
Sejak bertemu dengan Dian di danau kemarin sore, perasaanku semakin tidak karuan. Pikiranku terus tertuju pada Tirta, dan terus memikirkan cara untuk membebaskannya dari cengkeraman keluarga dukun itu.
“Besok, kita pergi cari rumah Bayu, ya, Mel!”
“Iya.” Mela menyetujui ajakanku. Detik kemudian ia kembali asyik mengotak-atik layar ponselnya. Sedangkan Mang Ule berada di ruangan sebelah sedang menelepon keluarganya.
Aku yang semula berdiri mondar-mandir gelisah kembali duduk menyeruput kopi dan menyomot keripik siap untuk kusuapkan ke mulut. Namun, urung saat kudengar ada yang mengetuk pintu. Keripik yang sudah ada di tangan kukembalikan ke dalam toples.
Mela menghentikan aktivitasnya lalu menajamkan pendengarannya. “Siapa malam-malam gini bertamu?” Aku hanya merespon dengan kedikan bahu. “Jangan-jangan hantu pengetuk pintu itu lagi,” lanjutnya.
Aku dan Mela beranjak meninggalkan ruang tengah menuju pintu depan guna membukanya.
“Hai,” sapa tamu, setelah pintunya terbuka.
“Bayu!” pekikku dan Mela kompak.
“Segitu kangennya, ya, kalian sama aku?” Detik berikutnya Bayu mengedikkan alisnya. Tengil, nyebelin, tapi aku akui memang dia ngangenin dan gemesin juga. Gemes pengen nabok. Kulirik Mela, dia seperti tengah menahan senyum. “Nggak disuruh masuk, nih?”
“Ah, iya, sampai lupa,” sahutku. Lalu kupersilakan masuk dan duduk.
Bayu menyodorkan bungkusan ke hadapanku. “Apa, nh?” tanyaku sambil meraih kantong kresek yang berisi box kecil.
“Hirup aromanya!” titah Bayu. Aku nurut. Dari aromanya aku tahu apa isinya.
“Martabok!” tebakku.
“Seratus!” sahut Bayu.
“Ya sudah, aku ambil piring sekalian buat minum dulu, ya.” Baru saja aku berdiri mau ke dapur, Mela mencekal lenganku.
“Biar aku aja!” tawarnya, dan langsung bergegas ke dapur. Gimana sih, dikasih kesempatan supaya berbincang banyak sama Bayu malah kabur. Dasar Mela. Cewek bar-bar seperti dia bisa punya malu juga rupanya. Aku pun kembali duduk.
“Panjang umur kamu, Bay ....”
“Hem, pasti tadi kalian ngomongin aku, ya?” selanya cepat.
“Iya, rencananya besok aku sama Mela mau ke rumah kamu. Eh, kamunya udah ke sini duluan.”
“Ada apa mau ke rumahku? Nggak kuat ya, nahan rindu,” celetuknya kepedean.
“Iya. Nggak nahan pengen nabok!” ketusku. Bayu terkekeh.
Mela datang menyajikan martabak yang sudah berpindah tempat di piring dan secangkir kopi untuk Bayu.
“Loh, kok kopinya Cuma satu. Kalian nggak ngopi juga? Nggak enaklah kalau Cuma aku sendiri yang ngopi,” cerocos Bayu.
“Punya kita masih ada, di ruang tengah,” balasku.
“Bentar, aku ambil dulu punya kita.” Mela langsung mengambil kopiku dan kopinya. Lantas kembali membaur di ruang tamu.
Bayu meneleng. “Itu suara siapa?” tanyanya.
“Itu Mang Ule, sopirku. Lagi telepon keluarganya.” Bayu mengangguk-angguk sambil ber-oh.
“Diminum kopinya!” titah Mela, Bayu mengangguk sambil tersenyum ke arahnya.
__ADS_1
“Oh ya, tadi kamu bilang mau ke rumahku ... mau apa, ya?” lanjut Bayu.
“Aku mau minta tolong kamu untuk nemenin bebasin Tirta.”
“Emang kamu tahu rumahku di mana?”
“Tahulah, Bay.”
“Tahu? Siapa yang ngasih tahu alamat rumahku?” Bayu lanjut menyeruput kopinya. Pun dengan Mela. Kompak.
“Dian.” Bayu tersedak setelah mendengar jawabanku. Mela dengan sigap menyodorkan tisu ke hadapan Bayu.
“Terima kasih,” ucap Bayu sambil mengambil alih tisu dari tangan Mela.
“Dian? Kamu udah ketemu sama Dian?” tanya Bayu usai membersihkan wajahnya. Aku mengangguk.
“Kamu kenapa, sih? Denger nama Dian langsung kayak kaget gitu. Jangan bilang kamu masih memendam rasa sama dia,” godaku. Lalu melirik ke arah Mela yang ekspresinya berubah masam.
“Bukan gitu, cuma nggak nyangka aja kamu udah ketemu sama Dian. Secara dia kan, sekarang sudah pindah ke desa sebelah,” kilah Bayu.
“Iya, aku sengaja cari rumah dia sebelum ketemu sama kamu kemarin. Mau nanya kabar soal Tirta,” jelasku.
“Terus gimana? Sekarang udah tahu cerita soal Tirta?” Aku mengangguki tanya yang Bayu lontarkan.
“Bay, kamu mau, ‘kan, bantuin aku buat bebasin Tirta?” Kali ini gantian Bayu yang mengangguki tanyaku.
“Iya, nanti kita coba bebasin dia, ya!” ucap Bayu kemudian. Obrolan terjeda kami menikmati martabak dan menyeruput kopi.
