
“Tolong aku, Rania. Tolooong!” pinta penampakan Aditya, satu tangannya mengulur penuh harap. Tatapan matanya penuh kesedihan dan kesakitan.
“Tolong apa? Apa yang bisa aku bantu?”
Penampakan Aditya melesat secepat kilat mendekat. Dan kini sudah berada di depanku. Hanya tersekat pagar besi yang menjulang tinggi. Aku terpaku dan mulutku serasa terkunci. Badan ini bergetar hebat saat tangan Aditya yang pucat dan dingin menyentuh kedua pundak ini melewati celah jeruji pagar besi. Kemudian semua menjadi gelap, lalu saat aku membuka mata secara perlahan. Aku sudah berada di tempat lain. Tempat yang asing. Tepatnya di sebuah ruangan yang sangat pengap dan gelap. Lampu bohlam bercahaya kemerahan berkedip-kedip tidak beraturan.
Aku mencoba memonitor sekitar mengandalkan cahaya lampu yang berkedip. Di sudut ruangan aku melihat sebuah dipan dan di atasnya terdapat sebuah peti. Perlahan aku melangkah mendekat. Baru saja tanganku mengulur hendak membuka guna memastikan isinya apa, peti itu sudah terbuka dengan sendirinya dan berhasil membuatku berjingkat kaget. Aku makin terkaget-kaget saat isinya terlihat jelas. Setelah kupastikan berulang kali, memang benar, itu jasad Aditya. Tetapi, kenapa bisa di sini? Di mana ini? Siapa yang membawa kemari dan apa tujuannya?
Suara pintu berderit terbuka membuat aku terperanjat dan berbalik ke arah sumber suara. Pintu ruangan ini dibuka oleh seorang wanita. Entah siapa dia. Aku tidak mengenalnya. Wanita muda itu menekan sakelar beberapa kali dan lampu pun menyala dengan baik. Detik kemudian, wanita tua berambut putih tergerai masuk. Bibirnya merah seperti habis menyirih, lalu saat menyeringai giginya terlihat legam.
“Kamu sudah siap?” Wanita tua itu bertanya dengan nada suara serak menyeramkan.
“Siap, Mbah.” Wanita muda itu menjawab dengan yakin. Aku masih belum mengerti ke mana arah pembicaraan mereka.
“Satu hal yang harus kamu ingat, ritual ini sangat berbahaya. Jika terjadi kesalahan sedikit saja, maka akan fatal akibatnya, Nduk.”
“Iya, saya sudah tahu dan siap menanggung konsekuensinya, Mbah.” Lagi, wanita muda itu menjawab dengan penuh keyakinan.
“Baiklah jika tekadmu sudah bulat. Mari kita mulai ritual permulaan.”
Ritual?
Ritual apa?
Wanita muda itu mengangguk sepakat dengan ajakan nenek berbaju kebaya dengan setelan kain itu. Lantas keduanya mulai sibuk menyiapkan semacam perlengkapan ritual. Ada kembang tujuh rupa, dupa, lilin dan sebuah kitab. Dahi ini mengernyit setelah melihat kitab itu. Aku seperti pernah melihat buku itu sebelumnya, tapi entah di mana dan kapan tepatnya. Aku lupa.
Kehadiran Aditya yang tiba-tiba muncul di sebelah kananku, membuat tubuhku sedikit berjingkat kaget.
“Maaf, sudah membuatmu terkejut,” ucapnya dengan ekspresi datar.
__ADS_1
“Sudah biasa.”
“Kalau sudah biasa harusnya tidak perlu kaget.”
“Oh, ayolah, aku sedang tidak berminat bercanda dengan hantu!” ketusku.
Aditya tersenyum samar. Tatapan matanya tertuju pada peti yang berisi jasadnya dan kedua wanita yang tengah melakukan sebuah ritual.
“Sebenarnya apa tujuanmu membawaku kemari? Dan siapa mereka?” tanyaku tak sabar.
“Itu Ratih ....”
“Oh, dia rupanya wanita yang berhasil membuatmu berpaling dari Sania. Lalu, kau mau aku melakukan apa? To the point saja. Aku tidak banyak waktu melayani hantu sepertimu.”
“Aku tahu, kamu masih kesal padaku atas apa yang terjadi pada sahabatmu Sania. Ketahuilah, bukan inginku berpaling dari Sania. Itu semua terjadi di luar kendaliku.” Aditya lantas menunduk sedih.
