
“Yuhuuu!” seru Bayu saat pancingannya dimakan ikan. Ya, kini, kami sudah ada di atas kapal. Kapal sewaan. Batas waktu sewa maksimalnya lima jam. Dan kami berempat sudah melewati hampir dua jam di atas kapal ini. Berlayar ke sana kemari mencari tempat yang banyak ikannya.
Asyik memancing dan berlomba banyak-banyakan dapat ikan. Kami sampai lupa memperhatikan cuaca, dan tanpa kami sadari tiba-tiba gerimis turun bersamaan angin yang bertiup kencang. Hujan makin deras, angin makin gila dan kapal oleng, karena ombak mengganas. Cuacanya mendadak sangat tidak bersahabat.
Bayu dan Tirta berusaha mengendalikan kapal agar bisa melaju menerjang badai ini atau setidaknya bisa tetap berada pada tempatnya tanpa terbalik.
“Gimana ini?” Mela panik. Aku juga jadi ikutan panik. Kami berdua saling berpelukan.
“Pakai baju pelampung!” teriak suamiku. Aku dan Mela bergegas mengambil baju pelampung dan mengenakannya untuk jaga-jaga. Kemudian memakaikan ke suami masing-masing.
Ombak makin ganas. Kapal oleng tak terkendali. Beberapa kali hampir terbalik. Namun, masih urung. Aku dan Mela menjerit-jerit histeris. Bayu dan Tirta berusaha menenangkan kami berdua, meski aku tahu, mereka sendiri sebenarnya dilanda kepanikan luar biasa juga.
Tirta meraih tanganku, lalu digenggamnya erat. Jarinya diselipkan ke sela jariku. “Apa pun yang terjadi, jangan lepaskan genggamanku, ya!” pintanya. Aku mengangguk. Bayu juga melakukan hal yang sama. Dia menggenggam tangan Mela. Sedang Mela memeluk erat tubuh Bayu.
“Aku mencintaimu,” bisik suamiku sambil memelukku erat. Dikecupnya kening ini. Kurasakan bibirnya yang dingin menempel di kening. Kami berempat sudah basah kuyup. Menggigil kedinginan. Hujan dan angin lebat belum mereda. Kini, ditambah lagi petir menyambar-nyambar dengan gaharnya. Aku membenamkan wajah ke dalam dekapan Tirta. Apa ini akhir dari kisah kami?
Aku makin merasa ngeri saat membayangkan diri ini tercebur ke dalam air laut yang biru itu. Bagaimana kalau ada ikan hiu ganas? Akankah kisah cinta kami kandas di lautan ini?
Ombak yang sangat dahsyat datang menerjang kapal kami sehingga terbelah menjadi dua. Kami berempat terpental ke dalam laut. Genggaman tanganku terlepas dari suamiku. Aku berusaha mengapung ke permukaan. Kemudian mencari-cari keberadaan suamiku. Tak berselang lama, Mela muncul dan disusul Bayu. Namun, lelakiku belum juga muncul ke permukaan. Aku mulai panik dan menangis.
“Tirtaaa!” teriakku, tetapi tak ada yang menyahuti. Aku berenang ke balik kapal yang masih terapung-apung. Namun, suamiku tak terlihat. Mencoba menyelam, di dalam air sangat gelap. Tak nampak apa pun kecuali air yang legam. Mela dan Bayu juga turut memanggil-manggil suamiku, tetapi masih belum ada timbal balik. Aku mulai cemas.
Ombak datang lagi bergulung-gulung memisahkan aku, Mela dan Bayu. Tirta belum ketemu, tetapi kami sudah terpisah. Aku tenggelam dan timbul terseret ombak. Hingga akhirnya badan terasa lemas dan pandangan mata kabur.
*****
__ADS_1
Aku membuka mata dan terbatuk. Ada rasa gatal dan kering di tenggorokan ini. Mataku bergerak liar ke kiri dan kanan. Apa aku sudah mati?
Aku berusaha duduk, lalu menoleh ke sana kemari. Rupanya aku berada di atas rumput yang tertata rapi, di dalam sebuah gubuk dengan dinding terbuat dari dedaunan, pun dengan atapnya. Sedangkan tiangnya terbuat dari kayu.
Di mana ini?
Siapa yang membawaku ke sini?
Apa Tirta?
Aku bangkit dan berjalan keluar. Menoleh ke sana kemari. Sepi. Di sekeliling hanya ada pepohonan dan semak yang rimbun.
