Wanita Pilihan CEO 2

Wanita Pilihan CEO 2
Kualitas Super


__ADS_3

Wanita Pilihan CEO Bagian 77


Oleh Sept


Rate 18 +


Di dalam mobil, nyonya Tama tersenyum puas. Ia lega sudah menuntaskan dendamnya yang membara. Setelah berhasil mencelakai Alexa, ia kembali melanjutkan mobilnya yang sebagian sudah ringsek tersebut.


Seperti sudah direncanakan, saat ada sebuah truk di depannya. Nyonya Tama malah ganti jalur. Dengan senyum getir, ia menutup mata. Membiarkan mobilnya terlindas begitu saja.


Bruakkk


Kecelakaan kembali terjadi, mobil nyonya Tama langsung penyet. Sedangkan sang pengemudi, sudah bisa dipastikan meninggal langsung di TKP.


Wiu wiu wiu


Banyak ambulan yang tiba, kecelakaan yang disebabkan nyonya Tama, berakibat fatal. Banyak kendaraan lain yang jadi korban. Kecelakaan tunggal berubah jadi beruntun karena korban yang semakin banyak berjatuhan.


Hanya karena jiwa serakah, menghancurkan kebahagian banyak orang. Nyonya Tama pikir hidupnya akan damai setelah membalas dendam dan sakit hatinya. Nyatanya, ia tidak sadar. Bahwa api neraka sudah melambai memanggil para manusia yang putus asa karena mengakhiri hidupnya sendiri di dunia ini.


***


Rumah sakit


"Tuan ... apa yang terjadi?"


Willi bergegas ke rumah sakit ketika tahu kabar dari media bahwa pemilik Abraham's Group mengalami kecelakaan bersama sang istri.


Austin yang matanya terlihat merah, dan terlihat sekali kalau ia gelisah menanti kabar istrinya yang masih di UGD, meminta Willi memanggil kuasa hukumannya.


"Usut semuanya, mobil itu sengaja mencelakai kami. Jangan biarkan dia lepas!" ucap Austin dengan bibir bergetar.


Willi diam sejenak.


"Nyonya Tama sudah meninggal di tempat, Tuan."


"Apa? Wanita itu lagi?"

__ADS_1


Austin sampai tidak bisa berkata-kata. Mengapa keluarga Hutama sangat begitu jahat pada istrinya.


KLEK


Pintu UGD terbuka, kini fokus Austin kembali lagi pada Alexa.


"Bagaimana istri saya, Dok?"


Dokter menepuk bahu Austin.


"Tidak perlu khawatir, tidak ada luka yang serius. Sekarang kita tunggu beliau siuman dan melakukan cek up secara menyeluruh."


Mendengar kata dokter, membuat Austin bisa bernapas lega. Seperti keajaiban, Alexa yang mau dicelakai seolah mendapat perisai dari langit. Bukannya celaka, malah nyonya Tama yang kehilangan nyawa.


***


Pemakaman


"Maaa .... Mamaaa!"


Dinda ditemani Eric meraung di atas pusaran sang mama. Belum lama ini papanya meninggal, kini ganti sang mama yang menyusul ke alam baka.


Gadis itu terus berteriak histeris, tidak bisa melepaskan kepergian sang mama.


"Din ... Ayo kita pulang."


Dinda menepis tangan Eric. Ia masih memeluk batu nisan mamanya.


"Dinda!"


Sebuah suara membuat dua orang itu langsung menoleh. Dinda mengamati sosok pria di depannya, jika jeli, maka kemiripan keduanya sangat terlihat.


"Maaf, Bapak siapa?" tanya Eric.


Pria itu menatap Dinda, seolah tahu siapa orang tersebut. Dinda menyambut uluran tangan pria itu.


"Ikutlah bersama Papa, sekarang kamu hanya punya papa."

__ADS_1


Dinda terisak, sedangkan Eric seperti sapi ompong. Ia bengong, mengapa papa Dinda ada dua?


Dinda yang tidak memiliki sandaran, ia ikut begitu saja saat pria tersebut membawanya masuk mobil.


"Din ... Dindaaaa!"


Eric memegangi tangannya, tapi dengan dingin Dinda menepis tangan pria tersebut. Sepertinya, pernikahan mereka bukan diundur, tapi terancam batal.


Mbermmm


"Kita mulai lembaran baru, kita tinggalkan tempat ini!" ucap laki-laki yang mengaku sebagai ayah Dinda.


Dengan tatapan kosong, Dinda menyadarkan kepalanya pada pundak pria tersebut. Hatinya sudah hancur di tempat ini, dalam tubuhnya tidak ada darah Hutama, rasanya percuma ia bertahan. Ditambah berita di media yang menyudutkan ibunya sebagai pembunuh.


Tidak punya pilihan, Dinda memutuskan pergi bersama orang yang ia yakini sebagai papanya.


***


Lima tahun kemudian


Di sebuah pusat perbelanjaan, terlihat Alexa sedang mengendong anak usia dua tahun. Sedangkan Austin, pria itu sedang menggandeng tangan putri kecil usia empat tahun lebih dengan kuncir kuda yang bergerak-gerak saat gadis itu melangkah.


"Kelly! Stop pelan-pelan jalannya!" teriak Alexa pada putri pertamanya.


Seperti mengejek pada sang mama, Kelly malah sengaja berlari dan melepas tangan sang papa.


"Astaga! Cepat sekali larinya."


Brukkkk


Baru berucap, Kelly langsung tertabrak orang di depannya. Dengan senyum manis, Kelly merentangkan tangan, minta digendong oleh sosok tersebut.


"Ish ... Om tangkap!" seru Willi pada anak manis tersebut.


Sedangkan wanita cantik di sampingnya, mengusap lembut kepala Kelly. Pevita yang sedang hamil tujuh bulan merasa gemas pada Kelly.


Willi tidak sadar, ada jagoan kecilnya yang menatap cemburu di sampingnya.

__ADS_1


"Nah ... ini kesayangan Papa juga!" Willi mengendong anak Austin dan anaknya sendiri. Lengannya yang kanan dan kiri sudah dipenuhi bocah-bocah yang mengemaskan.


Bian menatap sebal, karena Kelly setiap ketemu papanya pasti minta gendong. Anak laki-laki yang usianya tidak jauh dari Kelly itu menatap dengan rasa cemburu. Oh, ternyata keris Mpuh Gandring yang sempat lemes itu berhasil menciptakan kecebong kualitas super. Hehehe ... Bersambung.


__ADS_2