
🌺Masih lanjut POV Tirta.🌺
“Ta, kok Bayu belum bangun juga, ya?” lirih Dian di sela isak tangisnya. Ia terlihat sangat takut kehilangan Bayu.
Aku tak lagi mampu menjawab. Hanya dapat menyalurkan kekuatan dengan mengusap bahu Dian. Aku menggeleng lalu menunduk pilu. Ketakutan yang Dian rasakan. Kini aku juga merasakannya. Ketika melihat wajah Bayu semakin pasi.
“Sekarang bagaimana? Apa yang harus kita lakukan?” tanya Om Devandra memecah keheningan.
Aku menggeleng lesu. Tidak tahu harus berbuat apa? Pikiranku kacau. Otak rasanya tidak berfungsi seperti biasa. Blank. Bingung.
Pikiranku melang-lang-buana bagaimana nanti aku menjelaskan pada keluarga Bayu, jika dia tidak kembali. Serta masih banyak lagi pertanyaan yang kemelut dalam benak, kulontarkan pada diriku sendiri.
Aku berdiri, berkacak pinggang, mengacak rambut. Mondar-mandir, bingung. Kupaksakan otakku agar berpikir mencari solusi, tapi yang ada malah semakin bingung.
Sementara Dian terus terisak di sisi tubuh Bayu yang tergolek belum sadarkan diri. Pun dengan Om Devandra, ia juga duduk berjongkok di sisi Bayu yang tergeletak di lantai. Om Devandra menyesalkan kejadian ini.
“Ini semua terjadi karena kalian sudah bantu saya,” ucap Om Devandra parau. Ia terlihat merasa bersalah dan frustasi.
“Ini bukan salah Om, kok. Ini takdir. Tidak ada yang dapat menolak takdir, ‘kan?” sahutku sekenanya.
Lalu aku kembali berjongkok di samping Dian yang masih tersedu.
Kemudian kutatap wajah Bayu yang semakin pucat pasi. Harapan bahwa Bayu pasti akan kembali, kini terkikis habis tak tersisa. Pupus sudah.
Kudengar tarikan napas panjang dan berat dari kerongkongan Bayu. Sontak perhatianku pun tertuju pada wajah Bayu. Sejurus kemudian Bayu membuka matanya, dan langsung melotot mendelik ke atas.
“Bay, kamu sudah sadar?” pekik Dian girang bukan kepalang.
Entah kenapa rasanya nyeri hati ini melihat Dian begitu perhatian pada Bayu. Ada rasa iri yang menelusup ke dalam relung hati. Argh! Kuharap ini bukan rasa cemburu.
“Syukurlah kamu sudah sadar.” Om Devandra menimpali. Bibirnya melengkung dihiasi senyum kelegaan. Namun, matanya masih mengembun.
“Aku pikir, aku bakal kehilangan kamu Bay.” Dian menatap Bayu sedemikian rupa. Entah kenapa hati ini rasanya seperti terbakar. Panas sekali.
“Ciyeee, khawatir ya, segitu sayangnya ya, sama aku? Hem?” Bayu mengedikkan alisnya sambil terkekeh lemah. Sementara Dian tersipu malu-malu. Pipinya merona.
Kenapa rasaku makin tak karuan? Apa aku masih menyimpan rasa untuk Dian? Tapi rasanya tidak mungkin. Bukankah akhir-akhir ini hatiku sudah pindah ke lain hati? Tapi kenapa pemandangan di depanku ini terasa menyakitkan bagiku?
Tirta, jangan bilang selama ini Rania cuma kamu jadikan pelarian semata? Oh shit! Come on sadar, Ta!
Argh!
“Ta, kamu nggak seneng ya, aku kembali?”
Aku terperanjat oleh pertanyaan yang Bayu lontarkan.
“Hem?” sahutku sambil menatap wajah Bayu yang masih terlihat lemas. “Seneng kok, seneng banget malah,” imbuhku.
“Kalok seneng kok wajahmu datar gitu?”
Aku terdiam, nggak tahu mesti jawab apa?
__ADS_1
“Kamu kayak baru kenal Tirta aja. Dia kan emang gitu wajahnya kayak wajah hantu selalu datar tanpa ekspresi. Kecuali pas di depan Rania baru dah, dia semringah,” cerocos Dian. Membuatku malu dan canggung pada Om Devandra.
Sekilas kulirik Om Devandra, ia tersenyum kecil. Lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Om Devandra tampak serius memandang ke arah ruang ritual. Ia juga terlihat seperti sedang menajamkan pendengarannya.
“Ada apa, Om?” tanyaku, penasaran.
Om Devandra mengangkat tangannya memberiku isyarat agar diam. Aku melirik ke arah Bayu yang berusaha bangun dibantu oleh Dian. Lalu kembali melihat ke arah Om Devandra yang melangkah perlahan mendekati pintu ruang ritual.
