TUMBAL KETUJUH

TUMBAL KETUJUH
Tersesat


__ADS_3

Kami lantas turun guna memeriksa apa yang barusan tertabrak. Kami berlima kompak melihat bawah bumper. Namun, tidak ada apa-apa selain rerumputan.


“Loh, kok kita di sini?” ucap Sania. Aku dan yang lain pun memonitor sekitar. Jalanan aspal lurus tadi hilang, dan kini kami berada di tengah hutan jati.


“Sial!” umpat Bayu sambil memegangi kepalanya.


“Jangan mengumpat!” Mela masih sempat memarahi suaminya.


Suamiku seperti orang linglung. Dia mengamati sekitar. Kami terdiam beberapa saat. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Aku berpikir keras bagaimana bisa kami sampai sini. Jalanan aspal lurus tadi rupanya hanya tipuan mata semata. Itu tidak nyata. Suamiku lantas memeriksa bodi mobil dan anehnya tidak ada goresan yang berarti, meski tadi kami melewati semak belukar yang cukup tinggi. Ada kayu-kayu sebesar lengan anak kecil yang kami terabas. Terlihat dari bekas yang kami lewati tadi, ada banyak pohon yang patah atau layu terlindas mobil.


“Kalau saja tadi kita ikut Madam Carla untuk pulang saja, mungkin nggak gini kejadiannya!” Sania kalut lagi, “Masih hidup bikin sakit hati, udah mati masih aja nyusahin!” imbuh Sania. Aku tahu, Sania kesal pada mendiang suaminya.


“Ssst! Jangan ngomong gitu.” Mela menasihati sambil mengusap-usap bahu Sania yang mulai tergugu lagi.


“Jangan nangis, San. Yang perlu kita lakukan sekarang adalah harus kompak. Mari saling menguatkan satu sama lain. Kita harus yakin, bahwa kita bisa melewati semua ini.”


“Aku setuju sama Rania,” sahut Bayu.


“Semua tetap tenang dan fokus. Sekarang, kita coba puter balik dan ikutin jejak kita sebelumnya. Kita pasti bisa balik ke jalanan.” Aku mengangguki perkataan suamiku. Bayu pun membenarkan. Kami pun kembali masuk mobil.


“Aku gantian duduk di belakang. Kamu di depan, Bay!” pintaku, “Nggak papa kan, Sayang, kalau aku duduk di belakang bareng Mela sama Sania?” lanjutku meminta persetujuan, dan lelakiku setuju. Aku dan Mela duduk di jok belakang mengapit Sania.


“Ayang, untuk sementara kita LDR-an dulu, ya,” ucap Bayu sambil kiss bye. Mela pun menangkap kiss bye dari suaminya. Lebay!


“Sempat-sempatnya bercanda lagi situasi kayak gini juga!” omel suamiku. Bayu cengengesan. Mela juga.


Mobil akhirnya bisa puter balik. Kini gentian Bayu yang menyetir. Mobil melaju mengikuti jejak sebelumnya. Saat aku, Mela dan Sania mengobrol guna mencairkan suasana yang tegang ini, tiba-tiba Bayu menghentikan mobil.


“Ada apa, Ay?” tanya Mela.

__ADS_1


“Ini kok semaknya pada berdiri lagi, ya? Jejak sebelumnya ilang,” ujar Bayu. Kami bertiga kompak melihat ke depan, dan benar saja di depan, samping juga belakang buntu. Semak yang sebelumnya layu bekas terlindas mobil tidak ada. Semaknya segar lagi, kayu kecil-kecil yang sebelumnya pada patah utuh lagi.


Kudengar suamiku menghela napas berat. “Kita berhenti dulu sejenak di sini sambil mikirin gimana solusi berikutnya,” katanya. Aku mengangguk sepakat, begitu juga dengan Mela dan Bayu. Namun, tidak dengan Sania. Sania terus merutuki keadaan ini. Dia kembali menyesalkan keputusannya untuk ikut dalam misi ini.


“Lagi pula kenapa Aditya ingin aku terlibat dalam misi konyol ini?!” protes Sania lagi. Mukanya bersungut sebal, dan matanya berkaca-kaca.


“Kan kamu yang tahu tempatnya, San,” timpalku sambil mengusap bahunya lembut.


“Kenapa nggak dia aja yang bimbing kalian langsung. Kenapa harus melibatkan aku?” Sania masih terus merutuk.


“Mungkin, ada hal yang kamu harus tahu nantinya,” sahutku asal.


“Jujur, aku masih trauma kalau harus berhadapan dengan situasi nggak masuk akal kayak gini, Ran.” Sania lanjut terisak lirih lagi.


