TUMBAL KETUJUH

TUMBAL KETUJUH
Walik


__ADS_3

Aku mencoba membuka pintu, tapi sulit. Mela mencoba mendobrak dinding, meski sebagian terbuat dari bilik bambu dan terkesan rapuh, tapi sulit dihancurkan. Lalu Sania, dia menangis ketakutan.


“Apa lagi ini?” Sania mengeluh di sela tangisnya, “Aku capek, pengen segera keluar dari sini.”


“Memangnya kamu saja yang capek?! Aku juga!” Mela terpancing emosi.


“Mel.” Kusentuh sisi bahunya memberinya isyarat agar tenang, “Jangan terprovokasi oleh keadaan. Semua tetap tenang ya, supaya kita bisa berpikir jernih dan menemukan solusi.”


“Solusi apa? Aku sudah capek. Sudahlah, kita pasrah saja di sini!” Mela sangat emosional.


“Kamu aja kalau mau tetap di sini. Aku mau pulang!” sahut Sania ketus.


“Pulang aja sana! Pulang!” usir Mela. Keduanya sulit diberitahu. Kubiarkan saja mereka adu argumen sampai capek sendiri dan akhirnya diam sendiri.


“Sudah adu mulutnya?” tanyaku memecah hening. Mereka berdua hanya diam, “Capek kan? Udah dibilang hemat energi juga!” Hampir saja aku juga terpancing emosi akibat ulah mereka berdua. Kuhela napas panjang guna menetralisir amarah yang hampir menguasai diri.


“Gini deh, kalian ikuti aku baca mantra, ya, lalu setelah selesai baca mantra nanti, kita balik pakaian kita,” ajakku. Mela langsung paham. Namun, tidak dengan Sania.


“Balik gimana?”


“Yang bagian luar kita balik posisinya jadi di dalam. Balik pakaian aja masa nggak ngerti!” jelas Mela masih dengan nada kesal.


“Ya kalau ada yang nggak ngerti itu kasih tahu, bukannya diejek!” balas Sania ketus.


“Udah dong! Jangan sampai nenek tadi balik ke sini sebelum kita berhasil merapal mantra dan membalik baju juga celana kita. Bisa berabe.” Aku kembali menengahi, Mela dan Sania lagi-lagi hampir adu mulut.


“Sania, ingat, ikuti aku dan Mela. Baca mantra, lalu lepas semua pakaian dan balik. Oke!” kataku menegaskan.


“Masa buka-bukaan, sih? Malu ih!” balas Sania.


“Udah deh, kesampingkan dulu rasa malu! Toh di sini juga perempuan semua. Ini salah satu upaya kita untuk selamat dari nenek itu. Mau keluar dari sini tidak?” Kali ini, aku benar-benar hampir hilang sabar. Melihat aku agak ngegas, Sania akhirnya mengangguk setuju.


Sesuai arahanku, kami pun bergandengan tangan membentuk lingkaran sambil berdiri, lalu memejamkan mata. Dan mulai merapal mantra. Aku memulai duluan, kemudian Mela dan Sania mengikuti setiap kalimat yang aku ucapkan di detik berikutnya.


Mantra Walik


Bersamaan dengan baju yang kubalik


Maka penglihatan semua setan dan iblis jahat pun menjadi terbalik


Aku sejatinya ada, namun tak terlihat oleh mereka


Bersama baju yang terbalik, aku membalik penglihatan mereka

__ADS_1


Yang ada menjadi tiada, tak terlihat, tak terdeteksi baik rupa maupun aromaku


Yang jahat penglihatan, pendengaran dan perasaannya pet mampet, rep sirep.


Setan dari sebelah timur kembalilah ke timur


Setan dari sebelah barat kembalilah ke barat


Setan dari sebelah utara kembalilah ke utara


Setan dari sebelah selatan kembalilah ke selatan


Jangan mengganggu diriku


Karena aku juga tidak mengganggumu


Setan ora doyan demit ora ndulit


Baca mantra selesai. Kami pun sibuk membuka dan membalik pakaian. Kami panik, saat prosesi membalik pakaian tinggal sedikit lagi dan terdengar suara langkah kaki mendekat.


Kriyeeet


Pintu terbuka lebar, tepat saat kami menyelesaikan membalik pakaian. Nenek tadi datang lagi, melihat kemari. Kami bertiga gandengan tangan dengan pakaian sudah terbalik semua.


“Sialan! Di mana bocah-bocah itu!” Suara Nenek itu seperti suara nenek Lampir. Terdengar serak dan menyeramkan.


“Bukan hanya tidak bisa melihat kita, tapi juga tidak bisa mendengar dan mengendus aroma tubuh kita,” jawab Mela.


“Kenapa tidak dari tadi saja begini?” lanjut Sania geram.


“Aku baru ingat cara ini barusan,” jawabku.


“Tapi, mantra ini menjadi tidak efektif lagi setelah 40 menit,” jelas Mela.


