TUMBAL KETUJUH

TUMBAL KETUJUH
Kerasukan di Malam Pertama


__ADS_3

Tirta dan Ayah masih berbincang di ruang tengah. Entah apa yang sedang dibicarakan sampai mereka lupa waktu dan keasyikan. Oya, soal Mama, aku sekarang sangat bersyukur sekali. Mama telah banyak berubah sejak rujuk kembali dengan Ayah. Dia benar-benar belajar menjadi ibu dan istri yang baik. Sekarang dia lebih lembut dan sabar. Aku bersyukur sekali akan hal itu. Rasanya hidupku sudah sangat lengkap sekarang. Memiliki keluarga yang utuh dan suami yang aku cintai, pun sebaliknya.


Sudah makin larut, tetapi suamiku belum juga datang ke kamar. Padahal, aku sangat merindukannya. Pasalnya sebelum menikah, kami sempat dipingit. Tidak boleh bertemu atau sekedar berkabar via telepon sekali pun, selama seminggu.


Aku sangat gelisah dan gugup. Sesekali melihat ke arah pintu. Namun, knopnya tak jua bergerak. Aku bangkit dari atas ranjang. Mematut diri di depan cermin. Aman, penampilanku masih oke.


Mendadak kepala terasa agak pusing dan perut mual. Apa aku masuk angin? Ah, yang benar saja. Angin tidak ada akhlak! Kenapa mesti datang tanpa diundang di malam pertamaku dengan Tirta begini? Menyebalkan!


Tirta akhirnya datang juga, tepat saat aku mual-mual.


“Kamu kenapa, Ay?” Dari nada suaranya dia terdengar panik.


“Sepertinya aku masuk angin.” Aku tak punya kekuatan lagi untuk menjelaskan lebih lanjut. Kepala terasa makin hebat sakitnya. Perut juga bergejolak luar biasa.


“Bentar, aku coba cari minyak angin, ya. Aku kerokin.” Dia lantas sibuk membuka laci demi laci. Mencari keberadaan minyak angin dan uang koin. Namun, aku tak tahan lagi. Pandangan mataku makin buram dan lama-lama benar-benar gelap.


Lalu, saat aku membuka mata, aku sudah berada di tempat yang berbeda. Bukan lagi di kamar. Melainkan di sebuah lorong yang sangat gelap. Aku tak bisa melihat ujungnya.


Detik kemudian, aku mendengar suara seperti erangan, lalu tawa terbahak, kemudian terkikik dan terakhir tangisan yang memilukan. Aku tak bisa melihat sosok apa dan di mana sumber suara itu.


Aku menoleh ke sana kemari, yang ada hanya legam. Mata ini tak bisa melihat apa pun. Aku mencoba berjalan dengan mengandalkan rabaan tangan juga kaki. Ya, sebelum melangkah, aku pastikan dengan kaki tanah yang akan aku pijak aman atau tidak. Tangan juga demikian, meraba-meraba memastikan ada halangan atau tidak.


Tiba-tiba ada sesuatu yang terbang di atas kepala dan memaksaku menunduk. Jeritan lolos begitu saja dari mulutku. Seperti kelelawar yang sangat besar. Kepakkan sayapnya membuat rambutku berantakan.


Aku kembali berdiri dan berusaha berjalan lagi. Mencari ujung lorong gelap ini adalah misiku. Aku tertegun saat mendengar suara geraman. Suara itu terdengar sangat dekat di telinga. Mataku melirik ke kiri dan kanan, tetapi tidak dapat melihat apa pun. Namun, aku mencium aroma seperti kentang rebus. Detik kemudian, aroma itu berubah menjadi aroma rokok. Apa di sini ada orang lain?


Aku pun mual-mual saat aroma anyir bercampur busuk tiba-tiba menyengat hidung. Setelahnya, terdengar suara tawa cekikik, menangis, lalu .... “PERGI KAU DARI SINI!!!”


Teriakan seorang wanita yang menggelegar itu membuatku terhempas dan terduduk. Punggungku membentur entah apa, yang jelas terasa sangat keras. Kurasa dinding batu. Mungkin ini sebuah gua. Aku kepayahan saat akan bangun. Dada rasanya sesak dan punggung sangat sakit.


Aku akhirnya berhasil berdiri. Lantas melanjutkan perjalanan. Langkahku terhenti saat beberapa meter di depan sana ada sepasang mata merah. Mata itu sebesar bola, berwarna merah. Dari sini terlihat seperti bola api yang menyala-nyala.


Aku mundur menjauh, saat makhluk bermata merah dan besar itu mendekat. Jangan tanya perasaanku bagaimana? Yang jelas, sangat kacau balau. Doa, mantra pengusir setan, ah, aku sama sekali tidak mengingatnya barang sebait saja. Dalam batin ini, malah cuma menyebut nama Tirta saja.

__ADS_1


“Tirtaaa!” teriakku sambil menutup wajah dengan lengan saat makhluk itu seolah berlari siap menghantam tubuhku.


Napasku memburu, terbungkuk merasa lega. Ternyata makhluk mengerikan tadi menghilang begitu saja. Entah ke mana. Namun, aku masih belum merasa aman.


Aku celingukan mencari jalan keluar. Ya, secepatnya aku harus keluar dari tempat gelap ini.


