TUMBAL KETUJUH

TUMBAL KETUJUH
Kecelakaan


__ADS_3

Aku bergegas bersiap. Kemudian suamiku mengeluarkan mobil dan kami pergi mencari keberadaan Mela. Tentunya setelah pamit sama Mama dan Ayah. Mereka mulanya mau ikut, tapi aku larang. Biar kami pastikan dulu kebenarannya. Kami menyusuri jalanan yang lengang. Ini sudah lewat tengah malam, kondisi jalanan sudah sepi. Hanya satu atau dua saja kendaraan yang melintas di jalan menuju rumah Mela dan Bayu ini.


“Yang, itu ....” Ucapanku terhenti manakala melihat mobil sedan putih dengan bagian kap depan ringsek menabrak pohon di tepi jalan. Iya benar, itu mobil Mela dan Bayu. Lelakiku pun menepikan mobilnya dan setelah mobil berhenti, kami bergegas turun memastikan kondisi kedua sahabatku. Aku panik saat melihat kondisi Mela dan juga Bayu wajahnya berdarah-darah. Suamiku lekas menelepon bantuan. Namun, tak kunjung tersambung. Beberapa orang yang melintas seolah mereka tidak melihat kecelakaan yang terjadi di sini. Saat aku melambaikan tangan meminta bantuan, kendaraan-kendaraan itu terus melaju begitu saja.


“Udah, nggak ada pilihan lain. Kita harus turun tangan sendiri,” kataku gusar. Sementara suamiku, dia sudah berusaha membuka pintu mobil. Aku pun membantunya. Cukup lama sampai akhirnya pintu mobil berhasil kami rusak dan Mela juga Bayu berhasil dikeluarkan. Lantas kami gotong masuk ke dalam mobil milik kami. Aku panik saat melihat darah terus mengucur di pelipis Mela dan dari hidung Bayu.


Aku duduk di jok belakang, di tengah-tengah antara tubuh Mela dan Bayu guna menjaga posisi mereka agar tetap aman. Sementara suamiku menyetir, kami menuju rumah sakit terdekat. Namun anehnya, rumah sakit terdekat seperti tidak ada aktivitas, gelap gulita.


“Sial! Sejak kapan rumah sakit ini tutup dan tidak beroperasi?” umpat lelakiku.


“Udah, cari rumah sakit lain aja!” teriakku panik.


“Enggak, Sayang. Coba jangan panik. Pejamkan mata, mari kita baca mantra yang diajarkan Madam Carla. Sepertinya pandangan kita dikecoh.”


Tanpa berpikir panjang, aku langsung mengangguk dan melakukan apa yang suamiku katakan. Memejamkan mata, baca mantra penolak balak. Setelah membuka mata, betapa terkejutnya aku. Ternyata benar, rumah sakit yang tadi tampak gelap dan sepi, nyatanya terang, ramai, ada aktivitas layaknya rumah sakit pada umumnya.


“Buruan turun cari bantuan!” titahku dan lelakiku pun bergegas turun memanggil suster. Tak berselang lama beberapa suster datang membawa brankar. Aku menghela napas lega saat akhirnya Mela dan Bayu mendapat perawatan dan mereka dinyatakan baik-baik saja meski hampir kehilangan banyak darah. Aku menangis dalam dekapan suamiku. Ini momen menegangkan yang sudah terjadi ke sekian kalinya, tapi tetap saja aku belum sepenuhnya siap menghadapi situasi seperti ini. Kejadian seperti ini membuatku ingat tragedi soal Tania. Semoga kau tenang di sana, Dek.


“Udah, tenang ya! Semua sudah teratasi dan pasti akan baik-baik saja.” Suamiku membingkai wajah ini dan mengusap sisa air mata di pipi. Detik kemudian aku memeluknya lagi, sangat erat. Ada rasa sedih, takut sekaligus lega dalam dada ini.


***


“Ay, apa menurutmu perlu memberitahukan hal ini pada Sania? Mela sama Bayu kecelakaan kan sepulang dari rumah dia. Apa semua ini ada kaitannya sama misi kita, ya?” tanyaku masih sambil memeluknya dari samping.


“Ya nggak ada salahnya kalau memang kamu mau ngabarin Sania, tapi apa itu tidak mengganggunya kalau sekarang juga? Apa nggak sebaiknya besok saja?” Dia malah balik nanya.


“Ya udah, besok aja deh ngabarin Sanianya,” sahutku setelah berpikir sejenak.


Aku tersentak saat tiba-tiba ponselku berdering. Rupanya Mama yang telepon. Aku menunjukkannya ke suamiku sebelum akhirnya aku angkat.


“Gimana? Ada apa?” todong Mama. Kurasa Mama perasaannya tidak enak.


“Mela sama Bayu kecelakaan, Ma,” terangku apa adanya. Mama terkejut di ujung telepon sana.


