yang semula di teras pun masuk memastikan. Termasuk Tirta, ia langsung panik dan membantuku berdiri lalu mendudukkan aku di sofa.


Kutatap Ayah terlihat tidak begitu suka dengan perlakuan Tirta padaku. Ayah memang sedikit protektif, kalau kemarin dia tahu Tirta menggendong aku, pasti dia marah.

__ADS_1


“Udah tau lagi sakit. Pake acara keluyuran segala!” omelnya.


“Habisnya penasaran ada apa?” jawabku.


“Kita lagi mengatur rencana untuk melanjutkan pencarian adikmu,” jelas Ayah. Kemudian duduk menengahi aku dan Tirta.


Tirta pun bergeser memberi ruang untuk Ayah. Kulihat Mama mengulum bibir lalu tersenyum kecil melihat kelakuan suaminya.


Kemudian Tirta berdiri, ia terlihat salah tingkah saat diperhatikan sedemikian rupa oleh Ayah.


“Mari kita mulai pencarian dengan doa sesuai kepercayaan masing-masing!” ucap Pak RT. Semua mengangguk setuju. Lalu berdoa sesuai kepercayaan masing-masing, dan mulai berpencar melakukan pencarian.


Saat Ayah dan Tirta akan pergi, Dian bersama Bayu datang dengan langkah tergesa.


Mereka berdua hampir menabrak Ayah yang kebetulan akan berjalan keluar.


“Hei, pelan-pelan! Ada apa dengan kalian?” tanya Ayah.


Dian dan Bayu lalu menceritakan mimpinya tentang Tania yang menghilang di dalam lorong bawah tanah.


“Aku juga mimpi seperti itu,” ucapku, memberi tahu mereka. Sontak semua melihat ke arahku.


Aneh, kenapa mimpiku sama persis dengan mimpinya Bayu dan Dian? Ada apa ini?


Dian, Bayu dan Tirta saling pandang satu sama lain. Lalu mereka bertiga sedikit menjauh dariku, Ayah dan Mama. Mereka bertiga berbicara serius dengan nada sedikit berbisik. Sejurus kemudian mereka kompak mengucapkan kata 'deal' entah apa yang mereka rencanakan?


“Om, Tante, Ran, kami bertiga sepakat untuk melakukan astral projection sekali lagi dari gudang bawah tanah kalau boleh,” ujar Dian.


Aku, Mama dan Ayah saling pandang. Lalu kompak mengangguk setuju. Dan mereka bertiga pun mulai bergegas ke gudang bawah tanah, lalu duduk bersila di atas tikar yang sengaja digelar. Ketiganya saling berpegangan tangan satu sama lain membentuk lingkaran. Lantas memejamkan mata dan memulai  perjalanan menuju ke alam lain.


Mama, Ayah dan aku duduk diam di sisi lain menunggu mereka kembali membawa kabar baik. Semoga saja kabar baik yang mereka dapatkan nantinya.


***


Aku menunduk merapal doa dalam hati memohon keselamatan untuk ketiga temanku. Selang beberapa saat kudengar tarikan napas panjang dari Dian disusul oleh Bayu lalu terakhir Tirta.


Aku, Mama dan Ayah kompak mengucap syukur atas kembalinya mereka bertiga.


Mama segera menyodorkan air minum untuk ketiga temanku itu.


“Terima kasih, Tan,” ucap Tirta, seraya mengangguk kecil dan  meraih gelas dari nampan yang dipegang oleh Mama. Mama hanya membalas dengan anggukkan pelan.


Usai minum dan istirahat sejenak mengumpulkan energi, Tirta kembali memulai pembicaraan. “Apa, Om, Tante dan Rania sudah siap untuk mengetahui apa yang kami dapatkan dari astral projection tadi?”


Aku kembali saling pandang dengan kedua orang tuaku. Lalu kami kompak mengangguk mantap. Siap mendengarkan mereka bercerita.


“Jadi ... sebenarnya ... Tania ... Tania ada di suatu tempat,” ujar Tirta terjeda-jeda, ia tampak ragu hendak menceritakan apa yang diketahuinya.


Dian dan Bayu berusaha memberi semangat agar Tirta kuat menceritakan apa yang dilihat pada keluargaku. Namun, ia tak mampu. Tirta menggeleng kecil tanda tak kuat meneruskan cerita.


“Begini saja Om, Tante, Rania, kita langsung saja ke tempat Tania berada.”


Cepat, aku Mama dan Ayah mengangguk setuju.


“Kamu di rumah aja, Sayang. Biar ditemani Dian,” titah Mama. Dian mengangguk setuju dengan ucapan Mama. Aku menggeleng memaksa ingin ikut. Aku sudah sangat rindu pada adikku, tak sabar ingin bertemu dengannya.


“Pokoknya aku ikuta, Ma, Yah!” pintaku sedikit ngeyel.


“Baiklah.” Akhirnya Ayah setuju, pun dengan Mama. Aku berjalan dibantu dipapah oleh Dian gantian dengan Mama.

