
“Bayu!”
“Rania!” pekik kami secara bersamaan. Detik berikutnya saling peluk guna melepaskan kerinduan.
“Kangen tauk. Aku pikir udah nggak bakal bisa ketemu kamu lagi,” ucapnya masih sambil memelukku.
“Sama. Aku juga berpikir begitu,” balasku. Lalu kami melepaskan pelukan dan saling pandang beberapa detik.
“Kamu apa kabar?” tanya kami secara bersamaan. Detik berikutnya kami sama-sama terkekeh.
“Baik,” jawab kami kompak lagi. Lalu terkekeh lagi.
Bayu bersedekap dan mengamati wajahku sedemikian rupa. “Kenapa sih, lihatin aku sampai segitunya? Malu tauk!”
Tercipta lengkung yang sangat manis di bibirnya. “Kamu sekarang sangat cantik. Rasanya normal, kok, kalau aku terkesima.”
“Apaan, sih!” Kudorong perlahan dadanya. Dia masih saja seperti dulu, tengil dan ngeselin, tapi asyik. Terbukti, meski sudah lima tahun kami terpisah, tapi saat bertemu dengannya lagi tidak ada rasa canggung yang menyekat kami.
“Oh ya, dia siapa?” Bayu menunjuk Mela dengan gerakan wajahnya. “Kok punya temen secantik bidadari begini, nggak dikenalin ke aku, sih?” lanjutnya.
“Ya, kenalan aja sendiri!” titahku. Lalu aku dan Mela saling lirik.
Bayu langsung mengulurkan tangan ke hadapan Mela. “Hai, namaku Bayu. Kalau kamu siapa?”
“Pamela. Panggil saja Mela!” balas Mela sambil menjabat tangan Bayu.
Detik berikutnya Bayu membalik telapak tangan Mela dan diamatinya garis tangan sahabatku itu. “Aku ramal, setelah ini kita bakal sering bertemu,” ucapnya sok iya.
Mela tersenyum sambil menggeleng-geleng. “Ada-ada aja kamu, Bay. Udah kayak Dilan aja.”
“Memangnya kamu nggak tahu, ya?” tanya Bayu pada Mela masih sambil memegang tangannya.
Mela mengernyitkan dahi. “Tahu apa, ya?”
“Dilan itu salah satu muridku. Jadi, bukan aku yang kayak Dilan, tapi Dilan yang kayak aku,” jawab Bayu. Mela tertawa dibuatnya.
“Uwoy! Lepasin tangan sahabat aku! Hari gini masih aja modus. Ke laut aja sono!” sahutku. Bayu pun langsung melepaskan tangan Mela.
“Bilang aja kalau cemburu,” goda Bayu sambil menjawil daguku.
“Ish, wlek!” sahutku sambil bergidik geli.
“Oh ya, kamu tahu nggak kabar soal Tirta?” tanyaku kemudian.
Bayu menghela napas panjang lalu menunduk dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. “Tirta nasibnya tragis, Ran ....”
“Tragis gimana, sih? Dan kenapa semua orang kayak ketakutan gitu pas aku tanyai soal Tirta. Bahkan Pak Lurah pun terkesan menghindar gitu pas aku tanyai soal Tirta.”
“Jadi, Tirta itu ... dia disukai sama ....” Ucapan Bayu terhenti manakala teleponnya berdering. “Sebentar, ya, aku angkat telepon dulu!” pamitnya usai melihat layar ponselnya. Aku mengangguk saja.
“Apa?!” pekik Bayu usai mendengarkan ucapan seseorang di ujung telepon. Entah ada apa? Sehingga wajah Bayu mendadak seperti panik begitu.
“Ya sudah, aku akan cepet nyusul ke rumah sakit,” pungkas Bayu lalu kembali memasukkan ponsel ke dalam saku celananya.
“Ran, maaf banget, tapi aku nggak bisa lanjutin obrolan kita sekarang. Karena Ibu aku anfal lagi dan dia sudah dilarikan ke rumah sakit oleh tetanggaku. Jadi, aku harus cepat menyusul ke rumah sakit,” pamit Bayu buru-buru.
