TUMBAL KETUJUH

TUMBAL KETUJUH
Sesajen


__ADS_3

Aku dan Tirta berjalan menyusuri tepi pantai dengan bertelanjang kaki. Tangan kami tertaut. Tak sedetik pun terlepas. Sesekali kami berhenti untuk berfoto. Kemudian lanjut jalan sambil menikmati udara yang sejuk dan aroma air laut yang menenangkan. Langkah kami terhenti saat melihat sesajen yang diletakkan di bawah sebuah pohon di tepi pantai. Tepatnya di sebelah utara penginapan kami.


“Sesajen ini mengingatkan aku pada masa SMA dulu,” celetukku.


“Itu sudah lama berlalu.” Tirta tampak tidak suka aku mengajaknya bernostalgia. Di desa itu selain ada kenangan manis kami berdua, dia juga punya kenangan pahit. Aku berusaha memakluminya dan memilih mengganti topik.


“Tapi, siapa ya, yang pasang sesajen di situ dan apa tujuannya?” Aku penasaran.


“Sudahlah. Itu bukan urusan kita.” Tirta memilih masa bodoh.


“Oya, katanya kamu mau menceritakan tentang apa yang terjadi padaku semalam?” todongku.


“Memangnya masih perlu diceritakan, ya?”


“Perlu. Aku harus tahu apa yang terjadi,” rengekku penasaran.


Tirta pun akhirnya bercerita. Ternyata semalam aku kerasukan arwah seorang wanita.


“Ada amarah dan dendam dari sorot mata wanita yang merasukimu. Dia terus mencari seorang pria yang bernama Hendarto dan Rudi,” imbuhnya. Mendadak teringat dengan apa yang aku lihat semalam. Apa wanita yang merasuki tubuhku adalah ... Maya?


****


Tirta menyuruhku bersiap. Sore ini kami akan menikmati sunset di atas kapal. Bersama beberapa wisatawan lainnya.


Kami pun menuju kapal bersandar. Kapal pesiar ukuran sedang. Beberapa wisatawan lain sudah ada di atas kapal. Sebagian lagi masih menaiki tangga kapal bersamaku dan Tirta.


Kami berdua berdiri di deck samping. Pegangan pada pagar pembatas dan melihat pemandangan laut yang membentang di depan sana. Tak lupa kami berfoto untuk kenangan.


“Kita ke deck atas, yuk!”


Aku mengangguki ajakan suamiku. Dia menggandeng tanganku dan kami pun menaiki tangga menuju deck atas. Kapal pun mulai melaju. Angin sepoi-sepoi mengibarkan rambutku yang tergerai. Aku merentangkan tangan dan memejamkan mata. Menikmati suasana nan syahdu ini. Aku tersentak saat tangan suamiku melingkar di pinggang ini.


“Ayang, malu dilihatin orang,” lirihku.


“Kenapa malu? Kita kan sudah sah. Sans aja kali.” Dia masa bodoh dan tetap melingkarkan tangannya di pinggang ini. Layaknya adegan di film Titanic.


Setelah puas berdiri dan saling peluk sambil menikmati angin sepoi-sepoi, kami duduk bersisian. Tangan kami saling genggam. Kusadarkan kepalaku di sisi bahunya.

__ADS_1


Aku bersyukur sekali. Setelah melewati perjalanan yang sangat panjang, akhirnya sampai di fase ini. Cinta akan menemukan jalannya. Ya, itu benar. Aku sudah mengalaminya.


“Ayang mau kopi?” tawarnya. Aku menarik diri dari sisinya, lalu menatapnya dan mata kami bertemu.


“Boleh,” jawabku setuju.


“Oke, Ayang tunggu sini, ya. Biar aku ke dalam beli kopi.” Aku mengangguk setuju. Dia pun pergi meninggalkan aku yang duduk sendirian memeluk lutut.


“Ah!” Aku terpekik kaget saat tiba-tiba ada yang menutup mata ini dari belakang. Aku raba tangan yang menutupi mata ini. Dari tekstur kulit dan bentuk jarinya, jelas ini bukan tangan Tirta.


“Siapa ini?” tanyaku saat tak kunjung dapat menebak.


“Coba tebak!” balasnya dengan suara yang dibuat-buat.


“Aaa, siapa, sih? Aku lagi males main tebak-tebakan,” ketusku.


“Baaa!” Akhirnya dia menunjukkan jati dirinya.


“Mela!” seruku setelah sempat ternganga beberapa detik.


“Yaaa. Ini aku sahabatmu.” Dia merentangkan tangan dan aku langsung berdiri menghambur ke pelukannya, sedangkan Bayu dan Tirta terdiam menyaksikan drama kami.