“Terus kondisinya gimana? Dirawat di rumah sakit mana? Kamu sama Tirta tapi nggak apa-apa ‘kan?”


“Iya, Ma, aku sama Tirta baik-baik aja kok. Cuma sedikit syok aja. Kondisi Mela sama Bayu masih belum tahu, masih ditangani dokter, tapi kata suster tadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan, sih.”


“Syukurlah kalau begitu. Oya, di rumah sakit mana?”

__ADS_1


“Rumah Sakit Citra Medika, Ma.”


“Mau dibawakan sesuatu nggak?”


“Mama nanya kita perlu dibawakan apa?” tanyaku pada suamiku.


“Minta tolong bawakan jaket aja.” Sesuai permintaan suamiku, aku meminta tolong pada Mama untuk membawakan jaket.


“Oke, Mama dan Ayah segera nyusul ke sana,” pungkasnya.


“Oya, kita sampai lupa belum ngabarin ortunya Mela, Ay!” seruku.


“Ya udah, telepon aja.” Aku mengangguk sepakat. Namun, baru saja mau menelepon, dua orang polisi diantar oleh seorang suster mendekat. Sesuai dugaanku, mereka meminta keterangan perihal kecelakaan yang dialami oleh Mela dan Bayu. Kami hanya menceritakan apa yang kami tahu saja. Sisanya, mereka akan minta keterangan pada korban setelah pasien sudah bisa dimintai keterangan nanti.


Kemudian, kedua polisi itu turut menunggu dokter guna minta keterangan padanya terkait kondisi pasien. Sementara aku, melanjutkan rencana yang sempat tertunda, yakni menelepon orang tua Mela. Suara mamanya Mela terdengar panik di ujung telepon sana.


“Tante tidak usah khawatir, Mela sama Bayu sudah ditangani oleh dokter, dan katanya kita tidak perlu khawatir. Semua akan baik-baik saja,” kataku mencoba menenangkan Tante Rosi—mamanya Mela. Kudengar Om Wiryo menyahut bertanya ada apa, lalu Tante Rosi menceritakan semuanya dan mengajak suaminya itu ke sini. Lantas, telepon pun terputus.


Detik kemudian, dokter dikawal seorang suster berjalan kemari. Mereka baru saja keluar dari ruang UGD. Setelah dekat, dokter menjelaskan kondisi pasien. Mela dan juga Bayu dinyatakan sudah dalam kondisi baik.


“Kalau begitu, apa kami sudah bisa bicara dengan korban, Dok?” Salah satu polisi bertanya. Dokter dan suster saling pandang sejenak.


“Oh, tentu saja, Dok. Kami hanya akan menanyakan sedikit hal saja dan tentunya sesuai prosedur yang ada,” balas salah satu polisi.


Dokter mengangguk-angguk. “Baik, mari saya antar kalau begitu.” Dokter pun mengantar kedua polisi itu menyelesaikan tugasnya. Sedang aku dan Tirta diminta menunggu di sini.


Suara langkah kaki dari arah belakang kami, membuat aku dan suamiku kompak menoleh. Rupanya Mama dan Ayah yang datang melangkah tergesa kemari. Saat dekat yang ditanyakan kondisi Mela dan Bayu.


“Polisi sedang di ruangan mereka,” jawab suamiku.


“Gimana ceritanya bisa sampai kecelakaan begitu?” tanya Mama sambil menyodorkan jaketku dan jaket Tirta.


“Belum tahu, Ma. Kita belum sempat ngobrol sama Mela dan Bayu. Baru aja dokternya keluar, terus masuk lagi sama polisi,” balasku.


Kami lantas duduk di kursi memanjang yang tersedia di depan ruang UGD. Suamiku bersisian dengan Ayah. Aku bersisian dengan Mama. Aku dan Mama hanya duduk diam. Sementara Tirta dan Ayah berbincang lirih membahas soal Bayu dan Mela. Kudengar juga menyinggung soal misi kami di rumah Sania.


Kami berempat kompak berdiri saat polisi dan dokter juga suster keluar dari UGD tempat Mela dan Bayu berada. Polisi mendekat, menyapa Ayah dan Mama. Mulanya mereka mengira Mama dan Ayah itu orang tuanya Mela atau Bayu. Namun, setelah kami jelaskan, polisi itu mengangguk paham dan pamit pergi setelah menitip pesan.


“Dok, apa sekarang kami boleh melihat kondisi pasien?” tanyaku setelah polisi pergi.

__ADS_1


“Mohon bersabar, ya, Bu, Pak. Pasien akan kami pindahkan dulu ke ruang rawat. Baru setelah itu, pasien boleh dilihat oleh keluarga atau handai tolannya,” terang Dokter lembut. Aku mengangguk paham dan kami kembali duduk menunggu di sini.


“Nanti kalau pasien sudah siap dijenguk akan saya kabari,” ujar Suster. Kami mengangguk kompak. Mama membalas dengan ucapan ‘terima kasih’ sebelum suster pergi melanjutkan menyelesaikan tugasnya.


