
“Tirta!”
“Ran, kamu kenapa? Mimpi, ya?” Aku mengangguk sambil menstabilkan napas yang terengah akibat mimpi buruk tentang Tirta tadi.
“Emang mimpi apa, sih? Sampe teriak-teriak manggil Tirta gitu. Terus ampe terbangun dan langsung dalam posisi duduk gitu?”
“Aku mimpiin Tirta badannya terikat rantai merah menyala gitu. Dia teriak-teriak kesakitan dan minta tolong, Mel.”
Mela menarik kepalaku dan menyandarkan pada sisi bahunya. Aku hanya bisa menangis terus memikirkan dan bertanya-tanya akan apa yang sebenarnya terjadi pada Tirta. Rasanya tidak sabar menunggu pagi, dan cepat-cepat bertemu dengan Dian di danau agar aku segera tahu apa yang Tirta alami.
“Masih malam, sebaiknya kita tidur lagi!”
Aku menarik kepalaku dari bahu Mela. “Enggak ah, Mel. Aku mau buat kopi aja.”
“Oke. Aku ikut kalau gitu.” Aku mengangguk. Lalu kami ke dapur dan membuat kopi.
“Hemmm, bau kopi, nih!” seru Mang Ule. Aku dan Mela terkejut dibuatnya.
“Mamang mah, ngagetin aja deh!” ketus Mela sambil mengusap dadanya.
Mang Ule terkekeh. “Maaf, Non. Habisnya gara-gara aroma kopinya sampai di kamar, mamang jadi kebangun,” lanjutnya.
“Mamang mau?” tawar Mela. Mang Ule mengangguk. “Ya sudah, sebentar! Aku buatin dulu, Mang.” Mela lalu menyeduh kopi satu cangkir lagi untuk Mang Ule.
Setelah kopi jadi, kami bertiga menikmati kopi di ruang makan diselingi obrolan.
“Kopinya nikmat, sayangnya nggak ada temennya, ya, Non.”
“Bentar, Mang! Kayaknya aku masih punya keripik singkong, deh.” Mela lalu mengambil keripik singkong dan menyajikannya di piring. “Nih,” ucapnya sambil menghidangkan keripik di meja.
“Nah, gini, kan, jadi tambah mantep!” ucap Mang Ule sambil mengambil keripik dari piring.
Aku urung menyeruput kopi saat mendengar suara gaduh dari salah satu ruangan. Kucoba menajamkan pendengaran.
“Ada apa, Ran?” tanya Mela yang melihat aku menelengkan kepala.
“Kalian dengar suara gaduh, nggak?” tanyaku pada Mela dan Mang Ule. Mereka berdua kompak menggeleng.
“Enggak, aku nggak dengar suara apa-apa, Ran.”
“Iya, saya juga tidak dengar suara, Non.”
“Mungkin suara tikus atau kucing,” sahutku lalu mencoba masa bodoh.
“Bisa jadi, Non. Soalnya tadi siang mamang lihat kucing masuk ke sini,” jelas Mang Ule.
Kami pun lanjut menikmati kopi dan kripik.
Tok tok tok!
Kami bertiga saling pandang satu sama lain saat tiba-tiba mendengar suara pintu diketuk.
__ADS_1
“Kalau suara itu mamang denger,” ucap Mang Ule dengan nada berbisik.
“Aku juga denger,” sahut Mela lirih. Detik berikutnya kami kompak melihat jam yang menempel di dinding. Jarumnya menunjuk pukul satu lebih dini hari. Lalu kami saling pandang lagi.
“Malam-malam begini ada tamu? Siapa?” tanya Mang Ule. Mela mengedikkan bahunya.
“Kita lihat, yuk!” ajakku.
“Kamu yakin, Ran?” tanya Mela.
“Ya, terus? Masa ada tamu dibiarin?”
Dengan langkah perlahan, kami bertiga menuju ke pintu depan. Tanganku sudah mengulur siap untuk membuka pintu. Tiba-tiba suara ketukan pindah ke pintu belakang. Kami bertiga pun kompak menoleh ke arah pintu belakang. Detik berikutnya kami saling pandang. Keheranan.
Mang Ule mengajak kami menuju pintu belakang menggunakan gerakan tangannya. Aku dan Mela mengekor. Saat kami sampai di ruang makan, suara ketukan itu pindah ke pintu depan lagi.
“Siapa sih, iseng banget!” teriak Mela kesal. “Mamang buka pintu belakang, aku dan Rania buka pintu depan!” titah Mela kesal. Mang Ule mengangguk setuju.
“Yuk!” ajak Mela sambil menarik lenganku untuk membuka pintu depan.
“Dalam hitungan ketiga kita buka pintunya!” ajak Mela. Aku mengangguk saja. “Satu ... dua ... tiga!”
Pintu telah terbuka lebar, tapi tidak ada siapa pun di luar. Suara ketukan juga sudah tidak terdengar lagi. Hanya ada dedaunan yang melambai-lambai akibat tertiup angin, dan suara jangkrik.
“Aaak!” teriak Mela saat ada sesuatu terbang di atas kepalanya. Dia langsung memelukku erat.
“Tenanglah, Mel! Itu hanya kelelawar.”
