TUMBAL KETUJUH

TUMBAL KETUJUH
Gagalnya Rencana A


__ADS_3

Akhirnya setelah tadi sempat diinterogasi ini itu, kami bertiga diterima di rumah ini. Setelahnya kami berkenalan, dan kini aku telah mengantongi nama dukun yang duduk di sisi Tirta itu yakni Mbah Barjo, sementara istrinya bernama Patmi, lalu sesuai dugaanku wanita sebayaku itu bernama Sekar.


“Tujuan kalian ke desa ini mau apa?” tanya Mbok Patmi kemudian.


Setelah sebelumnya menanyakan di mana tepatnya mobil kami mengalami mogok.


“Kita rencananya mau berwisata ke air terjun putri, Mbok,” jawabku. Untunglah tadi Bayu sempat memberitahu soal air terjun ini.


“Itu sih, letaknya masih jauh. Ada di Desa Kasihan. Masih harus melewati tiga Desa lagi,” sahut Sekar.


Kami lanjut berbincang panjang lebar. Aku sambil menahan geram saat Sekar bergelayut manja di lengan Tirta.


Mela menyikut lenganku saat menangkap basah aku sedang curi pandang ke Tirta. “Kendalikan dirimu,” bisiknya. Aku kemudian mengalihkan pandanganku, dan mendengkus lirih. Muak.


Selanjutnya kami dijamu, lantas disuruh istirahat. Aku dan Mela menjadi satu kamar. Sementara Mang Ule tidur di ruang tamu beralaskan tikar. Semua ruangan rumah ini masih menggunakan penerangan lentera. Tempatnya yang terpencil dan tidak diakui sebagai warga desa sekitar itulah faktornya mengapa rumah dukun ini tidak terjangkau PLN.


Aku dan Mela duduk di atas dipan tanpa kasur. Hanya beralaskan tikar, di atasnya hanya ada bantal dan selimut yang tadi sengaja disediakan untuk kami.


“Sekarang apa yang akan kita lakukan?” bisik Mela.


“Tunggu situasinya aman dulu baru bergerak. Pertama-tama kita cari di mana Mbah Barjo meletakkan buku kumpulan mantra dan jimat-jimatnya.” Mela mengangguki ucapanku.


“Nanti semisal kepergok aku beralasan apa?” tanya Mela dengan nada lirih.


“Ngelindur.”


“Tidur sambil jalan, gitu?” sahut Mela. Aku mengangguk membenarkan.


“Oh ya, serbuk daun kelornya ada sama kamu, kan, Mel?” tanyaku memastikan. Mela lantas memeriksa saku celananya. Detik berikutnya dia menggeleng. “Hah?! Apa maksudmu dengan menggeleng?” lanjutku.


“Enggak ada di aku,” jawabnya.


“Bukannya tadi kamu yang bawa serbuknya?” tekanku. Kemudian kuperiksa semua saku celana dan jaket, tapi di aku juga tidak ada.


“Eum, kayaknya ....” Ucapan Mela terjeda manakala pintu kamar kami yang terbuat dari papan usang diketuk perlahan.


“Siapa?” bisik Mela, aku mengedikkan bahu tidak tahu.


“Kamu yang lihat!” titahku.


Cepat Mela menggeleng. “Enggak ah, kamu aja!”


“Ya sudah, kita lihat bareng-bareng!” ajakku. Mela mengangguk setuju. Kami berdua lantas turun dari ranjang perlahan, dan melangkah mendekati pintu pelan-pelan. Sampai di dekat pintu aku dan Mela saling suruh buka pintu menggunakan isyarat saling tunjuk. Mela kekeh menggeleng. Tidak mau membuka pintu. Dasar payah! Pada akhirnya aku yang harus membuka pintunya sepelan mungkin agar tidak menimbulkan deritan.


Setelah pintu terbuka dan menampakkan siapa pengetuknya. Aku dan Mela menghela napas lega. Ternyata Mang Ule.


“Ada apa, Mang?” tanyaku dengan nada berbisik.