“Eum, emangnya Ibu kamu sakit apa?” tanyaku jadi ikut panik.
“Sakit jantung, Ran. Ya sudah, aku pamit dulu, ya, Ran, Mel!” pamitnya lagi, lalu bergegas mendekat ke motornya dan memakai helm. Aku cuma bisa mengangguk mengiyakan. Pun dengan Mela.
“Oh ya, kamu tinggal di rumah kamu yang dulu?” tanya Bayu urung menstarter motornya.
“Bukan, Bay. Aku tinggal di penginapan deket area rumahnya Tirta dulu. Di sebelah selatan bekas rumah Tirta,” jelasku.
Bayu mengangguk mengerti. “Ya sudah, ya, aku pamit dulu!” pungkasnya lalu tancap gas. Pergi.
Bayu begitu terburu-buru. Sampai aku lupa titip salam dan lupa mendoakan kesembuhan Ibunya.
“Ran, yuk, kita lanjutkan perjalanan kita!” ajak Mela. Aku mengangguk lalu mendekat ke mobil.
“Ya salam!” pekikku.
“Kenapa Ran?”
“Aku lupa minta nomor telepon Bayu, Mel.”
“Ah, iya ya.” Mela menyahut dengan nada kecewa juga. “Ya sudahlah, ayo, kita ke pasar keburu siang entar sayurannya habis,” lanjutnya. Aku mengangguk lalu masuk ke dalam mobil.
“Ayo, Mang, jalan!” titahku. Mang Ule mengangguk. Lalu melajukan mobilnya.
“Itu tadi siapa, Non? Yang namanya Tirta itu, ya?” tanya Mang Ule.
“Kepo!” sahut Mela. Mang Ule terkekeh.
“Bukan, Mang. Itu tadi namanya Bayu,” jelasku kemudian. Mang Ule ber-oh saja.
“Bayu, lucu juga ya, orangnya,” sahut Mela sambil senyum-senyum.
“Kheeem!” godaku sambil menyikut lengan Mela.
“Kalau batuk minum obat!” ketus Mela lalu mengalihkan pandangannya keluar jendela mobil. Baru kali ini ekspresi Mela berbinar saat membicarakan cowok.
“Ciyeee,” godaku lagi.
“Ck, apa, sih?” sahutnya tanpa menolehku.
Aku melihat pemandangan ke sisi jalan. Tiba-tiba saja aku teringat ucapan Bayu tadi. Tirta disukai? Disukai sama siapa, ya?
“Ran!” panggil Mela sambil menepuk pundakku.
“Hem. Apa?” Aku tersentak dari lamunan.
“Ngelamunin apaan, sih?”
__ADS_1
“Enggak ngelamun,” sahutku asal.
“Enggak ngelamun, kok diajak ngomong nggak nyambung,” ketus Mela.
“Hah? Emang tadi kamu ngomong apa?” tanyaku sambil menatapnya lekat.
“Tuh, kan?” sahutnya sambil menunjuk ke arahku. “Udah, sampe pasar. Ayo turun!” lanjut Mela berbicara dengan nada setengah teriak di dekat telingaku.
Aku melihat keluar jendela. Ah, benar. Mang Ule bahkan sudah turun duluan. Aku sampai tidak menyadarinya karena terus kepikiran soal Tirta.
“Ya sudah, ayo turun. Habis belanja langsung pulang, ya!”
“Ah, kamu Ran. Belanja juga belum, udah mikirin pulang aja,” sahut Mela sambil menggandeng tanganku. Kami berjalan beriringan memasuki pasar, dan belanja segala apa yang diperlukan. Setelah semua yang dicari terbeli, kami lalu pulang ke penginapan.
***
“Kita langsung masak sekalian buat nanti malem, ya, Ran. Biar nanti tinggal mansin aja. ‘Kan, entar sore kita mau ketemuan sama Dian.”
