TUMBAL KETUJUH

TUMBAL KETUJUH
Telepon


__ADS_3

“Kamu yakin?” Aku memastikan.


“Tentu saja. Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku.” Rani menjawab dengan yakin dan agak menjengkelkan.


“Oke, baiklah.” Aku terpaksa setuju. Tidak ada cara lain. Semoga Rani bisa dipercaya.


“Dia siapa?” tanya Bayu sambil beranjak duduk.


“Rani,” balas Rani sebelum aku memperkenalkannya.


“Aku Bayu.”


“Suaminya Mela,” imbuh Rani.


Bayu melirik istrinya, lalu kembali adu pandang dengan Rani. “Kok tahu?”


Rani hanya tersenyum samar. Kemudian menoleh ke arahku. “Aku perlu sesuatu.”


Keningku mengernyit. “Apa?”


“Sesuatu yang bisa aku gunakan untuk meyakinkan suamimu, kalau aku adalah temanmu. Mungkin aku akan butuh itu nanti,” ujar Rani dengan ekspresi agak tengil.


“12-12.”


“Apa itu? Diskon akhir tahun, kah?”


Mendengar celetukan Rani, Mela dan Bayu tawanya hampir meledak. Tidak dengan Sania, sepertinya dia masih pening. Sania lebih banyak diam, sambil menyangga kepalanya.


“Cepatlah, jemput suamiku! Dia dalam bahaya!” Aku tidak bisa diajak bercanda dalam situasi seperti ini.


“Ya, baiklah, tapi katakan dulu, itu angka apa? Supaya aku bisa menjelaskan jika nanti suamimu bertanya!”


“Kamu tidak berniat mengelabuhiku kan?” Aku menatapnya lekat.


“Oh, ayolah. Aku tidak sepicik itu. Lagi pula, aku tidak tertarik dengan suamimu.”


“Aku harap, aku bisa memegang omonganmu itu.”


“Tentu saja! Tidak ada yang lebih penting untukku, selain sesegera mungkin memberitahu letak tengkorakku pada keluargaku.”


“Ya, baiklah. Maafkan aku. Itu tanggal kelahiran kami, meski beda bulan, dan juga tanggal pernikahan kami.”


“Luar biasa. Menakjubkan!” seru Rani.


“Cepatlah jemput suamiku!” seruku geram.


“Ah, ya, baiklah. Aku hampir lupa.” Detik kemudian Rani menghilang.


Aku terus memantau pergerakan raga suamiku. Sedangkan Bayu menanyakan tentang siapa Rani kepada istrinya. Dan Sania, dia hanya diam saja, masih menyangga kepalanya.

__ADS_1


Mela mengusap-usap punggung ini menguatkan dan memberiku ketenangan seusai berbincang dengan suaminya. Aku masih terus memantau raga suamiku. Tadi bola matanya sempat bergerak liar ke kiri dan kanan. Lalu, sempat kejang-kejang lagi sebentar. Entah sudah berapa kali aku memeriksa denyut nadinya. Makin mengkhawatirkan, denyutnya makin lemah. Aku makin panik.


“Kenapa belum balik juga, sih?” dumelku.


“Sabar, Ran!” Mela masih setia mengusap-usap punggung.


“Kita tunggu beberapa saat lagi. Kalau belum balik juga, biar aku susul mereka,” ujar Bayu penuh tekat. Mela mengangguk sepakat. Aku menatap mereka berdua secara bergantian, lalu kembali mengamati raga suamiku. Auranya makin pucat. Aku makin takut.


Di tengah kepanikan, tiba-tiba Sania muntah-muntah lagi. “Ini bau apaan?” katanya sambil menahan mual.


“Bau apa memangnya?” tanya Mela. Aku refleks berusaha mengendus bau yang dimaksud Sania.


“Bau bangkai bercampur dengan ... semacam bunga melati,” jawab Sania dan lanjut muntah-muntah lagi.


Sontak, kami bertiga pun saling pandang. Ini pertanda bahaya. Aku mulai merasakan adanya aura negatif yang mendekat.


“Ini buruk,” ujar Bayu lirih.


