TUMBAL KETUJUH

TUMBAL KETUJUH
Ritual Penumbalan


__ADS_3

“Mang, cepat pergi panggil Bayu!” titahku. Setelah otakku tak dapat lagi berpikir. Blank. Tidak tahu lagi mesti berbuat apa?


“Bab-baik, Non.” Mang Ule tergagap sambil mengangguk. Sejurus kemudian pria paruh baya itu berlari keluar. Aku menunggu kedatangan Bayu dan Mang Ule dengan gelisah.


Setelah beberapa menit berlalu. Mang Ule datang bersama Bayu. Bayu langsung mendekatiku. “Gimana? Ada apa?” tanyanya tergesa.


“Bay, Mela diculik,” terangku tanpa mengulur waktu.


Bayu mengernyitkan dahi. “Bentar-bentar, maksudnya diculik gimana?” tanyanya tak mengerti.


Lantas kuceritakan apa yang aku dengar semalam, percakapan Mbah Barjo dan istrinya. Sebelum akhirnya Mela menghilang seperti sekarang.


Bayu menunduk pilu. “Ya, aku memang pernah mendengar perkataan warga. Jika Mbah Barjo itu setiap lima tahun sekali mencari tumbal. Aku sungguh tidak menyangka kalau malam satu suro tahun ini bertepatan waktunya mereka mencari tumbal,” ujarnya lemas.


“Duh, Gusti!” sahut Mang Ule ikut panik.


“Terus sekarang mesti gimana?” tanyaku cemas, “pokoknya gimana pun caranya, kita harus berusaha selamatkan Mela dan Tirta,” lanjutku penuh penekanan.


“Iya, Ran, aku setuju. Eum, sekarang coba kita periksa semua jimat Mbah Barjo. Masih ada di tempatnya atau dibawa.” Sesuai saran Bayu, aku segera menggiring Bayu dan Mang Ule masuk ke kamar Mbah Barjo memeriksa lemari tempat penyimpanan jimat-jimat itu. Semua barang keramat masih ada di tempatnya.


“Kemungkinan, Mbah Barjo hanya membawa satu jimat yang dianggap paling sakti,” ujar Bayu.


“Terus sekarang apa?” tanyaku mulai tidak sabar.


“Tenanglah, Ran. Toh, kan, waktu penumbalannya masih nanti malem. Kita masih punya banyak waktu untuk mencari dan menyelamatkan Mela juga Tirta,” kata Bayu sambil memegang kedua sisi bahu ini. Menguatkan.


“Ngomong memang gampang, Bay. Tapi, bahkan kita nggak tahu mereka dibawa ke mana? Gimana mau menyelamatkan, coba?” Aku mulai geram.


“Coba kamu ingat-ingat! Apa saja yang dikatakan Mbah Barjo dan Mbok Patmi tadi malam?” cecar Bayu.


Aku kemudian mencoba mengingat. “Semalam Mbok Patmi menyebut-nyebut ‘kanjeng pangeran’ kira-kira kamu tahu nggak, siapa yang dimaksud dengan ‘kanjeng pangeran’ itu?” Hanya itu yang aku ingat. Selebihnya sudah lupa, Mbah Barjo dan Mbok Patmi membicarakan apa saja.


Bayu memegangi kening memaksa otaknya untuk berpikir sambil berjalan mondar-mandir ke sana kemari. Ia berusaha keras mengingat siapa itu yang disebut dengan ‘kanjeng pangeran’.


“Argh!” erang Bayu, “otakku blank. Aku juga tidak bisa mengingat apa pun,” lanjutnya.


“Ya sudah, sekarang mending kita lakukan rencana berikutnya saja,” saranku, “tapi apa? Kita mau mulai dari mana?” tanyaku kemudian. Aku benar-benar panik luar biasa.


“Oke, gini aja. Kita bawa keluar semua jimat dan kitab-kitab milik Mbah Barjo lalu kita bakar!” saran Bayu, aku dan Mang Ule mengangguk setuju.


Namun, saat sampai di depan lemari dan tangan kami baru saja mengulur akan mengambil jimat dan kitab di dalamnya, tiba-tiba pintu lemari menutup dengan sendirinya. Sulit dibuka lagi.


Sejurus kemudian tubuh kami bertiga terlontar hingga ke luar kamar. Lagi-lagi pintu kamar Mbah Barjo menutup dengan keras sehingga menimbulkan suara bedebum, dan terkunci dengan sendirinya.


Kami bertiga berdiri sambil meringis menahan sakit di badan. Pasca berbenturan antara satu dengan yang lain. Kompak, dari hidung kami bertiga mengeluarkan cairan kental berwarna merah kehitaman. Mimisan.