“Boleh, deh, Mel. Ya sudah, sini aku bantu,” tawarku.
“Nih, iris bawangnya!” titah Mela sambil menyodorkan bawang dan pisau ke arahku. “Untuk makan siang ini, kita numis kangkung aja.” Aku mengangguk setuju sambil tanganku mulai mengupas bawang. Sedangkan Mela mulai menyiangi kangkungnya.
“Segini cukup?” tanyaku sambil menunjukkan bawang yang sudah selesai aku kupas. Mela menoleh mengamati.
“Iya, udah. Tinggal iris aja.” Aku pun mulai mengiris bawangnya.
“Awwh!” pekikku saat telunjukku terkena pisau.
“Ya ampun, Ran! Kenapa? Kena pisau, ya?” Mela panik melihat jariku berdarah. Ia langsung berlari mengambil kotak P3K. Segera kucuci lukanya dan kukasih obat merah serta kubungkus pakai hansaplast.
“Makanya kalau kerja itu yang fokus! Jangan sambil ngelamun!” omel Mela. “Udah, sana kamu duduk aja! Biar aku yang terusin masak,” lanjutnya sambil mendorong bahuku agar menjauh dari dapur.
***
Jam dua lebih, aku segera mengajak Mela dan Mang Ule untuk berangkat ke danau guna menemui Dian.
“Ya ampun, Ran, masih jam segini jug. ‘Kan, janjiannya ba’da Asar,” sungut Mela.
“Udah deh, nggak usah ngedumel. Ntar juga kalau kamu sudah sampai di danau pasti betah di sana,” lipurku. Dengan langkah malas, Mela masuk ke dalam mobil.
“Ayo, Mang, buruan jalan!” titahku pada Mang Ule.
“Siap, Non!”
***
Setelah sempat nyasar, akhirnya kami bertiga sampai juga di danau. Berkat petunjuk dari warga yang kebetulan kami temui di jalan tadi.
Sekarang danau ini semakin terawat. Banyak aneka bunga yang ditanam di sekelilingnya. Sehingga menambah kesan indah dan asri. Danau ini salah satu objek wisata di desa sini.
“Wih, ternyata bener, ya. Tempatnya indah,” seru Mela takjub, sambil mengamati sekeliling. Pun dengan Mang Ule.
“Apa kubilang. Di sini suasananya enak, pemandangannya juga indah, ‘kan?”
“Iya, Ran. Keren.”
“Ran, aku ke sana dulu, ya!” pamit Mela. Aku auto membuka mata lalu menoleh ke arah Mela yang menunjuk pohon pinus, yang tumbuh tidak jauh dari tempatku duduk. Ah, Mela membuyarkan lamunanku saja. “Mau selfi,” lanjutnya. Aku mengangguk. Mela lalu berjalan mendekati pohon pinus, dan selfi ria di sana.
Setelah kurang lebih setengah jam berlalu, Dian datang berboncengan naik motor dengan suaminya. Aku melambai ke arah Dian, memberinya isyarat agar mendekat ke sini.
“Sudah lama nunggunya?” tanya Dian usai berpelukan dan cipika cipiki denganku.
“Lumayan. Kisaran setengah jam-an lah.” Dian mengangguk-angguk.
Evan datang mendekat setelah memarkirkan motornya. Di tangannya lengkap peralatan memancing. “Aku mancing di sana dulu, ya, Dek!” pamitnya pada Dian sambil menunjuk sisi danau sebelah utara. Kisaran 50 meter jauhnya, dari tempatku berada kini.
“Iya, Mas!” jawab Dian. Evan lalu pergi. Mang Ule mengikuti lalu melihat Evan memancing.
“Suamimu hobi mancing, ya?”
“Hobi banget dia mancing. Ini tadi kalau nggak aku lipur nyuruh dia mancing. Dia nggak mau nganterin aku ke sini,” jawab Dian. Sementara Mela setelah puas mencari spot untuk berfoto ke sana kemari, ia mendekat menyapa Dian lalu turut duduk.