“Hah?! Benar begitu, Rania?” tanya Sania kurang yakin dengan penjelasan Mela.


Aku mengangguk membenarkan. “Setelah 40 menit, aroma tubuh kita akan kembali terdeteksi sama setan jahat. Kemudian 40 menit berikutnya, suara kita akan terdeteksi, meski wujud kita tetap tidak terlihat selama pakaian kita masih posisi terbalik begini. Kalau pun wujud kita tidak terlihat oleh mereka, kalau aroma tubuh dan suara kita sudah terdeteksi maka akan sangat berbahaya. Kita bisa tertangkap. Makanya, kita harus segera pergi dari sini. Sekarang!”


Aku langsung keluar diikuti oleh Mela dan Sania. Pintu bilik masih terbuka lebar. Nenek Lampir itu sudah pergi mencari kami bersama anak buahnya yang berupa banas pati dan makhluk aneh lainnya.


“Aduh, kok aku makin lemes ya?” ujar Sania.


“Ini adalah efek dari mantra walik tadi. Wujud kita memang tidak terlihat oleh setan, tapi energi kita perlahan terkuras dan baru akan kembali setelah kita membalik pakaian kita ke posisi semula. Makanya, kita harus secepatnya sampai di portal sebelum tenaga kita benar-benar habis,” terangku. Sania hanya ber-hah bingung, tapi sambil terus berjalan mengekor.

__ADS_1


Sania terseok dan tertinggal beberapa meter di depan. Sepertinya energinya sudah benar-benar hampir habis. Mela mengeluhkan Sania yang terkesan ringkih.


“Maklumlah, dia kan tidak tahu bagaimana cara menghemat energi dalam tubuhnya. Dia tidak pernah belajar tentang beginian. Sabarin aja. Kita bimbing dia. Oke.” Kutepuki pundak Mela.


“Hmmm, ya. Oke!” jawab Mela malas.


Akhirnya Sania berhasil menyusul kami dan kini kami berdiri bersisian. Sania terlihat sudah sangat lemas dan wajahnya pucat.


“Aku nggak kuat. Aku harus ngisi ulang energi. Aku balik ya, pakaianku,” pinta Sania dan tangannya sudah bersiap membuka bajunya.


“Jangan!” pekikku dan Mela bersamaan. Sania pun mengurungkan niatnya untuk membuka baju.


“Kenapa? Katanya energi kita bakal balik setelah baju kita dibalik ke posisi awal?” protes Sania.


“Iya, tapi kalau kamu balik, para setan jahat itu bisa melihatmu,” balas Mela.


“Kan nanti tinggal baca mantra lagi, terus balik lagi bajunya,” sahut Sania enteng.


“Masalahnya tidak semudah itu, San. Mantra ini hanya bisa digunakan sekali dalam jangka waktu sehari semalam. Kalau digunakan atau dibaca dua kali dalam waktu bersamaan, maka iblis yang tadinya tidak bisa melihat kita, justru akan bisa melihat kita.” Sania menghela napas lesu seusai mendengar penjelasanku.


“Tapi, kamu punya cara lain. Kamu bisa menghemat energimu dengan cara jaga emosimu, kendalikan egomu, dan jangan panik.” Kali ini Mela yang memberitahu dan aku mengangguk membenarkan itu.


“Oke, akan aku coba,” lirih Sania.


“Praktiknya sambil jalan, oke!” Sania mengangguk setuju dengan kataku. Kami pun lanjut jalan perlahan menuju portal. Mela sebagai pembimbing, tiba-tiba menghentikan langkahnya.


“Kenapa, Mel? Kok berhenti?” tanyaku.


“Aku tidak yakin dengan arah yang kita tuju,” balasnya.


“Maksudmu apa? Kita salah jalan lagi?” sahut Sania panik.


“Tenang San, jangan panik! Nanti tenagamu cepet habis loh,” kataku mengingatkan.


“Gimana nggak panik coba kalau Mela lupa jalan. Sedangkan katamu setelah 40 menit aroma tubuh kita akan terdeteksi oleh setan jahat itu. Entah sudah berapa menit yang kita lalui tadi, dan berapa menit lagi sisanya untuk menuju 40 menit pertama.” Sania ketakutan.


“Ada yang bisa kubantu?”


Di saat aku dan Mela berusaha menenangkan Sania yang kalut dan makin kehabisan energi, tiba-tiba ada yang bersuara di belakang kami. Kami pun kompak berbalik perlahan dan mendapati sesosok wanita berwajah pucat di hadapan kami.


“Ke-kenapa dia bisa melihat kita?” tanya Sania gugup.


“Ada dua kemungkinan kalau dia tetap bisa melihat kita,” terang Mela.

__ADS_1


“A-apa?” sahut Sania.


“Kemungkinan pertama, dia hantu baik. Kemungkinan kedua, dia iblis yang energinya sangat kuat,” terangku. Sosok wanita di depan kami itu mulanya tersenyum tipis, lalu makin lebar dan akhirnya terbahak menakutkan.


__ADS_2