TUMBAL KETUJUH

TUMBAL KETUJUH
Tipu Muslihat


__ADS_3

Ponsel terus berdering di luar garis lingkaran sana. Terdengar suara menggeram penuh kemarahan. Detik kemudian, terdengar jeritan yang melengking, masih dari dalam ponsel itu. Tania meringkuk menutup telinga, dia sangat ketakutan saat sekilas aku meliriknya. Fokusku kembali ke raga suamiku yang masih terbujur tak berdaya. Kuraba kakinya makin terasa dingin seperti es.


“Ini tidak betul, Mel, Bay!” seruku. Kepanikan melanda lagi. Aku kesulitan mengendalikan diri.


Mela turut memegang kaki suamiku. Mela menatap suaminya cemas, “Gila! Kakinya dingin banget. Ini kalau Rani nggak cepet balik bawa jiwanya Tirta bisa bahaya,” ujarnya masih sambil menatap Bayu.


Bayu juga jadi ikut panik. “Apa aku susul saja?”


Aku terdiam. Andai memungkinkan, aku sudah pergi menyusulnya sedari tadi. Namun, energiku belum pulih. Aku tidak bisa meraga sukma untuk saat ini. Kecuali memang ada kekuatan yang menarikku secara paksa ke alam sebelah. Mela tertunduk. Aku yakin, sahabatku itu dilema, antara merelakan suaminya pergi atau menunggu untuk beberapa saat lagi.


“Jangan gegabah. Sebaiknya kita tunggu beberapa saat lagi. Semoga Rani cepat kembali membawa Tirta.” Akhirnya Mela buka suara. Aku mengangguk sepakat saja. Meski sebenarnya, aku berharap Bayu menjemput suamiku, tapi aku tak boleh egois dan memaksanya. Nanti, bukannya menyelesaikan masalah, yang ada malah nambah runyam kondisinya jika aku memaksa. Sekarang, Cuma bisa pasrah dan berharap semoga Rani benar-benar bisa dipercaya dan lekas kembali.


“Ran, kuat, ya. Tirta pasti balik dan dia akan baik-baik saja.” Kurasakan Mela mengusap bahu ini. Aku hanya diam, rasanya tak punya energi meski hanya untuk sekedar menyahutinya. Aku over thinking. Rasa takut mulai muncul ketika memikirkan kemungkinan terburuk yang terjadi pada suamiku.


“Kita pegangan tangan saling menguatkan. Sambil terus berdoa, ya. Sesuai kepercayaan masing-masing,” ujar Bayu. Aku hanya pasrah saja saat tanganku diraih oleh Bayu dan Sania. Kami berpegangan tangan membentuk lingkaran di dalam mobil. Raga suamiku ada di tengah lingkaran.


“Sayang!” pekikku, saat raganya kembali bergetar dan kejang-kejang. Tangisku pecah. Ketakutan menyergap. Rasanya lebih menakutkan dari hantu-hantu yang ada di hutan ilusi.


“Tirta! Kembalilah! Sadarlah!” panggil Bayu. Tubuh suamiku makin kejang tak beraturan, lalu berhenti dan benar-benar terdiam. Aku tak punya keberanian untuk memeriksa nadinya. Aku mematung sambil berlinang air mata. Sania mengusap punggungku, menguatkan. Namun, itu sama sekali tidak membantu, hatiku tetap kacau balau.


Hingga akhirnya, aku bisa bernapas lega saat suamiku memanggil namaku dengan nada lemah. Aku yang semula tak berani menatapnya, lantas membuka mata dan kudapati dia telah membuka mata. Aku langsung menjatuhkan wajah ke atas dadanya dan menangis di sana. Kudengar, Bayu, Mela dan Sania mengucap syukur atas kembalinya suamiku.


“Hei, tenanglah. Aku sudah kembali,” ucapnya lirih, “Tapi, bolehkah aku bangun? Sepertinya ada yang mau keluar,” lanjutnya.


Aku lekas mengangkat wajah dan duduk. “Apa?” tanyaku.

__ADS_1


“Aku mual,” jawabnya. Bayu sigap membantu lelakiku bangun, lalu memapahnya keluar mobil dan suamiku muntah darah segar campur darah kental. Lumayan banyak dan cukup membuatku panik lagi.


“Aku nggak papa. Kamu nggak usah cemas begitu,” ucap lelakiku seusai berkumur dan minum, “Sekarang sudah lebih baik kok, setelah melihatmu,” lanjutnya sambil menatapku lekat. Dia lantas menarik tubuh secara lembut ke dalam dekapannya. Kami berdua tak memedulikan Bayu, Mela dan Sania yang berdehem menggoda.


“Rani mana?” tanyaku selepas berpelukan. Suamiku celingukan.


“Seharusnya dia di sini.”


“Bukankah lebih bagus kalau dia tidak ke sini lagi,” sahut Sania. Detik kemudian dia menjerit histeris karena Rani tiba-tiba muncul tepat di sebelahnya. Aku hanya mampu mengatupkan bibir menahan tawa. Sedang Mela, tawanya sudah meledak. Sania bersungut sebal. Rani menggerutu tersinggung dengan ucapan Sania.