Kami bertiga duduk bersisian menghadap ke danau. Aku dan Mela mengapit Dian yang duduk di tengah.
Aku merubah posisi duduk menjadi sedikit miring menghadap ke tempat Dian yang ada di sisi kananku. “Eh, Di, tadi pagi aku ketemu Bayu, loh!”
Dian menoleh dan menatapku lekat. “Kamu serius?” Aku mengangguk. Sementara Mela pura-pura asyik memeriksa hasil fotonya, padahal aku yakin telinganya sedang menguping pembicaraanku dengan Dian.
“Dia gimana sekarang?” tanya Dian.
“Semakin ganteng, sih, kalau menurutku. Iya, ‘kan, Mel?”
“Hah?! Kok aku?” Mela salah tingkah. Aku terkekeh. Dian menatap ke arah Mela lalu menatapku. Dian tampak bingung.
“Ada apa, sih?” tanya Dian kemudian.
“Enggak. Nggak ada apa-apa, kok.” Dian mengangguk-angguk. “Oh ya, tadi aku sempat nanya ke Bayu soal Tirta ....”
“Terus, Bayu jawab apa?” sela Dian.
“Nggak sempat ceritain semuanya. Soalnya keburu Bayu dapat telepon. Ibunya masuk rumah sakit.”
“Hah?! Masuk rumah sakit? Kenapa?” cecar Dian. Dia masih terlihat sangat peduli pada Bayu dan keluarganya.
“Kata Bayu, ibunya sakit jantung.”
“Kasian dia,” gumam Dian.
“Iya, kasihan. Mana aku nggak sempat nanya lagi, ibunya dirawat di rumah sakit mana. Dia buru-buru banget. Pertemuan kami sangat singkat tadi.” Dian mengangguk-angguk. “Tuh, si Mela aja sampai belum puas kenalan sama Bayu.” Mela auto menoleh dan menatapku kesal.
“Ish, kok aku lagi, sih?” ketus Mela. Aku mengulum bibir menahan tawa. Dian tersenyum kecil.
“Oh ya, tadi Bayu sempat bilang kalau Tirta itu disukai. Terus kepotong sama suara ponsel dia. Maksudya disukai sama siapa, ya, Di?” Aku memulai obrolan serius.
__ADS_1
Dian menghela napas panjang lalu membenarkan posisi duduknya menjadi menyerong menghadapku. “Jadi, gini ceritanya, Ran. Setelah kamu pindah ke kota dulu, ada anak baru di sekolah kita. Namanya Sekar, dia sangat terobsesi dengan Tirta.”
“Terus?” selaku tak sabar menunggu kelanjutan ceritanya. Mela yang semula asyik dengan layar ponselnya, kini ikut antusias menyimak.
“Sekar itu anak dukun santet ternama di desa ini. Penyembah iblis. Tirta tidak mau dengan Sekar, tapi orang tuanya bertindak nekat....” Dian menghentikan kalimatnya.
“Bertindak nekat bagaimana?” timpalku tak sabar.
“Rumah Tirta terbakar itu ulah orang tua Sekar. Dikirim banaspati, jin yang menyerupai bola api terbang itu. Bahkan, ibunya Tirta tewas dalam kejadian itu.” Dian mengusap air matanya.
“Berarti, sekarang Tirta menjadi yatim piatu, Di?” tanyaku, Dian mengangguk membenarkan.
“Terus Tirta dijampi-jampi, sampai sekarang dia jadi seperti orang linglung gitu, dan tinggal di rumah dukun itu. Dia dijadikan boneka oleh Sekar ...,” lanjut Dian.
“Maksudnya mainan gimana, Di?” Mela menimpali.
“Setiap 40 hari sekali Tirta dimantrai supaya tergila-gila pada Sekar. Semacam dipelet gitu. Ngakunya Tirta sudah dinikahkan dengan Sekar, tapi menurut keterangan Pak Lurah pernikahan mereka tidak terdata,” jelas Dian.
