
Malam kian larut, mata ini enggan terpejam. Setelah mencoba berbagai posisi, tapi tidak juga bisa tidur, aku memilih duduk bersandar pada kepala ranjang. Pikiranku bercabang, memikirkan keberadaan Tirta yang belum menemukan titik terang. Juga memikirkan bagaimana caranya menetralisir aura negatif di pabrik singkong Ayah.
Aku menoleh ke arah Mela, dia sudah terlelap dibuai mimpi. Aku memutuskan untuk ke dapur dan membuat susu hangat. Siapa tahu setelah minum susu hangat jadi rileks dan bisa tidur nanti.
Setelah susu siap diseruput, aku bawa ke ruang tengah. Kuletakkan di atas meja guna menunggu sedikit berkurang uap panasnya. Aku memilih berdiri di dekat jendela. Kusingkap tirai yang menghalangi pandanganku untuk melihat keluar jendela. Setelah tirai terbuka, aku bisa melihat ke halaman samping rumah ini. Di luar sana ada banyak bunga mawar dan melati yang mulai melayu, dan ada juga yang masih kuncup.
Semilir angin datang menerpa diri. Suara hewan liar laksana kidung yang memecah keheningan. Khas suasana pedesaan kala malam hari. Dingin. Aku bersedekap guna menepis hawa yang semakin dingin. Mataku masih memonitor halaman samping. Ada sosok yang berdiri di sudut halaman. Tempatnya yang remang membuat mataku kesulitan mendeteksi itu sosok apa.
Puk!
Mataku membulat seketika saat kurasakan ada yang menepuk bahu ini secara tiba-tiba. Detik berikutnya mataku melirik ke kiri dan kanan, tapi ekor mataku tidak menangkap sosok apa pun. Namun, tangannya masih terasa menempel di pundak ini.
“Ran, kamu kenapa?”
Aku menghela napas lega setelah mendengar suara Mela. Lalu berbalik menghadapnya. Aku mengusap dada. “Huh, Mel, ngagetin aja deh!”
“Ya, maaf! Habisnya kamu dipanggil-panggil nggak nyahut. Fokus lihatin keluar terus. Ada apaan, sih?” cerocos Mela lalu turut melihat keluar jendela. Kulihat sosok tadi sudah tidak ada di sana lagi.
“Nggak ada apa-apa, Mel. Aku nggak bisa tidur. Makanya buat susu hangat itu.” Kutunjuk susu yang ada di meja, dan Mela menoleh mengikuti telunjukku mengarah. Detik berikutnya dia ber-oh.
“Aku juga mau, ah!” ucapnya lalu bergegas ke dapur.
Kututup tirainya dan duduk menikmati susu yang sudah menghangat. Tak lama Mela datang dengan membawa segelas susu lalu duduk berseberangan meja denganku.
“Kamu nggak bisa tidur karena diganggu, apa karena mikirin Tirta?” tanya Mela kepo.
“Perasaanku belum tenang kalau belum tahu gimana kabarnya Tirta, Mel.” Mela mengangguk-angguk, lalu lanjut meniup susu dan menyeruputnya.
“Kamu masih cinta, ya, sama si Tirta itu?” Aku hanya tersenyum kecil.
“Ciyeee, malah senyum-senyum. Fiks, ini sih, cinta lama belum kelar.”
“Paan, sih!” sahutku kesal.
“Btw, dia itu seganteng siapa, sih?” cecar Mela keponya lagi akut kayaknya.
“Dia itu mirip kayak artis Azof Rangga,” jelasku.
“Pemain sinetron itu?” Aku mengangguk membenarkan. “Pantesan aja, elo susah move-on,” lanjutnya.
Aku menyeruput susu, pun dengan Mela. Suasana menjadi hening beberapa saat.
Mela meletakkan susu di atas meja. Lalu menatapku intens. “Oh ya, kenapa kamu nggak nyoba tanya ke temen sekelas kamu dulu. Siapa tahu mereka tahu di mana keberadaan Tirta.”