****


Mela dan Bayu dijadikan satu ruangan, ranjang mereka bersisian. Kondisinya masih lemah, tapi sudah bisa diajak komunikasi. Sebelum aku menanyakan bagaimana kronologinya, Mela sudah bercerita duluan. Katanya sebelum kecelakaan terjadi, ada makhluk siluman yang meneror Sania, mengganggu perjalanan mereka.


“Sebelum kecelakaan terjadi, makhluk itu mengeluarkan suara, katanya kita udah berusaha menghalangi tugasnya,” papar Mela kemudian. Aku dan suamiku saling pandang beberapa saat. Berarti fiks, ini ada kaitannya dengan misi kami. Sebenarnya makhluk itu ditugaskan oleh siapa? Apa tugas sebenarnya?


“Mama bilang juga apa, udah dibilangin nggak usah lagi berurusan sama hal mistis, ngeyel, sih!” Tante Rosi yang baru saja datang dan mendengar cerita Mela langsung nimbrung dengan nada ketus.


Om Wiryo tak kalah sewot. “Udah, stop ngurusin hal begituan! Nggak usah sok pada jadi pahlawan!”


Ruangan ini jadi tidak kondusif. Suasananya jadi tegang dan kaku. Orang tua Mela dan orang tuaku juga dengan aku dan Tirta sempat adu mulut. Kalau saja tidak memikirkan kondisi Mela dan Bayu, mungkin pertengkaran kami masih berlanjut. Mela akhirnya menyuruh aku dan keluargaku pulang saja. Aku setuju, karena kalau tetap bertahan takutnya suasananya malah makin tidak nyaman dan runyam.


“Terima kasih, ya, Ran, Ta,” ucap Bayu. Aku dan suamiku mengangguk sambil mengulas senyum.


“Terima kasih juga, Om, Tante,” ucap Mela pada Mama dan Ayahku.


“Iya, sama-sama,” balas Ayah.


“Kalian cepet pulih, ya,” ujar Mama.


“Pastinya, Tan,” sahut Mela dan Bayu kompak. Sementara kedua orang tua Mela hanya diam dan berekspresi dingin.


*****


Teror masih terus dialami Sania, bahkan makin intens. Aku dan Tirta bekerja sendiri, tidak lagi melibatkan Mela dan Bayu. Namun, usaha kami untuk menaklukkan makhluk jadi-jadian itu sangat alot. Makan waktu yang sangat lama. Hingga kondisi Mela dan Bayu membaik, masalah teror masih belum terselesaikan.


Anehnya lagi, teror yang dialami Sania berhenti setiap kali suaminya ada di rumah. Namun, teror kembali terjadi ketika dia sedang di rumah sendirian. Tentu saja hal itu membuat aku makin penasaran.


Malam ini, aku terpaksa melibatkan Madam Carla untuk menyelesaikan masalah yang menimpa Sania. Kasihan dia kalau dibiarkan berlarut-larut diteror makhluk astral. Lama-lama dia bisa gila. Saat kami menyiapkan segala peralatan guna memanggil dan menangkap makhluk yang meneror Sania, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Mulanya kami pikir yang pulang suaminya Sania, ternyata yang datang Bayu dan Mela. Mereka datang secara sukarela menawarkan bantuan. Meski sempat kami tolak karena takut terjadi sesuatu pada mereka berdua yang mana kondisinya juga masih mengkhawatirkan, tapi Bayu dan Mela bersikukuh mau membantu. Dan kata mereka berdua, sudah atas seizin Tante Rosi serta Om Wiryo. Aku menghela napas lega, kini, kami bisa melakukan misi ini dengan tenang.


Baru saja kami mau memusatkan pikiran untuk memulai misi. Ada yang datang dan langsung masuk. Rupanya suaminya Sania yang datang. Entah kenapa dia pulang lebih cepat dari jadwal seharusnya. Kami pun urung melanjutkan ritual pemanggilan dan penangkapan iblis itu. Karena Aditya marah-marah.


“Kamu sudah gila percaya hal kayak gituan!” omel Aditya pada Sania.


“Ini lagi, apaan ini?” Pandangan mata Aditya tertuju pada media dan segala peralatan yang kami sediakan. “Kalian biang keroknya!” Telunjuk Aditya mengarah pada kami berlima. Madam Carla berusaha menjelaskan, tapi Aditya tidak mau dengar.

__ADS_1


“Kami di sini niatnya baik untuk membantu!” seru suamiku tak terima terus disalahkan oleh Aditya. Baru saja Aditya mangap akan bicara entah apa lagi, lampu di rumah ini berkedip-kedip tidak beraturan, angin bertiup kencang, pintu terbuka lebar dan daun-daun kering yang entah dari mana asalnya beterbangan masuk memenuhi seluruh penjuru rumah.


__ADS_2