Kemudian Om Devandra melongokkan kepalanya ke dalam ruang ritual. Tampaknya beliau memastikan di dalam sana ada apa.
Aku pun penasaran dan mendekat ikut melihat ke dalam ruang ritual, yang pengap serta beraura negatif. Aroma kemenyan dan dupa serta entah minyak wangi apa yang menyeruak tajam menambah kesan mistis ruangan mini itu.
“Ada apa, Om?”
Perlahan kusentuh bahu Om Devandra. Ia pun menoleh dan pandangan kami beradu.
Sejurus kemudian Om Devandra menggeleng pelan. Lalu menunduk sedih.
“Sekarang bagaimana? Semua ruangan dalam rumah ini sudah kita periksa, dan Tania tidak kita temukan di sini. Kita cari Tania ke mana lagi?” tanya Dian, sambil memapah tubuh Bayu yang masih lemas.
Aku dan yang lainnya terdiam. Tidak tahu mesti cari ke mana lagi.
“Oh ya, Bay, apa yang kamu lihat soal anak dalam foto tadi?”
Dian menoleh ke arah Bayu. Keduanya lalu saling pandang dalam jarak yang sangat dekat.
Penjelasan Bayu membuat semua yang ada di ruangan ini menunduk kecewa.
“Kata Rania, di sini ada semacam buku tutorial ritual pembangkit orang yang sudah mati gitu. Tapi di mana, ya?”
Mata Om Devandra menilik ke dalam ruang ritual lagi. Namun, buku yang dimaksud sudah tidak ada, meski kami sudah mencari di seluruh ruangan ini. Juga ruang lainnya.
“Kita pulang saja dulu!” ajak Om Devandra, frustasi.
“Om, yakin?” Dia mengangguki tanyaku. Aku, Dian dan Bayu pun mengikuti kemauan Om Devandra. Kami kembali pulang melalui jalan awal tadi kami datang kemari. Yakni lewat lorong bawah tanah.
***
🌹POV. Rania🌹
“Ma, kok Ayah belum juga ngasih kabar, ya?”
Aku terus saja melihat notif dalam ponsel dan sesekali melihat ke arah pintu masuk kamar bernuansa putih hijau ini.
“Sabar, mungkin mereka masih berusaha mencari.”
Mama berusaha menenangkan sambil mengusap bahu ini dengan lembut.
Selang beberapa saat knop pintu bergerak. Aku dan Mama sangat antusias menunggu siapa yang akan masuk.
__ADS_1
“Selamat sore, Bu.”
Suster menyapa Mama dengan ramah sambil tersenyum manis. Di tangannya ada nampan berisi makanan. Dapat dipastikan itu makanan untukku.
Mama mengangguk pelan sambil tersenyum jua.
“Ini makanan untuk mbak Rania. Dihabiskan, ya!”
Aku dan Mama mengangguk kompak menjawab ucapan suster.
“Terima kasih, Sus,” lanjut Mama. Suster mengangguk santun sambil tersenyum ramah lalu pergi meninggalkan kami berdua.
“Ayo dimakan!” titah Mama, sambil mendekatkan nampan berisi makanan padaku.
Aku menggeleng, “nanti saja, Ma,” lanjutku.
“Tapi bener ya, nanti dimakan!” tegas Mama. Aku mengangguk saja.
Aku tak sabar menunggu, akhirnya kuputuskan untuk menelepon Ayah duluan menanyakan bagaimana hasil pencarian hari ini. Namun, kata Ayah masih nihil. Tania belum juga ditemukan.
“Gimana?” tanya Mama, selepas aku mematikan ponsel. Lantas, kujawab dengan gelengan. Pertanda bahwa Tania belum ketemu.
Aku menghela napas pajang lalu menunduk sedih, pun dengan Mama.
Dalam hatiku berkecamuk seribu tanya akan bagaimana kondisi Tania sekarang. Di mana dia berada, dan masih banyak lagi tanya yang belum menemukan jawabannya.
Di saat seperti ini entah kenapa aku teringat si muka datar itu. Hadirnya sangat kunantikan dan kuharapkan.
Tapi kenapa ya, kok sampai sekarang dia belum datang menjengukku? Ke mana dia?
Aku tesadar dari lamunan oleh knop pintu yang kembali bergerak.
“Tirta,” lirihku. Sehingga menarik perhatian Mama yang kebetulan duduk di kursi samping ranjangku.
Kulirik wajah Mama, alisnya menaut bingung.
“Tirta? Siapa Tirta?”
Belum sempat kujawab pertanyaan yang Mama lontarkan. Pintu sudah terbuka lebar, dan menampakkan siapa pembukanya.
Aku dan Mama pun kompak melihat sosok yang berdiri di ambang pintu kamar VIP ini. Di tangan kanannya ada sebuket bunga, dan di tangan kirinya ada parsel berisi buah-buahan.
N
E
X
T
👇
__ADS_1