“Mamang nggak bisa tidur, Non. Di ruang tamu berasa ada yang merhatiin,” terangnya sambil sesekali menoleh ke arah ruang tamu.


“Ya, terus? Masa Mamang mau tidur sekamar sama kita,” sahut Mela ketus.


“Ya sudah, kita temenin Mamang. Yuk, kita balik ke ruang tamu!” ajakku. Mang Ule berjalan di barisan depan, aku mengekor sambil menarik lengan Mela.

__ADS_1


Sampai di ruang tamu kami bertiga duduk membentuk lingkaran di atas hamparan tikar. Aku memberi isyarat agar Mang Ule dan Mela mendekatkan wajah mereka.


“Ada apa?” tanya Mela tak sabar.


“Malam ini juga kita harus mulai menjalankan misi!” ajakku. Mela dan Mang Ule mengangguk setuju.


“Oh ya, apa serbuk daun kelornya ada pada Mamang?” tanyaku. Mang Ule langsung memeriksa semua saku celana dan bajunya.


“Iya, ada nih, Non.” Mang Ule merogoh dan menunjukkan serbuk daun kelor yang ada di dalam plastik kecil.


“Ya sudah, sini biar aku yang simpen,” pintaku. Mang Ule memberikannya padaku. Lantas kumasukkan ke dalam saku jaketku.


“Sekarang apa rencana selanjutnya, Non?” tanya Mang Ule, “lebih cepat selesai lebih baik. Mamang tidak betah jika harus berlama-lama di sini,” lanjutnya kemudian.


“Oke, sekarang kita periksa seluruh ruangan yang ada di rumah ini. Kita cari di mana mereka meletakkan jimat dan buku mantranya!” Mang Ule dan Mela mengangguk mengerti.


“Ingat, jangan sampai menimbulkan bunyi. Pelan-pelan saja!” Lagi, Mela dan Mang Ule menyahuti dengan anggukan.


Kami bertiga lantas berpencar memeriksa semua ruangan di rumah ini. Kecuali kamar yang ditiduri Mbah Barjo beserta istrinya dan Sekar bareng Tirta. Sial! Dadaku sesak saat teringat Sekar dan Tirta tidur dalam satu kamar. Semangatku semakin terpacu untuk segera membebaskan Tirta dari belenggu mantra sihir. Agar dia kembali normal, dan tidak terlalu lama terjerumus dalam lembah dosa zina.


Aku masuk ke sebuah ruang yang gelap membawa lentera sebagai penerangannya. Ah, rupanya ruangan penyimpanan hasil panen. Terdapat banyak karung-karung berisi gabah dan jagung yang ditumpuk di atas dipan kayu. Di sudutnya menyisakan ruang kosong dan terdapat beberapa karung kosong yang berserakan di lantai. Rasanya tidak mungkin dukun itu menyimpan jimatnya di sini. Aku memutuskan untuk kembali ke ruang tamu.


Namun, tepat saat aku melintas di depan sebuah kamar, Tirta keluar. Detik berikutnya kami berdiri berhadapan. Tapi, jangankan mengenaliku, Tirta bahkan seolah tidak mengenali dirinya sendiri. Ia terlihat seperti orang linglung berdiri mematung di hadapan dan menatapku datar. Ingin sekali aku mengatakan siapa diriku, lalu menumpahkan rindu ini dalam rengkuhannya, tapi ....


Mela meraih tanganku yang terulur siap memegang pipi Tirta. “Rania, kau di sini rupanya. Ayo, kembali ke kamar!” Mela langsung menarik lenganku menjauh dari hadapan Tirta yang masih tampak kebingungan.


“Apa tadi?” cecar Mela setelah sampai di ruang tamu.


“Aku ....” Aku tidak bisa menjawab.


“Kamu nggak tahu sih, Mel. Gimana rasanya udah lima tahun nggak ketemu, dan setelah dipertemukan dia nggak ngenalin aku rasanya ....” Aku lanjut memegangi dadaku yang terasa amat nyesek. Air mata yang kutahan sedari tadi akhirnya jatuh juga.


