TUMBAL KETUJUH

TUMBAL KETUJUH
Hantu Introvert


__ADS_3

“Tenang, aku baik kok. Aku hanya ingin membantu. Jika boleh, aku ingin mengantar kalian ke portal,” ujar wanita itu, “Oya, aku Rani.” Dia lanjut memperkenalkan diri.


“Aku Rania.”


“Aku Mela.”


“A-ak-aku Ses-Sania.”


“Aku yakin, tawaranmu itu pasti tidak gratis, kan?” tebakku.


Rani tersenyum. “Ayolah, mana ada yang gratis. Semua harus ada imbal baliknya.”


“Kamu mau apa sebagai imbalannya?” todong Mela.


“Tumbal? Teman?” tebakku.


Rani menggeleng. “Aku tidak butuh itu semua ....”


“Lalu?” sahut Mela.


“Aku ini introvert. Sendiri dalam keheningan adalah hal paling menenangkan. Aku tidak suka diganggu atau diusik. Makanya kalau ada yang berisik di sini suka aku usir dengan caraku.” Rani malah curhat.


“Jadi apa yang kamu minta sebagai imbalan?” tanya Mela.


“Sabarlah, belajarlah jadi pendengar yang baik,” ujar Rani sambil menatap Mela jengkel.


Mela menangkupkan tangannya. “Oke oke, maaf.”


“Oke, lanjutin ceritanya!” titahku.


“Bisa dipercepat tidak durasi ceritanya. Sumpah ini aku lemes banget,” lirih Sania yang tampak sudah nyaris pingsan. Wajah Sania pucat nyaris sama dengan wajah Rani. Aku bergegas memapahnya.


“Seharusnya dia tidak usah diajak. Karena hanya akan merepotkan saja!” Rani komplain dengan keberadaan Sania. Mela sangat sepakat dengan pendapat Rani.


“Kalau bukan karena mendiang suamiku, aku juga ogah ikutan acara konyol seperti ini!” sungut Sania.


“San, sabarlah. Hemat energi. Ingat, energimu tinggal satu persen itu kayaknya.” Kucoba menenangkannya.


“Oke, ayolah Ran, cepatlah lanjutkan ceritamu. Kita tidak banyak waktu di sini,” kataku memohon. Aku mulai curiga, jangan-jangan dia hantu baik yang dipengaruhi oleh hantu jahat dan sedang berusaha menahan kami di sini sampai para setan terkutuk itu datang kemari.


“Oke. Jadi gini, aku juga mulanya sama akan melakukan perjalanan ke sebuah desa yang ada di ujung kulon. Bersama kekasihku. Tapi, pas sampai di daerah sini, mobil kami tersesat dan kami terpisah, lalu kami tidak pernah ketemu lagi sampai sekarang ....” Rani menghentikan ceritanya, ada kesedihan dari sorot matanya.


“Lalu? Kamu ingin agar kami mencarikan pacarmu itu?” tebak Mela.


Rani menggeleng. “Bukan.”


“Oh, ayolah, langsung saja ke intinya. Jangan bertele-tele!” Mela mulai geram. Sepertinya dia juga mulai lemas karena energinya mulai menipis akibat mantra walik tadi.


“Aku mau mengantar kalian ke portal ....”


“Iya, aku tahu! Lalu apa imbalan yang kamu minta?!” sela Mela geram.


“Aku tidak jadi menolong kalian kalau kamu tidak bisa mengendalikan emosi. Itu bisa mempercepat menguras energimu. Bijaklah dalam menggunakan energi dan pandai-pandailah mengelola emosi.” Rani menasihati. Mela diam menghela napas. Aku tahu sahabatku itu sedang berusaha meredam emosinya. Aku menahan tawa. Entah mengapa mendadak pengen tertawa. Sementara Sania hanya diam menyimak. Sepertinya dia sudah tidak punya tenaga untuk menimbrung.


“Aku mau kalian mengumpulkan tulang belulangku yang ada di sebelah sana dan menyerahkan ke keluargaku supaya bisa dikuburkan secara layak.” Akhirnya Rani mengutarakan keinginannya.

__ADS_1


“Argh! Dari tadi kek gitu, gak usah bertele-tele.” Mela emosional lagi.


