TUMBAL KETUJUH

TUMBAL KETUJUH
Sampai Tujuan


__ADS_3

Kurasakan tepukan di bahu ini. Aku mengerjap, membersihkan sudut mata lalu melek. Kulepas headset yang sedari tadi terpasang di telinga. Ya, sepanjang perjalanan aku memilih mendengar musik pakai headset dan tidur. Menghindari pemandangan mengerikan yang sampai sekarang aku belum begitu terbiasa.


“Sudah sampai, ayo turun!” ajak Pamela yang sudah turun duluan dan berdiri di sisi jendela tempatku duduk menungguku keluar. Pun dengan Mang Ule, dia sudah turun tengah meregangkan otot-ototnya. Pasti dia kecapaian.


Kubuka pintu mobil, lalu turun dan berdiri di depan gerbang rumah yang dulu pernah aku tinggali bersama Ayah, juga Tania. Aku mundur alon-alon saat otakku kembali mereview semua tragedi itu. Sajen, lalu bayangan Tania yang minta tolong, terakhir bayangan Tirta saat menggenggam tangan ini detik-detik perpisahan lima tahun silam.


Air mataku tak mampu kubendung lagi. Mengucur deras. Aku bersandar pada sisi mobil yang terparkir di depan gerbang rumah kuno tua. Semua masih sama seperti dulu tidak banyak yang berubah. Sepertinya Ayah menyuruh orang untuk merawat rumah bergaya Belanda ini.


Sedangkan Mang Ule dan Pamela kini sedang menatapku prihatin.


“Aku nggak mau tinggal di rumah ini, Mel. Enggak mau!” Telinga ini seolah mendengar jerit dan cekikik tawa Tania. Juga tangisnya. Aku menutup telinga menepis suara-suara aneh yang terus mengusik pendengaranku itu.


“Terus gimana, kalau kamu kek gini terus dan nggak berani masuk ke dalam rumah itu, Ran?” Pamela mengusap bahu ini lalu memelukku erat. Menguatkan.


“Kita cari penginapan lain aja,” pintaku. Pamela melepaskan pelukannya, lalu meminta pendapat Mang Ule. Kemudian kami pun kembali masuk ke mobil. Sebelum mobil melaju, ekor mataku menangkap beberapa sosok tengah berdiri berjajar di depan gerbang, tapi aku memilih memejamkan mata tak ingin melihatnya. Lalu kembali memasang headset dan mendengarkan lagu.


***


Setelah mengelilingi kampung, akhirnya sampai pada sebuah penginapan yang kecil dan sederhana serta asri. Banyak bunga mawar dan melati di sekelilingnya. Aroma khasnya menguar seolah menjadi aroma terapi alami. Aku suka, dan jadi ingat rumah seseorang. Tirta.


Seorang wanita paruh baya menyambut dan mempersilakan kami diiringi senyum ramah. Kami berhasil mengantongi nama pemilik penginapan ini pasca berkenalan. Yakni, bernama Ibu Sumini. “Jadi, kalian dari kota? Ada tujuan apa datang ke sini?” tanyanya. Pamela menjelaskan semuanya, sedangkan aku hanya menyimak sambil sesekali mengulas senyum saat Bu Sumini menatapku.


“Oh, jadi ini anaknya Pak Devan, pemilik pabrik ubi itu?” seru Bu Sumini setelah Pamela menjelaskan. Aku tersenyum seraya mengangguk membenarkan.


“Tapi, maaf, penginapan ini cuma ada dua kamar,” jelas Bu Sumini. “Sedangkan kalian bertiga,” lanjutnya.


“Tidak apa, Bu. Nanti, biar saya dan Rania tidur sekamar. Sopir kami biar tidur di kamar satunya,” jawab Pamela. Aku mengangguk setuju.


“Baiklah kalau begitu,” pungkas Bu Sumini. Lalu beliau menunjukkan pada Pamela seluk beluk rumah ini. Kudengar Bu Sumini juga menanyakan kenapa kami tidak tinggal di rumah yang Ayah beli.


“Iya, saya paham. Pasti kejadian lima tahun silam masih membekas di ingatan Non Rania. Sampai sekarang juga, batang hidungnya Mbok Tini dan Pak Ramat tidak terlihat. Entah ke mana perginya. Sangat misterius,” jelas Bu Sumini, pasca Pamela menjelaskan kenapa kami memilih tinggal di penginapan ketimbang di rumah tua itu.

__ADS_1


Jadi, sampai sekarang semua warga sini tidak tahu di mana keberadaan Mbok Tini dan Pak Ramat. Aneh. Ke mana perginya duo keparat itu? Awas saja kalau sampai ketemu. Akan kuhabisi kalian!


Aku mencoba mengingat daerah sekitar. Fiks, tidak salah lagi, letak penginapan ini tidak jauh dari rumah Tirta. Jantung ini berdebar di atas batas normal. Rasa takut yang semula menyelimuti hati seketika sirna.


“Mel, aku izin keluar sebentar, ya,” pamitku.


“Mau ke mana? Perlu aku temani tidak?” sahutnya dari ruang sebelah.


“Nggak usah. Aku sendiri aja. Cuma mau cari udara segar, kok.” Aku langsung berjalan menyusuri jalan yang sudah mulai dicor. Meninggalkan Pamela bersama Bu Sumini dan Mang Ule yang masih sibuk beres-beres.


