TUMBAL KETUJUH

TUMBAL KETUJUH
Terjebak di Dunia Lain


__ADS_3

Aku hampir kehabisan napas saat tangan Sania menyekik leher ini. Entah bagaimana, yang jelas dalam waktu sepersekian detik kedua tangannya sudah berpindah ke leher ini. Meski dalam kondisi tercekik, aku masih bisa melihat bagaimana paniknya Mela, Bayu dan suamiku. Mereka bertiga berusaha melepaskan cekikan Sania dari leherku.


Saat akhirnya berhasil terlepas, lelakiku langsung memapahku keluar mobil. Saat sampai di luar, dia langsung memelukku yang masih dalam keadaan lemas dan terbatuk. Sedangkan Mela dan Bayu masih sibuk menetralisir tubuh Sania di dalam mobil.


“Air, air!” seru lelakiku. Tak berselang lama, Mela keluar dan menyerahkan botol air mineral. Setelah meraihnya, lelakiku membuka tutupnya dan menyuruhku minum.


“Aku nggak apa-apa kok,” kataku seusai minum. Aku nggak tega melihat lelakiku yang cemas. Dia lantas merapikan rambutku yang berantakan, dan sekali lagi tubuh ini didekapnya erat. Kemudian kurasakan dikecupnya pucuk kepalaku.


“Gimana kondisi Sania?” tanya lelakiku setelah Bayu menyusul keluar.


“Dia pingsan,” jelas Bayu.


“Siapa yang merasuki dia tadi?”


“Penunggu daerah sini. Katanya, kita nggak sopan karena pas mau masuk wilayahnya nggak permisi.” Bayu menjawab pertanyaan lelakiku panjang lebar.


“Terus mereka mau apa?” Lagi, lelakiku bertanya.


“Katanya, kita akan diganjar.”


“Argh!” Suamiku mengerang kesal.


“Seharusnya kamu bilang, kita tidak punya banyak waktu untuk main-main.”


“Ck! Kamu pikir mereka bakal paham.”


Aku dan Mela hanya diam menyimak obrolan para suami. Mereka masih terus berbincang tentang makhluk tak kasat mata yang sudah membuat kami tersesat. Kemudian sama-sama mencari solusi untuk keluar dari hutan ini.

__ADS_1


“Terus, bagaimana dengan Sania yang pingsan?” sahutku.


“Bukankah itu bagus. Kalau dia sadar malah merepotkan. Dikit-dikit nangis, kalut,” ujar Bayu dan mendapat tabokan dari istrinya.


“Nggak boleh gitu, Ayang!” bentak Mela sambil mendelik, “Kita coba bangunin Sania, yuk!” lanjutnya. Aku sepakat. Kami pun kembali ke dalam mobil. Sementara aku memangku kepala Sania dan Mela memangku kakinya agar dalam posisi lurus. Lelakiku memeriksa kotak P3K dan menemukan minyak angin di sana. Lantas, aku gunakan untuk membaui Sania. Namun, tidak ada respon sama sekali. Aku adu pandang dengan Mela. Kemudian menoleh ke arah Bayu yang ada di jok depan, lalu ke arah suamiku yang ada di balik kemudi.


“San! Sania! Bangun, San!” Aku tepuk-tepuk wajahnya masih saja tidak ada respon. Kami mulai diserang panik. Terlebih saat Mela memijat kaki Sania dan terasa sangat dingin seperti mayat. Aku meraih tangannya, dan hasilnya sama dinginnya dengan kakinya.


“Ini nggak bener. Sania dibawa ke dimensi lain. Kalau nggak segera kita tolong, bisa bahaya!” seru Mela. Aku menghela napas panjang. Baru juga dalam perjalanan, sudah begitu banyak kendala yang kami temui.


“Terus siapa yang nolongin dia? Nggak mungkin kalau semua melakukan astral projection. Terlalu bahaya. Bisa-bisa jasad kita dikuasai oleh makhluk lain,” papar Bayu. Kami terdiam beberapa saat, bergelut sama pikiran masing-masing.


“Ya udah, biar aku aja!” ucapku.


“Kalau gitu aku ikut,” sahut suamiku.


“Jangan kamulah, Ta!” larang Bayu.


“Udah paling bener aku yang nemenin biniku! Kamu di sini sama binimu jagain jasad kita.”


“Kalau Cuma berdua jagain jasad kalian bertiga, kita kewalahan lah,” protes Bayu.


“Ya terus gimana?” tanyaku geram, “Udah cukup berdebatnya!” lanjutku saat Bayu dan suamiku mangap siap untuk bicara lagi, “Biar aku aja yang jemput Sania. Kalau dalam waktu lima belas menit aku belum berhasil bawa Sania balik, Mela nyusul! Oke?”