__ADS_1


Sebelum melanjutkan perjalanan ke tempat Tania berada, kami mampir ke rumah Pak RT yang kebetulan sudah pulang usai berkeliling mencari Tania. Kami meminta Pak RT dan beberapa warga lainnya untuk menemani menjemput Tania. Sekaligus untuk dijadikan saksi jika terjadi sesuatu atau kami membutuhkan tenaga bantuan nantinya.


Sesekali semua istirahat sejenak demi menungguku. Lalu kami kembali berjalan menyusuri jalan berbatu yang sempit. Kiri dan kanannya diapit aneka pepohonan, semak, dan tanaman seperti halnya singkong, jagung, dan semacamnya.


“Ck, kelamaan. Ayo, sini ayah gendong!” ucap Ayah gusar, tak sabar menyejajari langkahku yang seperti keong.


Ayah sedikit membungkuk di depanku menungguku naik ke atas panggungnya.


“Ayah yakin? Aku sudah besar loh, Yah, sekarang. Apa Ayah masih kuat menggendong Rania?”


“Ayo naik! Jangan banyak bicara. Kamu pikir ayah sudah jompo! Ayah masih bugar, kalau cuma gendong kamu aja masih kuat!”


Aku pun naik perlahan ke atas punggung Ayah. Kemudian kami melanjutkan perjalanan. Saat berada di gendongan, aku curi-curi pandang dengan Tirta. Cowok dingin itu wajahnya semakin dingin saat diselimuti ketegangan. Kemudian kulirik wajah Dian juga Bayu. Entah kenapa wajah  ketiga anak indigo itu terlihat tegang.


Apa sebenarnya yang mereka ketahui tentang Tania?


“Apa masih jauh lagi tempat Tania berada?” tanya Ayah di sela napasnya yang terengah karena kecapaian menggendong aku.


“Sebentar lagi sampai,” sahut Tirta.


Aku melihat ke sekitar, dahiku berkerut tak mengerti. Kata Tirta sebentar lagi sampai, Tania di mana? Sedangkan sejauh mata memandang hanya ada ladang yang ditumbuhi pepohonan dan tanaman. Tidak ada gubuk apalagi rumah di sekitar sini.


Mama dan Ayah juga celingukan mengamati sekitar. Kurasa mereka berdua sama bingungnya denganku.


“Yah, kalau Ayah capek sebaiknya aku turun saja. Biar aku jalan lagi.”


Ayah tak menggubris perkataanku. Ia melanjutkan langkah sesuai arahan Tirta dan kedua temannya.


“Kok berhenti?” tanya Ayah, saat Tirta, Bayu dan Dian menghentikan langkahnya di bawah pohon besar nan rimbun.


Tirta menunduk sedih, pun dengan Bayu dan Dian.


Ayah menurunkan aku dari gendongannya. Lalu menoleh ke sekeliling. Mencari keberadaan Tania, pun denganku dan Mama.


“Di mana Tania? Mana?” tanya Ayah gusar.


Tirta menunjuk tanah menggunduk yang di atasnya ditutup pakai daun kering. Gundukan tanah itu tepat berada di bawah pohon rindang yang menaungi kami. Terletak selangkah di depan kami.


Mama menutup mulutnya yang mangap dengan tangannya yang bergetar hebat. Pun dengan Ayah, super heroku itu kini ambruk bersimpuh di sisi tanah menggunduk di mana jasad Tania ada di dalamnya. Mama menyusul bersimpuh di sisi Ayah. Tangis keduanya pecah.


Sementara aku masih berdiri tertegun menyaksikan semuanya. Hatiku tak percaya jika Tania ada di dalam gundukan tanah itu.


“Enggak ... nggak mungkin Tania sudah ....”


Aku tak mampu melanjutkan ucapanku. Air mata yang sedari tadi kutahani, kini tak terbendung lagi. Tumpah ruah. Dian merangkulku  menguatkan, meski air matanya sendiri mengalir deras. Kami sama-sama terisak sambil saling peluk.


“Ayo Bapak-bapak semua tolong segera digali tanahnya! Siapa tahu anak saya masih hidup!” ucap Ayah penuh harap Tania masih hidup.


Kulihat Tirta menggeleng seolah menyangkal ucapan Ayah. Rasanya tidak mungkin juga Tania masih hidup, tapi aku berharap Tuhan memberikan keajaiban pada kami.


“Kita tidak bisa menggalinya begitu saja, Pak. Kita harus lapor polisi dulu. Kasus semacam ini harus melibatkan pihak berwenang,” terang Pak RT.


Ayah tetap mengeyel ingin menggali tanahnya tidak mau kelamaan menunggu polisi. Akhirnya semua mengikuti kemauan Ayah. Pak RT mengutus sebagian warganya untuk mengambil cangkul dan sekop. Juga mengutus satu warga untuk melapor pada polisi.


  Gundukan tanah itu pun mulai digali saat warga yang tadi diutus mengambil alat untuk menggali datang.


Tepat saat penggalian hampir selesai, polisi dan satu warga tadi datang bersama tim identifikasi. Lalu mereka mengambil alih menggali serta menangani kasus ini.


Mama dan Ayah menjerit histeris saat jasad Tania berhasil diangkat.

__ADS_1


Badanku lemas, aku tak kuat melihat kondisi jasad Tania yang mengenaskan. Pandangan mataku pun menjadi gelap.


N E X T\=


__ADS_2