
Perlahan kubuka mata aroma obat menyengat hidung. Khas aroma rumah sakit. Benar saja saat mataku sudah terbuka dan mengamati sekitar, memang benar aku telah terbaring di atas ranjang rumah sakit.
Baru saja aku berniat bangun untuk mencari keberadaan Ayah dan Mama. Mereka datang. Masuk ke kamar nuansa putih dengan tirai hijau ini seraya memasang senyum getir.
“Eh, kamu sudah sadar, Nak?” ucap Ayah, dan bergegas mendekat. Kemudian mengusap pucuk kepala ini dengan lembut. Aku hanya merespon dengan senyum kecil. Kepalaku rasanya sakit sekali.
“Bagaimana kondisimu? Sudah enakan?” tanya Mama. Spontan aku pun menoleh ke arah Mama berada. Ia berdiri di sebelah kanan ranjangku.
“Iya, bagaimana? Apa ada yang sakit?” Ayah yang membungkuk bersandar tepi ranjang seblah kiri ikut bertanya. Aku melirik keduanya secara bergantian. Wajah orang tuaku diselimuti kekhawatiran dan kesedihan mendalam.
“Ma, Yah, bagaimana dengan jasad Tania?” Aku hampir tak sanggup menanyakan hal ini, tapi rasa penasaran bergejolak. Akhirnya terlontar juga. Meski suaraku nyaris tak terdengar oleh orang di sekitar.
Kulirik Mama dan Ayah, mereka saling pandang detik kemudian keduanya menunduk pilu. Mata mereka berkaca-kaca. Aku bangun, dan duduk berselonjor kaki di atas ranjang. Selimut tebal bergaris menyelimuti paha hingga kaki. Antusias menunggu jawaban dari Ayah atau Mama.
Namun, hingga hitungan detik baik Ayah maupun Mama hanya diam.
“Adikmu masih sedang dalam proses otopsi. Nanti setelah selesai otopsi baru kita makamkan dengan layak, ya,” papar Ayah dengan suara parau. Detik kemudian tangis Ayah pecah, pun dengan Mama. Mereka menepi, menjauh dari ranjangku. Ayah menghadap ke tembok bercat putih sesekali ia mengusap air matanya. Sementara Mama, ia duduk di sofa yang terletak di samping ranjangku. Air matanya menganak sungai.
Ingin rasanya aku menjerit histeris, tapi tidak. Aku tidak boleh menangis juga. Harus ada salah satu yang menjadi penguat. Sekuat tenaga aku berusaha menahan tangis yang nyaris pecah.
“Ma, Yah, kita doakan saja Tania semoga dia bahagia di sana. Jangan terus-terusan ditangisi, nanti dia sedih.” Kuusap satu butir air mata yang berhasil meruntuhkan pertahananku. Lalu menghela napas panjang dan kuhembuskan perlahan. Detik kemudian rasa sesak dan sakit di tenggorokan sirna. Air mataku pun akhirnya terhenti.
Mama dan Ayah terdengar menghela napas panjang. Lalu mengusap sisa air mata. Kemudian keduanya mendekatiku. Lantas mereka memelukku dari sisi kanan dan kiri. Aku diapit.
Andai saja Tania dapat kesempatan melihat ini semua. Pasti dia sangat bahagia. Impiannya adalah melihat Mama dan Ayah bersatu, dan berharap keluarga kami kembali utuh seperti keluarga orang lain.
Kamu yang tenang ya, Dek, di sana. Di sini kakak akan berusaha menjalankan misimu yang belum terealisasi. Yaitu menyatukan kedua orangtua kita. Doakan kakak dari sana agar berhasil.
“Kalau kamu sudah enakan, sebaiknya kita pulang. Kita tunggu hasil identifikasi adikmu dari rumah saja. Ayah pusing kalau lama-lama di sini. Nggak kuat dengan aroma obat yang menyengat.”
Aku mengangguk setuju dengan ucapan Ayah, pun dengan Mama. Setelah cairan infus habis, kami pun pulang.
