TUMBAL KETUJUH

TUMBAL KETUJUH
Disandera


__ADS_3

Satu malam sudah terlewati, dan ini malam terakhir kami menginap di penginapan ini. Besok pagi, waktunya kami pulang kembali ke rumah. Malam ini sebelum tidur, aku dan suamiku sudah sibuk paking.


“Bosen di kamar. Jalan-jalan di luar, yuk!” ajakku.


“Memangnya Ayank belom ngantuk?”


Aku menggeleng. Entah kenapa kantuk belum hinggap di mata ini. Padahal jarum jam sudah menunjuk pukul 22:11 menit.


“Ya udah. Ayo kalau gitu. Kita cari angin dulu.”


“Nanti kalau anginnya udah masuk, terus gimana?”


“Ya, kerokan,” balasnya. Kami lanjut ngakak sambil jalan keluar kamar. Tanpa dinyana, Mela dan Bayu juga sedang menutup pintu.


“Hai!” sapaku. Sontak Mela dan Bayu menoleh kemari.


“Eh, kalian!” seru Bayu.


“Mau ke mana?” Kali ini Mela yang bertanya.


“Cari angin.” Lelakiku yang menjawab. Aku mengangguk membenarkan.


“Lah, sama, dong,” sahut Bayu.


“Ya udah, barengan aja, yuk! Biar makin seru,” ajak Mela.


“Aku sih,yes!” sambar suamiku.


“Eum, aku juga, yes!” Kami lantas ngakak berjamaah. Kemudian berjalan menyusuri koridor, menuju lobi dan keluar. Menikmati malam yang kebetulan purnama sedang menampakkan bentuk sempurnanya. Bintang-bintang kemerlip, seolah tak mau kalah pamor oleh kesempurnaan sang purnama.


Kami duduk di kursi yang ada di tepi pantai. Bersisian dengan pasangan masing-masing. Di kursi yang berbeda. Jaraknya agak berjauhan. Bayu dan Mela tertawa cekikikan, bercanda penuh kemesraan.


Aku dan lelakiku duduk diam dengan tangan saling genggam. Kusandarkan kepalaku di sisi bahunya. Mataku tak lepas dari sang purnama di atas sana. Sungguh malam yang indah. Bias purnama yang membentur air laut, menciptakan efek bling-bling. Cantik sekali.


“Malam ini indah sekali, ya.”


“Bagiku, malam ini biasa saja. Yang menjadikan malam ini cantik dan indah itu karena ada kamu di sisiku.”


“Gombal!” sentakku.


“Kok gombal. Aku serius. Sejuta rius malah. Bagi sebagian orang, purnama itu lambang kesempurnaan. Tetapi, bagiku kesempurnaan itu adalah saat melewati detik demi detik bersamamu.”


“Ahhh, meleyooot!” Kubingkai gemas wajah lelakiku. Dia pun melakukan hal yang sama. Detik kemudian ditariknya lembut kepala ini dan dibenamkan ke dalam dekapannya. Kurasakan sebuah kecupan mendarat di puncak kepala.


“Jangan pernah tinggalkan aku lagi. Meski hanya sekejap,” lirihnya.


“Tidak akan. Lagian, aku mana bisa pergi darimu. Sedangkan sedetik saja jauh darimu, rindu ini sudah menggebu.”

__ADS_1


“Jiaaah. Gantian digombalin nih, ceritanya.”


Kutatap wajahnya, dan tatapan kami pun bertemu. Sekian detik, kami saling pandang dalam diam. Kemudian sama-sama tersenyum, dan mengalihkan pandangan ke langit lagi. Menatap bintang-bintang yang seolah berkedip-kedip menggoda.


“I love you,” bisiknya, lalu mengecup kepala ini lagi.


“I love you too.”


“Kamu mau jagung bakar, gak?” tawarnya.


“Mau kalau ada, mah.”


“Ya udah, kita ke tempat mangkalnya kang jagung bakar, yuk!”


“Di mana?” Aku celingukan mencari mamang tukang jagung bakar, tetapi di sekitar sini tidak terdeteksi oleh mataku.


“Ada di sana,” tunjuknya.


“Ya udah, ayok!”


“Kita coba ajak Mela sama Bayu, ya.” Aku mengangguk sepakat.


“Woi, mau tetap pacaran di sini atau ikut kita ke kedai jagung bakar?”


“Wah, ikut, dong!” seru Mela antusias. Kami lantas berjalan beriringan menuju kedai jagung bakar dan ternyata masih buka. Stok jagungnya juga masih ada. Tak hanya memesan jagung bakar, kami juga memesan kopi. Setelah sebelumnya menikmati pemandangan indah di tepi pantai yang dingin, sekarang menikmati jagung bakar dan kopi. Lumayan, menghangatkan tubuh plus mengenyangkan perut. Soal diet, bisa nanti-nanti.


***


Ya, semalam Maya datang ke mimpiku. Dia meminta tolong padaku untuk menuntutkan keadilan untuknya. Maya mau Hendarto dan Rudi bertanggungjawab atas perbuatannya beberapa tahun silam.


Aku tersentak dari lamunan saat suamiku menjentikkan jari di depan wajah ini.


“Malah bengong. Kamu kenapa, sih? Cerita kalau ada masalah!”


“Enggak ada apa-apa, kok. Aku Cuma lagi mikir aja. Kayak ada yang kelupaan, tapi apa, ya?”


“Apa?” tanyanya serius.


“Morning kiss,” lirihku. Dan langsung menyergap bibirnya. Setelah itu, aku pamit keluar kamar sebentar mau beli sesuatu.


“Oke, tapi jangan lama-lama!” katanya mewanti-wanti.


