TUMBAL KETUJUH

TUMBAL KETUJUH
Tragedi Di Makam Tua


__ADS_3

“Jangan macam-macam kamu!” tandas Mbah Barjo sambil menunjuk ke arah kami, “lepaskan putriku!” lanjutnya penuh amarah.


“Kalau Simbah mau Sekar kami lepaskan, maka lepaskan juga kedua teman kami!” sahut Bayu sengit.


“Tidak! Jangan ambil Tirta dariku! Dia milikku!” teriak Sekar, dia terus berontak matanya tertuju pada Tirta. Bayu tak peduli, tangan kirinya digunakan untuk memiting leher wanita tidak waras itu. Sedang tangan kanannya mencekal tangan kanan Sekar yang dilipat ke kebelakang punggung. Sementara Mang Ule memegangi tangan kiri Sekar.


“Ran, kamu bakar keris yang ditancapkan di atas kuburan itu. Kemudian selamatkan Mela dan Tirta.” Aku mengangguki bisikan Bayu.


“Pak, lindungi keri ... ap!” Bayu langsung membungkam mulut Sekar yang akan membocorkan rencana kami pada bapaknya.


“Diam kamu!” hardik Bayu. Sekar terus berusaha berteriak dalam bekapan tangan Bayu. Memberitahu Bapaknya tentang rencana kami lewat gerakan mata, tapi untungnya baik Mbah Barjo atau Mbok Patmi tidak menangkap sinyal yang coba disampaikan oleh putrinya itu.


“Ayo Ran, bergerak sekarang. Biar aku dan Mang Ule mengalihkan perhatian dukun sialan itu.”


“Oke, Bay.”


Setelah Bayu bergerak sedikit mundur ke tepi jurang, dan terus mengajak Mbah Barjo bicara. Aku bergerak menuju keris yang tertancap di dalam cungkup. Kucoba cabut, tapi sangat sulit. Seolah ada yang menahan. Malah aku terpental dan terduduk ke tanah.


Kucoba cabut sekali lagi, tapi tetap tidak bisa. “Susah, Bay!” teriakku. Mbah Barjo menoleh ke arahku, dia bingung antara mau menyelamatkan putrinya atau jimatnya juga calon tumbalnya.


“Kalau sampai Mbah Barjo mendekati Rania, maka Sekar akan saya lempar ke dasar jurang!” ancam Bayu. Mbah Barjo dan Mbok Patmi kompak menoleh ke arah Bayu lanjut menggeleng.


“Tidak! Jangan! Jangan sakiti putri kami! Dia tidak tahu apa-apa dalam hal ini,” teriak Mbok Patmi.


“Mamang bantu Rania saja!” Kudengar Bayu memberi perintah pada Mang Ule.


“Siap, Mas Bayu.” Mang Ule pun melangkah ke arahku dan berusaha mencabut kerisnya, tapi tetap tidak bisa.


“Memang sangat sulit, Mas Bayu!” teriak Mang Ule.


Mbah Barjo tersenyum meremehkan. “Kalian tidak akan bisa mencabutnya. Keris itu hanya akan patuh pada pemiliknya saja. Dasar bodoh!” Dukun sableng itu lanjut terkekeh mengerikan. Mbok Patmi ikut tersenyum datar.


“Kalau begitu bakar saja sama kuburannya sekalian!” seru Bayu.


Mbah Barjo dan Mbok Patmi menoleh ke arah Bayu lagi. “Jangan! Jangan lakukan itu! Itu bisa menimbulkan petaka!” teriak Mbah Barjo. Wajah yang semula berekspresi menjengkelkan kini berubah panik. Sedang Tirta ia terlihat bingung dengan apa yang terjadi kini.


“Sudah! Bakar saja, Ran!” teriak Bayu. Aku mengangguk. Lantas mencabut satu obor bambu dan mematikannya lantas kucabut sumbu yang terbuat dari sabut kelapa. Kutuangkan minyak tanah ke keris. Mang Ule menyulutnya dengan obor satunya.


Sekali sulut, api langsung membesar dan timbul suara seperti suara ledakan yang tertahan. Mang Ule menarikku mundur menjauh dari api. Bersamaan dengan terbakarnya keris beserta cungkup tua itu, tubuh Mbah Barjo dan Mbok Patmi menggelinjang sambil berteriak kepanasan. Sungguh pemandangan yang mengerikan. Aku terpaku menyaksikan kengerian itu.

__ADS_1


“Argh!” erang Tirta sambil memegangi kepalanya. Tubuh kurusnya terhuyung dan ambruk ke tanah.


Aku tersadar dari lamunan dan mendekati Tirta. Sedang Bayu melepaskan Sekar.


“Ta! Hei, sadarlah!” ujar Bayu setelah mendekat. Tirta masih terus mengerang sambil memegangi kepalanya. Ia terlihat sangat kesakitan. Aku tidak tega melihatnya.


“Ini, Non Mela belum sadar juga. Gimana ini?” seru Mang Ule yang sudah berhasil melepaskan Mela dari ikatan.


Suasana jadi sangat kacau. Tirta akhirnya pingsan juga setelah mengerang kesakitan beberapa saat. Mela belum sadar juga. Sedangkan Sekar histeris melihat kondisi kedua orangtuanya yang tergeletak tak bergerak dan dalam kondisi badan gosong-gosong seperti habis terbakar. Aneh, padahal yang dibakar keris sama kuburannya, tapi kenapa sepasang dukun itu ikut gosong?


Aku sibuk berusaha menyadarkan Tirta, Bayu dan Mang Ule menyadarkan Mela. Sedang Sekar terus teriak memanggil-manggil ibu dan bapaknya.