🌺🌺🌺
“Yah, kok belum ada kabar ya, dari tim identifikasi? Apa belum selesai proses otopsinya?” Kesabaranku mulai terkikis, sudah hampir dua hari, akan tetapi belum juga dapat kabar hasil otopsi jenazah Tania.
“Sabar, proses otopsi itu bisa memakan waktu berjam-jam, hari, bahkan berminggu-minggu.”
Aku mengangguki pemaparan Ayah. Mencoba mengerti.
“Ayah sengaja meminta pada tim DVI dan kepolisian forensik untuk mengusut tuntas kasus ini. Supaya penyebab kematian Tania ketahuan, dan juga semoga pelakunya segera tertangkap nanti,” imbuh Ayah, ia tampak geram saat menyebut ‘pelaku’.
Aku celingukan mencari keberadaan Mbok Tini. Kemudian mataku mengedar melihat halaman depan melalui kaca jendela yang tembus pandang. Sepi, Pak Ramat pun tak nampak di tempat semestinya. Ke mana mereka berdua? Sejak gempar hilangnya Tania, mereka terlihat aneh.
“Yah, Mbok Tini ke mana? Kok belakangan ini tidak pernah kelihatan?” Aku mencoba berbasa-basi.
Ayah mengedikkan bahu tanda tak tahu. “Entahlah, sudah beberapa hari ini mereka berdua menghilang seolah ditelan bumi,” ujar Ayah kemudian.
“Aku curiga ini semua perbuatan Mbok Tini dan Pak Ramat, Yah, Ma.”
Sontak Ayah dan Mama yang duduk di sisi kiri dan kanan mengapit diri ini menoleh, menatapku sedemikian rupa.
“Sebenarnya ayah pun berpikiran sama. Juga kepolisian kemarin sempat bertanya-tanya soal Mbok Tini. Sepertinya polisi juga menduga bahwa Mbok Tini ‘lah pelakunya.”
Tapi mau bagaimana lagi? Siapa yang harus bertanggung jawab atas kematian Tania kalau orang sebagai terduga pelakunya kini entah di mana keberadaannya? Polisi masih terus mencari Mbok Tini dan Pak Ramat sampai saat ini. Aku hanya bisa berharap semoga kasus ini segera menemukan titik terang agar adikku tenang di alam sana.
__ADS_1
***
Hari ini tim identifikasi mengutus beberapa orang untuk datang ke rumah dan memaparkan hasil otopsi jenazah Tania.
Aku, Mama dan Ayah histeris setelah mendengar akibat kematian Tania karena digorok lehernya. Ruang tamu yang semula sepi, kini riuh oleh tangis kami bertiga.
Tanganku terkepal sempurna. Sakit sekali rasanya hatiku, mengingat pelakunya masih bebas berkeliaran di luaran sana. Harusnya orang itu sudah mendapat ganjaran atas perbuatan kejinya.
Apa salahnya adikku? Dia gadis kecil yang manis dan lugu. Kenapa harus dihabisi dengan cara sekejam itu? Kenapa harus Tania? Kenapa tidak aku saja? Kenpa?
“Sebentar lagi mobil ambulans yang membawa jenazah putri Bapak Devandra akan datang. Selanjutnya jenazah bisa segera dimakamkan secara layak, Pak,” pungkas Pak Polisi.
Aku, Mama dan Ayah larut dalam tangis kepiluan. Hingga suara sirine ambulans terdengar di kejauhan semakin mendekat ke sini. Itu pasti adikku yang datang.
🌺🌺🌺
Prosesi demi prosesi telah terlewati. Tinggalah gundukan tanah basah dengan nisan kayu bertuliskan nama Tania yang kini aku peluk erat. Air mata ini sulit kuhentikan rinainya.
Beberapa anggota kepolisian yang turut menyaksikan pemakaman pamit pada Ayah. Sebelum pergi kudengar mereka berjanji akan mencari pelakunya sampai ketemu.
Dian ikut berjongkok di samping kiriku, ia terus saja mengusap bahu ini menguatkan. Sekilas kulihat Tirta dan Bayu berdiri di seberang gundukan makam Tania. Mereka menunduk pilu tak mengucapkan sepatah kata pun.
“Nak, sudah ya, ayo kita pulang!”