“Siap, Boss!” Aku hormat padanya, mengecup pipinya, kemudian keluar kamar. Aku ke ruangan Hendarto. Aku harus menyampaikan pesan Maya semalam. Entah didengar atau tidak, setidaknya kalau sudah aku sampaikan tidak jadi pikiran.


Untungnya, Hendarto sudah datang dan sedang berada di ruangannya menurut penuturan resepsionis.


Sampai di ruangan Hendarto, setelah dipersilakan duduk. Aku langsung menyampaikan maksudku menemuinya secara pribadi.

__ADS_1


“Selama saya menginap di sini, saya selalu didatangi seorang wanita bernama Maya di dalam mimpi. Saya tidak kenal siapa dia, tapi ... saya rasa Bapak mengenalnya. Dia menuntut keadilan. Maya mau, Bapak bertanggungjawab atas apa yang sudah Anda perbuat padanya dulu.”


“Saya tidak kenal siapa itu Maya. Jangan mengada-ada kamu!” sewotnya, tetapi ekspresi wajahnya menyiratkan kepanikan.


“Lagian, memangnya saya pernah melakukan apa terhadap perempuan dalam mimpimu itu? Ada-ada saja. Kamu sudah gila, ya? Mimpi itu bunga tidur! Ngaco! Udah sana keluar! Saya banyak kerjaan!” ketusnya.


“Tidak hanya itu, saya juga melihat rumah papan warna hijau terbakar. Wanita itu seharusnya masih hidup, kalau saja kepalanya tidak dihantam balok dan dibakar.”


Hendarto mulai gelisah. Wajahnya memucat. Dia salah tingkah. Aku masih bergeming di tempat dudukku. Menatapnya penuh intimidasi. Seolah ada yang menekan kedua bahu ini. Rasanya aku ingin pergi dari sini, tetapi sulit. Benar saja, saat ekor mataku melirik pundak, ada sepasang tangan pucat pasi bertumpu. Kurasa ini tangan milik Maya.


“Siapa kamu sebenarnya?” tanya Hendarto.


“Saya bukan siapa-siapa, Pak. Saya hanya manusia biasa. Oya, sekarang, Maya ada di sini.” Aku lantas beranjak dan keluar ruangan. Sebelum pintu tertutup rapat, aku melihat Hendarto seperti orang ketakutan. Tak berselang lama, dia juga keluar dari ruangannya.


*****


Seusai mengucapkan ‘terima kasih’ kepada segenap pegawai di penginapan ini atas pelayanan terbaiknya selama kami menginap di sini, kami berempat pun chek out.


Saat berada di parkiran, hendak masuk ke mobil, entah kenapa seolah ada sesuatu yang membuat aku ingin menoleh ke belakang. Benar saja, aku bisa melihat Maya berdiri di dekat pintu masuk penginapan ini. Wajahnya terlihat pucat dan sangat sedih.


“Sayang, ayo buruan masuk!”


Aku tersentak oleh perkataan suamiku, lantas mengangguk dan masuk. Setelah duduk, aku mencoba melihat sosok Maya tadi. Namun, sepertinya sudah menghilang. Kenapa raut wajah Maya begitu memilukan? Apa dia kecewa padaku, karena tak menyelesaikan kasusnya dulu? Ah, entahlah. Semoga saja setelah ini Maya tak mendatangiku dalam mimpi lagi.


***


“Sayang, kok, kayak ada yang ngikutin, kita, ya?” kataku saat beberapa kali menoleh ke belakang dan terdapat mobil mengekori.


“Hah? Mana?” Suamiku pun menoleh ke belakang. Beberapa meter di belakang sana ada mobil jeep warna hitam mengekori mobil yang kami tumpangi ini. Mobil itu tiba-tiba sudah ada di belakang, beberapa saat setelah mobil ini keluar dari area parkiran penginapan tadi.


“Perasaan kamu aja kali,” lanjut lelakiku.


“Semoga saja memang begitu. Tapi ... mobil jeep di belakang, ngikutin kita dari deket penginapan tadi, loh, Yank,” jelasku.


“Ya, mungkin saja memang jurusannya searah,” sahut lelakiku. Mungkin ada benarnya apa yang dikatakan suamiku. Kami lantas asyik memutar musik dan sesekali ikut bernyanyi. Saat aku menoleh ke belakang, mobil tadi masih di posisinya. Beberapa meter tepat di belakang mobil ini. Namun, aku tak lagi menaruh curiga.


“Sayang, nanti di rest area depan, berhenti dulu, ya.”


“Kenapa emang?” tanyaku.


“Aku kebelet. Mau buang hajat dulu.”


“Oh, oke.”


Sampai di rest area, lelakiku langsung turun dan menuju toilet. Sedang aku menunggu di mobil. Beberapa mobil sudah mulai jalan lagi. Tersisa mobil ini saja. Tak berapa lama mobil jeep tadi berhenti tepat di sebelah mobil ini. Detik kemudian seorang pria keluar dan mengetuk kaca jendela ini. Agak takut sebenarnya untuk membuka, tetapi tidak ada gelagat aneh dari ekspresinya.


“Tolong buka kacanya. Saya mau nanya alamat,” katanya terdengar lirih.

__ADS_1


Aku pun membuka kaca mobil. Pria itu menanyakan sebuah alamat yang aku sendiri juga tidak tahu letak tepatnya. Menurut pengakuannya, dia sudah memakai google maps, tapi malah nyasar-nyasar. Di saat aku mengamati foto alamat yang ada di ponsel pria itu, tiba-tiba dia membekap mulut hingga hidung ini. Ada aroma menyengat hidung. Detik kemudian kepala terasa sangat pusing dan penglihatan memburam, lalu makin gelap.


*****


__ADS_2