“Aku tahu gimana perasaanmu, Ran, tapi kendalikan dirimu. Ingat tujuan awal kita datang ke sini. Untuk membebaskan Tirta dan melunturkan mantra yang mendarah-daging di tubuh dukun itu agar tidak ada lagi korban santet di desa sekitar.” Mela memegang kedua sisi bahu ini. Menguatkan.


Beberapa saat kemudian Mang Ule datang mendekat.


Aku segera menyeka air mata yang mengaliri pipi. “Gimana, Mang?” tanyaku saat Mang Ule sudah mendekat. Dia menggeleng, tanda tidak menemukan keberadaan letak buku dan jimatnya.


Mela menepuk bahuku. “Eh, Ran, tapi di belakang sana,” tunjuknya, “ada ruangan yang pintunya dikunci,” lanjutnya kemudian.


“Di mana?” tanyaku, karena tadi aku juga dari arah sana, tapi tidak melihat adanya ruangan terkunci. Atau mungkin aku yang kurang fokus karena terus kepikiran kondisi Tirta.


“Di dekat dapur. Di leter L sana,” jelas Mela kemudian.


“Ya sudah, ayo kita periksa!” ajakku. Mang Ule dan Mela mengangguk setuju. Kami bertiga lantas melangkah perlahan menuju ruangan tersebut. Benar, pintunya digembok dan tidak tahu di mana letak kuncinya. Ruangan apa ini?


Aku, Mela dan Mang Ule saling pandang kaget serta panik saat mendengar Mbah Barjo terbatuk di dalam kamarnya.


“Kembali ke ruang tamu!” bisikku. Kami lantas melangkah tergesa menuju ruang tamu.


“Mamang pura-pura tidur. Aku dan Mela kembali ke kamar dulu,” kataku lirih. Setelah Mang Ule mengangguk setuju. Aku menarik lengan Mela ke kamar.


Karena gerogi, tanpa sengaja tangan Mela menjatuhkan kaleng roti berisi keripik singkong yang terletak di meja depan kamar kami. Aku tahu, karena tadi sempat disuguhkan untuk kami. Tentu saja suaranya sangat gaduh.

__ADS_1


“Aduh, gimana ini?” bisik Mela panik sambil mencengkeram lenganku kuat-kuat.


“Tenag, tenang! Pura-pura ngelindur. Jangan gerogi, pejamkan matamu. Aku kembali ke kamar dulu. Jangan panik!” Lantas aku pura-pura tidur di atas ranjang.


Tak lama dukun dan istrinya, juga Sekar dan Tirta terbangun dan keluar kamar. Terdengar dari suara mereka yang bising saling bertanya suara apa?


Aku ikut keluar dari kamar dan pura-pura bertanya ada apa? Pun dengan Mang Ule.


“Sepertinya yang jatuh kaleng ini,” kataku sambil meraih kaleng yang tergeletak di lantai semen usang, dan mengembalikan di tempat semula.


“Tapi, siapa yang menjatuhkan?” tanya Sekar.


Tak lama terdengar suara barang jatuh lagi di area dapur. Mbok Patmi dan Mbah Barjo bergegas ke arah dapur memastikan di sana ada apa? Sekar mengekor sambil menggandeng lengan Tirta. Lagi, hatiku memanas.


“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Mbok Patmi.


Aku bergegas menyusul ke dapur. “Oh, rupanya teman saya, ya, yang menjatuhkan barang-barang. Eum, maaf, teman saya ini memang punya kebiasaan aneh. Tidur sambil berjalan. Eum, ngelindur, ya, ngelindur,” sahutku sambil memegangi kedua sisi bahu Mela.


Mbah Barjo dan istrinya saling pandang. Lantas kompak menatap ke arahku penuh selidik. Pun dengan Sekar. Sementara Tirta menatap ke arahku dan Mela dengan tatapan kosong.


“Mel, Mela! Sadar, Mel!” Aku pura-pura menyadarkan Mela yang masih terpejam dan menyadarkan kepalanya di pundakku.


