
Raut ketakutan kian jelas, Sania mencengkeram tanganku kuat-kuat. Aku sampai meringis kesakitan, tetapi berusaha tetap tenang dan menenangkan Sania semampuku. Namun, cengkeramannya malah makin kuat. Tenaganya sudah berbeda dan auranya juga beda. Dugaanku benar, detik kemudian wanita di hadapanku mengerang, lalu terkikik dan meraung. Ya, dia kerasukan.
Pengunjung kafe pun berlarian menghindar. Ada yang histeris, ada yang tanpa sengaja menjatuhkan gelas, menabrak pelayan. Suasana kafe jadi sangat kacau balau. Aku berusaha tetap tenang dan berusaha menetralkan suasana, tapi payah. Makhluk yang merasuki tubuh Sania alot tidak mau keluar juga meski aku sudah bernegosiasi. Tak ada pilihan lain, aku harus menghubungi suamiku dan juga sahabatku untuk meminta bantuan mereka. Sepertinya makhluk yang mengganggu Sania bukan kaleng-kaleng.
*****
Aku menghela napas lega sekaligus lemas. Energiku seolah terkuras habis pasca menetralkan tubuh Sania. Padahal dibantu oleh suamiku, Bayu dan juga Mela. Ya, kami berempat terpaksa bekerja sama lagi. Bersinggungan dengan hal supranatural lagi. Demi kemanusiaan. Menyelamatkan Sania. Kami pun sepakat untuk membantu Sania agar terbebas dari teror gaib itu. Kami akan mencari tahu setelah ini, soal dari mana makhluk astral itu berasal dan apa tujuannya. Namun, masih harus menunggu Sania sadar dulu. Dia masih tergolek tak sadarkan diri di atas sofa memanjang di ruang VVIP kafe. Beberapa pengunjung ada yang kepo. Sisanya memilih kabur ketakutan. Wujud Sania saat kerasukan tadi memang sangat mengerikan. Energinya juga sangat negatif dan kuat. Namun anehnya, aku tidak bisa melihat dengan jelas wujud makhluk yang merasuk ke dalam tubuh Sania.
“Kalian bisa melihat sosok yang merasuki tubuh Sania dengan jelas?” tanyaku pada suami dan kedua sahabatku. Mela dan lelakiku menggeleng, sementara Bayu mengangguk. Sontak saja, pandangan kami langsung tertuju pada Bayu.
“Wujudnya seperti perpaduan antara gorila, macan dan kalajengking yang berkaki manusia berbulu serta berkuku runcing. Kepalanya seperti gorila, badannya seperti macan, lalu memiliki ekor seperti capit kalajengking,” papar Bayu detail.
“Menurutmu itu apa?” tanya Mela.
“Siluman. Apa lagi?” sahut Bayu.
“Kira-kira asalnya dari mana dan tujuannya apa, ya?” tanyaku. Baik suamiku dan kedua sahabatku kompak mengedikkan bahu yang artinya, kami masih belum tahu dan kami akan mencari tahu setelah ini.
Akhirnya Sania sadar dari pingsannya. Dia duduk dan masih terlihat sangat lemas. Memegangi kepala yang katanya masih terasa pusing. Mela sigap memberinya minum.
“Minumlah! Biar tenagamu balik,” katanya sambil menyodorkan segelas air mineral. Sania menatapku dahulu seolah meminta persetujuan.
Aku mengangguk. “Minum saja. Aman kok. Itu Cuma air putih biasa. Nggak ada mantra atau obat tertentunya.” Barulah Sania berani minum. Sementara Mela dan Bayu tersenyum tipis. Sedangkan suamiku, dia berekspresi datar.
__ADS_1
Setelah kondisi Sania membaik. Kami pun mulai menginterogasinya. Mencari tahu bagaimana awal mula dia bisa bersinggungan dengan siluman tadi. Menurut pengakuan Sania, makhluk itu datang bersamaan dengan kepulangan suaminya dari luar kota.
“Mungkin ketemu di jalan terus ngikut,” tebak Mela. Namun, dugaanku hati kecilku berkata lain. Sepertinya makhluk itu tidak hanya asal ikut, tetapi ada yang sengaja mengirimnya untuk meneror Sania.
“Apa kamu punya musuh?” tanyaku spontan. Sania terdiam sejenak, berpikir, sebelum akhirnya menggeleng ragu.
“Seingatku, aku tidak pernah musuhan atau melakukan kesalahan pada seseorang. Tapi, nggak tahu juga kalau tanpa sadar aku sudah menyakiti seseorang,” katanya dengan raut wajah tidak yakin.
“Kalau suamimu? Apa mungkin punya musuh?” lanjutku. Sania menggeleng tidak tahu.
“Sejauh yang aku tahu, Mas Aditya tidak pernah punya musuh, tapi nggak tahu juga. Soalnya akhir-akhir ini dia berubah agak dingin. Jarang cerita soal kerjanya atau aktivitasnya di luar rumah,” paparnya kemudian.
