TUMBAL KETUJUH

TUMBAL KETUJUH
Selamat


__ADS_3

Kami terus mendayung secara bergantian agar rakit bergerak makin jauh dari pulau mematikan itu. Hingga akhirnya pagi menjelang. Kami mengucap syukur bertemu dengan seorang nelayan yang sudi menolong kami bertiga. Nelayan paruh baya itu mau mengantar kami hingga ke penginapan lagi.


Rupanya, selama kami hilang, berbagai pihak melakukan pencarian. Baik dari kepolisian sampai tim sar dan juga orang-orang suruhan Ayah. Dan setelah seminggu berlalu, pencarian pun dihentikan karena mereka pikir, kami sudah meninggal. Pihak penginapan pun langsung menghubungi keluarga kami. Mengabarkan kalau kami masih hidup dan selamat, meski kondisi tubuh kami sangat mengenaskan. Pakaian compang-camping, kucel, kotor, kurus, layaknya gembel.


*****


Aku menghela napas lega setelah selesai mandi. Untuk bersih-bersih, aku menghabiskan waktu dua jam lebih tadi. Keramas nyaris menghabiskan sampo satu botol saking kumalnya rambut ini. Kulit ini kusam dan menjadi lebih gelap, karena selama hampir setengah bulan tidak pakai skincare. Mandi di hutan hanya pakai air saja dengan tujuan menyegarkan badan saja bukan membersihkan. Sungguh tidak menyangka kalau bakal berada di fase itu. Namun, sekarang aku bisa tersenyum lega, pada akhirnya aku masih diberi kesempatan ke sekian untuk menikmati hidup bersama orang-orang terkasih.


“Sayang, kita ke lobi, yuk! Sebentar lagi keluarga kita bakal datang menjemput kita. Katanya juga ada yang mau disampaikan oleh pengelola penginapan ini,” ujar suamiku seusai kami mandi. Aku mengangguk setuju, lantas kami berjalan beriringan menuju lobi.


Beberapa saat berlalu, Mama dan Ayah datang dan langsung berlari mendekat. Aku berdiri dan berlari memangkas jarak. Kami bertiga pun saling peluk. Tak berselang lama, Tirta juga ikut memeluk.


“Kalian gimana keadaannya sekarang?” tanya Mama setelah kami menyudahi aksi saling peluk.


“Seperti yang Mama lihat. Aku sudah jauh lebih baik,” jawabku.


“Badan kamu lecet-lecet begini,” lirih Mama, matanya berkaca-kaca.


“Ini udah mendingan, kok, Ma,” kataku sambil merangkul bahu Mama dan mengusapnya lembut. Sedang Ayah, dia lagi menginterogasi menantunya. Setelah itu, kedua orang tuaku menyapa Bayu, menanyakan kabarnya, lalu memberinya pelukan hangat.


“Oya, apa Tante tahu kabar istriku?”


Belum sempat Mama menjawab pertanyaan Bayu. Ada suara seorang wanita yang terdengar tidak asing di telinga ini. Sontak kami pun kompak menoleh ke sumber suara tersebut.


“Beib!” seru Bayu girang. Keduanya sama-sama berlari memangkas jarak. Lantas saling peluk. Tangis keduanya pecah. Bayu menciumi pipi istrinya berkali-kali. Ucapan syukur terus ia lontarkan.


“Aku pikir sudah kehilanganmu untuk selamanya,” ujar Bayu di sela tangis. Suaranya terjeda-jeda. Lelaki yang biasanya jahil dan humoris itu menangis sesenggukan. Pun dengan Mela.


“Aku pikir juga begitu. Aku pikir kamu sudah ....” Mela tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Keduanya lantas saling peluk lagi. Suasana di lobi ini mengharu biru.

__ADS_1


Aku menyandarkan kepalaku ke sisi bahu suamiku. Air mataku menetes melihat pemandangan haru di depan. Bukan hanya aku, tetapi semua orang yang ada di sini meneteskan air mata melihat adegan dramatis yang diperankan oleh Bayu dan Mela.


Semua orang mengira kalau kami sudah tewas. Tidak hanya itu, bahkan keluarga kami telah mengadakan pengajian rupanya. Itu menurut penuturan mereka sendiri. Mungkin juga pengajian dan lantunan doa tersebut yang justru menyelamatkan kami. Sehingga kami bisa bertemu dan berkumpul kembali dengan orang-orang terkasih seperti sekarang. Terima kasih, Tuhan, atas kesempatan kedua ini.


Setelah puas melepas rindu dengan suaminya, Mela mendekat memelukku, lalu tangis kami pun pecah lagi.


