
Wanita Pilihan CEO Bagian 61
Oleh Sept
Rate 18 +
Selepas dari makam, Alexa nampak murung. Dan Austin menyadari itu. Padahal ia ada rapat siang ini. Karena ingin menemani Alexa, ia pun meminta Willi untuk menundanya.
"Kalau penasaran, lebih baik tanyakan saja."
Austin menepi, ia berhenti di pinggir jalan. Mobil yang mereka tumpangi berhenti tepat di tepi jalan yang sepi.
"Lagian apa kamu tidak ingin bertemu mereka? Atau minimal ayahmu?" tambah Austin.
"Nggak usah." Alexa memalingkan wajah. Ia menatap ke luar jendela.
"Ndak usah apanya. Aku anterin ya?"
Alexa diam, sebenarnya ia juga penasaran. Apa itu papanya? Karena setahu Alexa, sejak kecil tidak ada sosok pria lain yang dekat dengan ibunya. Satu-satunya pria yang kadang berkunjung ke rumah mereka cuma papanya itu.
***
Kediaman Hutama
Baru melihat pagar rumahnya, Alexa sudah merasa tidak nyaman.
"Kita balik aja!"
"Tenang saja, jangan mikir macan-macam. Lagian ayamu berhak tahu kamu masih hidup."
"Untuk apa? Kamu tahu kan, jangan berlagak lupa. Kamu pasti tahu, mereka semua tidak pernah menganggap keberadaanku."
"Itu dulu! Lihat saja nanti!"
Austin langsung menggandeng lengan Alexa. Dengan percaya diri seolah itu rumahnya sendiri, Austin melangkah masuk ke dalam rumah yang berlantai lima tersebut.
__ADS_1
Ting tung
Di dalam rumah, terlihat Dinda sedang rebahan di pangkuan Eric. Mereka sambil memilah undangan. Rencananya, sebulan lagi keduanya akan segera menikah.
"Bi ... bukain pintu. Ada tamu!" teriak Dinda. Padahal ia yang ada di ruang tamu. Merasa bossy, gadis itu tidak mau membuka pintu. Untuk apa membayar mahal, kalau bukan untuk disuruh-suruh.
Dari dalam, bibi bergegas ke luar untuk membuka pintu.
KLEK
"Non Alexa?" pelayan itu langsung berkaca-kaca.
"No ... na ... Nonaa masih hidup?" tanya Bibi sambil terbata.
Alexa tersenyum tipis, kemudian memeluk pelayan yang satu-satunya orang yang peduli di rumah itu pada dirinya.
"Papa ada?"
"Lagi ngantor, Non. Tapi biasanya cuma sebentar. Mungkin sebentar lagi akan pulang. Mari, Non ... Mari masuk."
Tap tap tap
Bibi masuk ke dalam, diikuti Alexa dan Austin.
"Siapa?" Dinda melongok, melihat sosok di balik tubuh Bibi.
"Ka ... kamu!"
Dinda langsung bangun dari posisi semula. Ia menelan ludah dengan kasar. Gadis itu terkejut karena Alexa muncul di rumahnya. Padahal, ia pikir Alexa sudah mati.
Lain halnya dengan Eric, mata pria itu berbinar saat melihat Alexa. Makin cantik dan auranya tetpancar keluar.
Tap tap tap
Saat suasana masih dingin dan tegang, dari lantai dua, mendadak Nyonya Tama menuruni tangga.
__ADS_1
"Ada siapa, Din?"
Nyonya Tama menatap siapa yang datang, hampir saja ia terpelset.
"Kamu masih hidup?" tanya nyonya Tama tidak percaya.
"Selamat siang, Ma!" sapa Austin dengan santai.
"Apa kabar?" tambah Austin sembari menghampiri wanita paruh baya tersebut.
Dari semua yang ia selidik mengenai Alexa dan latar belakang keluarga Hutama, Austin sangat paham, bahwa Alexa selama ini tidak dianggap di keluarga itu.
"Baik ... kabar Mama baik!" jawab nyonya Tama dengan kaku. "Duduk ... silahkan duduk."
Tahu bahwa Austin bukan orang sembarangan, nyonya Tama bersikap sangat manis dan ramah.
"Kapan Alexa ketemu dan bagaimana ceritanya? Mengapa tidak mengabari ke sini?" tanya nyonya Tama basa-basi. Padahal ia sudah mengadakan pesta untuk merayakan kematian Alexa. Kan lumayan, harta warisan Alexa jatuh ke tangan putrinya saja.
"Ceritanya panjang, oh ya ... boleh kami menunggu papa?"
"Boleh ... boleh, kalian bebas di sini. Iya kan, Lexa?"
Alexa tersenyum getir. Tumben sekali wanita itu nampak baik dan ramah.
Chitttt
Terdengar decitan dari luar.
"Itu pasti Papa!" seru nyonya Tama.
Di halaman rumah, memang yang datang itu adalah tuan Hutama. Ia baru turun dari mobil setelah sopir pribadinya membuka pintu untuknya.
Pria itu berjalan dengan lesu memasuki rumahnya. Ia sempat melirik tadi, ada mobil asing yang terparkir di depan rumahnya. Ia kira mungkin tim EO yang mengurus pernikahan putri keduanya.
"Pa ...!" seru Dinda saat melihat papanya datang.
__ADS_1
"Hem!" jawab sang papa dengan datar. Namun, saat akan terus melangkah, tiba-tiba matanya menangkap sosok yang tak asing. Bukannya senang, tuan Hutama malah nampak terkejut dan memegangi dadanyaa yang tiba-tiba terasa seperti dicengkram. Bersambung.