“Apa kamu juga merasakannya?” tanyaku sambil menatap Bayu, lalu beralih menatap Mela. Dan mereka serempak mengangguk.


“Kita pindahin raga suamiku ke tanah!” seru Bayu panik.


“Nggak bisa! Kalau raganya dipindah, nanti suamiku bingung!” kataku melarang.


“Ah, iya, kamu benar juga. Terus gimana?”


Aku diam dan berpikir. Mela gelisah, pun dengan Bayu. Sania baru saja kembali dari muntah-muntah.


“Sekarang, berubah wangi. Lebih tepatnya ... seperti kuburan baru,” ujar Sania dengan raut ketakutan. Bahkan tangannya mencengkeram lenganku kuat-kuat.


“Sial! Mereka makin dekat. Bagaimana ini? Sedangkan memindahkan raga Tirta ke tanah tidak mungkin!” Bayu menyugar rambutnya, frustrasi mungkin. Mela makin gelisah.


“Memangnya ada apa?” tanya Sania. Tidak mungkin menjelaskan padanya. Selain bisa membuatnya takut, lebih baik berpikir bagaimana caranya melindungi raga suamiku agar aman supaya tidak dibajak oleh makhluk-makhluk astral yang jahat itu.


“Kita buat lingkaran di sekeliling mobil!” Bayu dan Mela sepakat dengan ideku, dan tanpa pikir panjang kami langsung bekerja sama membuat lingkaran di tanah menggunakan ranting pohon.


“Apa ada yang akan datang?” tanya Sania lirih. Rupanya, dia sudah mulai paham. Aku menoleh sejenak ke arahnya, lalu mengangguk sebelum akhirnya kembali fokus membuat lingkaran lagi.


Akhirnya, lingkaran selesai. Sekali lagi, kami bertiga memeriksa memastikan lingkaran itu ter garis sempurna, tidak ada yang terputus. Aman. Lingkaran sempurna. Kami lanjut membaca mantra sambil berjalan mengitari mobil. Tepatnya di dalam garis.


Setelah selesai, kami bertiga masuk mobil dan menutup. Menghimbau Sania agar jangan keluar garis apa pun yang terjadi. Sania mengangguk patuh. Dia duduk di jok paling belakang, meringkuk memeluk lutut ketakutan sambil terus merapal doa yang ia bisa.


“Ran,” ujar Sania lirih, saat tiba-tiba angin bertiup kencang menerbangkan daun-daun, mematahkan ranting-ranting. Suaranya gemuruh. Angin berpusar hanya di sekitar mobil ini saja.


“Tenang ya, San. Terus baca doa!” kataku setengah teriak, suaraku ditelan desau angin. Sania mengangguk, lalu menundukkan kepalanya dan memejamkan mata, lalu kembali merapal doa.


Sementara aku, Mela dan Bayu membentuk lingkaran dengan tangan melingkari raga suamiku sambil merapal mantra tolak balak. Memberikan perlindungan ganda. Angin terus berpusat, mobil sampai goyang-goyang. Begitu juga dengan satu pintu yang kami biarkan terbuka, tepatnya di ujung kaki raga suamiku, pintu itu terbuka dan menutup tertiup angin.


Di belakang sana, Sania terisak ketakutan. Dia tak berani mengangkat kepala dan juga membuka mata. Kepalanya disembunyikan di sela paha, doanya makin lantang seiring makin tingginya kecepatan angin. Menit berikutnya, angin perlahan mereda, lalu benar-benar berhenti. Hening. Sama sekali tidak ada satu helai daun pun yang bergerak.

__ADS_1


“Apa semua sudah berakhir?” tanya Sania memecah hening.


“Entahlah,” jawab Mela.


Aku kembali memeriksa denyut nadi suamiku, masih aman. Namun, sangat lemah. Ini buruk. Jika Rani tidak segera membawanya kembali, bisa fatal akibatnya. Aku tidak menyangka kalau semua jadi seperti ini.


“Menurutmu, apa Rani bisa dipercaya?” tanyaku. Rasanya harapanku mulai menipis. Bukan harapanku pada suamiku, tapi pada Rani. Aku mulai meragukan apakah keputusanku untuk memercayainya adalah keputusan yang tepat.