“Rania!”


Aku menoleh ke belakang. Itu suara Tirta. Aku tersenyum lega. Akhirnya Guardian angel-ku datang juga. “Tirta, kaukah itu? Aku di sini!”


Suaraku bergaung. Detik kemudian hening. Tak ada yang menyahut. “Tirta! Kamu di mana?” Lagi, suaraku bergema, lalu hening.


Perasaan takut mulai menyergap. Aku tak bisa berpikir jernih. Mulai panik, setelah berjalan ke sana kemari, tetapi tak kunjung menemukan jalan keluar. Yang ada hanya gulita.


Aku lelah, rasanya tenaga sudah habis. Aku memutuskan untuk duduk memeluk lutut. Mata ini tetap waspada. Kubenamkan wajah di sela paha dan terisak. Tirta, tolong aku! Keluarkan aku dari kegelapan ini. Tolong!


Aku tersentak saat sebuah tepukan mendarat di pundak ini. Kuangkat kepala dan mendongak. Menoleh ke sana kemari, tidak ada siapa-siapa. Aku menggeleng menepis rasa takut. Lantas berdiri dan berusaha melanjutkan langkah.


Aku berbalik dan berlari tak tentu arah. Bola api itu mengejarku, aku makin panik. Takut terbakar, itulah pikiranku saat ini.


Di depan sana, ada seorang nenek berpakaian serba putih dan di tangannya ada lentera. Nenek itu melambai memintaku mendekat. Aku menoleh ke belakang, bola api itu masih terus mengejar. Kemudian memandang lurus ke depan, nenek itu masih di sana. Dia seolah menungguku mendekat.


Sekarang apa yang harus aku lakukan? Apakah mendekati nenek itu adalah pilihan yang tepat?


“Kemarilah, Cucuku!” Nenek itu bersuara lambaian tangan mengiringi. Persetan dengan apa yang akan terjadi selanjutnya, mendekat ke nenek itu adalah pilihanku saat ini.


Napasku terengah, aku terbungkuk saat sampai di sebelah nenek-nenek berpakaian serba putih dan membawa lentera di tangannya. Entah mantra apa yang dirapalnya, sehingga bola api itu menghilang dalam sekejap mata.


Nenek itu lantas tersenyum ke arahku. “Kamu tak seharusnya di sini. Di sini bukan tempatmu. Pulanglah!” Tangan kanannya mengulur, aku refleks menoleh. Di sebelah sana terlihat setitik cahaya putih. Aku ternganga lega. Kurasa itu jalan keluarnya.


“Nek!” panggilku, saat nenek itu menghilang entah ke mana. Aku menoleh ke sana kemari, tetapi nenek itu sudah tak terlihat lagi. Padahal, aku belum mengucapkan ‘terima kasih’ padanya.


Ternyata benar, cahaya putih tadi jalan keluar. Makin dekat, cahaya itu makin terlihat terang. Ah, akhirnya, aku akan segera bebas juga. Semakin dekat, cahaya itu menyilaukan mata. Aku menutup mataku dengan lengan.

__ADS_1


“Rania!” Ada yang memanggil namaku sambil mengguncang badanku. Aku membuka mata dan kudapati Tirta, Mama serta Ayah memasang wajah panik. Tidak hanya mereka, bahkan ada satu pria lagi yang berkalung sorban.


Aku bangun dan duduk. Rupanya sekarang aku sudah berada di kamar. Menoleh ke arah jam dinding. Sudah lewat tengah malam ternyata.


“Ran, aku siapa?” tanya suamiku, tentu saja pertanyaannya itu membuat dahi ini mengernyit.


“Suamiku.”


“Kalau ini?” Tirta menunjuk Mama dan Ayah. Ah, yang benar saja, dia menganggapku anak kecil atau gimana ini?


“Mama sama Ayah.”


Mereka pun kompak mengucap hamdalah. Aku mengurut kening, masih ada rasa pusing yang tersisa sedikit. “Memangnya apa yang terjadi? Kenapa ada Pak Ustaz di sini?”


“Sudah, kamu istirahat saja dulu. Kamu pasti capek, kan? Besok aja ceritanya, ya. Lagian, sudah malam juga,” ujar Ayah.


“Benar apa kata Ayahmu. Tidurlah! Besok saja ceritanya,” timbrung Mama, “Kamu temani istrimu. Biar Mama dan Papa mengantar Pak Ustaz ke depan,” lanjutnya. Tirta mengangguk patuh.


***


“Memangnya apa yang terjadi semalam?” tanyaku sesaat setelah kami membuka mata di pagi hari.


“Kamu kerasukan,” jawabnya.


“Hah?!” Aku terperangah tak percaya.


“Kerasukan arwah Sari. Dia tidak terima kita menikah. Dia bahkan hampir membawamu ke alamnya,” papar suamiku.


“Sari, yang dulu itu?” Tirta mengangguk. Aku tidak menduga kalau arwah Sari masih mengintai sampai sekarang. Kupikir, dia sudah tenang di alamnya.


Tirta mengusap lembut punggungku. “Sudah, tidak usah dipikirkan dan jangan banyak melamun. Lebih baik, kamu sekarang bersih-bersih terus kita sarapan. Setuju?”


“Oke!”

__ADS_1


__ADS_2