TUMBAL KETUJUH

TUMBAL KETUJUH
Penjara Jiwa


__ADS_3

Dalam sekejap mata semua sudah berubah. Tempat yang tadinya indah, glamor, kini berubah menjadi gua yang gulita. Mataku tidak dapat melihat apa-apa. Hanya hitam pekat saja. Aku tidak tahu harus melangkah ke mana. Bingung. Suara yang mirip dengan suara Tania tadi juga menghilang.


“Halooo! Ada orang di sini?” Teriakan aku menggema dan tidak ada yang menyahuti. Detik kemudian hening.


Otakku masih bekerja keras, berusaha mencerna situasi yang terjadi. Ah, yang benar saja, hanya dalam sekejap, aku sudah berada di tempat yang berbeda sekarang. Aku tidak mengerti kenapa aku bisa sampai sini. Mungkinkah jiwa Sania ada di sini?


Aku berjalan maju mengandalkan rabaan tangan dan kaki. Entah apa yang menabrak tubuhku dari arah belakang dengan sangat kencang. Sehingga aku jatuh telungkup dan saat aku bangkit, aku sudah berada di tempat yang beda lagi.


Kini, aku berada di hutan. Nuansanya remang-remang. Persis seperti saat suasana Magrib. Setiap pohon terdapat beberapa orang yang diikat. Bukan, bukan orang. Mungkin lebih tepatnya jiwa atau roh. Mereka meminta tolong untuk minta dibebaskan. Aku tak sanggup rasanya mendengar raungan mereka.


Aku berjalan dari satu pohon ke pohon lain. Memeriksa roh itu satu per satu dan berharap menemukan Sania. Namun, sampai aku merasa lemas, Sania belum juga ketemu. Hutan ini terlalu luas untuk aku telusuri seorang diri.


“Sedang apa kau di sini?” Suara menggelegar di belakangku, membuat aku berbalik. Makhluk tinggi besar berdiri pasang muka sangar. Matanya melotot merah menyala.


“Aku mencari temanku.” Sekuat tenaga aku berusaha melawan rasa takut. Raksasa itu malah tertawa menggelegar. Suara tawanya menggelegar, menggema bak petir yang maha dahsyat. Menimbulkan getaran pada tanah yang aku pijak, laksana gempa.


“Kalau temanku di sini, tunjukkan padaku di mana tempatnya dan kembalikan padaku!” kataku setelah raksasa itu berhenti tertawa.


Sialnya, raksasa itu malah kembali tertawa. “Kalau pun temanmu itu di sini, aku tidak akan mengembalikan padamu begitu saja. Kau harus menebusnya!”


“Kau mau aku menebus dengan apa?”


“Nyawa dibayar nyawa!” jawabnya menggelegar. Aku terdiam, tidak mungkin menyetujui permintaan gilanya iblis itu. Lagi, iblis itu terbahak, lalu menghilang.


Aku harus berusaha sendiri mencari roh Sania di sini. Batinku yakin Sania ada di sini. Aku terus berjalan dari satu pohon ke pohon lain.


“Kalian lihat sahabatku?” tanyaku pada roh yang terikat di pohon-pohon itu. Mereka hanya terus meraung meminta dibebaskan.


“Memangnya, kalau kuberitahu, apa kau mau membebaskanku juga?” Satu roh wanita menyahut dan menatapku dengan tatapan tajam.


Aku terdiam, terjebak dalam pilihan yang sulit. Di sisi lain, aku butuh dia untuk menunjukkan tempat roh-roh baru, tapi takut juga mau melepaskan dia. Bagaimana kalau perkataan iblis tadi benar, dia menginginkan tumbal pengganti dari setiap roh yang aku bebaskan?


Tidak, tidak! Aku tidak mau ambil risiko. Aku menggeleng dan lanjut jalan. Makin lama rasanya badanku lemas. Energiku semakin menipis kurasa.


“Raniaaa!”

__ADS_1


Aku terdiam mendengar ada yang memanggilku. Itu seperti suara Mela? Apa dia menyusul kemari?


“Raniaaa!” Sekali lagi panggilan itu menggema. Dan benar, itu suara Mela.


“Yaaa! Aku di siniii!” balasku.


“Oke, tunggu aku di situ! Jangan ke mana-mana!”


Sesuai perintah Mela, aku diam di tempat menunggunya mendekat. Tak berselang lama, Mela terlihat dan makin mendekat. Aku menghela napas lega. Akhirnya aku punya teman di sini, dan semoga pencarian roh Sania makin cepat membuahkan hasil.


“Kamu nyusul kemari?” tanyaku setelah Mela dekat.


“Mau bagaimana lagi, kamu lama banget, Ran. Tirta udah cemas banget, tau!”


“Lihatlah, aku kesulitan mencari Sania.” Mela pun memonitor sekeliling, lalu dia menghela napas panjang.


“Hmmm, ya, aku bisa melihatnya,” balas Mela kemudian, masih sambil melihat ke sekeliling.


