
Pasca malam pertama kami gagal karena aku mengalami kerasukan kala itu. Malam berikutnya digagalkan lagi oleh kedatangan tamu bulanan. Ya, aku haid. Selesai haid, Ayah menyarankan agar kami liburan ke beberapa tempat wisata. Nuansa pantai menjadi pilihan pertama kami.
***
Aku langsung merebahkan badan ke atas kasur tempat penginapan kami. Tirta mendekat seusai menaruh koper. Dia duduk di tepi kasur dan mengusap pucuk kepala ini.
“Capek, ya?” Aku mengangguki tanyanya masih sambil posisi rebahan.
“Ya udah, kamu istirahat dulu. Aku mau keluar sebentar,” lanjutnya.
“Mau ke mana?” tanyaku merengek.
“Mau cari sesuatu dulu.”
“Jangan lama-lama, tapi,” rengekku.
“Iyaaa.” Dia mencubit gemas kedua pipiku.
“Soalnya aku nggak bisa jauh dari kamu.” Dia geleng-geleng sebelum akhirnya menghilang di balik pintu yang tertutup.
Aku menutup muka dengan bantal. Merasa malu sendiri dengan ucapanku barusan. Terkesan lebay, nggak, sih? Takut dia ilfeel.
Mata mendadak diserang rasa kantuk. Namun, aku memilih menahannya. Takut kalau suamiku kembali membawa surprise dan aku ketiduran, kan, kasihan.
Aku langsung dalam posisi duduk saat mendengar seperti suara orang sedang mandi di dalam kamar mandi yang hanya bersekat dinding. Siapa yang mandi? Bukannya suamiku sedang keluar kamar? Dan aku juga tidak melihat adanya orang masuk menumpang mandi.
Aku beranjak dari ranjang dan melangkah perlahan mendekati pintu kamar mandi yang terletak beberapa meter di sebelah kanan ranjang. Suara guyuran air masih terdengar jelas. Tangan ini gemetar saat akan membuka pintu bercat putih di hadapan.
Pintu akhirnya berhasil aku buka lebar. Tidak ada siapa-siapa di dalam. Bahkan lantainya kering. Tidak ada tanda-tanda bekas orang mandi. Aku berbalik dalam sekali sentak saat di belakangku ada sekelebat bayangan hitam.
__ADS_1
“Siapa di situ?”
Hening tak ada sahutan. Seperti ada yang bersembunyi di balik gorden. Aku berjalan perlahan mendekati gorden dan menyibaknya dalam sekali sentak. Kosong.
Ada suara isakan lirih di bawah kolong ranjang. Mulanya aku berpikir untuk masa bodoh saja. Namun, suara itu tak kunjung lenyap dan membuat jiwa kepo-ku meronta. Akhirnya aku beranikan diri untuk mengintip. Baru saja tangan ini mau menyibak seprei yang menjuntai , sebuah tangan hitam seperti terbakar keluar dan menarik lenganku kuat-kuat. Aku yang merasa ngeri terpejam dan berteriak. Dan saat mataku terbuka, aku sudah berada di tempat lain. Bukan lagi di kamar.
Entah tempat apa ini, tetapi yang jelas seperti sebuah bangunan yang baru saja terbakar. Banyak puing-puing gosong berserak dan sebagian masih mengeluarkan kepulan asap. Namun, kobaran api sudah tak lagi terlihat.
“Tolooong!” Ada suara wanita meminta tolong dari balik dinding papan yang masih berdiri di hadapanku. Aku berjalan mencari celah menuju balik dinding. Namun, ternyata sudah ada seorang pria yang hendak menolongnya. Tunggu dulu, kenapa pria itu mengambil balok kayu? Ada seringai aneh di bibir pria itu.
“Tolooong!” pinta wanita malang itu dengan suara lemah. Sebagian besar tubuhnya terdapat luka bakar. Melepuh. Mata ini melotot dan mulut ternganga saat pria itu mengangkat tinggi-tinggi balok di tangannya.
Detik kemudian, aku menjerit histeris saat pria itu menghantam kepala wanita tersebut.
“Apa yang Anda lakukan? Hentikan! Hentikan!”