Aku menggeleng menolak ajakan Mama. “Aku masih mau di sini, Ma.”
“Sayang, kita doakan Tania dari rumah, ya. Sebentar lagi magrib, Nak.” Ayah berusaha menarik lenganku agar aku berdiri.
“Aku masih kangen sama Tania, Yah.”
Ayah membopong tubuh lemasku secara paksa. Berusaha berontak, tapi aku tak punya cukup tenaga. Tangisku kembali pecah. Histeris. Detik kemudian semua menjadi gelap. Saat aku sadar, aku sudah berada di rumah dikelilingi oleh Mama, Ayah, Tirta, Bayu dan Dian.
“Kenapa kalian terlihat cemas begitu?”
“Kamu tadi pingsannya lama banget. Mama takut ... takut kehilangan kamu. Mama nggak mau kehilangan anak untuk yang kedua kalinya.” Setelah berkata demikian, Mama langsung memelukku yang masih posisi terbaring di sofa ruang tamu sembari terisak.
Setelah Mama sedikit tenang, ia melepaskan pelukannya. Kemudian aku duduk. “Tania,” gumamku.
“Insya Allah, Tania sudah tenang di alam sana,” sahut Tirta.
“Aku tahu ini berat buat kamu, Ran, tapi udah dong jangan nangis terus nanti Tania di sana ikut sedih loh. Lebih baik ikhlaskan dan doakan supaya Tania bahagia di sana, dan pelakunya cepat tertangkap.”
Aku mengamini ucapan Dian. Kemudian berusaha menguatkan diri. Menahan air mata yang terus berontak berusaha menjebol dinding pertahananku.
“Sudah malam sebaiknya kami pamit pulang dulu, Om, Tan, Ran,” ucap Dian. Aku mengangguk. Sementara Ayah mengucapkan terima kasih pada mereka bertiga yang sudah menemaniku seharian ini, dan juga sudah selalu ada untuk membantu keluargaku. Kemudian Ayah mengantar mereka bertiga sampai ke teras.
Selepas mereka pulang, dan para pelayat juga pulang, rumah ini kembali sepi. Hanya tinggal beberapa saudaranya Mama dan Ayah yang masih stay di sini. Namun sepi, semua banyak diam. Seisi rumah kuno bergaya Belanda ini diselimuti duka mendalam.
🌺🌺🌺
Seminggu sudah berlalu sejak penguburan Tania, tapi isak tangis masih sering terdengar di dalam rumah ini. Rumah laksana tak berpenghuni sejak hilangnya Tania. Sepi. Dia yang selama ini membuat suasana rumah kuno ini menjadi hidup. Kini Ia ‘lah pergi untuk selamanya. Keceriaan dan kebahagiaan di dalamya pun seolah terbawa pergi bersamanya.
Suasana semakin sepi saat saudara Mama dan Ayah yang semula menginap di sini pada pulang ke rumah masing-masing. Tinggalah aku dan kedua orang tuaku yang masih terpuruk dilanda kedukaan yang mendalam.
Kami sudah berusaha bangkit dari keterpurukan ini, tapi kami masih belum cukup kuat untuk kembali berdiri tegar seperti sediakala. Masih butuh waktu. Entah berapa lama. Belum tahu.
__ADS_1
Setengah bulan sejak pemakaman Tania, kami bertiga sepakat untuk bangkit dari keterpurukan. Kami pun mulai menyibukkan diri dengan aktivitas masing-masing. Aku ke sekolah. Sementara Ayah dan Mama pergi bekerja di pabrik singkong yang sampai sekarang masih dalam tahap pembangunan.
Proses pembangunan pabrik yang Ayah gadang berjalan sedikit lamban terkendala kepergian Tania. Sempat dihentikan sementara pengerjaannya selama kemarin proses pencarian hingga pemakan sampai hari ke 7 masa berkabung keluarga kami. Dan kini perlahan Ayah baru akan mulai mempekerjakan para pegawainya lagi hari ini.
Di sekolah aku bisa tertawa renyah saat berada di tengah-tengah para sahabat. Terlebih saat bersama Tirta. Meski kami hanya sekedar duduk bersisian dan sesekali saling pandang tanpa banyak bicara, tapi aku merasa nyaman. Sejenak aku lupa akan segala kesedihan yang melanda hati.
