TUMBAL KETUJUH

TUMBAL KETUJUH
Tertangkap


__ADS_3

Aku terhuyung, membungkuk mengatur napas yang terengah. Tegak kembali menghela napas lega akhirnya bisa lepas dari ular dan orang-orang aneh itu. Tenggorokan terasa kering. Sekarang misiku adalah mencari sungai guna membasahi tenggorokan yang kering kerontang ini.


Aku lupa letak sungai yang kutemui tadi di mana. Sudah berjalan ke sana kemari membelah semak, tetapi belum juga ketemu. Mata ini berkaca-kaca saat membentur sebuah pohon buah. Aku tahu betul buah itu bisa dimakan. Buah murbei. Bergegas aku mendekat dan memetik yang sudah matang berwarna kehitaman. Rasanya manis. Rasa haus dan lapar sedikit terminimalisir.


Persendian kaki ini rasanya seperti mau patah. Aku memutuskan untuk istirahat di bawah pohon murbei. Namun, sebelum istirahat ada baiknya aku membuat bivak alam, tempat peristirahatan sementara. Aku mulai mencari dahan pohon dan dedaunan yang bisa kuambil atau patahkan dengan tangan. Lantas, menyusunnya menyerupai sarang ba bi. Setelah bivak siap ditempati, aku segera masuk dan tidur.


*****


Entah sudah berapa lama aku tertidur. Setelah kesadaran terkumpul sempurna, aku keluar dari dalam bivak. Aku membatu masih dalam posisi menungging dan baru separuh badanku yang keluar. Aku mendapati kaki buluk kehitaman berjajar di depanku. Saat aku melirik ke kiri dan kanan, rupanya berpasang-pasang kaki itu mengelilingi bivak-ku.


Ya, mereka adalah orang aneh itu lagi. Mereka berhasil menemukanku. Sekarang, aku harus bagaimana? Rasanya, kabur pun percuma. Pasti tak akan bisa. Mungkin, sebaiknya mengangkat kedua tangan ke atas. Menyerah. Atau memohon ampun agar mereka tak menyakitiku, tetapi apa mereka bakal paham dengan bahasaku?


Belum sempat mengangkat kedua tangan ke atas. Dua orang aneh ini telah menyeretku keluar dengan kasar. Setelah itu, tubuhku dipanggul oleh salah seorang pria bertubuh gempal. Sisanya mengarak kami di belakang sambil terus bersorak ‘hu ha hu ha’ serta menaikturunkan senjata mereka berupa tombak dan panah, berulang kali. Hingga sampai di sebuah tempat, yang aku yakini sebagai pemukiman mereka.


Aku diturunkan dengan kasar. Layaknya seorang petani yang menurunkan karung berisi hasil panen. Aku meringis kesakitan. Jatuh dalam posisi duduk berselonjor kaki. Tulang ekorku rasanya nyeri. Semoga saja tidak cedera. Aku dikepung. Setelah pria yang memanggulku tadi pergi masuk ke sebuah gubuk berdinding dedaunan selaras dengan atapnya. Sisanya yang tinggal di sini membentuk barisan melingkar. Mengitari tubuhku. Tak ada celah sama sekali untuk kabur. Sial!


“Tolong, ampuni saya! Saya bukan orang jahat. Saya terdampar di sini. Tolong, biarkan saya pergi!” Aku berusaha memohon dan berharap mereka mengerti. Namun, tampaknya percuma. Mereka terus saja berseru ‘hu ha hu ha’ tanpa henti. Entah apa maksudnya.


Salah satu dari mereka memberi jalan. Detik kemudian seorang pria yang terlihat tua mendekat. Ada anak panah di tangannya. Entah untuk apa itu. Aku beringsut mundur saat pria itu makin dekat. Namun, usahaku untuk menjauh sia-sia. Posisiku mentok pada barisan orang-orang aneh ini. Aku menggeleng merasa ngeri saat pria itu mengangkat tinggi-tinggi anak panahnya, lalu dihunjamkan ke lengan ini. Tentu saja aku menjerit sejadi-jadinya. Sakit luar biasa, lalu tak lama setelah anak panah itu dicabut, pandangan mataku memburam dan makin gelap.


*****


Aku mengerjap, lalu mata ini benar-benar terbuka sempurna. Aku tersentak saat mendapati tubuhku tanpa sehelai benang pun dan dalam posisi direntangkan di atas sebuah batu yang berbentuk mirip seperti dipan. Tangan dan kakiku diikat menggunakan akar pohon, lalu diikatkan ke patok kayu yang tertancap ke tanah di setiap sudut batu ini.

__ADS_1


“Apa yang akan kalian lakukan?! Ke mana pakaianku?” Aku berusaha berontak dan berharap ada keajaiban. Namun, sepertinya nihil. Mungkin hidupku akan berakhir di sini.


