TUMBAL KETUJUH

TUMBAL KETUJUH
Serangan


__ADS_3

“Aaaak!” jerit Sania sesaat setelah lampu di teras sana meledak dan pecah berkeping.


Aku menggenggam lengan suamiku erat-erat. Begitu juga Mela dan Bayu, mereka bergandengan tangan. Sementara Madam Carla terus merapal mantra sambil menangkupkan kedua tangan dan kedua mata terpejam.


“Kamu lihat sekarang?! Masih belum percaya juga kah kalau istrimu dalam bahaya? Belum percaya kalau istrimu diteror oleh makhluk astral? Hah?!” hardik suamiku dan Aditya hanya diam.


“Enggak! Nggak mungkin. Ini semua pasti Cuma akal-akalan kalian aja. Ini magic kan? Ini cara kalian buat cari uang? Iya?” Aditya malah terkesan merendahkan kami semua.


“Cukup, Mas!” teriak Sania di sela tangis, “Terserah kalau kamu memang nggak percaya, tapi please, jangan usik kami. Biarkan kami melakukan apa yang kami rasa perlu lakukan,” lanjutnya tegas, “Karena aku udah muak terus dan terus diteros sama makhluk sialan itu! Kamu enak Mas, nggak ngerasain apa yang aku rasain.” Sania benar-benar meluapkan emosinya pada sang suami, dia bahkan sampai menunjuk-nunjuk dada Aditya.


Aku mundur, beringsut ke belakang tubuh suamiku, manakala tiba-tiba makhluk yang selama ini diceritakan Sania muncul dan menampakkan diri padaku. Kurasa Mela, Bayu dan suamiku melihat juga. Nyatanya kami kompak melihat ke arah yang sama. Sedang Sania masih terus adu mulut dengan suaminya.


Madam Carla berusaha berinteraksi dengan iblis itu. “Apa tujuanmu datang kemari? Kenapa kamu mengganggunya?”


“Aku hanya menjalankan perintah!” jawab iblis itu dengan suara menggelegar.


“Siapa yang menyuruhmu?” tanya Madam Carla lagi sambil berusaha menahan makhluk itu agar jangan menyerang. Kini, Sania terdiam karena bisa melihat makhluk yang sedang diinterogasi Madam Carla.


“Sinting kalian semua!” olok Aditya. Kurasa dia belum juga bisa melihat sosok mengerikan itu.


“Tampakkan dirimu padanya!” Madam Carla memerintahkan iblis itu untuk menampakkan diri pula pada Aditya. Namun, sosok itu menolak.


“Kenapa tidak mau?” Madam Carla terus menginterogasi.


“Tidak! Tugasku di sini Cuma meneror dia sampai dia mati karena gila!” Iblis itu menunjuk Sania. Sania pun merangsek bergelayut di lenganku. Aku merangkulnya melindungi.


“Kamu mau melihat sosok yang selama ini mengganggu istrimu?” tanya suamiku pada Aditya.


“Coba tunjukkan padaku seperti apa wujudnya kalau memang kamu bisa?!” titah Aditya setengah meremehkan.


“Oke, tapi jangan kaget!” sahut suamiku ketus.


“Pejamkan matamu!” Sesuai perintah suamiku, Aditya pun memejamkan mata, lalu lelakiku mulai merapal mantra pembuka mata batin. Kemudian diusapnya kelopak mata Aditya sebanyak tiga kali dengan jempol tangannya.


“Oke, sekarang buka matamu perlahan!”


Aditya pun membuka matanya secara perlahan. “Mana? Tidak ada apa-apa. Kalian membual, ya?!”


“Berbaliklah! Dia di belakangmu,” timpal Bayu geram.


Aditya pun balik badan perlahan. Kepalanya semakin mendongak melihat penampakan makhluk di depannya yang tingginya tembus plafon. Tubuh Aditya pun membatu, matanya beradu dengan mata garang makhluk itu.

__ADS_1


Detik kemudian, makhluk itu menjadi agresif. Matanya mengarah ke Sania dan siap menyerang. Madam Carla berusaha negosiasi, tetapi alot. Makhluk itu tetap bersikeras akan melenyapkan Sania.


Aditya yang semula tak percaya, kini mendekati Sania. Lelaki itu meminta maaf pada istrinya karena selama ini sudah tidak memercayainya. Setelah Aditya dan Sania baikkan. Iblis itu makin murka dan mengeluarkan kekuatannya. Sehingga kami semua terpental ke belakang. Termasuk Madam Carla.


