
Aku mulai mendengar bisikan-bisikan. Di dalam kamar yang seharusnya menjadi kamar Mang Ule terdengar seperti dua orang atau lebih tengah berbincang samar. Hatiku tergerak untuk memastikan, dan kakiku mewujudkan itu. Kini aku sudah berada di depan pintu bernuansa cokelat. Tangan mengulur siap memegang hendel pintu. Kuputar perlahan hendelnya dan buka. Mataku memonitor seluruh penjuru ruang 4x3 tersebut. Kosong. Hanya ada ranjang beserta perlengkapan tidur lainnya, dan lemari kecil yang terdapat di sambing ranjang tempat penyimpanan baju dan barang.
Aneh. Padahal tadi sangat ramai. Seperti sedang ada rapat keluarga di sini.
Kembali kututup pintunya dan tepat saat aku akan balik badan ekor mataku menangkap sekelebat bayangan hitam melesat di belakangku ke arah jendela yang ada di sebelah kanan. Bahkan gordennya bergoyang seolah tersenggol oleh sesuatu.
Aku berjalan perlahan mendekati jendela itu lalu menyibak gorden berwarna hijau tua motif bunga mawar merah itu pelan-pelan. Tidak ada apapun di baliknya. Mataku memonitor kondisi luar menembus jendela kaca. Di luar sana hanya ada tumbuhan aneka bunga mawar dan melati sebagian masih bermekaran dan sebagian lagi sudah melayu. Juga kumbang dan kupu-kupu yang masih beterbangan mencari madu.
“Kak!” Dahiku mengernyit saat mendengar suara anak kecil memanggilku dari arah belakang. Mataku bergerak liar ke kiri dan kanan, tapi tidak menangkap apa pun. Kuberanikan diri berbalik terdapat anak kecil kisaran umur 5 tahunan. Berambut panjang lurus sepinggang, dan berponi. Badannya sedikit gembul sehingga pipinya juga cubby. Menggemaskan.
“Iya. Adek siapa, ya?” tanyaku sambil jongkok menyejajarkan dengan tubuh mungilnya.
“Ran! Kamu di mana? Sudah bangun belum?” Aku pun menoleh ke sumber suara. Tak lama Pamela menyembul dari balik pintu ruangan ini. Aku merubah posisiku yang semula jongkok menjadi berdiri. Lalu berbalik membelakangi anak kecil yang belum kuketahui namanya. “Di sini rupanya. Maaf ya, aku tadi pergi mengejar Mamang penjual bakso.” Pamela lanjut nyerocos. Mataku pun tetarah ke bungkusan bakso yang ditenteng Pamela. Aroma khasnya menguar sehingga aku pun tak kuasa menahan rasa lapar. Liurku tak terkendali serasa mau ngiler saja.
“Ya sudah, ayo kita ke ruang makan dan kita sikat baksonya!” ajak Pamela.
“Mel, ini ada ....” Aku menghentikan ucapanku saat bocah perempuan gembul dan menggemaskan yang seharusnya masih ada di ruangan ini, tapi hilang. Entah ke mana perginya.
“Apa?” sahut Pamela, ia terlihat penasaran. Aku menggeleng pelan, mau bilang kalau ada anak kecil takutnya tadi itu bukan manusia. Aku memilih merahasiakannya.
“Ya sudah, ayo kita makan baksonya. Aku sudah lapar.” Aku rangkul bahu Pamela dan kugiring ke ruang makan guna mengalihkan perhatiannya. Kalau tidak, pasti dia akan mencecarku.
“Oh ya, Ran, tadi kamu mau bilang apa? Ada apa?” Sial, aku pikir Pamela sudah lupa sama ucapanku yang menggantung tadi. Sekarang setelah selesai makan bakso dia kembali mencecarku.
“Aku boleh nambah, nggak?” Kucomot satu bungkus bakso yang teronggok di meja. Pamela memukul pelan punggung tanganku.
“Rakus!” omelnya. “Jangan itu bagiannya Mang Ule!” lanjutnya. Sebenarnya aku juga sudah kenyang, itu hanya caraku saja supaya Pamela tidak menanyaiku terus. Aku takut salah bicara, dan takut juga kalau malah membuat Pamela jadi hilang nyali.
“Memangnya Mang Ule ke mana, ya? Kok dari tadi aku nggak lihat dia?”
“Aku lupa cerita, ya, sama kamu. Itu ... Mang Ule tadi belanja sembako untuk keperluan kita selama menginap di sini,” jelas Mela.
“Loh, emangnya Mang Ule tahu di mana pasarnya?”
“Tahulah, dia ditemani oleh Bu Sumini.”
__ADS_1
Aku mengangguk paham sambil ber-oh. Tak lama suara mobil Mang Ule datag memasuki halaman depan penginapan ini. Pamela beranjak dari duduk. “Bentar, ya, Ran. Aku bantuin turunin barang dulu,” pamit Pamela. Aku mengangguk.
Setelah Pamela ke depan, aku memonitor seluruh ruangan mencari bocah tadi. Namun, tidak ada. Membuatku semakin penasaran saja. Sebenarnya dia asli manusia atau hantu?