Seketika ingatanku tertuju pada Dian dan Bayu. Ah, kenapa aku lupa pada mereka berdua. “Bener juga apa katamu, Mel. Dulu semasa SMA, aku punya teman sepermainan. Namanya Bayu dan Dian. Ya, aku rasa mereka tahu, dan hanya merekalah yang bisa kumintai bantuan. Besok, kamu mau, ‘kan, bantuin cari mereka!”
Mela mengangguk. “Siap 86!” ucapnya kemudian sambil hormat.
“Ya sudah, sekarang kita tidur dulu, yuk! Udah malem banget ini.”
“Yuk!” sahutku. Lalu kami pun ke kamar guna untuk tidur. Saat aku sampai di ambang pintu kamar, aku mendengar bisikan meminta tolong.
“Ran, buruan tutup pintunya! Dingin tauk!”
“Iya, Mel.” Aku memilih mengabaikan bisikan itu, dan menutup pintunya lalu tidur.
***
“Gimana?” tanya Mela setelah aku kembali ke dalam mobil usai bertanya pada warga akan di mana tempat tinggal Dian sekarang.
“Kata orang tadi, sekarang Dian tinggal di desa sebelah ikut suaminya.”
“Ya sudah, kita cari saja ke desa sebelah!” sahut Mela antusias.
Aku mengangguk setuju. “Giamana, Mang? Mamang siap, ‘kan, antar kami ke desa sebelah?”
Mang Ule mengangguk lalu mengacungkan satu jempolnya. “Selalu siap, Non. Jangankan ke desa sebelah, ke kota sebelah juga hayuk!”
“Ya sudah, jalan Mang!” titah Mela.
“Siap!” jawab Mang Ule lalu melajukan mobilnya.
Sesampainya di desa sebelah yang bernama Desa Karangasem. Akhirnya kami mendapat info akan di mana rumah Dian setelah bertanya ke sana-kemari. Bahkan sampai tersesat beberapa kali dan menghabiskan waktu hampir setengah hari lamanya.
“Huh! Usaha tidak menghianati hasil,” ucap Mela saat kami sudah berdiri di teras rumah Dian.
Lantas kuketuk pintu bernuansa cokelat usang. Tak lama hendelnya bergerak dan menyembul seorang lelaki dari balik pintu.
__ADS_1
“Maaf, ada yang bisa saya bantu?” tanya pria yang kini berdiri di hadapanku.
“Saya Rania, temannya Dian semasa SMA. Apa benar, ini rumahnya Dian?”
“Iya, benar. Saya Evan suaminya.” Evan? Aku pikir Dian menikah dengan Bayu. Bukannya dulu Dian deketnya sama Bayu, ya?
Aku tersadar dari lamunan saat Mela mencolek lenganku. Lalu menoleh ke arahnya.
“Ditanyain itu sama Mas Evan. Malah bengong!” ucap Mela.
“Eum, maaf, Mas. Gimana?” tanyaku pada Evan.
“Ke sini mau cari Dian?” Aku mengangguki tanya yang dilontarkan oleh Evan.
“Kalian duduk saja dulu!” Evan menunjuk dipan yang terbuat dari bambu yang terletak di teras ini. Aku, Mela dan Mang Ule mengangguk. Lalu duduk.
“Tunggu, ya, saya jemput Dian dulu,” lanjut Evan.
Dahiku mengernyit. “Jemput? Memangnya Dian lagi di mana, Mas?”
“Ke warung,” jawab Evan. Lalu menstarter motornya dan pergi.
Tak lama kemudian Evan datang membonceng Dian. Setelah turun dari motor, Dian langsung berlari ke arahku sambil meneriakkan namaku. Kami berdiri saling pandang beberapa detik sebelum akhirnya saling berpelukan melepas rindu yang membelenggu.
“Ya ampun, Ran. Kamu sekarang beda banget sama dulu.”
“Beda gimana? Semakin tua, ya?” sahutku.
“Bukan, sekarang kelihatan kayak lebih elegan gitu.”
“Kamu bisa aja, Di. Kamu juga masih terlihat awet muda,” balasku.
“Oh ya, mereka ini siapa?” tanya Dian sambil menunjuk Mela dan Mang Ule.
“Kenalin, ini Mela, sahabatku. Kalau ini Mang Ule, sopirku.” Dian mengangguk-angguk.
