Wanita Pilihan CEO 2

Wanita Pilihan CEO 2
RUBAH BETINA


__ADS_3

Wanita Pilihan CEO Bab 11


Oleh Sept


Rate 18+


Suasana bangsal VIP mendadak gaduh, ada keributan antara sesama penghuni bangsal VIP. Tepatnya di bangsal milik Alexa. Kunjungan tiba-tiba Aurora, memancing keributan. Wanita itu datang-datang membawa masalah.


Seperti istri tua yang melabrak madunya. Aurora bersikap seolah Alexa adalah benalu yang harus diberantas sampai akar-akarnya.


PLAKKK


Suara tamparan memenuhi ruangan. Alexa sampai tertegun dibuatnya. Ia tidak mengerti tujuan Aurora.


"Perempuan gila!" batin Alexa saat menatap Aurora menampar pipinya sendiri. Ia menatap miris pada wanita yang ia anggap sinting tersebut. Mana ada orang menampar pipinya sendiri. Mungkin hanya orang yang kurang waras, dan itu adalah Aurora. Tidak ada angin dan tidak ada hujan, wanita cantik itu mendadak melukai tubuhnya sendiri. Mungkin ia menderita kelainan. Sarafnya terganggu, pikir Alexa.


"Hey! Apa yang kau lakukan! Apa kau kurang waras?" sentak Alexa masih tak percaya pada yang ia lihat.


Aurora hanya tersenyum licik, kemudian ekspresi wajahnya seketika itu langsung berubah. Wanita gila itu nyatanya layak jadi bintang opera. Pandai bersandiwara dan mendramatisir keadaan. Perempuan itu sengaja menampar pipinya sendiri, setelah tahu bahwa di depan pintu di bangsal Alexa ada Austin. Pria yang jadi rebutan. Ia sengaja membuat pertunjukan gratis untuk Alexa.


Aurora ingin Austin marah pada gadis itu. Ia akan pura-pura ditampar Alexa. Lihat saja nanti, pasti Austin akan membelannya, pikir Aurora penuh percaya diri yang tinggi.

__ADS_1


KLEK


Terdengar suara pintu tiba-tiba terbuka, Alexa melihat pintu bangsal tersebut dan ia manatap Austin yang melangkah masuk secara perlahan. Dan Aurora pun mulai beraksi, ia mengadu dirinya sedih karena ditindas. Tanpa tahu malu, Aurora memasang muka paling melas dan tak berdaya.


"Austin ... Dia menamparku, dia marah padaku ... lihat, bibirku sampai berdarah. Dia wanita yang kasar, padahal aku hanya ingin melihat dan menanyakan kondisi wanita ini."


Aurora melirik ke arah Alexa dengan sudut bibir yang terangkat. Seolah sedang tersenyum penuh kemenangan di depan Alexa.


Wanita itu sedang berusaha mengadu kesakitan karena ditampar Alexa. Ia mengelayut manja pada lengan kekar Austin.


"Ini sakit sekali," rengeknya manja pada Austin.


Rasanya, Alexa ingin mencakar wajah Aurora saat itu juga. Wanita bertopeng yang penuh dengan tipu daya dan muslihat. Dasar rubah betina. Alexa makin kesal, ketika wajah Austin sangat dingin tak kala menatap ke arahnya. Sepertinya, ia sudah kalah. Alexa pun kini tidak peduli, lebih baik mengaku salah saja. Karena percuma, Austin pasti lebih percaya pada wanita rubah tersebut.


Ia menghela napas dengan dalam. Alexa kira sebentar lagi Austin akan memarahi dirinya, tapi sesuatu membuat ia mengeryitkan dahi. Tidak disangka tebakan Alexa justru meleset. Austin tidak memarahinya dan bahkan meminta Gary membawa Aurora pergi berobat.


"Antar dia ke bangsalnya, panggilkan dokter untuk mengobati lukanya!" Austin melirik Gerry yang tidak jauh dari sana. Seketika Gerry mengangguk seolah mengerti.


"Nggak, aku mau sama kamu," pinta Aurora tidak tahu diri. Sedangkan Austin, pria itu hanya melirik ke arah Gerry. Seakan memerintahkan Gerry untuk segera mengantar Aurora ke kamarnya.


Hal itu jelas membuat Aurora kesal, mengapa tidak Austin sendiri yang mengantarnya ke kamar dan mengobati luka di bibirnya? Apa Austin buta? Tidak melihat bibirnya berdarah? Siallll ... sepertinya kali ini wanita sialan itu yang menang. Aurora dengan masam meninggalkan bangsal Alexa. Marah, ia sampai tidak sudi menatap wajah Alexa sebelum pergi.

__ADS_1


Sesaat kemudian. Tinggal mereka berdua yang ada di dalam sana. Hanya Austin dan Alexa. Pria itu kemudian menatap Alexa dengan intense. Lalu menanyakan kondisi Alexa.


"Bagaimana kondisimu?" Tangan Austin membelai rambut Alexa dengan lembut.


Setelah Gerry pergi mengantar Aurora, Austin langsung duduk di sebelah Alexa. Ia duduk di samping ranjang dan menanyakan keadaan Alexa seperti tidak terjadi apa-apa. Pria itu malah mengupas apel untuk Alexa. Membuat wanita itu tertegun cukup lama. Apa ia tidak salah lihat? Harusnya Austin marah padanya.


"Ah ... aku baik-baik saja. Emm ... mengapa tidak bertanya tentang apa yang terjadi?" Dengan wajah gelisah, Alexa mengamati buah apel yang mulai terkupas tersebut.


Austin tidak menyahut, ia fokus mengupas apel di tangannya. Hal itu malah membuat Alexa jadi takut dan bertanya pada Austin sekali lagi. Karena ini di luar ekspetasinya. Tidak biasanya Austin begitu tenang saat ia membuat masalah.


"Kenapa tidak menanyakan tentang Aurora yang menggadu telah aku tampar?" tanya Alexa dengan hati-hati. Takut pria itu marah.


Austin hanya menjawab, "Apa itu penting?"


Sebuah jawaban singkat. Namun, membuat Alexa resah. Alexa tidak bisa berkata-kata lagi. Ia diam sesaat. Tapi, rasa penasaran Alexa lama-lama tidak tertahan. Akhirnya ia kembali bertanya.


"Dia kekasihmu, bukan?" Alexa menelan ludah, siap menunggu jawaban dari pria itu. Ia sangat iseng sekali, dari pada mati penasaran. Karena ia sempat melihat dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana Aurora mengelayut manja pada Austin. Jika bukan pacar, kekasih, lalu apa? Alexa jadi semakin penasaran dengan hubungan Austin dan Aurora.


Mendengar Alexa yang terus bicara dan banyak bertanya, Austin pun berhenti mengupas buah apel, ia melirik ke arah Alexa sejenak. Kemudian menjawab pertanyaan wanita tersebut.


"Aurora adalah ...." Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2