Orang-orang aneh itu mengitari tempatku sambil berseru ‘hu ha hu ha’ mulai dari ritme perlahan sampai cepat. Kemudian mereka berhenti keliling, lalu ganti gerakan menjadi seperti orang rukuk berulang kali. Setelah itu, mereka bergandengan tangan membentuk lingkaran dan selesai. Mereka ada yang masuk ke gubuknya, lalu ada pula yang pergi entah ke mana.


*****


Hingga malam hari, aku masih diikat di atas batu. Tak diberi makan atau minum. Aku Cuma bisa menangis, saat sekujur tubuh ini dikerubungi nyamuk. Rasanya gatal luar biasa, tetapi tak bisa menggaruknya. Ditambah hawa dingin yang kian menusuk.


“Tolooong!” Aku masih terus berusaha meminta tolong.


Dalam gelap ada sesosok yang terlihat legam mendekat.


“Tolong, lepaskan saya,” pintaku lirih. Rasanya tenagaku sudah habis. Bukannya melepaskan, sosok itu malah meraba-raba seluruh tubuhku, termasuk bagian terlarang itu. Aku Cuma bisa menangis tak berdaya. Tak berselang lama datang lagi dua sosok legam. Mereka memukul tengkuk sosok yang kurang ajar padaku itu hingga tergeletak tak berdaya di tanah.


“Ti ....” Aku hampir saja berteriak girang. Tirta membungkam mulutku dan berdesis memberi isyarat agar aku jangan berisik.


Ya, dia benar suamiku. Setelah semua tali yang mengikat kaki tangan terlepas, aku langsung menghambur ke pelukannya. Membenamkan wajah ke dadanya agar sedu sedanku tersamarkan.


“Di mana pakaianmu?” tanyanya lirih.


“Aku tidak tahu,” balasku berbisik.


“Biar aku yang mencari.” Itu suara Bayu.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, Bayu kembali. Membawa celana dan bajuku tanpa dalaman. Tak mengapa meski tanpa dalaman, daripada bu gil. Aku langsung mengenakannya dan kami pun pergi dalam kegelapan. Hanya mengandalkan insting saja. Sesekali kami terjatuh, lalu bangkit dan melanjutkan perjalanan.


“Di mana Mela?” tanyaku setelah kami berada jauh dari pemukiman orang suku pedalaman tadi. Baik suamiku maupun Bayu tak ada yang bersuara. Keduanya kompak terdiam.


“Aku tidak tahu di mana dia,” sahut Bayu setelah terdiam cukup lama. Suaranya terdengar parau. Aku bergegas menghambur ke pelukannya. Mengusap punggungnya lembut, memberinya kekuatan.


“Kami pikir justru Mela bersamamu, Sayang.” Suamiku menyahut.


“Tidak. Aku tidak pernah melihatnya.”


“Apa mungkin Mela sudah dimakan kawanan kanibal itu?” lirih Bayu. Suaranya terdengar putus asa.


Suamiku mendekat, kami mengapit Bayu. Bersama memberinya kekuatan dan semangat.


“Aku yakin, Mela masih hidup,” kataku sesuai feeling. Suamiku sepakat.


“Semoga saja begitu,” lirih Bayu.


Kami memutuskan istirahat di tepi pantai tanpa penerangan dan tanpa bivak. Benar-benar di tempat terbuka, duduk bersisian bersandar pada batu besar yang teronggok di tepi pantai. Menunggu terang datang, lalu kami akan berencana keluar dari pulau ini. Meski masih belum tahu bagaimana caranya. Setidaknya untuk saat ini kami harus saling menjaga dan bertahan hidup dulu di sini.


*****


Beberapa kali kami tertangkap, lalu berhasil melepaskan diri dari kawanan kanibal itu. Beberapa kali juga kami membuat rakit, tetapi dihancurkan oleh suku pedalaman itu. Bahkan pernah Tirta nyaris disembelih oleh kepala suku orang pedalaman itu. Namun, aku dan Bayu berhasil menyelamatkannya. Sampai akhirnya, kini kami berhasil menaiki rakit yang kami buat ala kadarnya dari kayu gelondongan yang kami kumpulkan dengan tangan kosong selama hampir dua minggu di sini. Sebagian kayunya kami terpaksa mencuri milik orang suku pedalaman itu.

__ADS_1


Kayu gelondongan itu kami ikat menjadi sebuah rakit dengan akar kayu. Kami juga sengaja memilih kabur di malam yang gelap, agar tak ketahuan oleh suku pedalaman itu. Kami bertiga saling peluk di atas rakit, saat berhasil menjauh dari pulau mematikan itu. Tangis haru kami pecah.


__ADS_2