Tak lama, datang segerombolan orang-orang aneh. Dengan bahasa yang aneh juga. Aku bersembunyi di balik pohon. Orang-orang itu makin dekat dan salah satu masuk ke dalam gubuk, lalu keluar lagi sambil berteriak-teriak dengan bahasa asing. Raut wajahnya terlihat panik. Mungkin karena aku tak lagi di dalam gubuk itu. Kemudian, salah satu dari mereka. Seorang pria yang paling tua, berkata dengan bahasa yang aku tak mengerti sambil menunjuk-nunjuk ke segala arah. Orang-orang dengan pakaian terbuat dari dedaunan itu lantas berpencar ke segala arah. Sepertinya mencariku. Entah, mereka orang-orang baik atau bukan.
Setelah orang-orang itu pergi, aku berjalan terseok berniat mencari bantuan. Namun, sepanjang kaki melangkah aku belum juga bertemu dengan orang atau perkampungan. Sejauh mata memandang hanya ada rimba. Ingin sekali aku berteriak memanggil suamiku, tetapi aku takut orang-orang aneh tadi dengar dan menangkapku lagi. Aku Cuma bisa berdoa dalam hati, berharap bisa segera keluar dari hutan ini dan bertemu dengan suamiku dan sahabatku juga keluargaku.
Aku bergegas menyelinap di balik pohon berukuran raksasa saat semak belukar di depanku bergerak liar. Sepertinya ada hewan yang bersembunyi di dalamnya. Sesekali aku menelengkan kepala memastikan hewan apa yang ada di sana. Bagaimana kalau itu harimau? Habislah aku.
Aku mengelus dada. Menghela napas lega. Saat hewan di balik semak tadi menyembul keluar dan ternyata segerombol ba bi hutan yang mungkin sedang cari cacing tadi. Setelah kawanan ba bi itu menjauh, aku keluar dari persembunyian dan melanjutkan perjalanan mencari jalan keluar.
Akhirnya sampai juga di tepi hutan. Namun, bukan jalan raya yang aku temui seperti harapanku. Melainkan lautan luas. Sepertinya aku terdampar di pulau terpencil, lalu di mana keberadaan suamiku dan kedua sahabatku?
“Tirtaaa!”
Hening. Hanya suara debur ombak yang menyahuti.
__ADS_1
“Melaaa!”
Kali ini desau angin yang menyahut.
“Bayuuu!”
Burung dan suara binatang liar dari dalam hutan yang menjawab teriakanku.
Kalian di mana? Masih hidup atau .... Aku terduduk di atas pasir tepi pantai. Air mata luruh dan menderas. Aku tersedu. Memikirkan bagaimana bisa keluar dari pulau ini, juga kepikiran akan bagaimana nasib suamiku.
Rasa takut tiba-tiba menyergap. Aku takut kalau tidak bisa keluar dari pulau ini, takut tidak bisa bertemu lagi dengan suamiku, keluargaku dan banyak lagi ketakutan yang lainnya.
Seketika isakku terhenti saat ada yang menepuk bahu ini. Aku terdiam, jantung gemuruh. Tak berani memastikan akan siapa pemilik tangan yang sampai kini masih menempel di pundak.
Apa itu Tirta? Ataukah ....
“Huuuuuuwik!”
Mata ini melotot saat pemilik tangan berteriak demikian. Dapat dipastikan, orang di belakangku ini ... orang aneh itu. Sepertinya mereka suku pedalaman.
Lagi, orang di belakangku berteriak seperti tadi. Detik kemudian, terdengar dari kejauhan ada yang menyahuti dengan teriakan sama. Tidak! Aku tidak boleh tertangkap lagi. Aku harus kabur!
Aku berlari sekuat tenaga di atas pasir. Sempat terjatuh, lalu bangkit dan lanjut lari. Aku menoleh ke belakang dan kudapati orang-orang aneh tadi bertambah banyak sedang berlari mengejar.
Terpaksa aku kembali masuk ke dalam hutan supaya bisa sembunyi. Aku duduk di dalam semak belukar. Kubungkam mulutku sendiri. Aku abaikan rasa gatal, perih, sakit di sekujur tubuh ini.
__ADS_1
Nyamuk berdenging mengitari telinga. Sebagian sudah menggigit wajah, kening dan telinga meninggalkan rasa gatal. Namun, aku tak berani bergerak sama sekali. Selain orang-orang tadi terdengar makin dekat, ada ular yang melata ke dekat kaki. Semoga bukan ular berbisa. Aku memejamkan mata merasa ngeri saat ular itu melintas di atas kakiku. Ukurannya memang hanya sebesar jempol kaki, tetapi tetap saja mengerikan.
*****