“Ayo, silakan duduk lagi!” titah Dian setelah berjabat tangan dengan Mela dan Mang Ule.
“Sebentar, ya, aku tinggal masuk dulu!” pamit Dian. Aku mengangguk mempersilakan. Selang beberapa menit, Dian keluar dengan membawa beberapa cangkir minuman hangat dan cemilan. Lalu menyajikan di hadapan kami.
“Seharusnya nggak usah repot-repot, Di.”
“Terima kasih, Mbak Dian,” sahut Mela. Sedangkan Mang Ule hanya mengangguk canggung.
“Eh, jangan panggil, mbak. Panggil nama saja. ‘Kan, kita seumuran,” pinta Dian pada Mela. “Iya, ‘kan, Ran?” lanjut Dian sambil menoleh ke arahku. Aku mengangguk saja.
“Oh ya, kamu tinggal di rumah ini sama siapa aja?” tanyaku.
“Sama suami dan mertua, tapi mertuaku lagi ke ladang,” jelas Dian.
“Sudah berapa lama menikah?”
“Dua tahunan aku nikah sama Evan.”
“Eh, ayo dimakan ini gorengannya!” titah Dian sambil menggeser sepiring gorengan ke hadapan Mang Ule, sepiring lagi digeser ke hadapanku dan Mela yang duduk bersisian.
“Iya, terima kasih, Di,” jawab Mela. Sedangkan Mang Ule langsung mengambil dan melahap gorengan di hadapannya.
“Udah punya anak?” tanya Mela.
Dian menghela napas panjang, lalu menggeleng. “Belum,” jawabnya lesu.
“Oh, emang belum pengen atau ....” Mela menghentikan kalimatnya.
“Dari awal menikah aku dan suami sama sekali tidak pakai alat kontrasepsi, tapi nggak tahu kenapa belum dikasih. Padahal sudah cek ke dokter dan hasilnya kami berdua baik-baik saja,” terang Dian.
“Sabar,” ucapku dan Mela kompak.
“Nanti juga kalau sudah waktunya dikasih pasti punya,” lanjut Mela. “Maaf ya, aku jadi bertanya ini itu,” imbuhnya.
“Nggak apa-apa,” jawab Dian. “Oh ya, kalau kalian gimana? Sudah nikah atau belum?” Dian balik bertanya.
Aku dan Mela saling pandang lalu kompak menggeleng.
“Kita masih kuliah, Di,” jelasku. Dian mengangguk-angguk.
“Aku juga dulu sempat mau kuliah, tapi dilarang sama orang tuaku ....”
__ADS_1
“Kenapa dilarang?” sela Mela.
“Kata orang tuaku kuliah itu cuma menghabiskan uang saja. Percuma sekolah tinggi-tinggi ujung-ujungnya menikah dan jadi ibu rumah tangga. Begitulah pemikiran orang desa sini.”
“Pemikirannya belum maju, ya?” sahut Mela.
Dian mengangguk. “Ya, begitulah.”
Kami lalu kompak menyeruput teh yang tersaji dan memakan cemilannya juga. Ubi jalar goreng. Manis dan gurih, perpaduan rasa yang lezat. Semakin nikmat saat teh hangat atau kopi melengkapi.
Aku mendekatkan wajah ke hadapan Dian yang duduk di depanku. “Aku pikir, kamu nikahnya sama Bayu?” bisikku agar tidak terdengar oleh Evan yang ada di dalam rumah sana.
“Bay ....” Dian menghentikan ucapannya saat Evan tiba-tiba keluar dan membawa peralatan memancing.
“Dek, mas mau mancing dulu, ya!” pamitnya pada Dian.
“Iya, Mas.”
“Oh ya, saya permisi mau mancing. Kalian silakan dilanjut ngobrolnya!” pamit Evan padaku dan Mela juga Mang Ule.
“Iya, silakan, Mas!” sahut Mela. Aku dan Mang Ule mengangguk saja.
“Bayu memilih mundur Ran, saat tahu aku dijodohkan dengan Evan. Dia sangat cemen.” Dian melanjutkan kalimat yang sempat terjeda setelah Evan pergi. Ada raut kecewa di wajah Dian.
“Terus, sekarang Bayu di mana?”