“Oke, ayo tunjukkan letaknya di mana,” ajakku.


“Tidak sekarang, Rania. Karena tata letak hutan ini akan sangat berbeda dengan hutan yang ada dalam penglihatanmu saat kamu sadar nanti.”


“Terus?” tanyaku tak mengerti.


“Aku akan ikut ke alammu dan menunjukkannya setelah kamu kembali ke dalam ragamu nanti,” ujar Rani.


“Oke,” jawabku ragu. Dalam hati ini mulai meragukan niat Rani. Aku tidak tahu apa benar niatnya hanya sebatas itu, atau memiliki tujuan lain.


“Ya sudah, ayo tunjukkan pada kami di mana letak portal itu,” ujar Mela.


“Oke, mari ikuti saya!” ajak Rani. Mela dan Sania langsung antusias mengekor. Sedang aku masih ada sedikit keraguan. Namun, pada akhirnya menyusul juga setelah tertinggal beberapa langkah di belakang.


Kami terdiam setelah sampai di portal. Ternyata dari tempat kami berbincang panjang lebar tadi hanya berjarak kisaran dua puluh meter. Kami pun langsung bergandengan tangan dan merapal mantra.


Mantra Meraga Sukma


Cahaya putih yang terang benderang


Jemput aku dan bawa aku pulang


Sukma badan nyawa


Menyatulah kembali dalam satu raga


Rohku serupa dengan ragaku


Rupaku ya rupaku


Ragaku rumah bagi rohku


Tidak tersesat dan tidak pernah salah tempat


Pulang pulang pulang merasuk ke badan ragaku


Seusai kami kompak merapal mantra itu, tubuh kami seperti terguncang hebat melintasi lorong yang panjang. Hingga akhirnya terasa seperti membentur sesuatu. Kemudian semua menjadi senyap serta tenang. Aku membuka mata duluan, detik kemudian disusul Mela.


“Oh, syukurlah akhirnya kalian kembali!” seru Bayu dan langsung memeluk hangat Mela. Sementara Sania masih belum sadar juga. Lalu, di mana suamiku? Kenapa tidak menyambutku seperti Bayu menyambut istrinya.


Baru saja aku hendak bertanya perihal keberadaan suamiku, Sania melenguh, lalu perlahan membuka matanya dan sadarkan diri. Awalnya seperti orang linglung, tetapi lama kelamaan kesadarannya telah kembali sepenuhnya.


“Kepalaku pusing dan berat sekali rasanya. Perutku juga mual,” rintih Sania, satu tangannya memegangi kepala, tangan lainya memegangi perut.


“Itu hal yang wajar seringkali terjadi. Ketika orang awam sehabis melakukan perjalanan astral maka begitulah efeknya. Kamu bawa istirahat dulu, nanti juga sembuh,” kataku menenangkannya.


“Aku mau muntah,” rengek Sania sambil beranjak menjauh beberapa langkah dengan langkah sempoyongan, lalu dia membungkuk dan muntah-muntah di dekat pohon jati.


“Di mana Tirta?” tanyaku pada Bayu.


“Dia ....”


“Dia apa?” selaku tak sabar.

__ADS_1


“Dia pergi menyusul kalian ke alam astral. Beberapa saat sebelum kalian kembali.”


“Apa?!” seruku dan Mela secara bersamaan. Sementara Sania masih muntah-muntah di dekat pohon jati sana.


“Kenapa kamu tidak menahannya?” tanyaku geram.


“Aku sudah melakukannya, tapi Tirta bersikeras,” terang Bayu penuh penegasan.


“Ya, aku tahu bagaimana dia,” kataku lirih, lalu berusaha menghela napas panjang dan mengembuskannya perlahan guna mengusir kepanikan dalam diri. Karena aku tahu, panik hanya akan membuatku mengambil keputusan yang salah.


“Ya, kamu pasti lebih tahu dia. Dia tidak pernah bisa tenang melihatmu terbujur beberapa saat, apa lagi sampai beberapa jam seperti tadi,” ujar Bayu.


“Terus sekarang gimana?” tanya Mela.


“Aku akan menyusulnya,” kataku penuh tekat.


“Jangan!” larang Mela dan Bayu serempak.


“Aku tidak bisa membiarkan suamiku berjalan-jalan sendirian di hutan ilusi itu. Itu terlalu berbahaya untuknya.”


