TUMBAL KETUJUH

TUMBAL KETUJUH
Mata Batin Bayu


__ADS_3

🌹POV. Rania🌹


Dia, masih saja usaha mendekati aku padahal sudah kutolak berulang kali.


“Dia yang namanya Tirta?” bisik Mama. Cepat aku menggeleng.


“Hai, Tante.”


“Hai. Sini-sini tante bantu.” Mama berdiri, menawarkan jasanya, sambil mengambil alih parsel berisi buah-buahan lalu diletakkan di atas meja kecil samping ranjang. Tak lupa Mama mengucapkan terima kasih.


“Iya, sama-sama Tante.”


“Ini buat kamu,” ucap cowok yang kini sedang berdiri di samping kananku sambil meletakkan buket bunga, “cepet sembuh, ya!” imbuhnya.


“Terima kasih,” timpalku.


“Oh ya, Tante, kenalin saya Abdi. Teman sekolahnya Rania.” Cowok di samping kananku mengulurkan tangannya melewati badanku yang tengah terbaring. Mama yang berada di seberang kiri ranjang menyambut uluran tangan Abdi. Lantas Mama memperkenalkan diri juga.


“Saya turut prihatin atas musibah yang menimpa keluarga Tante,” ucap Abdi, setelah mengobrol banyak dengan Mama. Aku hanya sesekali menimpali obrolan mereka dengan senyuman kecil dan gumaman. Mataku terus saja menilik ke arah pintu, mengharapkan hadirnya si manusia kutub itu.


“Semoga putri bungsu Tante segera ditemukan dalam keadaan baik-baik saja.”


“Aamiin. Terima kasih doanya. Terima kasih juga sudah menyempatkan datang menjenguk Rania.”


“Sama-sama Tante.”


Setelah jam besuk habis, Abdi pamit pulang. Kini tinggalah aku dan Mama. Pupus sudah harapanku. Aku menghela napas pajang. Kesal. Dapat dipastikan Tirta tak kan datang. Datang pun percuma jam besuk sudah habis, pasti tidak diperbolehkan masuk.


Mungkin selama ini aku terlalu baper menanggapi sikap  Tirta padaku.


***


“Mau pulang kok lesu gitu?”


Aku hanya tersenyum kecut menanggapi ucapan Mama.


Bagaimana nggak lesu coba?


Sampai aku sudah mau pulang Tirta tidak datang menjenguk. Menyebalkan.


Lagian memang dia siapanya aku? Kenapa aku begitu kesal, dan sangat mengharapkan hadirnya di sini?


“Kenapa? Masih pusing?” tanya Mama saat melihat aku menggeleng. Aku menggeleng bukan karena pusing, Ma, tapi menepis pikiran nyeleneh yang kemelut dalam benak.


Huf, masalah hati memang menyebalkan!


“Enggak kok, Ma.”


“Ya sudah, ayo pulang!” ajak Mama, sambil mengulurkan tangan hendak menuntunku.


“Ayah nggak jemput kita, Ma?”


“Ayahmu ‘kan masih lanjut mencari adikmu.”


Aku manggut-manggut paham.


***


Sesampainya di rumah keadaan sepi. Mbok Tini dan Mang Ramat pun tidak bekerja terlihat dari kondisi rumah yang tidak terawat. Ayah pasti masih mencari Tania.


“Kamu istirahat di kamarmu, gih! Yuk, mama anter.”


“Terus Mama mau ngapain?”


“Mama mau beres-beres terus masak.”


Kutatap wanita yang melahirkan aku 17 tahun silam itu sedemikian rupa. Tak percaya Mama bisa masak dan beres-beres. Sampai sebesar ini aku belum pernah melihat beliau beberes atau masak. Ketika di kota dulu selalu pembantu yang mengerjakan semuanya. Mama tahunya terima beres, dan jika ada yang dirasa tidak cocok dengan angannya maka dia akan mengomeli atau bahkan memecat pembantu yang baru beberapa hari bekerja di rumah.


Karena sikap Mama yang kasar itu sehingga sebentar-sebentar ganti pembantu.

__ADS_1


“Bukankah selama di kota dulu Mama nggak pernah beberes, ya? Emang  Mama bisa beberes sama masak?”


“Wah, ngeremehin!” sahut Mama, sambil melirikku sekilas.