__ADS_1


“Tidak ada pilihan lain. Sebaiknya sekarang kita ke luar, dan kita bakar saja rumah ini!” kata Bayu emosi.


Mang Ule menatap Bayu tak percaya. Pun denganku. “Apa Mas Bayu yakin, dengan rencana itu?” tanya Mang Ule kemudian.


“Iya Bay, apa kamu yakin? Apa dengan dibakarnya rumah ini tidak akan berimbas pada Mela dan Tirta?” timpalku. Aku khawatir dengan kondisi Mela dan Tirta. Takut, jika nanti penunggu jimat itu pada ngamuk bagaimana?


“Semoga saja tidak,” ujar Bayu lirih. Kepalanya tertunduk lesu. Detik berikutnya menatapku seolah menunggu persetujuan.


Akhirnya aku mengangguk setuju dengan usul Bayu untuk membakar rumah Mbah Barjo.


“Tunggu Bay!” Bayu pun urung menyulutkan obor ke dinding papan yang sudah diguyur pakai minyak tanah sebelumnya.


“Ada apa lagi, Ran?” sahutnya kesal.


“Apa kamu yakin, ini nggak akan menimbulkan masalah yang lebih besar nantinya?” tanyaku, “apa nggak sebaiknya kita minta bantuan pada warga saja,” lanjutku.


“Warga desa sini kalau menyangkut urusan dengan dukun ini, mereka sudah angkat tangan, Ran. Tidak ada pilihan lain, kita harus bertindak sendiri.” Usai berkata demikian, Bayu langsung menyulutkan obor ke dinding papan. Detik berikutnya Bayu menarik lenganku mengajak menjauh. Mang Ule mengekor.


Api semakin besar dan berkobar begitu hebatnya melahap rumah papan dan beratapkan seng itu. Tidak butuh waktu lama, rumah Mbah Barjo rata dengan tanah. Menyisakan puing-puing yang sudah menjadi arang.


“Bay, apa rencana kita ini sudah bener?” tanyaku sambil menatap bekas rumah Mbah Barjo yang masih mengepulkan asap, dan apinya sudah mulai padam.


“Aku tidak tahu, Ran. Tapi, setidaknya kita sudah berhasil membakar jimat dan kitab milik dukun keparat itu, ‘kan?” sahut Bayu. Aku menangis di pelukannya. Perasaanku sangat kalut.


Kami bertiga lalu duduk di bawah pohon pinus. Mengatur rencana selanjutnya. Sambil menenangkan diri masing-masing.


“Ck, sudah nggak usah mikirin itu. Sekarang yang perlu kita pikirkan adalah mencari keberadaan Mela dan Tirta. Lalu selamatkan mereka. Itu yang penting,” sahut Bayu sambil memegang kedua sisi bahuku. Tatapan kami beradu.


“Benar apa yang dikatakan Mas Bayu, Non.” Mang Ule membenarkan perkataan Bayu, tapi dia sendiri bahkan belum bisa mengendalikan getaran yang mengguncang tubuh rentanya.


“Terus selanjutnya apa?” tanyaku. Detik berikutnya kami bertiga sama-sama berpikir. Mencari jalan keluar dari semua masalah yang menimpa.


“Oke, gini aja. Kita nyoba pakai jalan astral projection. Gimana?” Bayu meminta persetujuanku.


“Boleh, tuh, Bay.” Aku setuju saja.


“Kopral mikel jeksen itu apa, Non?” tanya Mang Ule. Aku dan Bayu menatapnya lekat. Terdengar lucu di telingaku, tapi tidak ada hasrat untuk tertawa.


“Maaf, Non, Mas Bayu! Mamang, kan, memang tidak tahu,” cetusnya. Lantas menundukkan pandangannya.


“Iya, dimaafkan. Tugas Mamang, cukup, awasi sekitar, ya, di saat aku dan Rania melakukan perjalanan di alam lain,” ujar Bayu.


Mang Ule mengangguk nurut. Meski aku tahu, dia sebenarnya masih bingung dengan kalimat yang baru saja didengarnya.


“Ayo, Ran, segera kita mulai!” ajak Bayu. Aku mengangguk. Kami berdua lantas duduk bersila, tangan saling genggam. Sejurus kemudian kami berdua memejamkan mata dan memusatkan pikiran siap untuk merogo sukmo atau astral projection.