Aku merintih kesakitan saat tubuh suamiku menindih. Gegas lelakiku bangkit dan membantuku untuk bangun pula. Dia meminta maaf sambil memastikan tidak ada luka yang berarti di tubuh ini.


“Dasar, iblis jahanam!” Suamiku murka, lalu berbalik dan berhadapan dengan makhluk itu.


“Tirta, kendalikan dirimu. Usahakan emosimu tetap stabil, karena jika di hatimu tumbuh amarah, itu akan menjadikan iblis itu makin kuat. Dia menyerap energi dari amarah manusia,” papar Madam Carla.


“Tapi, dia ....”


“Tirta!” sela Madam tegas.


Aku mendekati lelakiku, menyentuh pundaknya lembut. Suamiku menunduk dan menghela napas menetralisir amarah dalam hatinya. Sementara iblis itu terbahak penuh kemenangan. Lagi, suamiku hampir saja terprovokasi, begitu juga dengan Bayu. Namun, sekali lagi, aku berhasil menenteramkan hati lelakiku dengan genggaman tangan. Sementara Bayu, ditenangkan oleh Mela.


“Kembali ke tempat asalmu! Jangan ganggu kami! Tempatmu bukan di sini!” Madam Carla masih berusaha bernegosiasi dengan siluman itu.


“Tidak! Sebelum aku mendapatkan jatah makananku, aku tidak akan kembali!” Mata iblis itu mengarah pada Sania. Aditya menggeleng.


Saat kami semua lengah, iblis itu kembali menghempaskan tubuh Sania hingga punggungnya membentur tembok dan dia lemas. Aku, suamiku, Bayu, Mela dan Madam Carla menyatukan kekuatan. Merapal mantra yang sama guna melumpuhkan iblis itu, tetapi alot. Kekuatan iblis itu tidak bisa diremehkan begitu saja. Serangan demi serangan dari iblis itu sejauh ini masih dapat kami tahan.


“Siapa tuanmu sebenarnya wahai iblis jahanam?!” tanya Sania dengan nada geram, “Kenapa dia ingin menghabisi aku? Apa salahku?!”


“Siapa itu Ratih?!” Sania kembali menginterogasi.


“Tanyakan itu pada suamimu. Dia mengenalnya!” Iblis itu menyeringai, lalu terbahak. Aku menoleh ke belakang dan kudapati raut wajah Aditya terlihat panik. Kini, Sania beralih menginterogasi suaminya. Iblis itu berhenti menyerang. Fokus kami pun beralih ke Aditya dan Sania.


“Dia istri keduaku!” Akhirnya Aditya mengaku. Tubuh Sania pun limbung ke belakang. Dia tampak syok berat. Sesaat dia membatu, lalu perlahan air matanya merembes. Detik kemudian bibirnya bergetar dan bahunya berguncang hebat. Tersedu. Saat aku maju selangkah dan siap mendekat guna menguatkan, Sania mengangkat tangannya memberiku isyarat agar tetap di tempat. Aku pun urung maju.


Sania mengusap air matanya dengan kasar, lalu menatap suaminya dengan tatapan nyalang. “Sejak kapan kamu menikahi wanita itu, Mas?!” Kedua tangan Sania terkepal sempurna. Aditya menunduk makin dalam.


“Maafkan aku,” lirih Aditya masih sambil tertunduk dalam.


“Aku tak butuh maafmu, Mas! Yang aku butuhkan jawaban dari mulutmu yang menjijikkan itu! Sejak kapan kamu menikahi wanita itu?! Dia siapa?!” Sania lepas kendali sehingga membuat iblis itu terbahak penuh kemenangan.


“Sudah setahun lebih,” jawab Aditya tanpa melihat istrinya.


Lagi, tubuh Sania limbung ke belakang. Dia terdiam sejenak, lalu tergugu lagi. Aku siap mendekati sahabatku itu, tetapi ditahan oleh lelakiku dengan genggaman tangan dan gelengan.


“Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka dulu. Beri mereka ruang,” bisik suamiku. Aku pun nurut.

__ADS_1


“Sudah selama itu kamu mengkhianati aku, dan semua baru kebongkar sekarang! Keterlaluan kamu, Mas! Aku akui, aku memang belum bisa memberikanmu keturunan, tapi apa harus begini caranya, Mas? Hah?!” Tangis Sania makin jadi. Aditya mendekat dan mendekap tubuh istrinya yang meronta. Kata ‘maaf’ terus terlontar dari mulut Aditya. Sorot penyesalan terlihat dari tatapan lelaki itu.


