
Setelah membeli perlengkapan untuk ziarah, seperti bunga dan air mawar pada penjual yang jualan di dekat pemakaman. Aku meminta tolong pada penjaga makam untuk mengantarkan ke kuburan Tania.
Semakin dekat dengan nisan berukirkan nama Tania, lutut ini semakin lemas. Aku sampai dipapah oleh Mela. Kondisi makam sangat bersih dan teratur. Sepertinya Ayah menyuruh orang untuk selalu merawat makam ini.
Kaki tak sanggup lagi menopang tubuh. Aku duduk bersimpuh di sisi makam Tania. Air mataku tak terbendung lagi. Rindu dan penyesalan menumpuk di dalam hati berpadu menjadi rasa yang sulit kujelaskan.
Kutaburkan bunga dan kusiramkan air mawar di atas pusara Tania. Air mata terus mengiringi setiap doa yang kulantunkan untuknya di sana. Bayangan ketika dia masih hidup terus menari-nari dalam benak. Tawa, canda, manja dan tangisnya masih jelas dalam ingatanku. Bahkan suaranya masih terngiang di telinga ini.
“Maafkan Kakak, Tan. Kakak gagal menjagamu kala itu. Kakak ....” Kupeluk erat dan kukecup berulangkali nisannya, berharap kerinduan ini sedikit mencair. Nyatanya tidak. Aku justru semakin merindukannya.
“Sudah, Ran. Jangan menangis terus seperti ini. Kasihan Tania, nanti di sana dia ikut sedih kalau melihatmu begini.” Mela mengusap lembut punggung ini. Menguatkan.
“Benar, Non. Tidak baik berlarut-larut dalam kesedihan dan penyesalan. Sebaiknya doakan saja Non Tania agar tenang di sana.” Mang Ule turut menimbrung. Sedangkan penjaga makam itu hanya diam berdiri.
“Sudah ya, Ran. Sekarang kita taburkan sisa bunganya dan kita pulang. Oke!” ajak Mela. Aku menggeleng.
“Aku masih pengen di sini, Mel.”
“Ran, kita pulang!” tegas Mela.
“Sebentar lagi, Mel. Aku masih pengen di sini,” tolakku.
“Ya sudah, ini. Taburkan bunganya!” perintah Mela, dan aku nurut. Setelah bunga habis kutaburkan di atas pusara Tania. Pamela menarik bahuku guna berdiri, dan memaksaku untuk segera pergi.
“Ayo, Ran! Kita pulang. Sudah cukup! Kota tidak boleh berlama-lama di kuburan. Besok atau lusa kita ke sini lagi. Oke!” Mela langsung merangkul pundakku, dan menggiringku meninggalkan pemakaman.
“Yuk, masuk ke dalam mobil!” titah Mela sambil sedikit mendorong tubuhku agar masuk. Setelah aku duduk di dalam mobil, kulihat Pamela memberikan sejumlah uang kepada penjaga makam sebagai pengiring ucapan terima kasih.
“Tidak usah repot-repot begini, Neng! Ini memang sudah tugas saya!” Pria berusia senja itu menolak. Namun, Pamela memaksa.
“Tidak repot, kok, Pak. Ini mohon diterima untuk beli minum, Pak!” pungkas Pamela sambil menyelipkan uang di saku baju penjaga makam. Lalu Mela pamit, dan masuk ke dalam mobil setelah pria tersebut mengangguk.
“Kita mau langsung pulang atau mau ke mana dulu, Ran?” tanya Mela saat mobil sudah melaju menjauh dari makam.
“Kita keliling desa dulu. Sama kita mampir ke pabrik Ayah, dulu ya.”
“Oke.”
“Tuh, Mang Ule sudah dengar, ‘kan? Apa mau Rania?” lanjut Mela. Mang Ule mengangguk. “Oke, berarti aku nggak perlu menjelaskan ulang.”
Aku mengamati pemandangan di sisi jalan yang masih tampak asri. Ada sebuah warung makan yang dulu sering aku singgahi saat sepulang sekolah bersama Tirta.
“Mang, berhenti!” pekikku. Mang Ule pun mengerem mendadak. Reflek.
“Aduh Non, kalau nyuruh berhenti jangan ngagetin. Bahaya!”
“Maaf, Mang!” balasku sambil membuka pintu mobil.
“Loh, kamu mau ke mana, Ran?”
“Sebentar, ya, Mel. Aku mau menemui penjaga warung makan itu,” tunjukku.
“Ya sudah, kalau begitu sekalian saja kita turun dan makan. Gimana? Kan, kita belum sarapan.”
__ADS_1
“Boleh. Yuk!” ajakku.
“Yuk, Mang! Kita turun, sarapan dulu!” ajak Mela.
“Siap, Non!”
Aku dan Pamela berjalan duluan mendekat ke warung. Setelah memarkirkan mobil, Mang Ule menyusul.
Ibu penjaga warung itu menyambut kami dengan senyum dan sapaan ramah. Lalu mepersilakan kami masuk dan duduk. Kemudian bertanya mau pesan apa?
“Mau makan apa, Ran?”
“Terserah kamu aja deh, Mel. Samain aja!”
“Oke.” Mela lalu memesan pecel lele dan es jeruk untuk kami berdua. Sedangkan Mang Ule memesan ayam bakar dan kopi.