“Aku tadi lihat, Mel.” Mela lalu melepaskan pelukannya. Kemudian mengelus dadanya.
“Ada apa, Non?” tanya Mang Ule yang berlari tergopoh dari dalam.
“Cuma kelelawar, Mang,” jelasku.
“Kirain ada apaan. Oh ya, dibelakang tidak ada siapa-siapa, Non,” jelasnya kemudian.
“Di sini juga tidak ada apa-apa, Mang,” sahutku.
“Mungkin hanya angin,” timpal Mang Ule.
“Ya kali, angin bisa ngetuk pintu, Mang!” ketus Mela.
“Sudahlah, kita masuk saja, yuk!” ajakku. Kurangkul bahu Mela lalu menggiringnya masuk, dan menyuruh Mang Ule menutup pintunya. Aku tidak ingin memberitahu Mela dan Mang Ule tentang sosok apa yang tadi kulihat di sudut halaman depan. Aku tidak ingin membuat mereka ketakutan.
“Mang, sebaiknya Mamang kembali tidur!” titahku.
“Siap, Non.” Mang Ule menghabiskan kopinya lalu ke kamarnya.
“Sekarang, kita tidur, yuk!” ajakku. Mela mengangguk. Lalu kami ke kamar, Mela langsung berbaring di balik selimut.
Sementara aku masih duduk bersandar pada sandaran ranjang. Mata ini enggan terpejam, terus kepikiran Tirta. Rasanya tidak sabar menunggu hari esok. Kulihat jam di layar ponsel. Masih jam dua dini hari. Ah, kenapa rasanya waktu sangat lamban.
__ADS_1
Kuletakkan kembali ponsel di meja kecil samping ranjang. Lalu berbaring dan mencoba memejamkan mata.
***
Aku terbangun dan langsung dalam posisi duduk.
“Maaf, aku mengangetkanmu, ya?” tanya Mela.
“Enggak, kok. Ini sudah siang, ya?”
“Baru jam enam,” jawab Mela. Aku membersihkan sudut mata. Lalu beranjak dari ranjang dan ke kamar mandi.
Usai membersihkan diri dan ganti pakaian, aku ke dapur menyusul Mela yang lagi sibuk menyiapkan sarapan. “Aku bantu apa, nih?” tanyaku.
“Tolong irisin bawang, ya, terus goreng! Kita kehabisan stok bawang goreng,” jawab Mela. Aku mengangguk lalu menjalankan perintah Mela.
Setelah menu matang, kami berdua menyajikan di meja makan. Lalu memanggil Mang Ule untuk sarapan bersama.
“Habis sarapan, gimana kalau kita jalan-jalan sekalian ke pasar untuk beli kebutuhan dapur yang sudah habis,” saran Mela.
Aku mengangguk setuju. “Boleh.” Itung-itung menghabiskan waktu biar nggak terasa lama menunggu ba’da Asar.
“Mamang masih ingat, ‘kan, pasarnya?” tanya Mela.
“Masih, Non. Aman,” jawabnya. Lalu kami melanjutkan sarapan. Setelah selesai sarapan beberes, dan kami bertiga pergi ke pasar.
Sepanjang perjalanan, aku hanya diam mendengarkan musik pakai earfon sambil melihat pemandangan di sisi jalan. Masih asri di sisi kiri dan kanan jalan ditumbuhi pepohonan, dan tanaman singkong, jagung, juga sempat melewati persawahan yang menghampar luas. Lalu kembali melewati perumahan warga.
Kulepas earfon dan melihat ke arah pengendara motor yang tadi menyalip. Kayak tidak asing dengan pengendara motor itu, tapi aku harus memastikan penglihatanku. “Mang, kejar motor di depan itu!” titahku sambil menujuk motor ninja warna hitam di depan. Mang Ule melihatku dari kaca depan.
“Siap, Non!” jawab Mang Ule sambil mengangguk.
“Memangnya siapa yang naik motor di depan itu, Ran?” tanya Mela. Aku yakin dia penasaran.
“Aku juga belum tahu, kita lihat saja nanti. Penglihatanku salah atau tidak.”
“Tirta?” Aku menoleh sekilas ke arah Mela lalu kembali fokus melihat keluar jendela.
“Jangan sampai kehilangan jejak, ya, Mang!” titahku, Mang Ule mengangguk.
Akhirnya Mang Ule berhasil menyalip, lalu memberi isyarat dengan membunyikan klakson agar motor ninja itu berhenti. Akhirnya pengendara motor itu menghentikan kuda besinya. Pun dengan Mang Ule, berhenti dan menepikan mobil.
Aku turun dan mendekat ke pengendara motor yang masih duduk di atas motornya dengan kedua tangan bertumpu pada setang. Mela menyusulku lalu berdiri di sisiku.
Pria itu menepikan motornya di sisi jalan. Kemudian ia membuka helmnya dan menaruh di atas motornya.
Aku tidak sabar menunggunya berbalik mengahadapku.
Setelah merapikan rambutnya, pria yang semula berdiri membelakangi aku dan Mela itu berbalik. Lelaki itu mengernyitkan dahi tampak sedang mengingat.
Detik berikutnya kami saling tunjuk. “Kamu!” seru kami kompak.
__ADS_1