TUMBAL KETUJUH

TUMBAL KETUJUH
Perjalanan


__ADS_3

Drama memohon izin pada Mama dan Ayah usai. Sempat alot saat meminta izin ke Mama dan Ayah guna menjalankan amanah dari arwahnya Aditya. Mulanya, Mama bersikeras melarang. Terlebih usai telingaku mengeluarkan darah kala itu dan saat dibawa ke dokter THT hasilnya telingaku tidak ada masalah.


“Sekuat apa pun kita menjaga, yang ditakdirkan pergi akan tetap pergi. Dan sekuat apa pun kita menolak, yang ditakdirkan untuk tinggal akan tetap tinggal, Ma.” Kata itu yang akhirnya membuat Mama luluh merelakan aku menjalankan misi ini.


Dengan derai air mata Mama mengantar keberangkatan aku dan yang lain. Dari sorot mata Mama ada ketidakrelaan dan kekhawatiran. Namun, suamiku berhasil meyakinkannya dengan berjanji akan menjagaku sepenuh jiwa raganya.


“Andai aja Mama sama Ayah boleh ikut,” lirih Mama penuh harap.


“Nggak bisa, Ma. Kalau Mama sama Ayah ikut malah bahaya nanti.” Suamiku mencoba memberi pengertian mertuanya sambil digenggamnya tangan yang dulu menimangku itu.


“Ya udah, deh, Mama percayakan Rania sama kamu. Jaga dia. Bawa dia balik seperti sediakala. Jangan kurang suatu apa pun.”


“Siap, Komandan!” Diakhiri gaya hormat oleh suamiku, dan dihadiahi pukulan kecil di bahu oleh Ayah. Aku dan yang lain terkekeh mencairkan suasana yang tegang ini.


“Lagi pula, ada Madam Carla juga yang nanti mendampingi kita, Ma. Mama tenang aja, ya. Semua akan baik-baik saja. Kami akan kembali dengan selamat nantinya. Mama sama Ayah cukup doakan saja dari rumah.” Aku turut meyakinkan dan menenangkan mereka.


“Tentu,” jawab Ayah singkat sambil menepuk bahuku lembut. Aku dihadiahi pelukan dan kecupan oleh Mama dan Ayah. Lantas mengakhiri adegan dramatis ini dan masuk ke mobil. Baru saja suamiku hendak melajukan mobil, ponselnya berdering.


“Bentar, Madam Carla menelepon,” jelas lelakiku, detik kemudian menerima panggilan. Suamiku mengeraskan volume audionya, sehingga kami semua bisa mendengar suara Madam Carla di ujung telepon sana. Rupanya, Madam Carla memberitahukan jika dirinya membawa mobil sendiri dan sudah ada di jalan. Jadi, kami tak perlu menjemputnya ke rumahnya. Kami diminta langsung menyusulnya saja.


Suamiku pun melajukan mobil menuju lokasi Madam Carla menunggu. Menurut penuturannya tadi, Madam Carla menunggu di pengisian bensin yang tak jauh dari sini. Di mobil ini, kami berlima. Ada Sania, Mela dan Bayu, lalu aku dan suamiku tentunya.


“Dibawa enjoy aja. Jangan tegang dulu,” celetuk Bayu memecah hening.


“Siapa yang tegang. Elu kali yang tegang,” balas suamiku.


“Oh, ayolah, jangan seperti anak kecil. Mending kita dengar lagu biar perjalanan kita asyik,” sahutku.


“Naaah, setuju!” timpal Mela dan Sania kompak. Lalu keduanya terbahak merasa konyol mungkin. Aku lantas memutar musik. Lagu Khalid yang berjudul Young Dumb & Broke menjadi pilihanku dan semua suka. Kami menyanyi mengikuti lirik yang ada sambil berjoget tipis, menggelengkan kepala, menjentikkan jari atau menggoyangkan bahu.