Detik berikutnya Mela melenguh dan pura-pura bingung. “Loh, kenapa aku ada di sini? Dan kenapa pada berkumpul di sini?”


“Seperti biasa Mel, kamu ngelindur lagi,” balasku.


Mela pura-pura menunduk malu. “Eum, maaf, ya, Pak, Bu, Mbak, Mas, gara-gara kebiasaan buruk saya, kalian jadi terbangun. Sekali lagi maaf!” Mela menangkupkan tangan ke hadapan Mbah Barjo beserta anak istrinya yang hanya diam menatap kami penuh selidik.


“Ya sudah, masih malam. Sebaiknya kita semua tidur lagi. Ayo, kembali ke tempat tidur masing-masing!” pungkas Mbah Barjo. Lalu melengos meninggalkan aku dan Mela yang masih berdiri bersisian di dapur.


“Ayo, Sayang, kita kembali ke kamar!” ajak Sekar pada Tirta. Sumpah! Ingin sekali rasanya aku menjambak rambutnya. Kesal melihatnya sok mesra dengan Tirta.


Mela mencekal lenganku. “Kendalikan dirimu!” bisiknya, “ayo, kita kembali ke kamar!” lanjutnya kemudian. Sementara Mang Ule sudah kembali ke ruang tamu.


“Sekarang bagaimana?” tanya Mela. Aku tidak bisa berpikir dengan jernih jika hatiku sedang kesal begini.


“Sudahlah, kita tidur saja dulu!” ketusku.


“Apa kamu bilang? Tidur?” Mela mendekatkan wajahnya tak percaya. “Oh, ayolah Ran! Jangan konyol! Kita cuma punya waktu malam ini saja. Kamu denger sendiri, kan, tadi Mbah Barjo bilang apa? Besok pagi kita sudah harus angkat kaki dari sini,” lanjutnya.


“Iya, aku ingat itu. Tapi, mau gimana lagi, Mel. Kita tidak mungkin melakukan gerakan lagi. Sementara dari sorot mata Mbah Barjo dan istrinya, aku melihat mereka sudah mulai curiga dengan gerak-gerik kita,” jelasku, “sudahlah, kita tidur saja. Besok kita lanjutkan rencana B,” pungkasku. Mela akhrinya mengangguk meski bibirnya mengerucut kesal. Aku tahu dia tidak betah berlama-lama di sini. Sebenarnya sama, Mel, aku juga tidak betah, tapi mau bagaimana lagi.


Kutepuk bahu Mela yang sudah berbaring, dia menoleh ke arahku. “Aku mau kasih tahu Mang Ule dulu, ya, supaya dia tidur aja,” pamitku. Mela mengangguk. Aku ke ruang tamu. Mang Ule masih duduk berselimut sarung.


“Gimana, Non?” tanyanya.


“Sudah, sekarang Mamang tidur aja dulu. Positif, rencana A, gagal. Besok kita jalankan rencana B.” Mang Ule mengangguki kataku.


“Ya sudah, aku kembali ke kamar, ya, Mang!”


“Iya, Non.”


Saat sampai di depan pintu kamarku, aku berdiri mengamati pintu kamar Tirta dan Sekar. Rasanya sangat tidak rela melihat mereka sekamar. Ingin sekali aku menerobos masuk dan memberi pelajaran pada perempuan gila itu.

__ADS_1


Perhatianku teralihkan manakala mendengar suara gaduh dari arah dalam ruangan yang terkunci tadi. Aku melangkah perlahan mendekati kamar itu. Melewati kamar Mbah Barjo juga kamar Sekar yang saling berhadapan. Melewati lorong kecil membentuk huruf L lalu sampai pada ruang misterius tadi. Aku lantas menempelkan telingaku di daun pintu. Gaduh sekali, apa yang terjadi di dalam sana?


Mataku membelalak saat kudengar deheman Mbah Barjo, dan sepertinya sedang mengarah ke sini. Mati aku!


__ADS_2