“Sekarang bagaimana?” tanyaku kemudian.


“Kita cari Sania sampai ketemu.”


“Maaf, tapi kamu bukan Sania yang kami maksud,” kataku pada salah satu roh yang ngeyel meminta dibebaskan.


“Kenapa tidak kita bebaskan saja dia?” saran Mela.


Aku menarik Mela agak menjauh dari pohon pengikat roh itu. “Itu bukan ide yang bagus. Masalahnya, kalau satu kita bebaskan, sudah jelas yang lainnya juga akan menuntut dibebaskan. Dan tidak hanya itu, iblis penguasa di sini akan meminta tumbal pengganti,” bisikku.


Mela mengangguk paham. “Oke, kita cari Sania sahabat kita saja kalau begitu.”


Aku dan Mela terus berjalan, hingga sampai di sebuah gubuk dengan bilik bambu dan beratapkan nipah. Di dalam sana ada cahaya kemerahan, yang aku yakini sebagai cahaya lentera. Aku menoleh ke sana kemari, sepertinya, sekarang kami sudah berada di hutan yang berbeda dari yang tadi.


“Apa mungkin Sania ada di dalam sana,” lirih Mela. Detik kemudian kami pun saling tatap.


“Bisa jadi,” balasku.

__ADS_1


“Kita periksa!”


Aku mengangguki ajakan Mela dan kami pun melangkah perlahan makin mendekati gubuk. Suasana di sini sangat hening dan redup. Tidak ada suara hewan atau angin. Mendadak merasa nyesek pengen nangis tanpa sebab. Namun, aku berusaha tahan agar jangan pecah tangisku.


Kini, kami sudah berada tepat di depan pintu yang juga terbuat dari anyaman bambu. Aku dan Mela kompak mengintip ke dalam melalui celah anyaman bambu. Dan benar, Sania ada di dalam sana. Usai mengintip, aku dan Mela adu pandang. Mela mengajak masuk dengan gerakan kepala, aku mengangguk setuju.


Pintu bambu sliding berhasil kami buka. Sania menatap kosong ke arah kami berdua. Aku dan Mela saling pandang sejenak. Lalu, kembali menatap Sania secara saksama.


“Sania!” panggilku memastikan. Namun, Sania malah menatapku dan Mela bingung. Dia seperti orang linglung.


“San, kamu ingat siapa kamu?” tanya Mela, dan Sania menggeleng. Mela lantas menolehku. Kami saling tatap. Aku mengedikkan bahu, karena aku juga tidak tahu apa yang terjadi pada Sania.


“Sania, namamu Sania. Aku Mela, dan ini Rania sahabatmu,” terang Mela berusaha mengembalikan ingatan Sania.


“Sania? Namaku ... Sania?”


Mela dan aku mengangguk membenarkan.


“Dan ... kamu Rania?” Aku kembali mengangguk.


“Tempatmu bukan di sini. Kita harus segera pergi dari sini. Jadi, ayo berdiri dan kita pergi dari sini!” ajakku.


“Pergi ke mana?” tanya Sania.


“Kembali. Pulang,” jawab Mela.


“Pulang?” sahut Sania sambil menatap aku dan Mela. Aku mengangguk, Mela juga.


Setelah cukup lama berusaha, akhirnya ingatan Sania kembali. Dia akhirnya ingat tujuan awal kita hingga sampai sini. Tidak hanya itu, bahkan dia juga ingat siapa yang membawanya kemari.


“Nenek-nenek tua yang membawaku kemari,” jelas Sania panik, “Kita harus segera pergi dari sini sebelum nenek itu kembali,” lanjutnya.


“Oke, kalau gitu kita pergi sekarang!” ajak Mela dan Sania pun bangkit dari duduk. Kami bertiga keluar dari bilik bambu. Tepat saat kami sampai di teras, sesosok nenek-nenek berdiri di pelataran gubuk ini. Matanya menatap tajam ke arah kami bertiga. Di tangan kirinya ada obor, sedang di tangan kanannya ada sebuah bungkusan yang aku tidak tahu apa isinya. Nenek itu adalah nenek yang sama persis dengan yang menunjuk jalan waktu itu. Ya, aku tidak salah ingat. Pakaiannya juga sama persis.


“Pegangan tangan! Apa pun yang terjadi jangan sampai lepas,” ujar Mela. Kami bertiga pun pegangan tangan. Posisi Sania di tengah. Aku memegang tangan kiri Sania, sedang Mela menggenggam tangan kanannya.

__ADS_1


“Kita lari. Ikuti tarikan tanganku.” Aku dan Sania mengangguk sepakat dengan ucapan Mela.


“Sekarang!” seru Mela. Aku dan Sania pun berlari mengikuti tarikan tangan Mela. Nenek-nenek itu mengejar kami, dan obor di tangannya tadi berubah menjadi banas bati yang melayang-layang di udara ikut mengejar kami juga.


__ADS_2