“Kenapa?” tanyaku, saat mata kami beradu dan sorot mata Tirta seolah menyiratkan tanya. Dia menggeleng detik kemudian terdengar helaan napas panjang. Aku yakin Tirta tadinya akan menanyakan sesuatu, tapi urung. Entah karena apa?
🌺🌺🌺
Aku mengamati jam yang terdapat di layar ponsel. Sudah hampir setengah jam aku menunggu Ayah menjemput, tapi tak kunjung terlihat batang hidungnya. Kurasa Ayah lupa. Mungkin karena pikirannya masih kacau atau masih sibuk di pabrik.
“Kenapa? Ayahmu belum datang, ya?”
Aku mengangguki pertanyaan dari Abdi.
“Gimana kalau bareng aku aja?”
“Bareng?” tanyaku. Abdi mengangguk mantap.
Aku pun terkekeh dibuatnya. “Bagaimana bisa kita bareng? Sementara arah rumah kita saja berbeda,” ucapku kemudian.
Abdi menggaruk kepalanya salah tingkah kemudian nyengir. “Iya, ya?”
“Ya sudah, kalau begitu biar aku antar saja. Gimana?” imbuh Abdi.
“Terima kasih, tidak usah. Takut merepotkan.”
“Buat kamu mah, nggak repot kok.”
“Sebaiknya aku pulang jalan kaki saja,” jawabku.
Abdi terkesan maksa mau mengantarkan aku pulang, sampai bingung mau beralasan apa lagi. Entahlah, aku merasa tidak nyaman jika harus pulang berduaan dengannya. Untunglah Tirta muncul bersama sepedanya.
“Eum, sorry. Aku pulangnya bareng Tirta saja, ‘kan kami searah.”
Tirta dan Abdi saling tatap sejenak. Abdi terlihat kesal, tapi akhirnya pasrah dan merelakan aku pulang bersama Tirta.
Aku berjalan di sebelah kanan Tirta. Sepeda BMXnya menjadi sekat antara aku dan dia. Sepanjang jalan kami banyak diam. Hanya suara sepatu kami beradu dengan jalanan berbatu serta suara sepedanya yang riuh. Namun, anehya aku merasa bahagia.
Tirta menghentikan langkahnya. Spontan aku pun ikut berhenti.
“Sudah sampai,” ucap Tirta dengan gaya khasnya. Datar tanpa ekspresi. Tapi terlihat sedikit grogi.
Aku mengamati sekitar. Benar sudah sampai di depan gerbang rumah. Kenapa sudah sampai saja sih, padahal aku masih ingin berlama-lama dengannya. Huh!
“Eum, i-iya.” Mendadak gugup. “Ayo mampir!” Berharap dia menerima ajakanku, tapi sialnya dia menolak mentah-mentah. Lalu ngacir pulang. Dasar payah! Jadi cowok nggak peka banget, sih!
Aku mengayunkan langkah malasku memasuki halaman rumah. Rupanya Mama dan Ayah belum pulang. Ke mana mereka? Rasanya malas sekali aku masuk ke dalam rumah. Namun, panggilan alam membuatku terpaksa masuk juga.
Selepas buang hajat aku duduk di sofa ruang tamu. Bayangan Tania kembali memenuhi setiap penjuru ruang. Kupikir selepas menyibukkan diri bakal lupa segala tentang adikku yang malang itu, tapi nyatanya tidak. Terlebih kala ingat terduga pelaku pembunuhan Tania, kemungkinan masih berkeliaran bebas di luar sana. Hati ini memanas seketika. Amarah menyelimuti jiwa.
Rumah yang dulu menjadi tempat ternyaman laksana surga bagiku, kini serasa bagai neraka. Aku tersiksa di dalamnya. Rasanya aku ingin mengajak Ayah dan Mama pindah saja. Tidak betah jika berlama-lama di sini. Bisa stres kalau begini terus menerus.
Ya, nanti kalau Ayah dan Mama pulang aku akan usul minta pindah saja dari desa ini.
__ADS_1
__N E X T__\=