“Oh ya, gimana kondisi Ibumu?” tanya Mela.
“Oh iya, sampai lupa nanya kabar Ibumu. Kemarin mau nengokin, tapi nggak tahu dirawat di rumah sakit mana?” sahutku.
“Nggak apa-apa. Lagian sekarang ibuku sudah membaik, kok.”
“Terus sekarang udah di rumah?” tanya Mela.
“Iya, sudah pulang dari rumah sakit tadi pagi,” jawab Bayu.
“Sekarang di rumah sama siapa?” tanyaku.
“Ada banyak keluarga yang datang nengok. Rame di rumah. Makanya aku bisa ke sini,” jelas Bayu. Aku dan Mela mengangguk-angguk.
“Oh ya, Bay, rumah dukun tempat Tirta berada itu di mana, ya?” tanyaku. Kembali ke topik semula.
“Ada di tengah hutan pinus. Di pinggir desa. Rumah dukun itu letaknya mencil, Ran.”
“Dari sini, jauh nggak, Bay?”
“Lumayan. Palingan kisaran sekilo jauhnya.”
“Jauh juga, ya.”
“Kita mesti persiapkan sematang mungkin kalau mau ke sana. Soalnya orang tua Sekar itu bukan dukun abal-abal.”
“Iya, Bay. Dian juga udah ceritain semuanya. Dia juga udah ngasih tahu apa saja yang mesti kita lakukan sebelum bebasin Tirta.”
__ADS_1
“Baguslah kalau gitu. Berarti kita tinggal pikirkan strateginya saja kalau kamu udah dikasih tahu apa saja yang harus dilakukan.” Aku mengangguk. Sementara Mela diam menyimak.
“Terus menurutmu gimana, ya, caranya supaya kita bisa masuk ke rumah dukun itu?” tanyaku.
“Yang bisa masuk ke dalam rumah dukun itu cuma kamu sama Mela dan sopir kamu, Ran.”
Aku mengernyitkan dahi. “Kenapa begitu?”
“Dukun itu sudah tahu siapa aku. Kalau aku ikut masuk pastilah bakal ketahuan. Aku dulu juga sudah pernah berusaha membebaskan Tirta, dan ketahuan. Aku dihadiahi sakit nggak wajar selama 40 hari, Ran.”
“Ngeri juga, ya,” sahut Mela.
“Iya, untungnya aku masih bisa sembuh. Kalau nggak sembuh, nggak bakal bisa ketemu kalian kayak sekarang,” lanjut Bayu.
“Tapi, gimana caranya, ya, Bay? Supaya kita bisa masuk ke dalam rumah dukun itu?” tanyaku tak sabar.
“Eum, gini aja, kalian kan orang dari kota, bilang aja tersesat dan sampai ke sana.”
“Bagus tuh, idenya Bayu, Ran,” sahut Mela antusias.
“Iya, aku setuju. Lalu kapan kita mulai lancarkan rencana kita ini, Bay? Kalau bisa secepatnya. Aku nggak mau membiarkan Tirta lebih lama lagi tinggal di rumah dukun itu.”
“Ya, sesiapnya kamu aja, Ran. Aku sih, ngikut aja.”
“Kalau besok gimana, Bay? Kamu siap, enggak?”
“Boleh. Lebih cepat lebih baik,” sahut Bayu.
***
Aku, Mela dan Mang Ule berdiri memantapkan hati untuk pergi ke rumah dukun, ditemani Bayu sebagai penunjuk jalan.
“Gimana? Kalian sudah siap?” tanya Bayu.
Aku menghela napas panjang lalu mengangguk. Kemudian Mela ikut mengangguk dan terakhir Mang Ule.
“Oke, kita berangkat!” ajak Bayu.
Kami berempat lalu masuk mobil. Setelah mengucap basmalah, Mang Ule melajukan mobilnya mengikuti arahan Bayu. Sengaja memilih waktu malam hari agar terlihat meyakinkan bahwa kami tersesat. Huf, semoga saja nanti tidak ada kejadian yang mengerikan di sana.
Semakin jauh meninggalkan pedesaan, suasananya semakin sepi dan gelap. Tidak ada penerangan sama sekali. Sisi kiri dan kanan jalanan yang kami lalui ditumbuhi pepohonan yang rimbun entah pohon apa saja. Tampak seperti raksasa yang sedang berdiri berjajar menyambut kedatangan kami. Semakin dalam memasuki hutan, kesan horornya semakin kentara. Suara burung hantu dan hewan malam lain yang bersahutan menambah kesan mencekam.
“Bay, kamu yakin kita nggak salah jalan?” tanya Mela memecah keheningan.
“Ini memang jalan menuju rumah dukun itu. Nggak salah, kok,” jelas Bayu.
“Aaak!” jeritku bersamaan dengan Mela saat Mang Ule mengerem mendadak sambil istigfar. Bayu yang duduk di jok depan samping Mang Ule langsung melihat ke depan lagi setelah sebelumnya menoleh ke arahku dan Mela yang duduk di jok belakangnya.
“Ada apa, Mang?” tanya Bayu. Mang Ule masih terdiam memegangi area dadanya, ia tampak syok.
“Ta-tadi a-ada beb-beb-bayangan hitam besar sekali menyebrang,” jelas Mang Ule tergagap. Mela langsung bergelayut di lenganku.
“Semua tetap tenang, ya! Sambil terus berdoa!” titah Bayu.
Jujur, nyaliku menciut. Namun, aku harus bisa melawan rasa takut ini demi Tirta.
__ADS_1