
Wanita Pilihan CEO Bagian 49
Oleh Sept
Rate 18 +
Melihat Alexa yang mual-mual dan muntah, David bergegas turun.
"Mily! Mily di dalam saja. Papa mau turun sebentar."
Pri itu pun turun dari mobil dan memberikan sebotol air mineral pada Alexa.
"Kau tak apa?"
Alexa mendongak, Wanita itu kemudian mengambil botol dari tangan David.
"It's okay. Aku nggak apa-apa."
"Ya sudah, ayo masuk. Anginnya sangat kencang."
David meraih bahu Alexa, dengan perhatian ia menuntun Alexa masuk ke dalam mobil. Membuka pintu mobil terlebih dahulu, ia memperlakukan Alexa bagai ratu.
Baru beberapa saat mobil itu menyusuri jalanan, tiba-tiba Alexa meminta berhenti sejenak.
"Bisa berhenti, aku ingin membeli sesuatu."
Alexa menatap mini market di pinggir jalan.
"Mau beli apa? Aku belikan!" tawar David dengan perhatian.
Alexa jelas menggeleng keras, ia mau membeli sesuatu yang masih sangat ingin ia rahasiakan.
"Aku beli sendiri."
__ADS_1
Dengan buru-buru Alexa membuka pintu. Sampai di dalam mini market, ia terlihat ragu. Saat akan mengambil sebuah benda yang ia butuhkan sekarang.
"Tidak mungkin!" batin Alexa. Tapi tangannya terulur mengambil salah satu benda yang ada di dalam rak.
Hanya itu saja, kemudian ia berjalan ke kasir. Membayarnya kemudian menyembunyikan benda itu ke dalam dompetnya.
Klek
Alexa membuka pintu mobil. Baru duduk, David langsung bertanya.
"Mana? Katanya beli sesuatu?"
"Nggak ada, nggak ada di sana. Ayo jalan!" ucap Alexa yang sudah lancar berbohong.
***
Di tempat lain, Austin berdiri di balkon. Wajahnya nampak kusut, sudah mirip kanebo kering.
Kamarnya sangat berantakan, padahal baru kemarin Willi datang bersama asisten rumah tangga yang membersihkan mansion itu. Tapi, entah apa saja yang pria itu lakukan. Ruangan itu sudah seperti habis terkena gempa.
"Tuan ...!"
Austin tidak menoleh sama sekali, ia sibuk melamun dan tengelam dalam pikirannya sendiri. Sambil sesekali menyesap benda yang ia apit dengan jarinya tersebut.
Willi hanya bisa mendesis, ia juga lama-lama kasian menatap Austin yang mulai seperti orang ling-lung begitu.
"Tuan, sebaiknya Tuan makan. Sudah dari kemarin Tuan belum makan." Seperti orang tua yang sedang membujuk anaknya. Begitulah peran Willi saat ini.
"Tuan ..." panggil Willi sekali lagi. Kali ini suaranya sedikit lebih tinggi.
Austin hanya melambaikan tangan, kemudian meraih botol minuman. Percuma ia makan, dengan makan, toh masalahnya tidak akan selesai. Mungkin itu yang ada dalam benak pria tersebut.
"Tuan ... Jangan minum-minum lagi!"
__ADS_1
Austin langsung menatap marah, di dunia ini tidak ada yang boleh mengatur-atur dirinya.
Melihat Austin tengelam dan larut dalam kesedihan, Willi hanya mampu mengela napas. Menatap dengan wajah kasihan.
***
Villa
"Bagaimana? Sudah mendingan?" David memberikan segelas teh herbal untuk Alexa.
"Ada apa denganmu? Apa kamu kurang sehat?" tambah David.
Pria itu kemudian mengamati wajah Alexa yang nampak pucat.
"Tidak ... aku tidak apa-apa."
Alexa buru-buru ke kamarnya. Ia kemudian duduk di depan meja rias. Lalu membuka laci di depannya.
Cukup lama ia memejamkan mata dalam-dalam. Ia tidak percaya, meskipun sudah ia tes lebih dari sekali. Hasilnya tetap sama, ia kini sedang berbadan dua.
Tok tok tok
Dengan cepat Alexa memasukkan alat test kehamilan ke dalam laci kembali.
KLEK
David muncul dari balik pintu.
"Kamu menutupi sesuatu dariku, Lexa?" tanya David penuh selidik. Gerak-gerik Alexa akhir-akhir ini sangat mencurigakan. Membuat David mengendus sesuatu yang tidak beres.
"Sesuatu? Apa yang kamu bicarakan?" Alexa pura-pura polos. Dan tangan Alexa mencoba mendorong laci yang masih sedikit terbuka.
Makin curigalah si David, dengan cepat ia menghampiri Alexa dan langsung membuka laci di balik tubuh wanita tersebut.
__ADS_1
"Apa ini?"
Jelas sekali aura kekecewaan mencuat dari wajah David yang tampan. Bersambung ...