“Ran, bantuin dong!” Teriakan Pamela membuyarkan lamunanku.
“Oke,” sahutku. Lalu ke depan dan membantu menurunkan barang belanjaan.
“Semua sudah selesai. Kalau gitu, saya pamit pulang, ya!” Bu Sumini pamitan. Pamela mengucapkan banyak terima kasih. Lalu Bu Sumini benar-benar pergi. Kini tinggallah aku, Mela dan Mang Ule di rumah ini.
“Mang, itu di meja makan ada bakso. Silakan dimakan! Nanti keburu dingin.”
Mang Ule pun langsung meluncur ke meja makan dan memakan baksonya setelah mengucapkan terima kasih ke Pamela.
***
Aku terbangun usai mimpi buruk. Terduduk di atas kasur dengan napas memburu. Pamela masih tertidur dengan pulasnya. Melihat jam yang menempel di dinding, jarumnya menunjuk ke angka 02:15 dini hari. Tenggorokan ini terasa kering, melihat persediaan air di meja kecil samping ranjang sudah habis. Tekonya kosong. Kuputuskan untuk ke dapur mengambil minum.
Suara air yang kutuang dari teko ke dalam gelas memecah keheningan malam. Lantas kuteguk air itu hingga tandas dan meletakkan gelas kosongnya di sisi teko.
Dahiku mengernyit heran. Malam-malam begini ada serombongan anak kecil sedang bermain? Apa mereka tidak dicari oleh orangtuanya?
Kemudian anak-anak itu membentuk lingkarang dengan cara bergandengan tangan satu dengan yang lain. Bergerak memutar sambil menyanyikan lagu dolanan.
Cublak cublak suweng
suwenge ting gelenterl
mambu ketundung gudel
pak empong lera-lere
sopo ngguyu ndelik-ake
sir-sir pong dhele gosong
__ADS_1
sir sir pong dhele gosong ....
Serombongan anak-anak itu menyanyikan lagu dengan tempo yang semakin cepat. Semakin lama suaranya seolah memekakkan telinga. Meski telingaku sudah kututup dengan kedua telapak tangan tetap saja suaranya seolah menusuk gendang telinga. Sampai-sampai kepalaku terasa pusing oleh nyanyian itu.
Aku mengerang menahan sakit di kepala. Berjongkok di bawah jendela merapatkan telapak tangan di kedua daun telinga.
Puk!
Sebuah tepukan di bahu ini membuatku berhenti mengerang. Perlahan aku menoleh guna memastikan siapa pemilik tangan yang masih menempel di pundak ini.
Ternyata Pamela. Aku menghela napas lega. Suara nyanyian dan kebisingan yang diciptakan serombongan bocah tadi juga sudah hilang. Suasana kembali tenang. Pamela usai menepuk bahu ini, dia pergi menuju pintu belakang.
“Mel, kamu mau ke mana?” Dia tidak nyahut, diam tanpa kata dan terus berjalan. Tangannya mengulur meraih hendel pintu. “Mel, jangan ke sana! Mel!”
“Ada apa, Ran?” Aku auto berbalik perlahan menghadap ke sumber suara. Dahiku mengernyit mengamati sosok yang berdiri di depanku.
“Pamela, bukannya tadi ... kamu ....” Aku menunjuk ke arah pintu belakang yang masih tertutup rapat. Sosok Pamela yang semula akan membuka pintu juga menghilang. Seharusnya kalau Pamela memang keluar, pintunya terbuka, bukan?
Pamela mendekat, aku mundur menjauh. Aku bingung mana Pamela sahabatku yang asli.
“Ran, kamu kenapa, sih? Ini aku Mela!” Pamela meyakinkan. Tak lama Mang Ule datang. Mungkin karena mendengar kebisingan yang kami ciptakan.
“Ada apa Non? Masih malam kok sudah pada bangun?” Mang Ule lanjut menguap.
“Eum, enggak ada apa-apa, kok Mang. Tadi aku minum terus Pamela menyusul,” jawabku.
“Pada tidur lagi, gih! Masih malam.” Aku dan Pamela mengangguk. Sedangkan Mang Ule langsung kembali ke kamarnya.
“Sebenarnya ada apa sih, Ran? Kenapa tadi kamu panggil-panggil aku?” cecar Mela.
Aku memilih merangkul pundaknya dan menggiringnya ke kamar. “Udah besok aja ceritanya. Sekarang kita balik tidur yuk. Aku masih ngantuk.”
Sesampainya di kamar, Mela langsung kembali ke balik selimut. Sedangkan aku masih penasaran sama serombongan bocah di halaman belakang tadi, juga sama sosok yang menyerupai Pamela.
Setelah pusing memikirkan semua kejadian ganjil di desa dan rumah ini. Aku memilih berbaring menatap langit-langit kamar. Anganku kembali melanglangbuana. Memikirkan di mana keberadaan Tirta sekarang? Sebenarnya dia masih hidup atau tidak? Apa jangan-jangan ... peristiwa kebakaran rumahnya itu merenggut nyawanya?
__ADS_1
Besok usai ziarah ke makam Tania, aku harus segera mencari tahu di mana keberadaan Tirta. Agar rasa penasaran ini tidak terus menerus menghantuiku.