“Hah, kumpul kebo maksudmu, Di?” tebak Mela.
“Mungkin,” sahut Dian.
“Kenapa nggak ada yang nolongin dia? Kenapa nggak ada yang peduli dengan Tirta, Di?” selaku geram.
“Bukannya nggak ada yang peduli, Ran, dan bukannya tidak ada yang menolong. Pak Lurah pernah mencoba bicara dengan keluarganya Sekar, meminta agar melepaskan Tirta. Serta menyarankan agar jangan membiarkan Sekar kumpul kebo dengan Tirta, tapi ....” Dian menghentikan ucapannya lalu menghela napas panjang.
“Tapi apa?” cecarku tak sabar.
“Tapi, Pak Lurah malah adu mulut dengan orang tua Sekar, dan berakhir putrinya disantet sampai menemui ajalnya secara tragis. Karena Pak Lurah dianggap telah ikut campur dengan urusan si dukun itu. Warga jadi takut, dan tidak berani lagi ikut campur sejak kejadian itu. Karena orang tua Sekar mengancam akan menghabisi sesiapa saja yang berani mengusik kehidupan keluarganya,” terang Dian.
"Bahkan semua saudara Tirta yang tinggal di desa ini juga dihabisi menggunakan tenung,Ran," lanjut Dian. Sekarang aku jadi paham kenapa para warga ketakutan saat kutanyai soal Tirta.
Ternyata mereka tidak berani ambil risiko.
“Aku juga pernah melakukan astral projection guna menolong Tirta, tapi malah berakhir koma beberapa hari di rumah sakit, Ran. Aku diserang dan jiwaku disandra oleh iblis penjaga jimat dan rumah keluarga Sekar.”
Aku tak kuasa menahan air mata, tangis yang sedari tadi kutahan, pecah juga. “Aku harus menolong Tirta. Aku nggak rela dia digituin, Di.” Kuusap air mata yang membasahi pipiku. Lalu kembali menyimak ucapan Dian. Sekuat tenaga aku menahan tangis.
“Berat, Ran. Lawan kita itu bukan manusia biasa, mereka punya teman gaib yang siap membantu. Kalau kamu memang mau menolong Tirta, pertama-tama kamu harus melenyapkan jimat yang dimiliki orang tua Sekar dengan cara melarungnya ke laut atau membakarnya. Dengan begitu jinnya tidak akan menghalangimu. Lalu guyur kedua orang tua Sekar menggunakan air daun kelor supaya mantra yang mereka miliki luntur, dan kamu aman dari mantra santetnya.”
“Tapi, bagaimana caranya mengambil jimat dan menyiram dukun santet itu, Di? Kalau mau masuk ke rumah mereka saja susah. Kamu sendiri yang bilang kalau area rumah mereka dijaga oleh para jin berkekuatan super.” Aku mengernyitkan dahi bingung.
“Aku tahu, sekarang kamu bisa melihat mereka yang tak kasat mata, ‘kan, Ran.”
Aku semakin mengernyitkan dahi keheranan. “Kok, kamu bisa tahu, Di?” cecarku.
“Kamu sesekali melirik ke tengah danau, itu karena kamu lihat makhluk di sana itu, ‘kan?” Dian melirik ke arah makhluk yang ada di tengah danau, dan sedang menatap ke arah kami bertiga.
Rupanya diam-diam Dian meperhatikanku. Ya, memang dari tadi aku tidak hanya berkomunikasi dengan Mela dan Dian saja. Tapi juga dengan makhluk penunggu danau ini, yang berwujud ular berbadan manusia. Siluman betina itu tampak tidak nyaman dengan kedatangan kami, ia terus berusaha menyuruhku untuk pergi. Namun, aku menolak.
Mela yang semula menyimak dengan damai, langsung merangsek ketakutan. “Ih, emang ada apa di tengah danau?” tanyanya. “Jangan nakutin napa!” lanjutnya sambil bergelayut di lengan Dian.