Mela mengangguk sepakat. Namun, suamiku masih ragu melepaskan aku, dan dia menawarkan dirinya. Tetapi, aku ngotot dan akhirnya suamiku pasrah. Bayu dan lelakiku membuat tempat pembaringan ragaku dan Sania. Keduanya memetik daun jati yang tergapai oleh tangan, lalu menjadikannya alas. Setelah dirasa cukup, tubuh Sania dikeluarkan dari mobil dan dibaringkan di atas daun jati yang sudah digelar tadi. Detik kemudian, aku ikut berbaring di sebelah raga Sania. Tentunya setelah berpelukan dengan lelakiku.


“Aku akan baik-baik saja,” kataku berusaha menenangkan kekhawatiran suamiku sambil memegang pipinya.

__ADS_1


Suamiku mengangguk percaya. Kemudian sekali lagi, dikecupnya kening ini. Sensasi lembut dan hangat bibirnya membuat mataku terpejam.


“Kamu sudah siap?” tanyanya seusai menyudahi kecupannya. Aku mengangguk sambil posisi berbaring.


“Lakukan! Lebih cepat lebih baik. Setelah bertemu dengan Sania, segera ajak kembali!” Aku mengangguk setuju dengan perkataan suamiku. Setelah dia bergeser sedikit menjauh memberiku ruang. Aku bergegas memejamkan mata dan merapal mantra meraga sukma seusai menghela napas sebanyak tiga kali. Detik kemudian setelah mantra selesai kurapal, tubuhku seperti terguncang dan terperosok di dalam sebuah lorong. Aku merasa seperti mendarat setelah sebelumnya tubuhku melayang-layang di udara, lalu saat kubuka mata, aku sudah berada di sebuah tempat yang ramai. Perkotaan yang lumayan maju. Bahkan lebih maju dari kotaku.


Aku melangkah maju perlahan. Mataku memonitor ke segala penjuru kota ini. Kota yang sangat indah. Tempatnya sangat bersih dan ada banyak aneka bunga yang asing, tetapi sangat cantik. Aku belum melihat bunga yang kelopaknya berkilauan layaknya perpaduan antara emas dan berlian macam itu. Putiknya blink-blink, sedangkan daunnya layaknya pelangi, warna-warni dan batangnya bening transparan. Aku terpukau.


Tidak hanya tanamannya yang unik dan indah. Bangunannya pun megah luar biasa. Ada yang dindingnya berkilauan seperti berlian, gliter warna-warni dan ada juga bangunan yang terbuat dari emas serta batu-batu mulia lainnya. Ini pertama kali aku mendapat pengalaman luar biasa seperti ini.


Bahkan kendaraannya pun terlihat luar biasa. Banyak yang beterbangan, tetapi bentuknya tidak mirip helikopter atau pesawat. Sangat berbeda jauh. Kendaraan yang beterbangan itu bentuknya seperti berlian dan ada pula yang segitiga kerucut, bulat seperti piring. Benda-benda itu beterbangan dan mengangkut orang di dalamnya.


Mataku membelalak saat tiba-tiba salah satu kendaraan terbang itu mendarat tepat di depanku. Lalu, salah seorang pria dengan pakaian super mewah, tapi bentuknya asing di mataku menawarkan tumpangan.


“Kau mau naik?”


Aku gelagapan tidak tahu harus menjawab apa. Hati ingin menolak, tetapi entah mengapa kepala ini akhirnya mengangguk setuju dan kakiku pun melangkah masuk tanpa kompromi. Aku seperti terhipnotis secara sadar dan sukarela. Di dalam ada beberapa penumpang lain. Terdapat kursi-kursi yang sangat empuk dan nyaman serta wangi.


Aku tidak mengerti konsep dari kendaraan ini. Semua orang hanya duduk tenang, tidak ada pengemudinya, tetapi kendaraan ini bisa melayang di udara. Lalu-lalang dengan kendaraan lain beraneka warna dan bentuk. Setelah puas memonitor dalam kendaraan kerucut ini. Aku melihat keluar. Di luar banyak hewan bercahaya seperti kunang-kunang, tetapi ukurannya berkali lipat lebih besar. Hanya dalam hitungan satu kedipan mata, tiba-tiba suasananya sudah berubah gelap. Dan kunang-kunang berukuran besar tadi tampak berkerlip laksana bintang. Kilau perkotaan di bawah sana menambah elok pemandangan.


“Kau mau ke mana?” Pertanyaan seorang pria yang duduk di sebelahku, membuat aku tersadar dan teringat akan tujuan awalku datang kemari. Sania. Ya, seharusnya aku mencarinya. Bukannya malah asyik jalan-jalan dan menikmati pemandangan di sini.


“Turunkan aku di sana!” tunjukku asal.


“Oh, kau mau ke tower kilas balik?”


Aku hanya diam dan dahi ini mengernyit tak paham. Namun, tetap berusaha tenang dan berusaha menyugesti diri sendiri agar fokus pada tujuan awalku. Setelah turun, dalam rentang waktu sekejap mata saja, suasana di sini sudah siang lagi. Terang lagi seperti sebelumnya.

__ADS_1


“Kau di sini?”


Dahiku seketika mengernyit. Suara orang di belakangku terdengar tidak asing. Aku pun berbalik perlahan.


__ADS_2