“Bisalah. Masak air sama mie instan,” lanjutnya. Lalu kami sama-sama terkekeh sembari menaiki anak tangga.


Dek, Tania, kamu di mana? Andai kamu tahu sekarang Mama sudah berubah menjadi wanita yang lembut penuh kasih, pasti kamu seneng banget.


“Selamat istirahat,” ucap Mama,  sambil menyelimutiku yang sudah terbaring di atas ranjang.


“Terima kasih, Ma.”


“Hem,” gumamnya seraya mengusap pucuk kepala ini penuh kasih. Aku menikmatinya. Ini pertama kali Mama mengusap pucuk kepalaku dengan lembut penuh keikhlasan. Dulu selalu terlihat terpaksa saat melakukan ritual seperti ini.


Mama lalu pamit hendak beberes dan masak. Berlalu dari samping ranjang, menarik knop pintu kamarku lalu pintu kamar ini ditutup.


***


Sudah mencoba tidur, tapi tidak bisa. Kepikiran Tania terus. Akhirnya kuputuskan untuk bangun melihat ke kamar Tania. Setidaknya di sana ada barang-barangnya yang bisa sedikit mengobati rindu nan menggebu dalam kalbu.


Berjalan merambat berpegang pada dinding hingga sampai di kamar Tania.


Sempat ragu hendak membuka pintunya, tapi akhirnya kubuka juga.


Derit pintu terdengar memilukan seolah turut bersedih atas hilangnya penghuni kamar ini.


Saat pintu terbuka lebar, aku termangu di ambang pintu. Bayangan Tania saat bermain dan belajar di dalamnya langsung menyambutku. Tak terasa air mataku jatuh berderai.


“Kaaak, tolong akuuu, Kaaaak.”


Aku tersentak dari lamunan. Kuusap air mata yang berlinang di pipi. Berjalan perlahan melintasi ranjang Tania, menuju ke kamar mandi dimana suara parau itu berasal.


“Tania, kamukah itu, Dek?”


Kubuka pintu kamar mandi dengan kasar, tapi kosong tidak ada siapa pun di dalamnya.


Aku balik badan membelakangi pintu kamar mandi.  Rasa kecewa menelusup ke dalam hati. Kubiarkan pintu kamar mandi Tania sedikit terbuka.


Kakiku seolah tertanam di lantai, saat pintu semakin berdentam hebat membuka dan menutup dengan sendirinya.


“Kaaak, aku di sini.”


Mataku bergerak ke arah sumber suara. Sudut mataku membentur sosok gadis kecil dengan badan berlumuran darah berdiri di sudut kamar ini.


Seketika aku berjongkok menutup telinga dan memejamkan mata erat. Berteriak sekuat tenaga memanggil Mama.


Selang beberapa saat Mama pun datang dengan napas tersengal. Panik.


“Kamu kenapa? Hah?!” tanya Mama, yang kini sudah berjongkok di depanku. Memegangi kedua sisi bahu ini. Matanya menyelidik. Antusias menungguku bercerita, tapi lidahku kelu. Aku bergeming.


Mama langsung mengeluarkan ponsel dari saku celananya.


“Mas, cepet pulang! Rania histeris.”


Aku yakin Mama menelepon Ayah.


***


“Gimana? Ada apa?” tanya Ayah gusar. Sambil menatapku dan Mama secara bergantian. Napasnya tersengal habis berlari dari lantai bawah ke atas sini, pasti.


“Itu Mas, tadi Rania histeris. Sudah kutanya kenapa, tapi dia nggak jawab malah bengong gitu.”


Aku diam bukan karena tidak sadar, tapi diamku karena otakku terus me-review bayangan gadis kecil yang berlumur darah tadi. Syok.


Postur badannya sangat mirip dengan Tania. Apa itu artinya Tania sudah ....


Segera kutepis pikiran ngaco. Menggeleng menyoba menyadarkan diri dari lamunan.


“Ada apa?” tanya Ayah, lalu turut duduk di tepi ranjang Tania. Kini posisiku diapit oleh Mama dan Ayah. Kutatap wanita cantik di samping kiriku lalu beralih menatap lelaki gagah di samping kananku.

__ADS_1


“Ma, Yah ....”


Belum selesai aku berkata, seorang cowok berdiri di ambang pintu. “Apa yang terjadi sama Rania, Om?” tanyanya gusar. Tak lama kemudian datang lagi dua orang.


