TUMBAL KETUJUH

TUMBAL KETUJUH
Rencana B


__ADS_3

Aku menoleh ke sana kemari mencari tempat sembunyi. Di ujung lorong ada lemari kecil, kuputuskan untuk sembunyi di sebelahnya. Dari sini pintu ruang yang misterius tadi masih terlihat.


Tak lama kemudian Mbah Barjo benaran datang. Aku menyembulkan kepalaku sedikit demi bisa melihat gerak-geriknya. Tangan Mbah Barjo terulur ke atas pintu meraih sesuatu. Rupanya kunci pintu itu diletakkan di atas ventilasi. Detik berikutnya membuka gemboknya dan masuk.


Aku penasaran dengan apa yang dilakukan Mbah Barjo di dalam sana. Kucoba jalan perlahan mendekati pintu dan mengintip. Kebetulan pintu tidak ditutup rapat oleh dukun itu. Aroma kemenyan dan wangi entah minyak apa menguar saat aku sampai di depan pintu yang terbuka sedikit.


Di dalam ruangan berukuran kisaran 3X3 itu terdapat dipan di atasnya tersaji aneka sesajen di tengahnya terdapat lentera. Ada macam-macam bunga di atas sebuah nampan bundar, rokok, telur, dan entah apa lagi. Ada banyak, tapi mataku tidak bisa mendeteksi semuanya.


Mbah Barjo melakukan ritual di dalam sana. Kemudian ia meraih layah, piring ceper yang terbuat dari tanah dimana di atasnya terdapat arang yang menyala. Ditiup beberapa kali lalu membakar sesuatu di atas arang tersebut. Dari aromanya yang dibakar sepertinya kemenyan.


Dukun itu lalu duduk bersila di sisi dipan yang berisi aneka sajen. Lantas menangkupkan tangannya dan mulutnya mulai komat-kamit baca mantra. Setelah sebelumnya mengoleskan sesuatu pada beberapa kerisnya yang kini ditaruh di atas nampan yang tadi berisi aneka bunga.


Kriyeeet!


Pintu terbuka melebar dengan sendirinya, aku bergegas sembunyi ke balik dinding papan. Detik berikutnya pintu tertutup dengan sendirinya sangat keras sehingga menimbulkan suara bedebum. Aku nyaris saja menjerit karena kaget. Namun, anehnya penghuni rumah ini seolah sama sekali tidak terganggu dengan kebisingan ini.


Suasananya semakin tidak nyaman. Panas dan pengap. Aku memilih kembali ke kamar. Terpenting sudah tahu di mana letak kunci ruangan itu.


Baru saja aku mau berbaring di samping Mela, telinga ini menangkap suara mengerikan seperti cekikik lalu auman kemudian jeritan dan rintihan yang sangat menyayat hati. Seolah menanggung sakit yang teramat sangat. Detik berikutnya berganti suara tangis yang memilukan. Aku memilih mengabaikannya dan sembunyi di balik selimut.


***

__ADS_1


Pagi telah tiba. Aku, Mela dan Mang Ule akan menjalankan rencana B. Salah satu di antara kami akan ada yang berpura-pura sakit demi bisa mengulur waktu. Semoga saja rencana ini berhasil.


Usai mandi di sendang yang ada di belakang rumah Mbah Barjo. Aku dan Mela membantu Mbok Patmi memasak di dapur. Masak menu sarapan. Sayur kacang panjang yang tadi dipetik Tirta dari kebun yang terletak lumayan jauh katanya.


Setelah masakan siap saji. Kami menikmati sarapan bersama di ruang tamu, di atas tikar yang menghampar.


“Kalau memang kalian masih capek, kalian boleh menginap di sini beberapa malam lagi. Dan kalau kalian mau berwisata ke air terjun putri biar diantar oleh Sekar dan Tirta naik kendaraan sayur yang biasa melintas di jalan dekat kuburan sana,” ujar Mbok Patmi mendadak ramah pada kami. Pun dengan Mbah Barjo, yang semula dingin pada kami kini sedikit ramah.


Ada apa ini?


Tapi, ada untungnya juga. Jadi, kami bertiga tidak perlu melancarkan rencana B.


“Dasar anak kota. Ringkih!” olok Sekar lirih, tapi terdengar jelas di telinga ini. Mela kesal dibuatnya, kugenggam tangannya memberinya isyarat agar jangan mengeluarkan kata sepatah pun.


Usai sarapan, Mbok Patmi dan Mbah Barjo pamit untuk pergi ke ladang. Aku dan yang lain mengiyakan.


“Kalau kalian butuh sesuatu minta saja pada Sekar!” titah Mbok Patmi. Aku mengangguk lagi.


***


Kini tinggallah aku, Mela, Mang Ule, Tirta dan Sekar yang selalu berduaan kayak amplop dan perangko. Menyebalkan!

__ADS_1


Mela menarikku ke kamar. “Sekarang apa rencana selanjutnya?” tanyanya lirih.


Aku mondar-mandir memaksa otakku berpikir. Akhirnya tercetuslah ide. “Kamu sama Mang Ule coba alihkan perhatian Sekar. Ajak keliling atau ke mana gitu. Supaya aku ada waktu untuk melenyapkan jimat Mbah Barjo. Beri aku waktu sekitar setengah jam.” Mela mengangguk. Lantas bergegas ke teras menghampiri Sekar dan Tirta.


Kudengar Mela meminta antar untuk berkeliling kebun pinus. Setelah sempat menolak, akhirnya Sekar menuruti permintaan Mela.


“Temanmu satunya tidak ikut?” Kudengar Sekar bertanya pada Mela.


“Tidak. Dia lututnya masih kaku,” jawab Mela. “Ayo, Mang! Mang Ule ikut, nanti jadi fotografernya!”


Mereka berempat akhirnya pergi berkeliling. Kini waktunya beraksi. Aku pergi ke ruang ritual. Di dalam cuma ada beberapa keris saja. Sedangkan kata Dian jimat Mbah Barjo bukan hanya keris saja, tapi banyak.


Aku yakin jimat itu disimpan di kamarnya. Aku bergegas masuk ke kamar Mbah Barjo dan memeriksa dalam lemari. Kutemukan buku kumpulan mantra dan beberapa jimat lagi seperti batu merah delima dan entah apa lagi namanya. Aku tidak tahu, yang pasti bentuknya aneh-aneh.


Saat aku berusaha membawa buku mantra keluar kamar. Kakiku terasa berat seolah ada yang menahannya. Aku bahkan tidak bisa melangkahkan kakiku sama sekali.


Semakin aku berusaha, semakin berat rasanya kakiku dan semakin aku kehilangan tenaga. Lemas.


Lemari yang tadi sudah kututup terbuka dengan sendirinya. Buku dan jimat yang sudah ada di tangan terpental ke tempat semula. Detik berikutnya pintu kamar yang terbuka, dan tubuhku seolah dihempaskan keluar. Punggungku menabrak dinding papan sangat keras.


Kurasakan ada yang mengalir dari dalam lubang hidung. Kuraba dengan telunjuk, cairan warna hitam pekat. Pandanganku semakin buram dan gelap.

__ADS_1


__ADS_2