“Udah, nggak usah dibahas. Nanti dia geer,” sahut Dian.
“Kamu bisa minta tolong pada mereka untuk mengalihkan perhatian para jin penjaga rumah dukun santet itu,” saran Dian.
“Aku belum begitu paham cara berkomunikasi dengan mereka, Di. Terus kalau nanti mereka minta imbalan atau tumbal gimana?”
“Untuk masalah itu, sebaiknya kamu coba bicara sama Bayu. Aku yakin dia mau bantu kamu, Ran. Nanti biar Bayu panggil teman-teman komunitas anak indigo untuk bantu. Kalau aku ... maaf, nggak bisa bantu banyak. Cuma bisa bantu doain aja. Keluargaku sudah tidak mengizinkanku untuk berurusan dengan hal gaib, Ran.” Aku mengangguk memaklumi.
“Iya, Di, nggak apa-apa. Dibantu doa, itu juga sudah lebih dari cukup,” balasku.
“Tapi, tadi aku tidak sempat minta nomor ponselnya juga lupa nggak nanya Bayu sekarang tinggal di mana, Di,” lanjutku.
“Tulis di HP kamu. Aku kasih tahu alamat rumah Bayu.”
“Iya, Di. Siap!” Aku mengangguk antusias, lalu menyuruh Mela mencatat alamat Bayu di notepad dalam ponselnya.
“Kalau kamu mau nolong Tirta, harus kamu persiapkan dengan matang segala sesuatunya. Jangan nekat dan asal jalan aja.”
“Iya, Di. Aku ngerti,” sahutku.
Tak lama Evan dan Mang Ule datang mendekat. “Gimana? Kalian udah selesai apa belum bicaranya?” tanya Evan.
“Udah, kok, Mas. Kenapa?” balas Dian.
“Pulang, yuk! Pancingan aku putus senarnya. Kayaknya tadi tersangkut sesuatu,” terang Evan. Aku dan Dian saling pandang. Kami berdua tahu itu ulah si siluman penunggu danau ini, hari ini sepertinya dia sangat sensitif.
“Aku tunggu di motor, ya!” pamit Evan, Dian mengangguk.
“Mamang juga nunggu di mobil, ya, Non.”
“Iya, Mang. Silakan!” sahutku. Mang Ule lalu berjalan duluan ke tempat mobil terparkir.
“Dia itu sebenarnya nggak jahat-jahat banget. Paling banter dia cuma ngisengin orang, kayak tadi dia mutusin senar pancingan suamiku,” terang Dian.
“Kamu yakin, Di? Soalnya penampakannya aja serem gitu,” sahutku.
“Asal kitanya tidak mengusik dia secara berlebihan, dia juga nggak akan jahatin kita, kok.” Aku mengangguki ucapan Dian.
“Ih, udah ah, ayo kita pulang!” rengek Mela sambil menarik-narik lenganku.
Setelah berpelukan dan mengucapkan salam perpisahan dengan Dian, aku dan Mela masuk mobil.
Dian dan suaminya melintas di sisi mobil kami yang masih belum melaju. Aku membuka kacanya dan melongokkan kepala. “Hati-hati, Di!”
“Iya, kamu juga! Kalau masih sempat, kapan-kapan mampir ke rumahku lagi, ya!” teriak Dian sambil berlalu perlahan. Aku mengacungkan jempol saat Dian menoleh ke belakang.
“Ih, ogah. Mertuanya judes, nggak ngenakin tampangnya,” sahut Mela.
“Sssth!” desisku sambil menepuk bahu Mela.
“Emang bener, ‘kan?” sahut Mela.
__ADS_1
“Udah ah, jangan ghibah!” bentakku. “Jalan Mang! Kita pulang!” Mang Ule pun melajukan mobilnya. Pulang.
Sepanjang perjalanan aku terus memikirkan cara untuk membebaskan Tirta dari jerat keluarga penyembah iblis itu. Sampai kepalaku terasa sangat pening.