
Wanita Pilihan CEO Bagian 37
Oleh Sept
Rate 18 +
"Tuan," panggil Willi yang melihat Austin sejak tadi tidak beranjak dari tempatnya. Dilihatnya sang atasan malah diam saja dengan pandangan nanar.
Willi lantas ikut melihat ke arah mana bosnya tersebut menatap. Seperti Austin, pria itu juga sama terkejutnya dengan Austin saat melihat siapa yang dilihat oleh bosnya itu.
"Nona ...!" gumam sekretaris Austin dengan lirih.
Tiba-tiba waktu seolah berhenti berputar, Austin melangkah meski kakinya terasa berat. Ia berusaha mengapa kepingan hatinya yang lama menghilang.
"Papaaaa!" Emily berlari. Gadis kecil itu langsung melempar tubuhnya pada sosok pria berbadan tegap tersebut. Laki-laki itu pun langsung berjongkok tak kala sang putri berlari ke arahnya.
"Kata mama Papa gak ikut," celoteh Emily.
"Surprise ... kejutan!" pria itu kemudian mengecup pipi gembul Emily.
Anak kecil itu langsung mempererat pelukannya pada sosok pria yang ia panggil papa.
"Ayo ke sana, mama sudah menunggu."
Pria itu langsung mengendong Emily, mereka berdua berjalan menghampiri Alexa yang tertegun di tempatnya. Sedangkan tidak jauh dari sana, Austin seketika membatu. Ia berhenti seketika itu juga. Pemandangan di depannya sungguh membuat dadanyaa terasa sesak.
Austin memalingkan wajah, ia berjalan menjauh bersama rasa sakit yang ia bawah.
"Lexa ... Ayo."
Sapaan pria itu membuat Alexa tersadar, ketika ia menoleh, Austin sudah menghilang.
***
__ADS_1
Mereka bertiga menuju mobil, sebuah kendaraan mewah sudah menanti ketiganya.
"Katanya tidak bisa ikut?" tanya Alexa. Namun, ia masih sesekali menoleh ke belakang. Wanita itu mencari jejak Austin.
"Bagaimana mungkin aku bisa jauh dari kalian?" Pria itu memeluk Emily dengan sayang.
Alexa hanya tersenyum tipis, dan pandangan matanya kembali terlihat kosong.
"Papa ... Kita mau ke mana?" Emily mulai berceloteh karena merasa bosan.
"Rumah Oma," jawab pria itu singkat. Pria tersebut kemudian memperhatikan raut wajah Alexa yang terlihat murung.
"Ada apa denganmu? Bukankah kamu yang ingin kembali ke negara ini? Jika masih saja bersedih, aku rasa akan membawa kalian kembali lagi."
Alexa langsung menatap pria tersebut.
"Lelah, aku hanya lelah."
"Ya sudah, sebentar lagi kita akan sampai. Kamu bisa istirahat di rumah mama."
Setelah menyusuri jalanan, akhirnya mobil yang mereka tumpangi berhenti tepat di sebuah rumah dengan halaman yang cukup besar. Mungkin mereka bisa main golf di sana, karena terlalu luas untuk ukuran sebuah halaman.
Begitu mereka turun, Emily langsung berlari ke dalam rumah. Anak itu seolah tahu, ke mana ia harus masuk.
"Ya ampun ... cucu Oma sudah datang?"
Wanita dengan rambut yang sudah memutih itu pun langsung memeluk Emily. Ia rindu dengan Emily. Cucunya yang malang, anak yang tidak pernah tahu wajah ibunya. Ibu kandung Emily meninggal saat melahirkan bayi yang cantik tersebut.
"Ma ...!" David menghampiri sang mama, kemudian memeluk mamanya.
"Jahat sekali kamu sama Mama, masa jarang sekali pulang. Mama rindu, sudahlah ... kalian pindah ke sini saja."
David lalu menatap Alexa, dilihatnya wanita itu masih melamun.
__ADS_1
"Ayo masuk sayang!" Mama David meraih tangan Alexa. Yang ia tahu, Alexa adalah istri putranya yang dinikahi di luar negri beberapa tahun silam. Benar atau tidak mama tidak tahu, karena tiba-tiba David bercerita sudah menikah lagi.
Mama cukup senang kala itu, setidaknya Emily tumbuh dengan cinta kasih seorang wanita. Meski bukan ibu kandungnya.
***
Canada
Selama pertemuan bisnis, Austin benar-benar tidak bisa berpikir jernih. Laki-laki itu tidak bisa fokus pada pekerjaannya. Kepalanya sudah dipenuhi bayangan akan Alexa dengan seorang anak serta pria lain.
Melihat atasannya diam saja saat sang klien mengajak bicara, Willi berdehem kemudian berbisik pada Austin.
"Tuan, sepertinya Tuan kurang sehat. Apa kita tunda nanti saja pertemuan ini?"
Austin berdiri, meninggalkan ruangan itu tanpa peduli pada apapun. Di belakangnya, Willi berjalan mengikuti dengan ketar-ketir.
"Pesan tiket pulang segera!"
"Tapi Tuan ...!"
Austin berhenti melangkah, kemudian menatap tajam pada Willi. Dan sekretaris itu harus menerima tatapan kebencian dari Austin, padahal ia tidak tahu apa-apa. Hanya karena cemburu, membuat hati Austin terbakar. Dan ingin marah-marah pada siapa saja.
***
Kediaman orang tua David
Hari sudah gelap, suasana malam di kediaman keluarga David sangat sepi, Emily sudah tidur di kamar yang sudah disiapkan untuk anak tersebut. Kini giliran Alexa yang bingung mau tidur di mana.
"Ranjang Emily kecil, tidur saja di kamarku. Nanti aku akan tidur di sofa."
"Tidak, Vid! Aku ke kamar Emily saja!" tolak Alexa.
"Jangan buat Mama curiga!" cetus David.
__ADS_1
Alexa langsung berhenti, ia kemudian berbalik. Mereka berdua pun tidur di kamar yang sama. Bersambung.