*****


Pihak pengelola penginapan menawari kami menginap gratis untuk waktu dua malam. Katanya itu bentuk rasa syukur pihak penginapan karena kami kembali dengan selamat. Tidak hanya menginap, kami juga diberi fasilitas lengkap. Tentu saja kami tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Kebetulan juga hari sudah sore dan kami masih sangat lelah. Butuh istirahat dulu, rasanya tidak sanggup kalau harus melakukan perjalanan pulang saat ini juga.


Tidak hanya aku, Tirta, Bayu dan Mela yang diberi fasilitas lengkap menginap, tetapi juga Mama dan Ayah. Sedang keluarga Mela yang juga sempat datang ke sini memilih pulang tidak menerima tawaran dari pihak hotel, karena ada hal yang harus diselesaikan.


Seusai makan, aku langsung pamit tidur. Badan rasanya remuk redam. Mama menawarkan pijitan.


“Nggak usah, Ma. Aku mau tidur aja,” tolakku lembut.


“Tapi, mohon sabar menunggu, ya, Bu. Soalnya tukang pijitnya masih dalam perjalanan kemari,” lanjutnya.


“Terima kasih, Mbak, sebelumnya, atas pelayanannya yang sangat luar biasa ini,” balas Mama.


“Kembali kasih, Bu. Sambil menunggu, silakan jika mau istirahat dulu di kamar masing-masing.” Kami mengangguki ucapan pelayan. Latas pergi ke kamar masing-masing.


Sampai di kamar, aku langsung merebahkan badan. Aku masih bisa mendengar suamiku menutup pintu, melangkah mendekat dan duduk di sebelah. Namun, mata ini sudah sangat lengket terpejam. Kurasakan sebuah kecupan hangat mendarat di kening ini.


***


Seusai makan malam, kami lanjut berbincang. Menceritakan bagaimana kami bertahan hidup selama di pulau yang dihuni oleh kanibal itu. Pengelola hotel ini dan orang kepercayaannya datang menyapa, mengucapkan selamat kepada kami. Setelah itu pamit untuk ke ruang kerjanya. Masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan katanya. Kedua pria itu ... tidak salah lagi, itu Hendarto dan Rudi. Aku harus bicara dengan kedua pria itu.


“Yank, aku ke sana dulu, ya,” pamitku.

__ADS_1


“Ke mana? Mau ngapain?” tanya lelakiku.


“Sebentar aja. Aku ada perlu sama Pak Hendarto dan Pak Rudi,” lirihku. Setelah suamiku mengangguk, aku pun menyusul ke arah perginya kedua pria itu.


“Pak Hendarto, Pak Rudi, tunggu!” pekikku. Kedua pria itu pun berhenti di koridor, lalu kompak berbalik kemari. Aku mendekat.


“Iya, Mbak. Ada yang bisa kami bantu lagi?” tanya Pak Hendarto setelah aku berdiri di hadapannya. Sedang Rudi hanya mengulas senyum tipis saat aku tatap.


“Saya Cuma mau nanya.” Sejujurnya agak ragu mau melanjutkan pertanyaan ini, tetapi seperti ada kekuatan yang mendorong aku melanjutkan kalimat yang terjeda.


“Iya, mau nanya soal apa, ya, Mbak?” sahut Pak Hendarto saat aku terdiam beberapa saat.


“Apa ... Pak Hendarto dan Pak Rudi kenal dengan seorang wanita yang bernama Maya?” Kedua pria di hadapanku menunjukkan ekspresi terkejut, lalu saling lirik dan tampak gugup.


“Maya? Maya ... siapa?” Kali ini Rudi yang angkat bicara.


“Maya seorang janda kembang yang rumahnya di pinggir pantai berdinding papan, catnya warna hijau ....”


“Maya ... siapa itu? Tidak! Kami tidak mengenalnya,” sambar Hendarto, “Kami masih banyak pekerjaan,” lanjutnya, lalu bergegas ke sebuah ruangan.


****


“Kamu ada urusan apa tadi sama Pak Hendarto dan Pak Rudi?” cecar lelakiku setelah kami berada di kamar.


“Nggak penting. Udah nggak usah dibahas. Kita bahas yang lain aja.”


“Gimana kalau ... kita ....” Ucapan lelakiku terjeda. Lewat gerakan dan sorot matanya, aku tahu ke mana arah pembicaraannya itu. Aku mengangguk setuju. Selama di hutan, kami tak dapat mengekspresikan rindu dan hasrat yang menggebu.


*****

__ADS_1


__ADS_2