Syukurlah, pembangunan sudah mulai merambah ke desa ini. Aku ingat betul dulu jalanan sini masih berbatu, dan jembatannya masih banyak yang terbuat dari kayu. Tapi, sekarang sudah dicor, jembatannya juga sudah mulai dibangun.


Aku mengarah ke sebelah utara kurang lebih seratus meter, di sanalah rumah Tirta. Semakin dekat dengan tujuan, jantung ini kian bertalu tak menentu. Aku nggak sabar ingin melihat ekspresinya saat tahu aku kembali ke desa ini.


Aku mempercepat langkah, sudah tidak sabar ingin bertemu dan memeluknya menumpahkan rindu yang membuncah ini. Langkahku melambat saat sudah dekat, dan kondisi perumahannya jauh berbeda dari bayanganku. Rumah Tirta tidak ada, menyisakan puing-puing berserakan yang diselimuti semak belukar. Sepertinya habis terbakar.


Kaki ini mendadak lemas, nggak bisa lagi menopang badanku sendiri. Aku terduduk lemas di tanah. Tidak bisa lagi membayangkan apa yang terjadi pada Tirta dan keluarganya.


“Aaaaaak!” jeritku saat tangan pucat pasi tadi masih terus menempel pada pundak ini. Langkahku terseok-seok, sekuat tenaga aku terus meminta tolong, tapi kondisi jalanan sepi. Tidak ada seorang pun yang melintas. Rumah-rumah di pinggir jalan pun pintunya tertutup. Sepertinya penghuninya belum pulang dari berkebun.


Tidak berselang lama ada bapak-bapak pengendara motor melintas membawa karung berisi penuh di jok belakang. Mungkin hasil panen. Melihatku ketakutan, bukannya menolong, pengendara motor itu malah tancap gas. Dan sesekali menoleh menatapku keheranan. Mungkin dia pikir aku ini orang gila. Antahlah.


Melihatku tergopoh-gopoh memasuki pelataran penginapan, Pamela langsung berlari menyambutku.


“Ran, ada apa? Kamu kenapa?” cecarnya sambil memapahku. Aku tak sanggup menjawab. Engap.


“Ayo, duduklah!” perintahnya kemudian, saat kami sampai di teras penginapan. Aku patuh. Lalu duduk di kursi yang terbuat dari bambu.


“Mel, kamu mau ke mana?” Kucekal lengannya. Napasku masih memburu akibat berlari sekuat tenaga tadi.


“Ambil minum, Ran, buat kamu.”

__ADS_1


“Jangan lama-lama, ya.” Pamela mengangguk, lalu kulepaskan cekalannya perlahan.


“Ini minumlah!” Kuambil alih gelas dari tangan Pamela lalu kuteguk isinya sampai tandas.


“Sebenarnya tadi kamu ke mana? Dan kenapa pulang-pulang kek orang dikejer setan gitu?” cecar Pamela. Aku mengangguk.


“Maksud lo? Beneran dikejer setan?” Lagi, aku hanya mengangguk.


“Tapi, itu setan nggak ikut sampai sini, 'kan?” Pamela menggerakan bola matanya melirik ke kiri dan kanan. Aku mengedikkan bahu.


“Kamu kenapa sih, Mel? Kok kamu jadi penakut gini?” tanyaku. Aneh dengan sikap Pamela yang mendadak jadi penakut. Padahal ketika di kota, dia terkenal pemberani.


“Sumpah demi apa pun, gua juga kagak tahu, Ran. Sejak memasuki desa ini tuh, auranya mistis banget. Gua jadi ....” Pamela menggantung ucapannya lalu lanjut mengusap tengkuk.


“Aku minta temenin sama kamu, but i think tadinya kamu itu pemberani. Kalau jadi penakut juga sama aja bohong dong.”


“Serius, aura mistis di desa ini meluluh lantakkan keberanian gue, Ran.”


Bener apa kata Pamela, soal pembangunan memang sudah sedikit maju. Namun, itu tidak memudarkan aura mistis di desa ini, tetap kental terasa. Hawa dinginnya, menambah kesan semakin horor saja. Padahal hari masih siang. Bagaimana jika malam telah datang menyelimuti desa ini? Akan seperti apa situasinya nanti?


***


Aku sudah mandi dan istirahat sejenak, lalu berkeliling melihat-lihat seisi penginapan. Berasa ada yang aneh. Kayak ada yang kurang, tapi apa? Aku mencoba mengingat, sampai akhirnya menyadari apa yang hilang itu. Mang Ule. Ya, dia nggak terlihat sejak aku pulang dari melihat kondisi rumah Tirta tadi. Ke mana dia?


Kuteriakkan nama Mang Ule berulang kali tidak ada yang menyahut. Mobilnya juga tidak ada di halaman depan.


Pamela juga mendadak tidak kelihatan. Penginapan ini jadi terasa hampa dan horor.


“Mel! Mela!” Ke mana dia? Kok nggak nyahut.


Aku coba panggil Pamela dan Mang Ule sekali lagi, tapi tetap tidak ada yang menyahut. Sunyi.

__ADS_1


__ADS_2