Aku, Mama dan Ayah saling pandang. Bingung. Pun mereka bertiga yang berdiri di ambang pintu kamar Tania, saling pandang satu sama lain.


“Tirta, Dian, Bayu, kalian di sini?” desisku, sambil mengerutkan dahi. Bingung.


“Iya, mereka bertiga yang selama ini bantu ayah mencari Tania tanpa henti dan tanpa pamrih.”


Aku menoleh ke arah Ayah yang mencoba menjabarkan. Lalu mengangguks-angguk kecil, paham.


Kupikir dia nggak peduli, ternyata Tirta jauh lebih peduli dari yang aku pikirkan selama ini. Peduli terhadap keluargaku.


“Kamu kenapa tadi katanya histeris? Apa masih ada yang sakit badannya?”


Cepat aku memandang Ayah sambil menggeleng kecil. “Enggak kok Yah, badanku sudah baikan. Yah, Ma, boleh tidak kalau aku ngobrol sama temen-temen aku?”


“Kenapa tidak,” sahut Ayah. Lalu ia mengajak Mama untuk turun ke lantai bawah, dan membiarkan aku mengobrol dengan mereka bertiga, Tirta, Bayu, dan Dian.


Setelah Mama dan Ayah pergi, aku menceritakan pada mereka bertiga tentang apa yang kulihat tadi. Penampakan yang membuatku histeris.


Dian, Bayu, dan Tirta lalu mencoba merasakan aura dalam ruangan ini, tapi kata mereka positif. Tidak ada apa-apa di sini.


“Mungkin itu Cuma halusinasi aja. Itu bisa terjadi karena kamu terlalu rindu dan terus memikirkan Tania.”


Dian mementahkan ucapanku, tapi mungkin ada benarnya juga apa yang dikatakan Dian. Aku terlalu merindukan Tania.


“Terus gimana, selama proses pencarian? Apa sudah ada petunjuk tentang keberadaan adikku?” tanyaku, sambil menatap mereka bertiga secara bergantian.


Tirta menggeleng lesu, disusul Bayu dan Dian.


“Masih nihil, Ran,” papar Bayu, lesu.


“Eum, bagaimana kondisi badanmu? Sudah tidak ada yang sakit, ‘kan?” tanya Tirta, matanya menyelidik. Dia yang semula berdiri lalu duduk di samping kananku.


Dian juga turut duduk di samping kiriku. Sementara Bayu, ia duduk di kursi belajar milik Tania.


“Masih sedikit nyeri di sekujur badan, tapi sudah mendingan kok.”


“Syukur kalau sudah mendingan. Maaf kami tidak bisa menjengukmu waktu di rumah sakit. Kami terlalu fokus mencari adikmu.”


“Hem, tidak apa-apa. Kalian membantu mencari adikku, itu juga sudah lebih dari cukup kok.”


“Bagooos, terus aja kalian ngobrol berdua. Anggap kami berdua nggak ada. Anggap saja aku dan Bayu makhluk goib yang tak kasat mata,” cerocos Dian yang merasa terabaikan karena tak kulibatkan dalam perbincangan aku dan Tirta. Sementara Bayu hanya menanggapi celoteh Dian dengan gumaman. Tangan Bayu sibuk memegang dan memeriksa buku milik Tania.


Aku melirik Tirta sambil mengulum senyum, tapi tidak dengannya wajahnya kembali datar. Tirta mendadak seperti salah tingkah gitu.


Aku tersentak kaget saat Bayu mendadak jatuh tergeletak ke lantai pasca memegang salah satu buku Tania.


Tirta dan Dian pun langsung mendekat dan membenarkan posisi Bayu.


“Bayu kenapa?”


“Sepertinya Bayu mendapat penglihatan, Ran.”


Aku masih bergeming duduk di tepi ranjang Tania sambil memegangi dada. Jantungku berdetak hebat. Syok. Ini kali pertama aku melihat Bayu seperti itu. Takut dan khawatir.


“Tenang Ran, Bayu biasa seperti ini. Insya Allah, aman kok,” ucap Dian, seraya melangkah mendekatiku dan mengusap bahu ini. Menenangkan.


Penglihatan apa yang bakal Bayu dapatkan?


N


E


X


T

__ADS_1


👇


__ADS_2