“Btw, kok kalian di sini juga?” tanyaku tak kuasa lagi membendung rasa penasaran.


“Aku juga baru tahu kalau kamu di sini juga setelah tidak sengaja papasan sama Tirta,” jelas Mela, dan Bayu membenarkan itu.


“Oke, jadi ceritanya nggak cuman nikahnya aja yang berjamaah, tetapi sekarang bulan madunya berjamaah lagi, nih?” celotehku. Semua pun terbahak, lalu kami menikmati kopi dan cemilan diselingi canda tawa. Menunggu senja tiba.


****


Dan pada akhirnya senja mengalah pada kegelapan malam. Matahari telah sembunyi di peraduannya. Menyisakan remang petang. Kami masuk ke dalam kapal, mencari makanan ringan pengganjal perut yang keroncongan. Cuma nemu roti, tak apa setidaknya bisa menunda lapar sedikit.


Kapal telah kembali bersandar di dermaga dekat penginapan. Kami berempat turun dan langsung mencari tempat yang menyediakan menu makan malam. Kami belum berpisah, masih bersama-sama makan di satu meja yang sama.


Selesai makan menunggu makanan yang di kerongkongan turun ke lambung, kami berbincang sambil menikmati minuman hangat lagi. Tak lupa kami memeriksa hasil jepretan kamera saat di atas kapal tadi. Menghapus beberapa yang jelek dan menyisakan yang bagus saja. Supaya tak memenuhi ruang memori.


“Oya, kamar penginapanmu nomor berapa?” tanyaku.

__ADS_1


“Kamar Tulip nomor 36,” jawab Mela. Sontak aku dan suamiku saling tatap. Detik kemudian kami terbahak. Mela dan Bayu terlihat bingung dengan tingkah kami.


“Kenapa, sih?” tanya Mela ingin tahu.


“Gimana aku sama Tirta nggak ngakak coba? Tanpa ada unsur kesengajaan aja kamar kita dempetan.”


“Hah?!” Mela terperangah tak percaya.


“Fucking!” umpat Bayu.


“Awas ya, ntar jangan berisik!” Suamiku mewanti-wanti.


“Yeee, kita mah, mode silent. Kalian kali, yang mode bar-bar,” ejek Mela. Aku dan Tirta saling pandang mendadak pengen cepet-cepet balik ke kamar. Eh!


“Kamar itu kedap suara. Jadi aman mau teriak-teriak juga,” sahut Bayu.


“Yodah, ntar teriak aja yang kenceng, Mel!” titahku.


“Aku mah udah biasa kali. Kan, udah bukan malam pertama lagi. Udah malam kesekian,” ujar Mela sombong.


Ah, berarti tinggal aku doang nih, yang masih newbie. “Berarti aku harus sungkem nih, sama senior,” celetukku.


Sontak mata Bayu dan Mela kompak membidikku, kemudian beralih ke arah suamiku berada. “Kalian ... belum unboxing?” tanya Bayu kepo. Telunjuknya mengarah ke aku, kemudian ke Tirta.


“Kita mah, diirit-irit. Emang kalian pemborosan!” cibir suamiku. Dia lantas menggamit lenganku menuju kamar meninggalkan Mela dan Bayu yang masih betah di tempatnya.


****


Lagi enak tidur, suamiku mengguncang bahu ini. Aku menyahuti dengan gumaman. Mata ini masih terpejam. Rasanya bagaikan ada lemnya.


“Yang, kita lanjutin yang kayak kemarin itu, yuk! Part kedua,” katanya. Suaranya terdengar agak serak. Aku membuka mata dan langsung mendapati wajahnya di hadapan. Tatapan matanya penuh harap.


“Ngantuk lo, Ay. Lagian sisa kemarin aja masih sakit,” rengekku memelas. Tetapi, usahaku sia-sia. Akhirnya pertahananku runtuh juga. Aku tak bisa menolak kemauannya.


Lagi nanggung, ponsel berdering. Tirta memintaku mengangkatnya, sedang dia tetap pada posisinya. Aku menjawab telepon yang ternyata dari Mela.


“Apa kata Mela?” tanya lelakiku sambil istirahat sejenak dari aktivitasnya.

__ADS_1


“Mela ngajak mancing ke laut naik kapal gitu. Kita disuruh cepet siap-siap kalau mau ikut,” terangku. Dia pun bergegas menyelesaikan misinya, lalu kami bersiap untuk ikut pergi memancing. Pasti akan seru.


*****


__ADS_2