“Energimu tidak cukup kuat untuk kembali melakukan astral projection, Ran.” Mela melarang kuat diiringi dengan cengkeraman di lengan ini.


“Istriku benar, Ran. Energimu belum pulih. Akan sangat berbahaya kalau memaksa kembali ke alam sebelah.”


“Suamiku pasti dalam bahaya di sana. Aku tidak mungkin diam saja di sini!” Sekuat apapun aku berusaha tenang, tetap saja rasa panik datang menyerang saat membayangkan kemungkinan terburuk yang terjadi pada suamiku di alam sebelah. Aku yakin, nenek lampir itu pasti murka dan bakal menyerang tanpa ampun manusia yang memasuki wilayahnya setelah aku dan Mela mengelabuhinya tadi.


“Di mana raga suamiku?”


“Di dalam mobil,” jawab Bayu. Seketika, kepalaku langsung menoleh ke arah mobil teronggok. Detik kemudian, kaki ini melangkah mendekat dan membuka pintunya. Raga suamiku terbaring di jok tengah. Matanya terpejam rapat. Mela dan Bayu mengekor, memastikan kondisi suamiku dalam keadaan baik.


Tak berselang lama, Sania yang baru saja menyelesaikan membuang hajat datang mendekat. “Apa yang terjadi?” tanyanya.


Belum sempat kami menjawab pertanyaan Sania, raga suamiku berguncang hebat. Kemudian kejang-kejang. Aku panik luar biasa. Karena dapat dipastikan, di sana dia diserang. Kini, tidak hanya kejang-kejang, dari hidungnya keluar darah segar.


Di tengah kepanikan dan keributan kami perihal siapa yang akan menyusul suamiku. Bayu menawarkan diri. Ya, memang dialah yang paling mungkin untuk menyusul karena energinya masih full, akan tetapi bagaimana dengan kami di sini? Kami di sini juga masih butuh penjaga. Aku, Mela dan Sania masih lemas, bagaimana jika ada energi negatif yang datang menyerang. Kalau sampai kami tidak bisa mengatasi, maka akan berakibat fatal pada raga suamiku. Karena banyak setan yang tergiur untuk membajak raga kosong seperti raga suamiku ini. Terlebih di hutan ini. Bahkan sekarang, aku mulai merasakan energi negatif itu makin mendekat.


“Tidak, Bay, kami juga butuh kamu di sini,” kataku. Suaraku gemetar. Aku kehilangan kendali atas diriku sendiri. Panik dan takut menguasaiku.


“Apa yang terjadi?” Sania masih saja melontarkan tanya yang sama.


“Kau bisa diam saja tidak?!” Aku benar-benar kehilangan kendali dan membentak sahabatku itu hingga menangis.


“Seharusnya aku memang tidak perlu ikut. Aku tidak mengerti kenapa Aditya masih saja menyusahkanku bahkan setelah dia mati!” teriak Sania sekuat tenaga. Emosinya meluap-luap. Terserah padanya, aku tidak peduli lagi. Aku tidak sanggup berbagi ketenangan. Bagaimana aku akan membaginya, sedangkan ketenanganku sendiri mungkin tinggal setipis tisu dibagi dua.


Aku mencoba memanggil suamiku untuk kembali, tapi sepertinya suamiku telah tertawan di alam sana. Raganya yang tadi masih kejang-kejang, kini terdiam. Lemas. Aku berusaha membangunkannya, tapi percuma.


“Aku akan menyusulnya!” ujarku tak kuasa.


“Tidak, Ran, itu terlalu bahaya! Tenagamu belum pulih.” Mela melarang.


“Nggak bisa, Mel. Aku nggak bisa diem aja lihat suamiku dalam bahaya. Aku akan nyusul dia.”


“Biar aku saja!” Bayu menawarkan diri dan tanpa pikir panjang langsung bersiap hendak meraga sukma. Mela antara rela dan tidak, tapi terpaksa merelakan suaminya pergi demi menyelamatkan suamiku.


“Hentikan! Biar aku saja yang menjemput!” Bayu yang tadinya sudah memejamkan mata kembali melek. Kami pun serempak melihat ke arah pemilik suara.

__ADS_1


__ADS_2