“Ayolah, sudahi pertengkaran kalian. Sebaiknya lekas kau tunjukkan di mana letak tulang belulangmu. Setelah itu, tunjukkan di mana jalan keluarnya. Supaya kami bisa lekas menyelesaikan misi dan kembali menyerahkan tengkorakmu ke keluargamu. Gimana? Setuju?” Aku mengajukan kesepakatan.


“Aku sampai mati di sini karena tersesat, lalu sekarang kalian memintaku menunjukkan jalan keluar? Yang benar saja. Aku tidak yakin, tapi akan aku usahakan,” pungkasnya.


Kami pun mulai mengikuti Rani pergi ke tempat kerangkanya teronggok. Tepatnya di bawah pohon jati yang sangat besar dan rindang. Bayu menutupi tengkorak itu dengan sangat hati-hati.


Rani tampak tidak terima dan merasa telah dibohongi. Kami kompak memberinya pengertian. Karena memang begitulah prosedurnya. Hingga pada akhirnya, Rani setuju. Dia memutuskan untuk menunggu di sini, sampai kami kembali kelak bersama pihak berwenang dan tim yang bersangkutan. Kami berpisah untuk sementara waktu. Gangguan yang tadi sempat mencekam, aura negatif yang menyelimuti tempat ini sudah mulai netral. Kami pun melanjutkan perjalanan untuk mencari jalan keluar.


“Akhirnya!” seru Sania setelah mobil akhirnya berhasil kembali ke jalan aspal. Kami berhenti sejenak dan menoleh ke belakang. Anehnya, bekasnya mobil kami tadi hanya masuk ke dalam semak sekira seratus meter saja. Namun, entah kenapa tadi serasa berada jauh di dalam hutan.


Ponselku berdering, aku terperanjat. Benda pipih di genggaman nyaris terlempar. Aku mengamati layar, nama kontak Madam Carla tertera, lalu kuamati sinyal. Ternyata beneran ada sinyal di sini. Sebelum mengangkat telepon, kupastikan dulu ini bukan telepon tipuan seperti tadi.


“Coba cek HP kalian!” perintahku, “Ada sinyalnya nggak?”


Suamiku, Mela, Bayu dan Sania kompak memeriksa HP masing-masing.

__ADS_1


“Aman, ada,” jawab Mela.


“Tempatku juga ada,” sahut Bayu sambil menunjukkan layar ponselnya.


“Ada kok.” Sania juga menunjukkan layar HP. Pun dengan suamiku. Kini, aku yakin kalau ini memang Madam Carla. Bukan telepon tipu muslihat. Semoga saja memang demikian adanya. Rasanya sudah lelah berurusan dengan penunggu daerah sini. Kami harus menghemat energi untuk menjalankan misi nanti.


“Halo, Madam,” kataku memulai obrolan.


“Halo. Kamu ini bagaimana?”


“Bagaimana apanya, Madam?” tanyaku menyela.


“Kenapa Madam ditinggal? Kan sudah sepakat kalau kalian harus aku dampingi,” ujar Madam dari ujung telepon.


“Sebentar, ini maksudnya gimana Madam?” tanyaku tak mengerti. Sementara suamiku memintaku mengeraskan volume suaranya. Mereka ingin mendengar juga. Aku pun nurut membesarkan volume suara sehingga kita semua bisa dengan jelas mendengar suara Madam Carla.


“Kalian kenapa tidak mampir dulu ke rumah? Bukannya kesepakatan awal kalian mampir dulu ke rumah dan kita berangkat bareng? Ini ditungguin sampek berjamur, ternyata kalian malah sudah berangkat duluan!” omel Madam Carla. Kami berlima yang ada di mobil ini pun terdiam dan saling pandang.


“Hei, kok malah pada diem.”


Aku tersentak dan tersadar dari lamunan. “Iya, Madam. Kenapa?”


“Kalian sudah sampai mana? Biar aku susul.”


“Sebentar, Madam,” kataku menyela. Lantas menjelaskan jika tadi dia sudah berangkat duluan menunggu di sebuah pom bensin, lalu izin pulang lagi karena ada urusan mendadak.

__ADS_1


“Mana ada! Aku dari tadi menunggu kalian di rumah. Karena kalian tidak kunjung datang, aku datang ke rumahmu Rania dan ternyata menurut penuturan mamamu, kamu sudah berangkat bersama yang lainnya. Makanya ini aku telepon untuk memastikan kalian sampai mana. Mau aku susul,” jelas Madam. Kami berlima saling tatap dalam kebingungan lagi. Seusai menjelaskan kami sampai mana, telepon aku tutup. Madam Carla berjanji akan segera menyusul bersama suaminya dan beberapa temannya yang juga siap membantu misi ini.


“Jadi, yang bener yang mana? Madam Carla yang tadi pamit pulang lagi untuk menyelesaikan masalah di rumah, atau yang ini?” tanya Sania. Dari ekspresi wajahnya begitu kentara kebingungan yang berpadu dengan ketakutan. Aku hanya menjawab dengan mengedikkan bahu.


__ADS_2