“Entahlah, Ran. Aku udah nggak peduli lagi sama dia sejak dia memutuskan merelakan aku menikah dengan Evan.”
“Kalau ... Tirta?” tanyaku agak riskan. Takut kalau reaksi Dian sama dengan warga kebanyakan.
Dian menghela napas panjang lalu menunduk pilu. “Tirta ... nasibnya sangat tragis, Ran. Dia ....”
Lagi-lagi ucapan Dian terjeda saat ada wanita paruh baya datang dan pasang ekspresi masam.
“Memangnya kamu sudah masak? Sudah beresan? Kok malah ngerumpi begini?” ketus wanita paruh baya itu, yang aku yakini dia adalah ibu mertuanya Dian.
“Bu, ini temanku dari kota. Kenalin ini Ibu mertuaku,” jelas Dian.
Saat aku beranjak hendak menyalami, wanita paruh baya itu malah masuk ke dalam rumah sambil terus mengomel. Aku jadi merasa tidak nyaman.
“Maaf ya, Di. Gara-gara kedatangan kami, kamu jadi kena masalah begini,” ucapku tak enak hati.
“Eh, aku yang seharusnya minta maaf. Gara-gara sikap Ibu mertuaku, kalian pasti jadi nggak nyaman, ya? Maaf, ya! Ibu mertuaku memang begitu orangnya.” Dian terlihat lebih tidak enak hati.
“Iya, Di. Nggak apa-apa, kok.” Aku lanjut mengusap bahunya. “Kalau kamu mau masak, lebih baik kita pamit dulu, deh. Kapan-kapan disambung lagi obrolannya,” lanjutku.
Dian terus meminta maaf atas nama ibu mertuanya. Aku memaklumi itu.
“Kasih aja nomor telepon kamu, Ran. Biar bisa komunikasi sama Dian,” saran Mela.
“Sayangnya, aku nggak punya handphone, Ran,” sahut Dian.
“Hah?!” seru Mela. “Serius? Di jaman modern begini nggak punya ponsel?” lanjutnya tak percaya.
“Ya, ibu mertuaku nggak memperbolehkan punya ponsel. Katanya barang yang nggak begitu berguna nggak perlu dimiliki. Semua keluarga dan sanak famili ada di desa sini dan desa sebelah, jadi kalau mau silaturahmi langsung saja ke rumah mereka.” Mela mengangguk paham.
“Terus gimana dong, kalau kita mau melanjutkan obrolan soal Tirta ....”
“Sssth! Jangan kenceng-kenceng nyebut nama Tirta,” sela Dian.
Mela pun membungkam mulutnya. “Maaf, kenapa emangnya?” lanjutnya.
“Ibu mertuaku bakal marah kalau sampai dengar.”
“Sebenernya apa sih, yang terjadi sama Tirta, Di?” cecarku tak sabar.
“Eum, gini aja deh, besok sore ba'da Asar kita ketemuan di danau tempat kita biasa ngumpul dulu. Kamu masih ingat, ‘kan?” Aku mengangguk.
“Ya sudah, kalau gitu aku pamit dulu, ya!” pamitku semakin tidak nyaman saat mendengar ibu mertua Dian mengomel semakin kencang sambil membanting perabotan dapur.
Sehingga terdengar suara sangat bising di salam sana.
“Maaf, ya!” ucap Dian lagi.
“Aku yang minta maaf, gara-gara aku ngajak ngobrol, kerjaan rumahmu jadi terbengkalai dan ....”
“Ayo, Ran, pergi!” sela Mela sambil menarik lenganku. “Aku pergi dulu, ya, Di. Terima kasih jamuannya,” pungkas Mela. Dian mengangguk sambil meminta maaf pada Mela.
__ADS_1
Setelah berpelukan sama Dian, aku menyusul Mela dan Mang Ule yang sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil.
“Andai saja ibu mertuanya Dian tidak datang mengganggu, pasti sekarang kita sudah tahu kabar soal Tirta, ya, Ran?” Aku hanya menoleh sekilas ke arah Mela lalu memandang keluar jendela mobil. Pikiranku semakin kacau saat inggat perkataan Dian, bahwa nasib Tirta sekarang tragis. Tragis bagaimana maksudnya?