“Terserah mau percaya atau tidak. Tapi, Ratih memaksaku berpaling dari Sania dengan kleniknya.”
Aku terdiam setelah mendengar penjelasan Aditya kali ini. “Lalu, apa yang harus aku lakukan sekarang?”
“Ratih masih belum rela aku mati. Dia akan membangkitkan aku dari kematian ....”
“Hah?! Gila!” selaku tak percaya dan seketika ingatanku kembali pada tragedi Tania.
“Berarti dia akan mencari tumbal?” tanyaku kemudian. Namun, Aditya hanya menggeleng lesu.
“Aku tidak tahu kalau soal tumbal itu, tetapi yang jelas, Ratih akan melakukan ritual selama bulan Suro nanti di setiap tanggal ganjil dimulai dari tanggal satu sampai tanggal lima belas. Totalnya, mereka akan melakukan ritual sebanyak delapan kali untuk membangkitkan aku secara sempurna.”
“Lalu kenapa kau minta bantuanku? Bukankah bagus jika kau nanti bangkit dan bisa bersamanya lagi.”
__ADS_1
“Aku tidak mau bangkit lagi. Sudah cukup sekali saja aku menyakiti hati Sania. Kalaupun nanti aku berhasil bangkit, aku akan menjadi pribadi yang berbeda. Mungkin aku akan lupa dengan kehidupanku yang sebelumnya dan aku tidak mau hidup lagi. Aku tidak mau hidup kalau di kehidupanku berikutnya lupa pada Sania. Jika masih mungkin diberi kesempatan hidup lagi, tujuanku Cuma satu, yaitu memperbaiki hubungan dengan Sania. Selain itu, maka lebih baik aku mati saja.”
“Bulshit! Dan ya, sekarang kau memang sudah mati. Memang lebih baik begitu. Daripada hidup Cuma bikin sakit hatinya Sania saja!” Jujur saja, aku masih kesal pada Aditya. Meski mungkin penuturannya tentang perbuatan Ratih yang memaksanya berpaling dari Sania dengan kleniknya. Tetap saja hatiku sakit mengingat penderitaan sahabatku, Sania.
“Bukan Cuma itu alasan aku meminta bantuanmu. Banyak ruh lain yang ingin mencuri kesempatan untuk menempati jasadku. Tidak hanya satu, tapi ribuan bahkan jutaan. Tidak hanya dari kalangan ruh, tapi ada banyak iblis juga yang menginginkan tinggal di jasad itu. Jika sampai itu terjadi makan akan ada malapetaka besar.”
“Lalu apa yang harus aku lakukan?” tanyaku agak geram.
“Gagalkan ritual pembangkitan itu. Curi jasadku dan kuburkan di tempat yang jauh dari jangkauan Ratih.”
“Caranya?”
“Soal bagaimana caranya, aku yakin kamu lebih tahu.”
“Oh, ayolah. Kau menambah pekerjaanku saja!” dumelku.
“Bukankah bulan Suro masih Seminggu lagi, lalu kenapa Ratih sudah memulai ritualnya?” imbuhku penasaran.
“Itu hanya ritual merawat jasadku saja. Dia memantrai dan memberikan balsem pada jasadku agar tidak busuk.”
“Oh.”
“Maaf, aku tidak bisa berlama-lama di sini. Aku harus pergi. Untuk melakukan misimu kali ini, kamu harus melibatkan Sania.”
“Tap ....” Belum selesai aku bicara, Aditya sudah menghilang. Terpaksa aku kembali menggunakan mantra yang diajarkan oleh Madam Carla. Saat membuka mata, aku sudah ada di dalam kamar. Ada Mela dan Bayu juga. Namun, kepalaku masih terasa pusing mau menyapa mereka semua. Semua tampak lega saat aku sadar. Terutama suamiku, dia langsung menghadiahi kecupan hangat di kening ini dan digenggamnya tanganku. Puji syukur terus terucap ke hadirat Tuhan.
“Sebaiknya urungkan niatmu! Jangan ikut campur dengan urusan tuanku!” Ada suara melengking yang terdengar memekakkan telinga. Hanya suara tanpa wujud. Aku meringis menutup kedua telinga dengan telapak tangan. Suara itu membuat telingaku terasa sangat sakit.
“Kenapa? Apa yang terjadi?” Suamiku panik. Dia makin panik saat tanganku penuh darah usai kugunakan menutupi kedua telinga.
__ADS_1