Wanita Pilihan CEO 2

Wanita Pilihan CEO 2
FAKTA


__ADS_3

Wanita Pilihan CEO Bagian 46


Oleh Sept


Rate 18 +


"Aku ingin melihatnya, mana rekaman itu?" Austin sudah tidak sabar, siapa pria yang membuat Alexa sampai trauma seperti sekarang. Ia tadi sempat berpikir, jangan-jangan itu karena kejadian semalam. Ia sampai merasa tak enak hati. Dan sekarang, setelah tahu rekam jejak Alexa di masa lalu, pria tersebut ingin melihat siapa pria yang sudah menghancurkan hidup istrinya tersebut.


Sedangkan sekretaris Willi, ia terlihat ragu saat menyerahkan laptop yang sudah ia nyalakan.


"Cepat sedikit!" seru Austin ketika melihat keraguan Willi dalam mencari vidio yang merekam kejadian malam itu.


"Ini, Tuan!" Willi menunjuk salah satu folder video CCTV yang sudah ia copy ke laptop beberapa waktu yang lalu. Wajah sang sekretaris nampak gelisah, sepertinya ia sedang menyembunyikan sesuatu.


Austin pun fokus pada layar laptop di depannya. Ia mengamati rekaman yang diputar tersebut. Terlihat Alexa ke luar dari sebuah kamar dengan sempoyongan. Dari situ, Austin menduga mungkin istrinya sedang mabuk.


Kemudian ia mengamati, ke mana Alexa terus melangkah. Ternyata sosok yang kala itu masih lugu dan polos tersebut masuk ke kamar lainnya. Penasaran, Austin terus menonton vidio itu dengan teliti.


Tidak ada yang bisa ia simpulkan, karena Alexa tidak terlihat keluar dari kamar yang kedua. Penasaran, Austin mempercepat video tersebut.


Terlalu cepat, ia langsung memutar ke belakang. Matanya terbelalak tak kala melihat pria asing dan sosok wanita yang sangat mirip Aurora juga masuk ke dalam kamar yang sama dengan Austin.


Ingin berpikir sejenak, Austin menghentikan video tersebut. Otaknya mulai menyusun gambaran demi gambaran, hotel, Alexa, Aurora? Wajah Austin sudah mulai gelisah. Sedangkan Willi, pria itu memperhatikan sang atasan dari tempatnya duduk.


Setelah cukup tenang, Austin kembali dibuat shock tak kala melihat orang-orang mengangkat tubuh Alexa yang sudah pingsan keluar dari kamar kedua.

__ADS_1


Ingin melihat akhir dari video tersebut, Austin kembali mempercepat. Dan di sana ia melihat, sudah banyak wartawan yang menunggu di depan kamar. Bukan kamar kedua, tapi kamar Alexa.


Austin kembali memutar dan memutar video itu sekali lagi, kini ia simak dengan tanpa memotong ataupun mempercepat. Sampai ia faham apa yang sudah terjadi selama ini.


Pria itu hanya bisa mengusap wajahnya dengan berat, Austin tidak bisa berpikir lagi. Tatapan matanya kosong, yang ia nodai bukan Aurora. Bukan! Selama ini ia sudah tertipu. Selama ini ia bahkan sudah membuat Alexa menderita atas ketidak pastian hatinya.


"Tuan ...!"


Austin melambaikan tangan.


"Hancurkan semuanya, blokir semua tentang pemberitaan Alexa!"


"Baik, Tuan!"


Austin hendak melanjutkan langkahnya, tapi pria itu malah diam di tempat. Austin terlihat terkejut dan mendapat tamparan yang sangat membuatnya shock. Mana pernah ia mengira, bahwa selama ini yang menodai Alexa adalah dirinya sendiri.


"Lakukan saja perintahku!"


Seolah tidak ingin orang lain ikut campur, Austin menyembunyikan rasa bersalahnya.


***


"Maaf, Pak Austin. Dokter berpesan untuk saat ini anda jangan masuk ke ruangan Nona Alexa. Kondisinya masih belum stabil."


Austin yang dari kemarin marah-marah, hingga para dokter dan suster sudah sangat hafal, kini nampak heran. Pria itu begitu penurut, sekali dilarang, Austin langsung berbalik. Ia duduk termenung di luar kamar Alexa.

__ADS_1


Cukup lama ia berada di luar sana, hingga ia tertidur. Pria kaya raya itu terlihat sudah terlelap. Namun, sepertinya tidurnya tidak bisa nyenyak. Selain tempat yang tidak nyaman, yang pasti Austin sedang dikejar-kejar oleh rasa bersalah yang kuat.


KLEK


Austin menoleh, ia seketika membuka mata ketika terdengar pintu terbuka. Austin kaget, melihat Alexa keluar kamar malam-malam. Apalagi tatapan matanya terlihat kosong.


"Lexa ..."


Alexa sepertinya tidak mendengar, karena Austin memang sangat pelan memanggil namanya.


Alexa yang tidak menyadari ada Austin, ia terus saja melangkah. Menyusuri lorong rumah sakit yang sangat sepi. Wanita itu terus saja berjalan tanpa arah dan tujuan.


Sedangkan di belakang Alexa, Austin mengikuti istrinya tersebut. Jarak mereka cukup jauh, Austin memang sengaja, agar Alexa tetap merasa nyaman.


"Ke mana dia?" Austin mulai panik ketika melihat Alexa semakin jauh.


Pria itu bergegas ketika melihat Alexa yang mulai menghilang. Dan ternyata Alexa sudah masuk dalam sebuah lift menuju lantai dasar.


Lama menunggu lift terbuka, Austin memilih turun lewat tangga darurat.


Tap tap tap


Tengah malam ia berlari menuruni tangga.


"Ke mana kamu Lexa?"

__ADS_1


Begitu tiba di lobi rumah sakit, Austin kemudian menemukan sosok Alexa. Dengan cepat pula ia mengejar istrinya tersebut. Namun, ia segera mematung di tempat saat melihat Alexa terisak dalam pelukan seorang pria. Bersambung.


__ADS_2