Seketika semua terdiam, manakala lagu tiba-tiba berubah dengan sendirinya. Kidung lingsir wengi tiba-tiba mengalun terdengar menyeramkan tanpa musik pengiring. Hanya suara sinden wanita saja tanpa gamelan. Padahal lagu Khalid tadi aku setting putar ulang. Seharusnya hanya satu lagu itu yang terus mengalun.


“Eh, kok ada lagu ini, sih? Padahal di list aku gak punya lagu ini, loh.” Aku memeriksa daftar MP3 di ponselku dan anehnya memang tidak ada judul lagu itu.


“Jangan bercanda, dong, Ran!” gertak Mela.


“Aku serius. Cek aja sendiri!” Kusodorkan ponselku pada Mela yang duduk di jok belakang kemudi. Mela pun meraihnya dan memeriksa list laguku. Kebetulan hanya ada sekira puluhan judul. Kebanyakan lagu barat. Mela mengembalikan ponselku dan kami semua terdiam beberapa saat. Sampai akhirnya, kami bertemu dengan mobil Madam Carla. Mela dan Bayu memilih pindah ke mobil Madam Carla. Mobil kami di barisan depan, sedang mobil Madam Carla membuntuti di belakang.


Aditya memintaku melibatkan istrinya, karena Sania rupanya mengetahui lokasi atau desa tempat tinggal Ratih. Tepatnya di desa dekat tambang batu kapur yang dikelola Aditya semasa hidupnya. Sania sudah pernah diajak ke sana untuk meninjau tambang tersebut. Menurut penuturan hantu Aditya, tempat tinggal Ratih tidak jauh dari area tambang itu.

__ADS_1


Lingsir wengi sliramu tumeking sirno


(Menjelang malam, dirimu akan lenyap)


Ojo tangi nggonmu guling


(Jangan bangun dari tempat tidurmu)


Awas jo ngetoro


(Awas jangan menampakkan diri)


Aku lagi bang wingo wingo


(Aku sedang dalam kemarahan besar)


Jin setan kang tak utusi


(Jin dan setan kuperintahkan)


Dadyo sebarang


Wojo lelayu sebet


(Untuk mencabut nyawamu)


Tiba-tiba kidung Lingsir Wengi kembali mengalun dari ponselku. Padahal, aku sedang tidak menyalakan musik. Sania memintaku mematikan, tetapi aku tidak mengerti harus menekan apa. Pasalnya opsi musikku pun sedang off.


“Sayang, jangan panik. Coba matikan saja ponselmu.” Sesuai perintah suamiku, aku mematikan telepon. Kami kompak menghela napas saat akhirnya kidung menyeramkan itu berhenti. Detik kemudian, kidung itu kembali mengalun dari ponsel Sania. Sania refleks melempar ponselnya hingga jatuh ke bawah jok yang aku duduki.


“Aku nggak pernah save lagu itu,” ujar Sania ketakutan. Suamiku terus berusaha menenangkan kami berdua sambil terus fokus menyetir.


“Sekarang kamu percaya kan, San. Aku juga tidak pernah menyimpan kidung macam itu.”


Dengan ekspresi takut, Sania mengambil ponselnya dan melemparkan ke pangkuanku. “Matiin, Ran!” titahnya. Aku berusaha mematikan ponsel Sania, tetapi malah ngelag. Susah dimatikan. Padahal tombol off sudah aku tekan, tetapi layarnya tetap tidak mau padam. Masih terus menyala dan baru bisa mati setelah kidung itu usai.


“Ini nggak bener. Sebaiknya kita balik aja. Nggak usah diterusin. Persetan dengan jasad Aditya atau Ratih, ritual pembangkit mayat atau apalah itu. Tirta, kita puter balik aja!” pinta Sania.


Suamiku memelankan laju mobil dan membuat Madam Carla yang ada di barisan belakang membunyikan klakson. Suamiku memberi tanda dari lampu sen, bahwa kami akan menepi dan berhenti sejenak. Madam Carla pun ikut menepikan mobilnya.

__ADS_1


Kami turun dari mobil dan berusaha menenangkan Sania yang kalut. Tak berselang lama, Madam Carla, Mela dan Bayu turun juga.