Sambil makan, aku mengamati ibu pemilik warung ini. Memastikan bahwa dia masih orang yang sama. Setelah yakin, aku pun berniat untuk berbincang dengan ibu pemilik warung.
“Ran, kamu mau ke mana?” Mela mencekal lenganku.
“Sebentar ya, kamu lanjutin makan aja. Aku udah kenyang. Aku mau ke sana dulu.”
Mela mengangguk. “Oke.”
“Bu,” panggilku. Ibu pemilik warung pun menoleh ke arahku.
“Iya, kenapa Neng? Ada yang kurang?”
“Oh, mau bicara. Boleh. Mau bicara soal apa, ya?”
“Eum, sebelumnya perkenalkan, saya Rania, Bu.”
Ibu pemilik warung menyambut uluran tanganku. “Saya Minah, Neng.”
“Duduk, Neng!” lanjut Bu Minah. Kami pun lalu duduk berhadapan tersekat meja.
“Ibu sudah lupa, ya, sama saya?” tanyaku. Bu Minah mengernyitkan kening, tampak sedang berusaha mengingat.
“Memangnya, Eneng ini siapa?”
“Saya dulu pernah tinggal di sini, dan sekolah di sini. Dulu kalau sepulang sekolah saya dan teman-teman sering mampir untuk makan di sini.”
“Oh, ya. Sayangnya ibu sudah lupa. Maklum faktor U.” Bu Minah lanjut terkekeh. Aku menimpali dengan senyum kecil.
“Eum, kalau teman saya yang bernama Tirta, apa Ibu juga lupa?”
“Tirta?” Bu Minah mengerutkan kening seperti mencoba mengingat. “Tirta yang mana, ya?” lanjutnya.
“Itu loh, Bu, Tirta yang tinggal di desa sini juga. Yang dulu terkenal sebagai bocah kurang waras itu.”
Bu Minah terdiam sejenak seperti sedang berpikir. “Oh, Tirta yang itu,” gumamnya kemudian. Namun, terdengar jelas di telinga ini.
“Iya, Ibu tahu di mana dia sekarang? Soalnya saya ke rumahnya, rumahnya seperti habis terbakar gitu.”
__ADS_1
“Maaf, saya tidak tahu. Sebaiknya kalian cepat pergi dari sini!” tegasnya sambil berdiri dan menunjuk jalan keluar.
“Loh, kenapa Bu?”
“Sudah, sebaiknya kalian cepat pergi dari sini!” Bu Minah mengusir kami bertiga.
“Bu, kalau Ibu tahu di mana keberadaan Tirta sahabat saya itu, tolong kasih tahu saya!”
“Pergi!”
Mela langsung membayar makanannya dan langsung mengajakku pergi.
“Memangnya apa yang kamu lakukan sampai ibu pemilik warung itu marah, Ran?” cecar Mela, saat kami sampai di dekat mobil.
“Aku tidka melakukan apa-apa. Hanya bertanya di mana Tirta sekarang.”
“Aneh banget. Masa Cuma ditanya begitu saja reaksinya berlebihan gitu. Kenapa dengan ibu itu?” Mela dan Mang Ule keheranan. Aku hanya mengedikkan bahu.
“Ya sudah, ayo kita lanjut jalan!” ajak Mela. Aku segera masuk ke dalam mobil, pun dengan Mela dan Mang Ule.
Saat dalam perjalanan menuju pabrik singkong Ayah. Aku bertemu dengan seorang warga yang sedang menaikkan hasil panennya ke atas mobil pikap.
“Mang, berhenti dulu, ya!”
“Siap, Non!” Mang Ule patuh.
Setelah mobil berhenti dan menepi, aku turun. Mela mengekor.
“Pak, permisi,” sapaku pada serombongan bapak-bapak yang tengah sibuk itu.
Salah seorang bapak menghentikan aktivitasnya dan mendekat. “Iya, kenapa Mbak? Ada yang bisa kami bantu?”
“Eum, saya mau bertanya. Apa Bapak tahu di mana tempat tinggal Tirta, sekarang?”
“Tirta yang mana, ya, Mbak?” tanya balik bapak itu sambil mengernyitkan kening.
“Tirta, yang dulu terkenal sebagai bocah tidak waras di desa ini.”
“Tidak kenal. Sebaiknya kalian pergi! Kami sedang sibuk!” Bapak itu yang semula ramah mendadak marah dan kesal. Bahkan membentak kami saat aku dan Pamela bergeming kebingungan dengan sikapnya yang berubah aneh setiap kali kusebutkan nama Tirta.
Apa yang sebenarnya terjadi?
“Ran, mereka kenapa? Kok setiap kamu tanyai soal Tirta sahabat kamu itu jadi aneh gitu sikapnya?”
“Aku juga bingung, Mel.”
“Ya sudah, yuk, kita kembali ke mobil!” ajak Mela. Aku mengangguk.
Saat bertemu warga yang lain, aku kembali menanyakan soal Tirta. Reaksi warga sama dengan yang kutemui sebelumnya. Warga jadi marah dan ketakutan saat nama Tirta kusebutkan.
Fiks, ada yang tidak beres, tapi apa?
Apa yang terjadi padamu, Tirta?
__ADS_1