“Lepaskan aku! Jijik aku, Mas! Jangan sentuh aku!” jerit Sania sambil berontak.


“Maafkan aku. Aku menyesal,” pinta Aditya masih tak mau melepaskan pelukan.


“Aku tidak butuh maafmu!” Akhirnya Sania berhasil melepaskan diri.


“Kenapa tuanmu itu ingin membunuhku?” tanya Sania pada iblis piaraan Ratih.


“Dia ingin menguasai suamimu sepenuhnya!” jawab iblis itu lantang.


“AMBIL! BAWA DIA KE NERAKA JIKA PERLU!” Sania sangat murka ditunjuknya suaminya, sedang matanya nyalang menatap iblis. Aditya menggeleng. Entah apa maksud dari gelengan kepalanya itu. Sementara siluman itu terbahak.


“Tahan emosimu, Sania!” Madam Carla memberi peringatan, tetapi Sania lepas kendali. Amarahnya berkobar sempurna. Sehingga membuat kekuatan iblis itu makin menggila serta agresif.


Aku, suamiku, Bayu, Mela dan Madam Carla terpental lagi. Saat kami masih kepayahan berusaha bangun, iblis itu menyerang Sania. Tubuh Sania terangkat ke udara hingga membentur plafon, lalu terjatuh ke lantai. Tak puas sampai di situ saja, hanya dalam hitungan detik, iblis itu menggunakan kekuatannya untuk menjatuhkan lampu kristal yang tergantung. Aditya yang melihat istrinya dalam bahaya, dia pasang badan.


“Aaaak!” jerit Aditya saat lampu kristal yang runcing tertancap di punggungnya. Aku bergegas membenamkan wajahku ke dada suamiku. Darah yang muncrat dari punggung Aditya sangat mengerikan.


“Maafkan ... aku,” lirih Aditya. Sania menangis sejadi-jadinya lagi. Sadar telah salah sasaran, iblis itu meraung, lalu menghilang begitu saja. Kami pun berusaha menolong Aditya, melarikannya ke rumah sakit. Namun, takdir berkata lain. Aditya kehabisan banyak darah dan tewas.


***


Dalam waktu sehari, Sania harus mendapati dua kenyataan sekaligus. Pengkhianatan dan kepergian suaminya untuk selamanya. Tentu, itu bukan perkara yang mudah baginya. Sudah hampir seminggu, aku terus berusaha untuk selalu ada di sisinya. Meski sanak keluarganya juga berdatangan silih berganti. Sebagai sahabat, aku merasa memiliki kewajiban untuk mendampinginya.


Aku senang, akhirnya di hari kedua puluh pasca meninggalnya sang suami, Sania sudah bisa tersenyum. Dia juga sudah berbincang banyak denganku. Hari ini, sepulang dari kantor, aku langsung menemui sahabatku ini.


“Sekarang apa rencanamu?” tanyaku.


“Aku akan kembali tinggal di rumah orang tuaku. Akan fokus merawat mereka.” Pandangan Sania tertuju pada kedua orang tuanya yang berada di sofa ruang tengah. Sejak kematian Aditya, orang tua Sania menginap di sini.


“Apapun keputusanmu, kalau memang menurutmu itu yang terbaik, aku dukung.” Kugenggam tangannya sebagai bentuk dukungan.


“Terima kasih. Terima kasih, sudah menjadi sahabat terbaik.”


“Sama-sama. Tapi, jangan lupa sering-sering main ke sini,” pintaku.


Sania menghela napas panjang. “Akan aku usahakan.”


***

__ADS_1


Sepulang dari kantor, sebelum memasuki rumah, entah kenapa aku sangat ingin melihat sejenak bekas rumah Sania. Kini, aku berdiri tepat di depan gerbang dan bayangan manakala Sania masih tinggal di dalamnya menari-nari di imajinasi. Suaranya yang khas dan santun juga terngiang di telinga ini. Rumah itu, kini kembali kosong dan sekarang auranya makin redup. Aku terperanjat manakala pintu rumah itu terbuka menimbulkan derit mengerikan. Mau lari, tapi kaki ini seolah tertanam di paving. Detik kemudian sesosok pria berwajah pucat menyembul.


“Aditya!”


__ADS_2