“Ada apa?” tanya Madam Carla setelah mendekati kami.


“Madam, kita pulang aja. Nggak usah diterusin misi ini.” Sania merengek memohon.


“Memangnya kenapa? Ada apa?” cecar Madam.


Sania terus menangis ketakutan dan ditenangkan oleh Mela dengan usapan di bahu. Aku menjelaskan apa yang terjadi di mobil tadi kepada Madam Carla.


“Biar aku coba bicara dengan Sania.” Aku mengangguki ucapan Madam Carla, lalu keduanya pun sedikit menjauh dan berbincang serius. Entah apa yang dikatakan oleh Madam Carla, sampai akhirnya keberanian Sania kembali dan perjalanan pun diteruskan.


“Ini masih jauh, San?” tanyaku mencoba memecah kesunyian.


“Di depan melewati hutan jati. Kalau sudah sampai di sana artinya kita sudah setengah perjalanan,” paparnya. Aku mengangguk-angguk sambil mencari topik lain lagi. Pasalnya dari tadi Sania banyak diam. Hanya aku dan suamiku yang sesekali berbincang.


Baru saja kami mulai memasuki hutan jati yang tadi disebutkan Sania. Madam Carla membunyikan klakson berulang kali. Suamiku pun membuka kaca jendela. Dari spion terlihat jika Madam Carla memberi tanda agar kami berhenti.


“Ada apa, Madam?” tanya suamiku setelah kami semua turun dari mobil.


“Aku harus pulang dulu ....”


“Hah?! Kenapa Madam?” selaku.


“Suami Madam barusan telepon. Tidak tahu apa yang terjadi di rumah, tapi Madam diminta pulang dulu. Kalian tetap lanjutkan perjalanan. Kalau aku nggak bisa nyusul kalian, akan aku kirim orang kepercayaanku buat nyusul kalian.”


“Tapi, Madam ....” Mendadak timbul keraguan di hatiku. Sania juga kalut lagi, dia minta ikut pulang saja. Suasana pun jadi kacau balau. Di tengah menenangkan Sania, ponsel Madam Carla terus berdering suaminya memintanya agar cepat pulang. Entah apa yang sebenarnya terjadi.


Setelah Sania tenang, Madam Carla pun meninggalkan kami. Kini, kami berlima satu mobil lagi. Melanjutkan perjalanan membelah hutan jati yang sepi.


“Seingatku, seharusnya di sini tidak ada pertigaan begini,” lirih Sania saat aku tanyai harus melaju ke mana. Sekitar sepuluh meter di depan ada pertigaan dan Sania pun dilanda kebingungan. Dia sangat yakin ketika dulu lewat sini belum ada pertigaan seperti sekarang. Aku mencoba memanggil hantu Aditya guna meminta bantuannya, tetapi tidak kunjung muncul. Yang muncul malah sosok nenek-nenek memakai setelan kebaya dan kemben. Rambut putihnya tergerai menutupi wajah keriputnya. Tangannya menunjuk arah jalan yang lurus. Aku anggap itu sebagai petunjuk.


“Kita ambil lajur tengah yang lurus,” kataku tanpa berpikir lagi dan suamiku pun nurut. Sania serta yang lainnya tidak berkomentar.


“Sebentar, ini kok nggak tembus-tembus ya, hutan jatinya. Seharusnya sudah tembus dan kita akan sampai ke desa kecil gitu,” ujar Sania.


“Seingatku, dulu jalannya berkelok gitu, nggak lurus gini,” imbuhnya. Perasaanku mulai nggak enak. Aku melirik suamiku yang kebetulan juga sedang melirikku. Sepertinya, suamiku menyadari kecemasanku, satu tangannya menggenggam tanganku menyalurkan kekuatan dan ketenangan. Sedang tangan satunya masih tetap bertumpu pada setir.


“Astaga, apa itu!” seru suamiku saat mobil terasa seperti menabrak sesuatu. Sania dan Mela sempat menjerit, Bayu menelengkan kepala melihat keluar kaca jendela. Sedang aku terdiam, syok.

__ADS_1


__ADS_2