“Iya, aku tahu dan itu wajar kok. Kamu yang tenang ya, ada kami di sini. Kami pasti bakal berusaha supaya semua baik-baik saja. Kita berdoa aja semoga misi ini berhasil dan kita bisa balik dengan selamat.” Aku mencoba menasihati dan menguatkan.


“Bener tuh, apa kata Rania. Kita harus positif thinking. Oke!” Mela membenarkan. Sania mengangguk sambil mengusap air matanya.


“Gimana ya?” Suamiku malah nanya balik, “Apa kita balik lagi ya, ke tempat tadi?” lanjutnya.


“Lah, kalau balik kita gak keluar-keluar dong. Apa nggak sebaiknya terabas aja?” balas Bayu. Mela sepakat sama pendapat suaminya. Sania juga.


“Kalau semak di depan kita terabas, takutnya malah makin dalam kita masuk hutan. Belum lagi kalau misal nemu jurang gimana? Mending kita balik ke titik awal terakhir kali kita sadar kalau kita nyasar. Siapa tahu dari sana kita nemu petunjuk.” Aku sepemikiran sama suamiku.


Namun, Bayu tidak setuju. Begitu juga dengan Mela dan Sania. Terjadi perdebatan sengit di dalam mobil. Semua bersikeras dengan pendapat masing-masing. Kemudian semua terdiam setelah capek adu argumen.


Pendapat Tirta Cuma mendapat satu pendukung, aku sendiri. Sedang pendapat Bayu disepakati oleh Mela dan Sania. Aku memonitor sekeliling. Saat menengok ke belakang, aku melongo, pasalnya semak bekas lindasan mobil yang tadinya lecek, sekarang segar lagi.


“Gaes, lihat belakang!” titahku, dan semua pun kompak menengok ke belakang.

__ADS_1


“Sial!” umpat Bayu.


“Sekarang bagaimana?” rengek Sania, dia terlihat makin panik. Sekarang kami benar-benar tidak tahu harus mengarah ke mana. Pasalnya sekeliling hanya ada semak dan pepohonan.


“Coba lihat kompas kali, ya?” celetuk Mela. Bayu langsung membenarkan. Mela pun bergegas mengeluarkan ponselnya.


“Terus, kalau udah lihat kompas, kita mau ambil arah mana? Emang kalian inget arah kembali ke jalan ke mana?” Semua terdiam tak ada yang bisa menjawab pertanyaan dari lelakiku.


“Ya terus, masa kita Cuma mau diem aja di sini? Nunggu apa? Keajaiban? Ya kalau datang keajaiban. Kalau nggak gimana? Masa kita mau bertahan di sini?” sahut Bayu ngegas.


“Sabar, Yang!” Mela menasihati suaminya yang mulai kehilangan kesabaran.


“Terus gimana, dong?” Sania makin frustrasi.


“Nggak ada sinyal lagi, mau nelpon minta bantuan,” ujar Mela.


“Coba pake telepon aku!” seru Sania dan langsung mengeluarkan ponselnya. Namun, sama saja tak ada sinyal sama sekali. Begitu juga ponselku dan yang lainnya.


“Ini kenapa kita disasarin ke sini, sih? Apa salah kita coba? Padahal niat kita itu baik, loh,” dumel Mela.


Disasarin? Mendadak teringat soal penampakan nenek-nenek tadi. Nenek yang nunjuk arah dan aku ikuti. Aku juga tidak mengerti kenapa tadi aku seperti orang terhipnotis, tanpa pikir panjang mengikuti arahan dari sosok tua itu.


“Aku minta maaf. Ini semua salahku.” Sontak semua menoleh menatapku. Termasuk suamiku.


“Kamu melakukan kesalahan apa, Sayang?” tanya lelakiku, dahinya mengernyit.


“Tadi pas di pertigaan aku lihat penampakan nenek-nenek nunjuk jalan. Aku pikir dia ngasih tunjuk jalan, tapi nggak tahunya kita malah disasarin begini. Maaf, ya. Aku sudah gegabah.”


“Kok aku gak lihat penampakan itu?” sahut Mela. Bayu dan suamiku juga mengaku tak melihat penampakan itu.

__ADS_1


“Kalau kamu, San, lihat nggak tadi ada nenek-nenek?” tanyaku. Namun, Sania tidak merespon. Kepalanya menunduk dan rambutnya tergerai menutupi wajahnya. Detik berikutnya Sania mengerang, lanjut terkikik, kemudian dalam sekali sentak kepalanya berubah posisi menjadi tegak, lalu menoleh dan menatapku dengan tatapan tajam.


__ADS_2