
Wanita Pilihan CEO Bagian 72
Oleh Sept
Rate 18 +
KLEK
Willi segera membuka pintu mobilnya untuk Pevita. Begitu gadis itu masuk, langsung ia lempar dengan senyum semanis gula.
"Sudah yakin!" ucapnya dengan sumringah.
Pevita mengigit bibirnya, lalu mengangguk pelan. Willi pun menarik tubuh gadis itu.
"Aku lapar, ayo cari makan!" ajak Willi setelah melepas pelukan.
"Aku sudah makan tadi," tolak Pevita halus.
"Nggak apa-apa, makan saja yang banyak. Aku nggak suka punya istri terlalu kurus!"
Jleb
"Istri apa???" batin Pevita meronta. Ia seperti belum percaya, mengapa mau saja menerima tawaran pernikahan dari pria asing tersebut. Tapi, ah sudahlah. Sepertinya pria itu orang baik. Pikir Pevita, yang selama ini mencari sosok untuk bersandar.
Entah hubungan macam apakah ini, yang pasti Pevita butuh seseorang yang bisa menjamin hidupnya. Sementara Willi, pria itu hanya butuh sosok wanita yang ada di sisinya. Wanita yang bisa menemani malam panjangnya.
Wanita yang bisa diajak sebagai partner hidup dan tentunya partner di atas ranjang. Bagaimana pun juga, Willi pria normal. Usianya pun sudah sangat matang. Bermula dari hubungan yang saling membutuhhkan, keduanya sepakat untuk segera menikah.
Selesai makan di kafe, Willi mengantar Pevita. Kali ini, pria itu ikut masuk. Tidak hanya mengantar sampai di depan pintu. Tapi, ia ikut masuk rumah.
Saat Willi masuk, ruamah itu nampak kosong.
"Mana orang tuamu?"
"Mama lagi nidurin adek."
"Punya adik kecil?" tanya Willi spontan. Jelas ia menebak anak kecil, untuk apa kalau sudah besar tidur ditemani.
"Hemm!"
__ADS_1
"Ayahmu?"
"Itu ..!" Pevita memainkan tangannya, terlihat sekali ia merasa tidak nyaman saat Willi menanyakan tentang papanya.
"Sudah tidak ada?" tebak Willi lagi.
"Masih! Masih hidup!" jawab Pevita cepat.
"Lalu?"
"Jarang pulang," ucap Pevita dengan lirih.
"Oh ... it's okay!" Willi langsung pindah tempat duduk. Sekarang ia duduk di sebelah Pevita.
"Tidak usah cerita kalau itu berat!" Tangan pria itu kemudian meraih jemari Pevita. Mengengamnya dengan erat. Seolah memberikan transferan energy yang positive.
KLEK
Suara pintu kamar utama terbuka, seorang wanita yang masih cocok jadi kakak perempuannya Willi muncul dan menatap aneh.
"Ada tamu, Vit?"
"Perkenalkan Tante, saya Willi ... William Mahendra ... Pacar Pevita."
Mama Pevita langsung melirik putrinya. Ia kaget, ia pikir selama ini putrinya sibuk kuliah dan kerja sampingan. Kok malah pulang bawa pria. Dan ... dilihat dari wajahnya, sepertinya usia pria itu tidak terlalu jauh dengan usia mamanya Pevita.
"Maaf kalau membuat Tante terkejut, karena mungkin Tante akan lebih terkejut lagi setelah saya mengutarakan maksud dan tujuan saya ke mari."
Mamanya Pevita masih bengong, ia masih loading.
"Sebentar, Tante buatkan minum dulu."
"Nggak usah. Tadi sudah makan dan banyak minum di luar sama Pevita."
"Oh ...!"
Mama melirik lagi ke putrinya yang hanya menundukkan wajah tersebut.
"Mungkin lusa nanti, saya dan orang tua saya akan ke sini."
__ADS_1
Pevita mendongak, menatap mamanya.
"Saya harap Tante merestui kami. Kami ingin menikah," sambung Willi dengan tenang dan kalem. Tapi membuat orang yang mendengar ucapan langsung shock.
"Menikah? Ktp Pevita bahkan baru jadi," ujar mama Pevita dengan spontan.
"Dan ... Vita masih kuliah, dia sangat cerdas. Tante rasa ada yang salah. Kenapa tiba-tiba kamu ke sini dan melamar anak saya. Dan maaf ... usia kalian sepertinya terpaut sangat jauh. Apa kamu sudah melakukan sesuatu pada anak saya?" tuduh mama Pevita.
Wanita itu pun langsung memegang pundak Pevita.
"Kamu nggak hamil, kan?" tanya wanita itu dengan wajah gelisah.
"Nggak, Ma. Vita nggak hamil!"
Orang tua Pevita itu langsung bisa bernapas lega.
"Syukurlah! Lalu kenapa buru-buru menikah?" Mama Pevita menanyakan pada
"Maaf, Tante. Mungkin ini terlihat terburu-buru. Tapi, kalau sudah cocok. Untuk apa ditunda?" sela Willi masih dengan sikap tenang. Ada untungnya juga jadi orang kepercayaan Austin. Ia bisa membawa diri meski dalam kondisi genting.
"Tapi, Pevita masih 17 tahun!" tatap mama Pevita tak percaya.
"Dia sudah dewasa, Tante. Iya kan, Vita?" Willi ganti melirik Pevita. Ia minta pertolongan untuk meyakinkan camer yang sepertinya susah memberikan restu.
"Vita ... ini pernikahan. Bukan mainan. Mama tidak mau kamu gagal seperti mama. Mama gak mau kamu salah mengambil keputusan." Wanita itu mencoba membujuk putrinya untuk tidak tergesa dalam memutuskan untuk menikah.
"Tante jangan khawatir, Vita akan saya jaga sepenuh hati. Dan saya berniat menikah bukan untuk main-main. Tapi memang mencari teman hidup," Willi terus saja menyela. Sedangkan Pevita, gadis itu diam saja. Masih bingung juga.
Setelah mengela napas dalam-dalam, mama Pevita kembali bertanya.
"Apa kamu yakin, Vita?"
Baik sang mama dan Willi, keduanya menunggu jawaban dari gadis tersebut.
Sedangkan Pevita, setelah mengambil napas dalam-dalam, ia kemudian meraih tangan Willi.
"Ijinkan Mas Willi sama Vita nikah ya, Ma?" Bersambung.
Hidung Willi langsung kembang-kempis.
__ADS_1