“Semoga saja, Rani memang bisa dipercaya,” sahut Mela.


“Tapi, aku tidak yakin,” timpal Bayu lirih, dan mendapat sikutan serta tatapan tajam dari Mela.


“Aaak!” jerit Sania saat mendadak mobil oleng ke kiri dan kanan. Lagi, Sania merapal doa. Aku, Mela dan Bayu juga. Kali ini, aku menghalangi tubuh suamiku agar jangan terjatuh ke sela jok, di bantu Mela dan juga Bayu.


Mobil bergerak makin tak terkendali, bahkan kurasa sudah bergeser. Aku tidak bisa mendeteksi ini ulah makhluk apa. Pasalnya energiku belum pulih.


“Mel, apa kamu bisa mendeteksi wujud mereka?” Mela menjawab dengan gelengan.


“Bahkan, aku juga tidak bisa mendeteksi wujud mereka,” sahut Bayu.


“Tapi, kenapa aku bisa merasakan seperti ada banyak sekali makhluk yang mengitari kita?” ujar Sania, dia tak berani mengangkat kepalanya.


Mobil berhenti bergerak. Bayu segera keluar guna memastikan body mobil masih berada di dalam garis.


“Sial!” umpat Bayu seusai melihat posisi mobil. Sudah bisa kutebak, pasti ada yang keluar garis.


“Ban depan bergeser keluar sedikit. Kita harus mendorongnya agar kembali ke posisi semula!” ujar Bayu sekembalinya dari memeriksa.


“Apa tidak sebaiknya membuat lingkaran baru saja?” saran Mela.


Bayu menggeleng. “Itu bukan ide yang bagus. Bukan perkara lingkarannya, yang aku khawatirkan ini bisa menimbulkan kebingungan pada sukma Tirta.”


Ah, iya juga. Benar apa kata Bayu. Bergeser sedikit saja tata letaknya, maka akan membingungkan bagi sukma suamiku. Itu bisa menghalangi atau mempersulit sukmanya untuk kembali merasuk ke dalam raga. Kurasa, memang itulah tujuan para iblis terkutuk itu.


“Baiklah, mari kita dorong agar kembali ke posisi semula,” kataku bersemangat.


“Tidak, kamu di sini saja menjaga tubuh Tirta supaya tidak terjatuh. Biar aku, istriku dan Sania.” Sania menggeleng menolak. Sorot matanya menyiratkan ketakutan yang teramat.


“Tenanglah, San, kami akan berusaha melindungimu.” Mela berusaha meyakinkan.


“Tolonglah, San. Please!” Aku memohon, dan akhirnya Sania terpaksa setuju. Mereka bertiga mengerahkan sisa tenaganya. Butuh beberapa saat, sampai akhirnya mobil kembali pada posisi semula. Mela, Bayu dan Sania sampai harus bercucuran keringat.


Lagi, angin bertiup kencang hingga mematahkan dahan sebesar lengan orang dewasa. Dahan itu menembus garis yang kami buat. Bayu sigap menyingkirkan dahan itu sebelum digunakan sebagai jembatan untuk menerobos oleh makhluk astral.


“Untung saja kamu bergerak cepat. Terlambat sedikit saja, kita bisa kebobolan,” ujar Mela. Sania makin menciut.


Angin berhenti, suasana hening lagi. Tidak ada tanda-tanda angin ribut kembali. Aku bisa menghela napas sedikit. Aku terperanjat saat tiba-tiba ponselku berdering nyaring memecah hening. ‘Madam Carla’ nama pemanggil yang tertera di layar apung. Tanpa pikir panjang, langsung saja aku angkat dan menceritakan kondisi kami.


“Ya, aku bisa merasakan kalian dalam bahaya, makanya menelepon. Coba biar aku bantu panggil Tirta, tempelkan ponsel ini ke telinganya!” titah Madam Carla.

__ADS_1


Aku mendelik menatap tajam ke arah Mela yang menepis tanganku saat akan menempelkan ponsel ke telinga suamiku. Mela menunjuk area sinyal. Ah, sial, aku baru menyadari kalau sinyalnya kosong melompong. Jadi, tak mungkin Madam Carla bisa menelepon kemari.


__ADS_2