“Ta, sadar Ta! Ini aku, Raniamu.” Kutaruh kepala Tirta di pangkuan, kuusap rambutnya dan kubersihkan wajahnya yang kotor dengan sapu tangan pemberiannya dulu.


“Lihat! Ini sapu tangan pemberianmu dulu. Aku masih menyimpannya sampai kini,” ucapku disela isak tangis. Kuusap air mataku yang menetesi wajahnya dengan tangan.


Aku tersenyum sambil menahan tangis saat kudengar Tirta melenguh. Sejurus kemudian dia mengerjap dan membuka matanya perlahan. Aku kembali terisak. Bahagia. Akhirnya dia sadar kembali. Kukecup keningnya, tak peduli meski dia bukan mahramku.


“Ra-Ran-Rania,” panggilnya terbata. Mata kami beradu, dia masih terbaring di pangkuanku. Tangannya mengulur lemah, mengusap lembut pipi ini. Aku menggenggam tangannya yang masih menempel di pipi ini, lantas kukecup berkali-kali. Masih sambil terisak.


“Iya, aku Rania. Raniamu,” sahutku.


Sejurus kemudian kami kembali saling pandang beberapa saat.


“Aku senang akhirnya Tirtaku telah kembali,” ucapku saat dalam dekapannya.


Tirta melonggarkan pelukan lalu melepaskannya. “Kembali? Memangnya aku dari mana?” Sejurus kemudian dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, “ini ... kita lagi ada di mana?” tanyanya.


“Ceritanya panjang. Nanti aku bakal ceritain,” kataku sambil meraih lengannya dan menggenggam tangannya. Tirta masih tampak linglung. Tapi, setidaknya dia sudah mengingatku. Itu cukup membuatku lebih semangat.


Rasanya seperti matahari terbit setelah bertahun-tahun gerhana dan gulita yang semula menyelimuti bumi perlahan menyingsing.


“Ada Bayu juga di sini,” ujar Tirta setelah menoleh ke arah pohon besar. Aku mengangguk. “Itu ... yang bersandar di pohon dan lelaki tua itu ... siapa?” tanyanya kemudian.


“Yang perempuan Mela sahabatku. Sedang si pria tua itu sopirku. Mang Ule namanya.” Tirta mengangguk samar.


“Gimana Bay?” tanyaku.


“Mela belum sadar juga, Ran.” Suara Bayu melemah. Aku menarik lengan Tirta mendekati Bayu, Mela dan Mang Ule. Setelah menyapa Bayu, Tirta kemudian salaman dengan Mang Ule.

__ADS_1


“Terus gimana dong?” tanyaku ikut bingung.


“Kita segera bawa Mela pergi dari sini saja. Biar aku yang bopong.” Aku mengangguki ucapan Bayu.


“Ya sudah, nanti biar gantian sama mamang,” sahut Mang Ule. Bayu mengangguki.


“Gantian sama aku juga boleh,” imbuh Tirta.


“Eh, jangan dong! Kondisi kamu sendiri, kan, masih lemah,” sahutku.


“Aku udah baikan, kok.”


“Udah, biar Bayu sama Mang Ule saja. Mela itu berat badannya.” Tirta akhirnya pasrah.


“Kita pergi dari sini sekarang?” tanyaku kemudian.


“Iya. Ayo!” timpal Bayu. Detik berikutnya ia membopong Mela.


“Terus Sekar gimana?” tanyaku. Pandangan kami pun tertuju pada Sekar yang masih duduk bersimpuh di sisi kedua orangtuanya. Sambil terus meracau entah apa?


“Sudah. Biarkan saja dia di sini. Dia sudah dewasa. Pasti sudah tahu harus berbuat apa. Ayo, kita pergi saja!” ajak Bayu. Aku nurut meski sebenarnya tidak tega meninggalkan Sekar sendirian di sini dan dalam kondisi hancur seperti itu.


“Bay, kamu duluan!” titahku. Bayu melangkah di barisan terdepan, Mang Ule di belakangnya. Kemudian Tirta dan terakhir aku.


“Kamu duluan!” titah Tirta sambil memberi ruang untuk aku mendahuluinya, “biar aku yang di belakang,” lanjutnya kemudian. Aku nurut.


Usai bertukar posisi, Sekar menyambar lengan Tirta dan menariknya ke tepi jurang. Semua terjadi begitu cepat. Dia tertawa terbahak. Seperti orang gila. “Kalau aku nggak bisa memilikinya, maka orang lain tidak ada yang boleh memilikinya!” teriaknya.


“Tidak! Sekar, lepaskan dia!” kataku sambil melangkah mendekat berusaha menolong Tirta.


“Jangan mendekat!” teriak Sekar, "atau dia aku dorong ke jurang," lanjutnya. Aku pun menghentikan langkahku.


“Tolong, lepaskan dia, Sekar!” tandasku. Sekar malah terbahak.


“Tidak akan!” serunya lantang. Sambil terus mengeratkan pitingan ke leher Tirta. Tirta masih terlalu lemah untuk berontak.


Bayu meletakkan Mela ke tanah. Lantas mendekat dan berusaha membujuk Sekar agar melepaskan Tirta. Pun dengan Mang Ule.


“Tidak akan! Kalau aku nggak bisa memilikinya maka orang lain juga tidak boleh!” pungkas Sekar. Ekspresinya seperti anak kecil yang tidak mau berbagi mainan.

__ADS_1


“TIRTAAA!” jeritku sekuat tenaga, saat tubuh lemah Tirta didorong oleh Sekar ke dalam jurang. Dalam sekejap tubuh Tirta menghilang dari pandangan. Detik berikutnya Sekar ikut terjun ke dalam jurang.


Aku seperti kehilangan tulang kaki. Lemas. Sejurus kemudian tubuhku ambruk ke tanah. Syok.


__ADS_2