Namun, pria itu seolah tak mendengar jeritanku. Setelahnya, pria itu celingukan memastikan situasi. Kemudian mengeluarkan korek beserta plastik dan menyulutnya. Balok itu pun terbakar dan diletakkan di atas kepala wanita tadi yang memang sudah tak bergerak usai dihantam balok. Sungguh kejam! Tetapi, aku tak bisa berbuat banyak. Tubuhku sepertinya tak terlihat oleh mereka, pun suaraku tak terdengar. Entah apa yang terjadi. Di hadapanku seperti ada dinding kaca yang menyekat kami. Aku tak bisa melewatinya.
“Ayang, kamu kenapa?” tanya Tirta.
“Hmmm.” Aku berusaha duduk, “Kenapa apanya?” tanyaku bingung. Dia turut duduk di sebelah, menatapku lekat.
“Tadi kamu seperti sedang bermimpi. Mata terpejam dan badanmu bergerak tak beraturan. Gelisah gitu. Terus berteriak-teriak ‘hentikan, hentikan,' gitu.”
Ah, benarkah itu tadi hanya mimpi saja? Tetapi, kenapa terasa seperti nyata? Apa ini? Kenapa akhir-akhir ini aku sering sekali melihat hal-hal aneh lagi? Apa mata batinku terbuka lagi?
“Hei, Ayang, kok, malah bengong? Kamu kenapa?” Tirta mengusap kepalaku lembut. Aku tersenyum kemudian menggeleng. Dia menarik kepalaku ke dalam dekapannya.
“Kalau ada apa-apa cerita, ya!” pintanya kemudian. Aku mengangguk.
__ADS_1
“Aku juga nggak tahu, Yang. Tapi, akhir-akhir ini aku sering mimpi seram.”
“Makanya lain kali kalau mau tidur jangan lupa berdoa dulu,” ujarnya sambil membingkai wajah ini.
“Iya, tadi kayaknya lupa berdoa. Soalnya tiba-tiba ngantuk banget, terus ketiduran.”
“Tuh, kaaan.” Tirta mencubit gemas ujung hidung ini.
“Oya, kamu dari mana barusan?” todongku.
“Habis cuci mata. Lihat bule-bule pakai bikini di pinggir pantai,” jawabnya dengan santai kemudian berdiri dan berjalan menuju balkon. Aku mengekorinya sambil terus mengomel kesal.
Dia malah terbahak. “Aku bercanda, Sayang!” tegasnya sambil mencubit gemas kedua pipi ini. Aku masih manyun kesal dan berpaling darinya. Dia memutar tubuhku agar menghadapnya, lalu dikecupnya bibir ini lembut. Aku terpejam menikmati gelenyar hangat yang menjalari tubuh. Emosi berubah menjadi rasa yang indah. Aku terpaku menikmati setiap perlakuan manis suamiku.
Pasrah ketika dia membopong tubuhku masuk ke dalam kamar lagi, lalu membaringkan secara perlahan ke atas kasur. Tatapan matanya sendu penuh mau. Aku terpejam lagi manakala tangannya lembut membelai rambut ini, kemudian beralih membelai pipi ini. Sekali lagi, kecupan hangat dia daratkan di bibir ini.
Pada akhirnya, kamar ini harus merasa menang karena menjadi satu-satunya saksi penyatuan kami. Malam ini terasa sangat indah, sekaligus menyakitkan. Aku telah resmi menjadi milik suamiku seutuhnya. Pun sebaliknya.
Usai pergulatan hebat kami, rasa lelah sekaligus mengantuk menyerang secara bersamaan. Tak berselang lama suamiku langsung tertidur pulas. Aku mengamati wajah tampannya sebelum akhirnya aku juga kehilangan kesadaran.
Baru saja mau memejamkan mata, mendadak kebelet buang air kecil. Aku terpaksa bangun lagi, ke kamar mandi dengan balutan selimut. Baru saja siap buang air kecil, tengkuk ini seperti ada yang meniup. Terasa sangat dingin dan merinding.
"Tolooong!" Aku terperanjat saat ada yang berbisik penuh penegasan di telinga kiriku. Menoleh ke sana kemari guna memastikan siapa pemilik suara itu, tetapi tidak ada orang. Cepat-cepat aku menyelesaikan ritual di kamar mandi ini dan bergegas kembali ke atas kasur.
"Yang!" panggilku sambil mengguncang perlahan tubuh suamiku.
"Hmmm," sahutnya sambil merem.
"Peluuuk!" rengekku. Dia pun melingkarkan tangannya memelukku. Aku merasa nyaman dan aman dalam dekapannya.
__ADS_1
***