“Oke, jadi gimana gaes, apa yang akan kita lakukan selanjutnya untuk membantu Sania?” tanyaku pada Mela, Bayu dan juga suamiku.
“Nanti malam kita coba lakukan penyelidikan ke rumah Sania.”
*****
“Kamu yakin mau bersinggungan dengan astral lagi?” tanya suamiku saat kami sudah berada di kamar. Aku pun urung merebahkan diri ke atas kasur. Suamiku betanya tanpa melihat ke arahku, dia sibuk melepas kemeja dan jam tangan. Dari ekspresinya, dia tampaknya kurang setuju dengan keputusanku ini.
Aku bangkit dari atas kasur, melangkah mendekat dan memeluknya dari belakang. “Sania itu sekarang tetangga kita. Tetangga paling dekat. Kita punya kewajiban untuk membantunya sebagai tetangga dan sebagai sesama manusia. Iya kan?”
Dia melepaskan tanganku yang melingkar di perutnya, lalu berbalik dan kini kami sudah berdiri berhadapan. Mata kami bertemu. “Tapi, nggak harus kita juga yang turun tangan secara langsung. Kita bisa saja mencarikan solusi lain. Misal merekomendasikan orang lain untuk membantunya.”
__ADS_1
“Kita punya kemampuan untuk berinteraksi dengan yang tak kasat mata dan menetralkan hal-hal negatif. Aku merasa berdosa saja kalau menyia-nyiakan kemampuan itu. Mungkin memang seharusnya kita gunakan kemampuan kita ini untuk membantu sesama, daripada mubazir.”
“Tapi, aku takut. Takut kamu kenapa-kenapa,” katanya tegas sambil membingkai wajah ini. Aku tahu, suamiku masih agak trauma jika bersinggungan dengan dunia supranatural. Ini tidak boleh dibiarkan terlalu lama, aku harus meyakinkannya.
“Selama kita bersama-sama, semua akan baik-baik saja. Percayalah!” Kugenggam tangannya erat. Dia menghela napas dan akhirnya pasrah mengikuti mauku. Kami pun sepakat untuk kembali terjun ke dunia supranatural mulai detik ini. Kami harus kembali membiasakan diri berinteraksi dengan mereka yang tak kasat mata.
“Ya udah, kita istirahat dulu untuk memulihkan energi. Nanti sebelum beraksi, kita minta pencerahan dulu sama Madam Carla,” pungkasnya. Aku mengangguk sepakat. Madam Carla adalah guru supranatural kami. Beliau yang selama ini membimbing kami tentang bagaimana menyikapi dan menggunakan kemampuan yang kami miliki. Juga melatih kami bagaimana cara menghadapi dan melumpuhkan setan.
*****
Madam Carla menyarankan agar kami senantiasa waspada dan berhati-hati. Beliau juga mengingatkan agar kami meneguhkan hati sebelum beraksi. Juga memberitahu bahwa makhluk yang akan kami hadapi ini memiliki kekuatan yang cukup besar.
“Tapi, kalian tidak perlu khawatir, aku akan membantu doa dari sini. Kalian pasti bisa menuntaskan niat baik kalian,” pungkas Madam Carla dan sambungan telepon pun padam seusai kami mengucapkan terima kasih.
Di meja makan, aku mengutarakan niatku untuk kembali menggunakan kemampuanku kepada Mama dan Ayah. Mulanya mereka keberatan. Terutama Ayah, dia bersikeras melarang. Namun, setelah butuh waktu beberapa menit, akhirnya aku berhasil meyakinkannya.
“Ayah tenang saja. Niatku baik, semoga niat baikku ini berakhir baik.”
Kudengar Ayah menghela napas panjang, lalu mengiyakan. Kemudian mewanti-wanti agar kami selalu berhati-hati. Aku mengangguk setuju.
“Apa, Ayah perlu ikut?” tanyanya.
“Tidak perlu, Yah. Nanti malah bahaya kalau Ayah sama Mama ikut,” jawabku.
__ADS_1
“Ayah sama Mama nggak usah khawatir. Kami akan baik-baik saja. Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk menjaga Rania,” ujar lelakiku dengan nada mantap. Ayah dan Mama akhirnya mengangguk pasrah dengan keputusan kami. Tak berselang lama, Mela dan Bayu pun datang dan kami pun bergegas pergi ke rumah sebelah. Ke rumah Sania.
Langkah kami terhenti tepat di depan pintu rumah Sania. Di dalam sana terdengar suara orang yang lagi marah-marah. Namun, suara lawan bicaranya tidak kedengaran. Sepertinya Sania sedang menelepon seseorang. Kalau dari nama yang dia sebut, tampaknya Sania sedang bertengkar via telepon dengan suaminya. Kali ini, entah apa lagi masalahnya. Kami memilih menunggunya selesai menelepon baru berani mengetuk pintu. Sania membuka pintu dengan mata berkaca-kaca menahan tangis.