__ADS_1


“Aaak!” jerit seseorang membuyarkan konsentrasiku. Pun dengan Bayu, kami berdua membuka mata. Sejurus kemudian kami bertiga menoleh ke arah sumber suara. Rupanya Sekar yang datang. Entah apa tujuannya. “Apa yang terjadi pada rumahku?” lanjutnya. Ia terlihat syok. Aku, Bayu dan Mang Ule saling tatap.


“Ayo, bersiap-siap menghadapi situasi terburuk,” lirih Bayu. Membuat rasa takut menyelimuti hatiku lagi.


Sekar melihat ke arah kami bertiga. Lantas melangkah mendekat. “Katakan! Apa yang terjadi pada rumahku?” cecarnya dengan nada tidak lagi bersahabat. Aku, Bayu dan Mang Ule kompak menggeleng.


“Jangan bohong kalian?” seru Sekar sambil menunjuk ke arah kami bertiga. “Dia siapa?” lanjutnya. Kini perhatian Sekar tertuju pada Bayu.


Bayu langsung menyergap dan meletakkan tangan Sekar di belakang punggung. “Sudah, jangan banyak omong kamu! Sekarang, tunjukkan di mana kedua orang tuamu menyekap Mela?” cecar Bayu. Mang Ule ikut mencengkeram lengan Sekar karena dia terus berontak.


“Aku tidak tahu apa yang kalian maksud!” kilah Sekar.


“Jangan bohong kamu!” hardikku sambil menunjuknya, “aku tahu semuanya. Aku tahu orang tuamu akan menjadikan Mela sebagai tumbal untuk kanjeng pangeran. Katakan! Siapa dan di mana yang disebut sebagai ‘kanjeng pangeran’ itu!” cecarku. Seketika ekspresi wajah Sekar berubah ketakutan.


“Cepat katakan!” bentak Bayu, mulai tidak sabar.


“Aku tidak tahu!” Sekar masih terus berkelit. Membuat emosiku memuncak.


“Jangan bohong!” tandasku.


“Sungguh, aku tidak tahu.” Sekar tetap berkilah dan mengaku tidak tahu. Padahal aku yakin, sebenarnya dia tahu semuanya.


Terpaksa kami harus memberinya sedikit pelajaran. Baru akhirnya Sekar mengaku dan mau menujukkan tempatnya.


Tapi, sepertinya Sekar sengaja mengajak kami berputar-putar dulu demi mengulur waktu.


“Jangan macam-macam kamu, ya! Ayo, cepat tunjukkan jalan yang sebenarnya! Sebentar lagi Magrib ini!” teriak Bayu sambil memiting leher Sekar. Geram.


“I-iya ... iya, aku akan tunjukkan,” timpal Sekar terbata. Detik berikutnya terbatuk akibat cekikan Bayu.


Setelah melintasi jalan setapak yang menanjak sangat terjal dan menurun begitu curam. Di sisi kiri dan kanannya banyak ditumbuhi pepohonan dan semak belukar. Akhirnya sampai di tempat yang agak landai.


Beberapa puluh meter di depan ... di bawah pohon besar serta daunnya yang rindang terdapat sebuah cungkup berbentuk kuno dan usang.


Kami berempat berjalan mendekat. Semakin dekat semakin jelas situasi di bawah pohon itu. Mela diikat di pohon dalam kondisi tidak sadarkan diri. Sedang Mbah Barjo dan Mbok Patmi duduk bersila dimana di depannya terdapat obor yang sangat besar dan beberapa sesajen lainnya. Sepasang suami istri itu terus merapal mantra. Ada Tirta duduk diam di belakang keduanya.


“Ritual penumbalan sebentar lagi selesai dan temanmu tidak akan bisa selamat!” bisik Sekar dengan nada menjengkelkan.


Sial! Ternyata Mbah Barjo sengaja mempercepat waktu ritual penumbalan. Padahal waktu Magrib masih sebentar lagi. Entah apa yang dipikirkannya.


“Kalau itu sampai terjadi, maka kami sepakat akan menghabisimu juga,” tandasku, “ayo, hentikan ritual itu!” titahku kemudian. Sekar menolak dengan gelengan.


“Baiklah. Maka bersiaplah menemui ajalmu!” ancam Bayu sambil kembali memiting leher Sekar.


“Aaakh! Bap-Bap-aak!” teriak Sekar tertahan oleh cekikan Bayu. Mbah Barjo dan Mbok Patmi pun menghentikan ritualnya. Lantas menoleh ke arah kami. Pun dengan Tirta.

__ADS_1


“Kurangajar!” seru Mbah Barjo. Pria paruh baya itu lantas berdiri dan menatap kami dengan tatapan murka.


__ADS_2