Wanita Pilihan CEO 2

Wanita Pilihan CEO 2
Tidak Sabaran


__ADS_3

Wanita Pilihan CEO Bagian 70


Oleh Sept


Rate 18 +


Selesai makan, keduanya tidak langsung pulang. Willi malah mengajak gadis itu duduk di sebuah taman tidak jauh dari kafe tempat mereka makan barusan.


Katanya sih cari udara segar setelah makan, sembari mengobrol. Karena mereka jarang berkomunikasi. Selain Pevita yang sibuk dengan kuliahnya, Willi juga sibuk dengan banyak tugas yang dibebankan oleh Austin.


"Bagaimana kuliahnya?"


Willi mencoba mencari bahan obrolan.


"B aja." Pevita menjawab terlampau singkat.


"Hah?" Willi sampai tidak tahu harus tanya apa lagi pada gadis itu.


"Biasa aja!"


"Biasa saja? Hemmm ..."


Keduanya kembali terdiam. Seperti layaknya pasangan baru, keduanya terlihat canggung dan sama-sama kaku. Padahal juga baru PDKT, belum ada tanda-tanda ada yang akan mengatakan cinta. Karena mereka baru saling mengenal.


Mereka hanya duduk sambil menikmati hembusan angin yang menggoyang daun dan ranting di atas mereka. Memasuki awal musim penghujan, langit yang tadi cerah dengan rembulan yang menggantung indah di atas langit sana, tiba-tiba tertutup mendung. Sesuai ramalan cuaca, hari ini mendung berawan ketika larut malam.


Hingga tanpa terasa, percikan lembut air jatuh dari langit menyentuh kulit keduanya.


"Gerimis!" pekik Pevita.


Reflek, Willi langsung meraih tangan Pevita. Pria itu langsung menggandeng sang gadis menuju mobil.

__ADS_1


"Keringkan pakai ini!" Willi memberikan tisu untuk Pevita.


"Thanks!"


"Ku antar sekarang ya? Takut hujan makin deras."


"Iya."


Mobil itu pun melaju, meninggalkan area taman yang gelap karena lampunya ada yang mati. Cocok sih, untuk muda-mudi yang pacaran. Hanya saja harus siap-siap uji nyali, karena bila hanya berduaan, maka yang ketiga adalah satpol pp.


Untung saja keduanya sudah pergi, karena beberapa saat kemudian, datang rombongan satpol pp yang hendak menertibkan jam malam.


***


Rumah Pevita


Mobil itu berhenti tepat di depan pagar besi yang catnya sudah sedikit mengelupas. Bahkan beberapa sisi sudah terlihat berkarat.


"Iya, makasih banyak sudah diantar dan makasih, traktirannya!" ucap Pevita tulus.


Saat gadis itu akan turun, Willi seolah terlihat berat. Belum apa-apa maunya ia dekat-dekat dengan gadis yang ia bilang ingusan itu. Kalau dilihat dengan saksama, Pevita sudah bukan ABG lagi kok. Parasnya yang rupawan, polses bedak agak tebal dikit sudah seperti wanita dewasa.


"Vit!"


"Ya ...!" Pevita yang sedang membetulkan sabuk pengaman, langsung menoleh saat namanya dipanggil.


Ketika Pevita menatapnya, hati Willi langsung kacau.


"Ada apa?" tanya Pevita penasaran. Karena Willi malah diam tak bicara.


Bagaimana mau bicara, fokus Willi malah tertuju pada bibir yang ranum tersebut. Ah, pikir belakangan. Dengan gerakan cepat, Willi mendekat. Saat wajah semakin tiada berjarak, ia langsung menempelkan bibirnya. Hanya menempel, kemudian dia menarik wajahnya lagi. Lalu duduk kembali di balik kemudi.

__ADS_1


Pevita sedikit terkejut, ia hanya mampu menelan ludah. Ternyata asik juga kencan buta ini. Meninggalkan sensasi yang aneh, bertemu dengan orang asing, tapi langsung terasa dekat. Kesan yang sulit digambarkan.


"Marah tidak kalau aku menyentuh bibirmu?" suara Willi memecah kecanggungan di dalam mobil itu.


"Lakukan dengan benar, aku nggak suka yang setengah-setengah!" entah dapat ide dari mana, Pevita malah memancing keadaan. Barangkali jiwa mudanya juga bergejolak, ikut terbakar seperti pria di sampingnya.


[Sudah aku bilang, jangan berduaan di tempat sepi. Pasti ada bisikin halus]


Seperti mendapat lampu hijau, Willi langsung mengendurkan dasi. Seolah siap akan beraksi. Pria itu pun merubah posisinya, sehingga kini ia menatap lurus ke arah teman kencan butanya itu.


"Jangan menyesal, karena bila sudah kutargetkan. Akan sulit kulepas," ujar Willi kemudian menelan ludah. Jakunnya naik turun melihat gadis muda dan fresh di depannya.


Ditatap begitu dalam oleh seorang pria dewasa, jantung Pevita rasanya mau meledak. Jarang mendapat kasih sayang dan perhatian dari sang Ayah, Pevita merasa nyaman bila di dekat Willi.


Tapi, kini perasaan nyaman itu berubah aneh. Apalagi saat Willi menyentuh wajahnya dengan lembut.


Detik berikutnya, Willi sudah mulai melakukan permainan. Ia bermain-main di dalam sana, menyesapnya. Semakin lama, sesapan itu makin dalam. Menuntut dan memburu. Makin berdebarlah jantung Pevita. Tidak hanya jantungnya, karena Willi lebih paling bergejolak.


Setttttt


Pria itu menarik lagi wajahnya yang sudah seperti terbakar. Mendadak udara dalam mobil terasa gerah. Sama-sama menelan ludah, Willi pun menyadarkan kepalanya.


"Jika aku teruskan, kita mungkin akan berakhir di hotel."


Mendengar perkataan Willi, Pevita bergidik. Ini karena ia masih ting-ting.


Melihat Pevita diam, Willi kembali berbicara.


"Menikah sambil kuliah bisa, kan?" Bersambung.


Gaes!!! Willi sudah tidak sabar mau mengasah keris Mpuh Gandring. Hehehe

__ADS_1


__ADS_2