
Wanita Pilihan CEO bab 14
Oleh Sept
Rate 18+
Hati Alexa hancur berkeping-keping. Dalam hati ia tersenyum miris, bodoh sekali. Untuk apa membahas hal seperti itu pada kekasihnya tersebut. Hanya semakin menorehkan luka saja.
Alexa pun menghela napas panjang, kemudian meraih lengan kekar Austin. Mengelayut manja di sana. Mencoba mengapai hati Austin lagi, dengan kata rayuan yang manis. Dasar Austin, Alexa nempel-nempel kayak permen karet ia sudah luluh. Lumer kaya keju mozzarella terkena panas. Begitulah pria, mahluk yang tak tahan dengan godaan yang disebut wanita.
"Aku kan cuma bercanda, jangan marah," ucap Alexa dengan tersenyum manis.
Alexa memainkan lengan dan mengusap otot halus pada lengan pria itu. Jari-jarinya merayap seperti cicak. Entah apa yang ia harapan pada sosok pria seperti Austin. Alexa nampak menyimpan sesuatu.
"Jangan katakan hal omong kosong seperti itu lagi." Austin bicara dengan wajah serius. Sepertinya ini peringatan buat Alexa. Austin tidak suka mereka membahas hubungan yang lebih serius. Atau jangan-jangan ia belum siap, dan bisa jadi ia hanya ingin main-main dengan Alexa.
"Hem ..." Alexa pun menurut.
Keduanya saat ini masih beristirahat di salah satu bangku taman rumah sakit. Masih ingin menikmati udara segar di luar kamar. Mata Alexa masih tertuju pada anak-anak kecil yang sedang bermain di sampingnya. Namun, ia sekarang tidak mau berkomentar. Takut bila Austin kembali naik darah.
Tidak jauh dari sana, Alexa menatap keluarga kecil sedang bersenda gurau. Ia menatap iri. Kemudian bibirnya kembali lepas kendali.
"Apa kamu tidak merindukan keluargamu?"
Austin sedikit kesal, lagi-lagi Alexa membahas satu tema yang sama. Dengan dingin ia menjawab tidak.
__ADS_1
"Tidak! Tidak sama sekali." Ia terlihat geram dan sangat kesal.
"Mereka sepertinya bahagia," ucap Alexa dengan tatapan ke arah bangku taman di depannya. Sebuah keluarga kecil yang nampak bahagia. Alexa menjadi iri dan ingin juga kebahagiaan yang seperti itu.
"Cih ... jangan mulai!" Austin sudah mulai mengeluarkan sungutnya lagi.
Alexa langsung menciut, mengapa ia tidak boleh iri dengan kebahagiaan orang lain? Apa ia dilahirkan untuk tidak berhak bahagia? Lama-lama ia jadi nelangsa.
"Lihat! Mereka sangat cocok. Aku rasa ... Kita juga akan serasi seperti mereka." Sepertinya mulut Alexa sudah hilang kendali tidak ada remnya lagi. Tadi Austin sudah memberikan peringatan. Tapi, Alexa masih saja membahas hal yang sama.
"Jangan sembarangan kalau bicara!" Austin terlihat kesal lalu meninggalkan bangku itu. Meninggalkan Alexa sendirian di bangku taman seorang diri. Pria itu pergi dengan wajah masam.
Sedangkan Alexa, wajahnya terlihat muram ketika menatap punggung Austin yang menjauh dan hilang di ujung lorong taman. Alexa tahu Austin tidak pernah suka membahas tentang pernikahan, nantinya Austin pasti tidak mood. Dan menatapnya benci. Tapi tak apa, nanti Alexa akan membujuknya lagi. Mudah sekali baginya merayu pria itu.
"Alexa ...!"
Pria ini terlihat lemah lembut dan membuat hati orang merasa hangat, tapi Alexa malah sangat sedih. Ada riak sendu jelas tergambar di wajah Alexa saat itu.
"Eh ... Ngapain di sini?" Alexa pura-pura terkejut. Meski memang sedikit terkejut sih. Mengapa Eric Winata datang ke rumah sakit. Ada apa dengan anak orang kaya itu, tumben-tumbennya menemui dirinya. Ada angin apa? Konglomerat urutan atas di kota Yogyakarta itu datang ke sini. Alexa jadi menebak-nebak dalam hati.
"Aku dengar kamu lagi sakit," ucap pemilik nama Eric Winata itu dengan suara lembut dan terdengar tulus. Ia memperhatikan Alexa, seperti ada sesuatu yang ingin ia katakan.
Rupanya Eric tahu Alexa sedang sakit dan khusus datang menjenguknya. Tapi Alexa tidak tahu, Eric tahu dari mana kabar bahwa ia masuk rumah sakit. Dan Alexa tidak menerima niat baiknya itu.
Alexa malah meletakkan papan kayu hijau yang dimainkan anak-anak kecil di sampingnya, ia letakkan benda itu ke atas kepalanya sambil tertawa.
__ADS_1
"Apakah mirip topi hijau (selingkuh)?" ucapnya sembari tersenyum.
Melihat Alexa seperti itu, Eric tahu kalau Alexa masih belum melupakan kejadian yang dulu. Sepertinya gadis itu masih menyimpan dendam.
"Jangan buang-buang waktu, untuk apa kamu ke sini?" Alexa menarik senyumnya. Kini ia memasang wajah serius.
"Aku hanya ingin melihat keadaan kamu, Xa!" Eric terus menatap. Ada rindu terlarang antara keduanya.
"Cih!" Alexa menatapnya dengan sebal dan benci yang mendalam.
"Tidak perlu pura-pura baik! Katakan sejujurnya, apakah kamu dibujuk keluarga Hutama kemari untuk mengambil saham itu?" sindir Alexa dengan pedas.
"Xa ... bukan itu tujuanku ke mari!" Eric menepis tuduhan wanita tersebut. Tapi ia juga tak berdaya dan menjelaskan bukan itu maksudnya.
Melihat Eric yang penuh tipu daya, Alexa kembali mencibir.
"Kalau bukan karena saham, lalu apa lagi alasan kamu mendekatiku? Astaga! Aku lupa, banyak sekali niatmu terhadapku, apa adikku tahu?"
Eric langsung terdiam, ia dibuat membatu karena sindiran pedas Alexa.
"Kenapa diam? Apa dia tahu kamu ke sini menemuiku?" serang Alexa bertubi-tubi. Ia belum puas kalau luka hatinya belum terbalas.
"Xa ..." panggil Eric lirih.
"Jangan sebut namaku dengan mulut kotormu!" sentak Alexa penuh benci. Ia teringat kejadian di mana memergoki Eric tidur bersama adiknya. Bersambung.
__ADS_1